Di Januari *bukan oleh Glenn Fredly*

Hari keempat tahun 2016. Alhamdulillah I survived December 2015. Hehehehe.

Januari selalu penuh optimisme. Entah kenapa. Mungkin karena mayoritas penduduk dunia bersepakat soal tanggal yang tepat untuk memulai hitungan tahun. Atau karena sebagian habis berpesta semalaman hingga keriaan masih tersisa. Buat saya Januari terasa optimus #eh optimis, karena saya berhasil melewati Desember tanpa berkurang kewarasannya. Hiks. Lebay.

Di Januari ini saya berjanji buat bersyukur setiap hari atas hal-hal dalam hidup saya.

1 januari, saya bersyukur berhasil melalui 4th meninggalnya papah saya. Melewati 1 tahun jadi yatim piatu tanpa kehilangan my sanity. Huks. Bersyukur sudah melewati malam bersama 2 sahabat baru-rasa-lama dengan segala macam pembicaraa dari yang intelektual soal buku sampai blas gak intelek soal voldemort a.k.a misteri hilangnya kota di peta. Hihihi.

2 januari, saya bersyukur Genta memutuskan untuk menginap dan meng-exercise kemandiriannya lagi, walau diselingi tangisan kangen di malam harinya. Bersyukur saya dan suami punya waktu mengingat masa muda dengan nonton bioskop. Bersyukur Puti yang sangat kooperatif dipaksa nemenin ayah ibunya nonton bioskop.  Hiyak.

3 januari, saya bersyukur berhasil marathon nonton bioskop bareng laki2 yang sudah bersama saya selama 14th. Menonton 2 film Indonesia yang keren, Bulan Terbelah di Langit Amerika juga Negeri Van Oranje. Saya bersyukur menonton 2 film apik dan membuat saya  teringat tentang pentingnya beragama dengn baik. Juga film yang menghibur, membuat saya tertawa dan bernostalgia. Aaaah nostalgiaaa memang selalu syahdu buat dilakukan. Hehehe.

4 januari, hari ini. Saya bersyukur atas semangat baru yang entah datang dari celh sebelah mana di tubuh saya tapi terasa nggremet sejuk dan hangt di waktu yang sama. Saya berayukur atas berita baik dari adek kecil saya dan keluarganya yang akan segera bertambah anggotanya. Saya bersyukur saya menikahi sahabat saya. Saya bersyukur atas usia yang hampir 40th serta aset di kepala saya yang akan menjadi cahaya di alam kubur nanti *if you know what I mean*.

Saya bersyukur atas gadget ini di mana saya bisa menuliskan rasa syukur saya sambil menemani Puti yang tidur siang. Saya bersyukur atas liburan yang sudah lewat juga liburan yang sebentar lagi akan datang. *sayang gak ada icon joged*

Anyway saya berniat hanya akan bersyukur di tahun ini. Semoga Allag ridho dan menambahkan nikmatNya sehingga saya makin bersyukur.

Happy 2016. May the force be with you. #ealah. May you have a great and barokah life ahead.

image

Advertisements

Walk Away, Please Go *singing*

Just Walk Away - Blog Fanny Herdina

 

Suatu malam menjelang tidur, terdamparlah saya di artikel di atas. Ingatan saya langsung melayang ke 15 tahun yang lalu. Whaaat? Lama betul ternyata sudah. Kurang lebih begini memori yang main di kepala saya.

Mamah : Fan, apa pun keputusanmu, mamah ada di belakangmu. Termasuk kalau kamu memutuskan untuk udahan.

Saya : Maksudnya mah?

Mamah : Maksudnya kalau kamu memutuskan dia bukan yang terbaik, kamu tinggal balik kanan, jalan, gak usah nengok-nengok lagi. Mamah tetap ada di belakangmu.

Sungguh percakapan yang sangat melegakan waktu itu. Sampai sekarang saya bersyukur mamah mengeluarkan statement itu. Karena sesungguhnya waktu itu, itu statement yang sangat ingin saya dengar. Bermodal itulah kemudian saya sungguhan balik kanan dan bubar jalan. Hihihihi.

Anyway, dalam banyak kasus, seringkali kita *eh kok kita, saya maksudnya* -saya- ngotot bertahan pada hal-hal yang sebenarnya sudah tidak bisa dipertahankan. Mulai dari gaya baju, potongan rambut, cara bicara bahkan pacar. Entah apa alasannya. Bisa jadi karena menyerah terdengar bukan kita banget, jadi akhirnya kita ngotot bertahan. Halah, kita lagi, saya maksudnya. Maaf.

Dan ketika saya mendapat kode “boleh balik kanan bubar jalan” itu semacam kode “it’s ok to give up”, rasanya super lega. Rasanya beban yang ada di dada dan pundak langsung berkurang separuhnya. Kemudian efeknya kepala saya lebih mampu berpikir jernih. Hatipun terasa lebih lembut gak asal ngotot seperti kelakukan Genta -my 4yo- belakangan ini. ALhamdulillah, keputusan yang kemudian diambil pun jadi membuat hidup lebih hidup. *bukan iklan*

Ternyata dalam kajian ilmu psikologi, yang dibilang mamah saya itu ada benarnya. Kemungkinan boleh menyerah membuat beban terasa lebih ringan. Lagipula, beberapa hal memang sudah selayaknya tidak dipertahankan. Buat apa ngotot baca buku yang bikin kita super ngantuk dan bosan? Buat apa ngotot nonton film yang kita ga suka, cuman supaya masuk kalangan “penonton perdana”? Ngapain ngotot sama potongan rambut yang gak cocok sama muka kita? Ngapain ngotot sama hubungan yang adanya bikin nangiiiiiisss melulu? *curcol telat 15 tahun*

So sometimes yang kita perlukan memang keberanian untuk *meminjam istilah mamah saya* balik kanan dan bubar jalan. Kemudian memang dilanjutkan dengan, start all over again….

Atau dengan kata lain, boleh never give up, tapi pilihlah yang mau di-never-give-up-in.

Barney Class : #1

Barney Growing - Blog Fanny Herdina

Groooowing we do it everyday,

we’re growing when we’re sleeping and even when we play

And as we grow little older we can do more things,

because we’re growing and so are you

each day we grow little taller, little bigger, not smaller

and we grow a little friendlier too

We try to be little nicer as we grow each day,

because we’re growing and so are you

Bagi para orang tua yang menghabiskan waktu menemani anaknya nonton TV biasanya paham ini lagu siapa. Big purple dinosaur? Yup. Barney. Yeeey, helloooo Barney.

Sejak Genta kecil (sekarang 4th umurnya) saya selalu menemani Genta nonton TV. Salah satu tontonan awalnya adalah Barney. Sekarang Puti (1th) mulai nonton Barney juga. Entah ya. Setiap episode-nya.. saya merasa Barney berhasil menyampaikan value yang penting bagi anak-anak. Jadi so far, Barney masih tontonan wajib buat anak-anak saya.

Lagu di atas misalnya. Selain bicara soal “growing”, saya senang Barney menyelipkan “a little nicer” dalam syair lagunya.

Aaaah, sebut saja saya kuno atau kurang modern, atau sok tua. Tapi sungguh, sopan santun di tahun 2014 ini, di kota Jakarta yang sering saya datangi ini (saya tinggal di Bintaro, Tangerang Selatan), rasanya suliiit sekali ditemukan. Jangankan dari para remaja dan anak-anak yang jelas pre-frontal korteks-nya belum optimal berkembang. Bahkan dari para orang tuanya saja kadang harus bermodal keberuntungan untuk bertemu orang dengan sopan santun sekelas Indonesia (yang konon kabarnya orangnya ramah tamah dan sopan santun).

Tapi ya begitulah kata Barney,

“we try to be a little nicer as we grow each day because we’re growing…”

Jadi bolehkah saya katakan, orang-orang yang gagal menjadi “nicer” tiap harinya, sesungguhnya mereka sedang melawan hukum alam dengan menolak tumbuh?

INVICTUS : The Poem

Ini dia puisi INVICTUS versi lengkapnya…

Denger-denger ini puisi kesukaan NELSON MANDELA lo, waktu dia dipenjara 30 tahun itu…

Kekuatan katanya memang tiada tara ya?

 

Out of the night that covers me

Black as the Pit from pole to pole

I thank whatever gods may be

For my unconquerable soul

In the fell clutch of circumstance

I have not winced nor cried aloud

Under the bludgeonings of chance

My head is bloody, but unbowed

Beyond this place of wrath and tears

Looms but the Horror of the shade

And yet the menace of the years

Finds, and shall find, me unafraid

It matters not how strait the gate

How charged with punishments the scroll

I am the master of my fate

I am the captain of my soul

(William Ernest Henley)

Masih terbayang-bayang…

Nelson Mandela dipenjara selama 30 tahun. Keluar dari penjara, dia siap memaafkan orang-orang yang memenjarakannya. KOndisi mentalnya super sehat, sampai tidak ada dendam di hatinya. Bahkan dia langsung memimpin bangsanya. Dan fokusnya tetap pada rakyatnya.

OooooooooooooooooooO

RINDU

Genta badannya agak anget. Untung dia tidur cepat pagi ini. Semoga angetnya segera terbang jauuuuuuuh.

Seperti biasa. Begitu Genta terbang dalam tidur bermimpinya. Saya langsung siap melakukan tugas-tugas Ratu Rumah Tangga. Cucian udah dijemur. Masak? Hari ini libur. Mandi? Nanti dulu deh. Ha. Nonton film barang 1 jam deh. Ngecharge diri sendiri duluuuu.

INVICTUS judulnya. Beberapa minggu lalu dibeliin CD-nya sama Iya, adek saya. Dijual di Gramedia 5000 harganya. Film apa tuh? Gitu batin saya. Yang main Morgan Freeman dan si-Bourne itu. Cek jam. Lumayan udah mulai, tapi masih ada sisa barang 1 jam. Pas persis sama jatah nonton film pagi ini. Mulaiii…

10 menit kemudian. Mata saya hangat. Airmata sudah siap meluncur.

Sekitar 1 jam kemudian….

Hiks. Hiks. Hiks. Airmata saya meluncur indah sampai ke dagu. Rasanya rinduuuuuu serindu-rindunya sama rasa yang dimiliki rakyat Afrika Selatan waktu itu. Rinduuuuu punya pemimpin yang sudi bekerja keras. Rinduuuuu punya kebanggaan bersama. Rinduuuuuu. Rinduuuuuu. Boleh kan rindu? Kan artinya cinta?

I am the master of my fate
I am the captain of my soul

Mau ngintip cerita filmnya? Ke sini aja ya…

Panasnya sampai 39 Genta. Moga-moga cuma karna tumbuh gigi ya?

The Sound of Music

Anda pernah nonton film The Sound of Music kan? Kalau belum, sebaiknya Anda segera mencari dan menontonnya. Tonton saja bersama-sama seluruh keluarga kesayangan Anda. Sekali menonton. Berikutnya Anda bisa ikut bernyanyi-nyanyi di keindahan pegunungannya serta kesyahduan perairannya.

Saya kenal film SOM ini sejak saya kecil. Mamah saya semacam nyekoki anak-anaknya. Sampai sekarang, saya tetap suka nontonnya. Musiknya. Gerakan tariannya. Kadang percakapannya saja, saya hapal. Tapi tetap saja saya tonton lagi. Sering kali saya dan adek-adek bilang, “Kok udah lama ya gak nonton SOM, yuk nonton.” Terus, yaaaa nonton lagi lah. Saya paling suka adegan Liesl, si sulung Capt. Von Trapp waktu menari di Gazebo rumahnya dengan Ralf, si kekasih hatinya. Roknya itu lo. Melambai dengan sangat indah. Saya sampai bertanya-tanya, itu kainnya apa ya, kok bagus banget.

Saya juga suka adegan Maria dan Capt. Von Trapp pulang dari bulan madu, terus ketemu sama anak-anaknya. Favorit saya adalah waktu Maria nyanyi bareng Liesl. Aaaah.Indah betul hubungan antara mereka berdua. Yes. You should run now and watch the film. Sudahlah, Anda bisa selesaikan baca blog ini kapan saja. Cari saja dulu filmnya. Ayo nontoooooooon.

Semacam ketemu teman lama. Selesai menonton TV. Rasanya energi kayak batere HP baru selesai dicharge. Fresh. Singalnya kenceng bener. Hati rasanya hangat menikmati cinta si Captain Von Trapp sama Maria. Eh, sudah tahu belum kalau film itu diinspirasi oleh cerita nyata? Beberapa waktu yang lalu Maria yang asli diwawancara OPrah. Saya nonton di TV kabel, tapi saya lupa channelnya. Seru.

Oiya. Kalau Anda aktivis YouTube. Ada juga video di Youtube tentang scene tarian di salah satu stasiun di Eropa dalam rangka memperingati film SOM ini. Ah. Tepatnya sudah berapa tahun film ini, saya lupa. Omong-omong, film itu ternyata juga kayak keju ya? Lama-lama jadi makin mantap dinikmati. Apalagi sekarang, di tengah gersangnya film-film yang menyejukkan jiwa.

Udah ah. Yuk nyanyi bareng.

The hills are alive… with the sound of music…

WIth song they have sung for a throusands years…

The hills fill my heart.. with the sound of music…

My heart wants to sing every song it sings…

Happy morning everyone…

Vitamin for Life

Dulu waktu kuliah di Yogya, ada waktunya aku gak pergi keluar kos sama sekali seharian. Duduk diam di dalam kamar, baca buku, nonton film, main game. Seharian, bahkan mungkin beberapa hari sekaligus. Padahal sesungguhnya aku orang yang gak bisa gak ngobrol dalam sehari, bisa stres aku. Hehe.

Istilahku waktu itu, BUTUH MENANGIS. Iya, aku cari buku, film atau game yang bisa bikin aku nangis. Nangis karena bahagia, haru, bersyukur dan segala emosi positif lainnya. Bukan nangis karena sedih. Hehehe. Kalau nangis karena sedih sih, jaman segitu, cukup lihat pacar juga, udah pengen nangis SEDIIIIIH. Huahahaha.

Rupanya kebiasaan ini berlangsung terus sampai sekarang. Kadang dalam beberapa minggu, aku gak baca buku atau main game atau nonton film bagus sama sekali. Tapi sekali waktu kerinduan itu dateng. Seperti sekarang. 1 buku dibaca 1 hari, habis. Sambil nemenin Genta mainan Play-Doh, ngelirik Indovision, dapet deh 2 film bagus. Malam-malam sambil nemenin bos besar update berita Nurdin Halid, maen game deh.

And you know what? Rasanya kayak habis minum vitamin. Badan lebih segar. Pikiran fresh. Suasana hati luar biasa. Energi kayak habis di recharge. Mata kayak habis digurah. Rasa syukur lebih melimpah. Dan terutama, makin merasa sayang sama orang-orang terdekat. Makin merasa bahwa waktu yang aku punya adalah sekarang. Kesempatannya ya saat ini.

Well, sebagian orang minum vitamin buat badannya. Hari ini aku minum vitamin for jiwaku. And I am being so very grateful for that.