Ada & Bermakna

Jaman dulu saya inget betul tren banget handuk pakai nama kita. Wah yang punya jelas orang berkelas lah waktu itu. Padahal mah hiasannya cuma garis garis doang. Udah seneeeeeng banget. Namanya anak-anak.

Terus tren nya bergeser, tas dikasih nama. Saya sama adek adek juga punya itu. Seruuu bener kesannya, naik kereta senja utama, nenteng tas ada nama kami masing2. Yesss, kami kecil di masa senja utama my dear. Kereta eksekutif belum ada waktu itu. Huaaaa….. ketahuan umurnya.

Terus ada juga tren label nama. Yang berduit label namanya ukurannya gede, ada gambarnya sanrio, hello kitty, mickey mouse. Doraemon belum nyampe pada masa itu. Apalagi ben ten sama hot wheels. Sudahlah, masih dinperut ibunya masing2, kalau istilah Genta.

Ada apa ya soal anak2 dan benda bernama mereka? Kok nampak spesial sekali? Aaaah, anak2 hidup di dunia orang dewasa yang asing, bising dan kadang tidak ramah. Bayangkan saja, di mata anak2, pintu mal itu jelas tinggiiiiii sekali. WC umum jaraaang yang ada ukuran tinggi mereka. Naik mobil pun kadang harus dibantu. Sepatu anak tempatnya nyempil di antara deretan sepatu orang dewasa. Mereka seperti ngekos di dunianya orang dewasa.

Maka barang bernama mereka seperti oase. Sebuah kedipan dari para orang dewasa yang menyayanginya, bahwa dunia ini juga milik mereka. Sebuah anggukan yang menenangkan dari orang dewasa yang mereka percayai, bahwa mereka juga diakui hadirnya. Ada. Nampak. Dan berarti.

*status serius mengandung iklan*

Kontak japri yang berminat sama handuk namanya. *wink

Advertisements

Fun Being A Mom

Saya lupa saya dapat gambar di atas dari mana. Mungkin kiriman dari grup WA, atau juga mungkin salah satu page parenting yang saya follow, tapi jelas itu bukan buatan saya sendiri. Kenapa?

Pertama, dapur saya tidak nampak sedikit pun seperti di gambar. Jadi itu pasti bukan di rumah saya.

Kedua, anak saya dua-duanya berambut hitam dan ikal, bahkan cenderung keriting kriwil. Jadi 2 anak di bawah itu bukan anak saya.

Ketiga, saya sudah cek berkali-kali di lemari saya, jelas pakaian yang dipakai sang ibu, bukan termasuk wardrobe saya. Jadi jelas itu foto bukan bikinan saya sendiri.

Tapi saya sungguh merasa sangat relate dengan gambar di atas. Sungguh. Saya memahami perasaan sang ibu, sampai-sampai saya tidak sanggup menahan tawa saya setiap kali melihat gambar di atas. Bukan tawa menghina. Lebih tawa yang “you are not alone”. Tawa yang penuh kelegaan.

Huahahaha. Kondisi rumah saya di akhir hari, mirip sekali gambar di atas. Bentuk saya saat suami pulang kantor, juga mirip, dengan rambut berantakan dan kelek bau asem, serta energi bar yang sudah berwarna merah. Dan 2 anak saya di akhir hari, juga mirip 2 anak di atas, tertawa riang, di antara mainannya yang berantakan di lantai, dengan energi yang masih full seperti baru bangun tidur.

Aha. Bukankah memang itu yang penting untuk diperhatikan? 2 anak yang tetap riang di akhir hari. Biarpun rumah kecil, berantakan kayak kapal pecah. Kelek ibunya bau asem. Tapi tawa mereka tetap mengembang.  Apakah mungkin karena mereka tidak memperhatikan rumah yang berantakan dan kelek bau asem? Apakah itu mungkin karena mereka merasakan cinta? Apakah mungkin, pada akhirnya, saya bisa bilang, I have done a great job today, that contribute to that wonderful smiles. Mungkinkah?

Please say yes. Please. Don’t make me beg.

Banyak Bisnis Gagal di Tahun Pertama

Tahukah Anda, kalau Anda ketik “bisnis di tahun pertama” di Google maka kebanyakan artikel yang muncul adalah tentang kegagalan. Wow. Sama sekali tidak mendukung entrepreneurship ya? Harusnya kan yang muncul artikel tentang, cara-cara memulai, dukungan pemerintah, kebutuhannya, dll, tapi yang muncul justru tentang kegagalan. Ni kalau gak percaya.

Setelah kegagalan saya di bisnis pendidikan tahun 2012 lalu, seorang teman juga mengirim pesan melalui WA saya yang isinya kurang lebih begini.

“Tenang wae. Rugi itu biasa. Bangkrut itu biasa. Aku dulu juga gitu. 90% bisnis gagal di tahun pertama”

Hualaaah. Satu sisi melegakan. Di sisi lain, saya bertanya-tanya, haruskah saya menyerah pada fakta bahwa saya termasuk kaum 90%? Huaaaa, hiks, hiks. Apakah wirausaha bukan jalan saya? Apa yang sebaiknya saya lakukan? Hah, otak saya langsung dipenuhi banyak pertanyaan.

Anyway, soal gagal di tahun pertama, ada banyak artikel terkait tentang mengapa bisa begitu dan bagaimana cara mengatasi atau menghindarinya, kalau mungkin. Tapi saya bukan ingin menambah deret artikel tentang mengapa dan bagaimana. Saya mau bercerita tentang rasa. Rasa gagal.

Apakah Anda memahami bahwa Anda tidak pernah sepenuhnya siap gagal, sampai akhirnya Anda sungguh gagal dalam satu lingkup hidup Anda. Ah, saya tidak sedang membahas frase klise “kegagalan adalah sukses yang tertunda” atau “kita tidak akan gagal sampai kita berhenti berusaha”. Ayolah, kita semua sudah dewasa. Sedikit kegagalan bukan masalah besar bagi siapa pun dengan self esteem yang baik. Sedikit kegagalan + banyak denial, itulah yang menimbulkan masalah.

Seorang teman memberi komentar di Facebook suatu hari saat saya share status tentang kegagalan.

“Tenang mbak. Kegagalan itu….. bukanlah kesuksesan”

Nah, itu yang tepat. Ini baru teman sejati menurut saya. Langsung menampar ke intinya. Mengguncang ke dalam ulu hati. Hihihihi.

Saya butuh waktu kurang lebih 2 tahun untuk recover dari kegagalan saya mengelola bisnis pendidikan saya. DIgabung dengan meninggalnya papah dan perlakukan semena-mena orang lain pada mamah saya, 2 tahun rasanya bukan waktu yang lama. Selama 2 tahun, saya mandeg menulis. Bukan karena tidak mau, tapi tidak bisa. Ada malam-malam di mana saya membuka laptop, mengklik tombol “Add New” di wordpress, tapi kemudian timbol-tombol lain di keyboard seperti menghinda jari-jari saya yang diam lumpuh tak bergerak.

Kurang lebih 2 tahun saya tidak melakukan kegiatan bisnis apa pun. Sibuk bertanya, apakah keputusan saya tepat untuk menghentikan bisnis saya itu, yang cukup menguntungkan secara finansial, tapi membuat saya tidak bisa tidur karena bertentangan dengan nilai dasar yang saya miliki. Bertanya-tanya apakah kerugian ratusan juta ini layak menjadi akibat kekeras-kepalaan saya mempertahankan value yang saya yakini betul kebenarannya?

2 tahun saya gigit jari setiap melihat teman menerbitkan buku keduanya. Membuka Indomaret ke-4 nya. Membuka rumah kos-kosan barunya. Membeli lempengan emas ke sekian. Membeli rumah baru. Berlibur jalan-jalan ke luar negeri bersama keluarganya. Menggigit jari dan tidak mampu menyingkirkan awan hitam di kepala saya, tentang kegagalan ini.

2 tahun merasa sendiri dalam kegagalan. Bukan karena tidak ada support, tapi karena merasa sendiri. Merasa malu karena gagal, padahal seharusnya saya bangga memenangkan value hidup saya atas nilai ratusan juta rupiah. Tidak mampu membicarakannya secara publik, tanpa marah dan jengkel pada individu yang menjadi tumpuan saya mengambil keputusan itu.

Buuuut……

2 tahun sudah berlalu my friends, awan gelap pun ada masanya bergerak. Saya di sini sekarang. Berdiri tegak, siap memulai babak baru. Perjuangan belum berakhir, begitu pula kesenangan baru dimulai. Jika dia-dia-dia yang di sana berpikir semua yang dilakukannya membuat saya menderita, saya menolak menjadi objek penderita. Saya pelaku hidup saya sendiri. You have seen me fall and you have seen me stand tall, again, and again, this time, even taller.

Tapi, janganlah ucapkan kata-kata klise soal gagal pada teman yang sedang mengalaminya, friend. Jujurlah seperti teman saya di atas jujur pada saya. Karena saat awan hitam menggantung, bukan harapan tentang sinar matahari yang dibutuhkan. Tapi pelukan hangat, pinjaman payung dan seorang teman yang tetap bertahan, itulah yang membuat saya tetap bertahan.

Ini saya attach beberapa artikel tentang kegagalan bisnis di tahun pertama. Jangan menyerah guys. Your dreams are bigger than this, right?

Weekly Photo Challenge : Family

Family Fun - Cerita Fanny

It was actually a lazy saturday afternoon, when we all woke up late, took a bath late and ate late. It was almost midday and both parents haven’t eat anything for breakfast. We were both starving. So on our way taking Genta to his martial art, we stopped in front of Masjid near our house to buy siomay from a street-food seller.

Hungry and kids just won’t stop singing and bouncing, we decided to capture the moment. The special lazy starving Saturday afternoon.

People say that when your life-light begins to dim, it’s the most important thing in life that would come flashing in your mind. I don’t know for I am not dimming yet (I hope). But I know for sure that when in trouble I think of these people. When I lay down and try to close my eyes, I wish the very best for all of them. I even think of them when I’m alone in the bathroom. So I guess it’s right that people say, you finally have only your family.

Short Escape

View

Menjelang habis liburan, kami putuskan pergi mendadak berlibur. Hihihi. Dekat-dekat saja, sekitar Bogor, Puncak atau Sukabumi. Belum tahu mau pergi ke mana waktu kami meninggalkan rumah, jangankan pesan hotel.

Makan duluuuu. Sip. Sambil makan masih juga mikir mau ke mana daaaan belum ketemu juga, Tiba-tiba seorang teman sms suami saya, kebetulan dia sedang di Jakarta. Ah, klasik, mana ada kebetulan? Memanglah dia dikirim ke kami buat menunjukkan mau ke mana liburan kali ini. Singkat padat dan jelas, dia bersedia ikut kami. Kami memanggilnya Pakde Arif, supaya Genta dan Puti juga terbiasa dengan panggilan itu. Teman di mana? Walah, panjang ceritanya, intinya teman, teman baik, teman yang masih mudah ditemui walau tinggal di kota berbeda. #kode

Selesai makan kami menjemput Pakde Arif menuju Puncak. Si pakde langsung menyebut lokasi rekomendasinya, punya temannya katanya. Si pakde memang punya banyak sekali kenalan. Terjebak macet selama 4 jam di keluar tol Jagorawi sama sekali tidak mengurangi serunya liburan kami. Foto di atas adalah pemandangan dari dalam kamar kami. Gimana? Cocok kan?

Komentar Genta, “Kok rasanya Genta pengen kayak gini tiap hari ya buuu”

Jiaaah, ya tentunya leee, ayah ibumu juga mau. Sabar ya. Lagi bikin infrastruktur dulu. Hee, kayak pemerintah aja ngomongnya. Anyway, it was a great short escape. Thanks to Pakde Arif, suami saya mematikan GPS nya dan hanya bergantung pada GPS hidup di sebelahnya. Hehehe.

Otw pulang, mampir dulu ke air terjun Cikoneng Sentul. Cakeeeep.

Otw pulang, mampir dulu ke air terjun Cikoneng Sentul. Cakeeeep.

Itu dia kami beberapa saat sebelum turun hujan.

Itu dia kami beberapa saat sebelum turun hujan.

Ini dia wajah kami sepulang dari Bumi Geulis. Mampir sebentar di Waroeng Ijo, Sentul.

Ini dia wajah kami sepulang dari Bumi Geulis. Mampir sebentar di Waroeng Ijo, Sentul. Seger kan?

^semua foto courtesy ayah Anton dan pakde Arif^

Pssstt, take a break, file some days off -the company won’t miss you that much-, spend times with family, don’t say you would do it later, if you can’t find time now I don’t think you could find it later and see how that short break breaks ear-to-ear smile on your kids face.