Life by Sandiaga Uno

Life is full of failures
Life is about managing failures

View on Path

Advertisements

One in A Million

Sebagai enterpreneur, sering kali kita lupa, ealah kok kita, saya lupa. Sering saya berpikir kesuksesan saya berkorelasi linier dengan kerja keras saya, kerja pintar saya, jumlah jam kerja saya, jumlah jam mikir saya, jumlah network saya. Ketika semua hal yang saya sangka baik sudah saya lakukan, eh lha kok malah bangkrut, ditagih bayar hutang oleh orang2 yang dulu bilang mengagumi keputusan saya untuk jadi enterpreneur. Saya punya 2 pilihan.

Merajuk. Merengek. Dalam hati bertanya dan ngeyel, aku sudah lakukan hal yang benaaaaar, tapi kenapa kau bangkrutkan juga akuuuu? Sementara mereka kau sukseskaaaaaan? Kemudian melacurkan diri dengan melabel diri sendiri gagal, kehilangan muka bertemu orang lain, menyerah pada mimpi2 idealistik saya. Terakhir hidup menjadi versi terburuk dari segala kemungkinan diri saya.

Atau….
Sebaliknya…..
Anda bisa bayangkan sendiri kan sebaliknya? Atau tetep perlu saya ketik? Gimana? Manja ya? Tetep mau diketikin? Baiklah, saya ketikin, Anda tinggal share….

Atau saya bisa tetap tegak berdiri dengan kepala diangkat. Bangga atas kesempatan jatuh, yang artinya saya mencoba. Bangga dengan kesempatan bangkrut, yang artinya saya pernah memulai. Bangga dengan kesempatan berada di luar jalur umum, yang artinya saya elang yang terbang sendiri. Bangga dengan dkesempatan tertinggal, yang artinya saya punya waktu untuk berdiri dan membersihkan badan dari debu.

Sambil bersyukur dalam hati, terima kasih untuk tetap memintaku rendah hati. Terima kasih untuk tetap memintaku hidup sak madya. Terima kasih untuk menunjukkan padaku siapa teman2ku. Terima kasih untuk men-jlentrek-kan *use google translate for detail* siapa orang yang bersorak ketika saya sukses, siapa yang diam2 ndepipis di pojokan bersorak ketika saya jatuh. Terima kasih untuk memintaku tetap dekat denganMu. Terima kasih untuk tetap menjagaku dalam kebaikan. Tapi lain kali, tolong ajari aku semua itu, dengan uang 5M di rekening. Please? Biaya kuliah Genta sama Puti kan tetap perlu dicari kan, ya Allah?

Dah, udah saya ketikin yaaaa….. kebangeten kalau gak di share…..
Love you friends

*di bawah ini tulisan teman yang saya share*

Arthur Ashe, pemain Wimbledon legendaris sekarat karena AIDS yg berasal dari darah yg terinfeksi virus ketika operasi jantung pada 1983.

Dia menerima surat dari para penggemarnya, salah satu dari mereka ada yg menyampaikan:
“Mengapa Tuhan memilih Anda untuk mendapatkan penyakit yg buruk seperti ini??”

Terhadapnya, Arthur Ashe menjawab:
Lima puluh juta anak mulai bermain tenis,
Lima juta dari mereka belajar bagaimana bermain tenis,
Lima ratus ribu belajar tenis secara profesional,
Lima puluh ribu bertanding dalam turnamen,
Lima ribu mencapai Grand Slam,
Lima puluh mencapai Wimbledon,
Empat mencapai semifinal,
Dua mencapai final dan ketika saya menggenggam pialanya, saya tak pernah bertanya pada Tuhan, “Kenapa (harus) saya?”

Jadi ketika sekarang saya sakit, bagaimana bisa saya menanyakan kepada Tuhan, “Kenapa (harus) saya?”

Kebahagiaan membuatmu tetap manis.
Cobaan membuatmu kuat. Kesedihan membuatmu tetap menjadi manusia.
Kegagalan membuatmu tetap rendah hati.
Kesuksesan membuatmu tetap berpijar.
Namun, hanya iman yg membuatmu tetap melangkah.

Kadang engkau merasa tidak puas terhadap kehidupanmu sementara banyak orang di dunia ini memimpikan bisa hidup sepertimu.

Anak kecil di ladang memandang pesawat terbang di atasnya, dan memimpikan bisa terbang, tetapi sang pilot di pesawat itu memandang ladang di bawahnya dan memimpikan bisa pulang ke rumah.

Begitulah hidup.
Nikmatilah hidupmu.

Jika kekayaan adalah rahasia kebahagiaan, tentu orang-orang kaya akan menari-nari di jalanan.
Tapi? Hanya anak2 miskinlah yg melakukannya.

Jika kekuatan memang menjamin keamanan, tentu orang-orang penting akan berjalan tanpa pengawalan.
Tapi? Hanya mereka yg hidup sederhana yg bisa tidur nyenyak.

Jika kecantikan dan kepopuleran memang membawa kita pada hubungan yang ideal, tentu para selebriti pasti punya perkawinan yg terbaik.

Hiduplah sederhana
Berjalanlah dengan rendah hati.
Dan mencintailah dengan tulus.
Jujur dalam berucap
Ikhlas dalam bekerja…
(Copas dari grup WA GK Psikologi ’96)

Lima Huruf Saja untuk “Sabar”

Nice lesson from a dear relatives of mine

FiLia!

Menjelang abege dulu, saya hobi bersepeda bersama teman – teman. Kami menjelajah wilayah tempat kami tinggal, waktu itu kami tinggal di daerah Pejompongan, Jakarta Pusat. Teman karib yang kerap menemani saya bersepeda salah satunya bernama Diana.

Satu sore yang cerah, saya dan Diana bersepeda menyusuri Jl. Danau Limboto. Di jalan itu banyak berdiri bangunan sekolah yakni sebuah gedung Taman Kanak -kanak, beberapa bangunan SD, sebuah gedung SMP dan 1 gedung SMEA. Sekolah kami, SDN 05 Pagi juga terletak di jalan ini.  Tapi bukan sekolah – sekolah tersebut yang menjadi tujuan kami bersepeda. Entahlah, saya juga tak ingat hendak kemana kami sebenarnya waktu itu, karena memang biasanya kami hanya senang berkeliling – keliling saja menghirup udara sore, tanpa arah yang pasti.

Hampir mencapai ujung Jl. Danau Limboto, tepat di belakang sebuah bangunan gereja, kami lalu berbelok ke kanan mengarahkan laju sepeda kami menuju Jl. Danau Mahalona. Di situlah kami berpapasan dengan…

View original post 1,751 more words

If Only I Were…

Ada kata-kata bagus yang asal usulnya diperdebatkan. Ada yang bilang dari Amerika, ada yang bilang dari Argentina. Ada yang katanya aslinya prosa, ada yang bilang aslinya puisi, bahkan ada yang bilang aslinya lirik musik jazz. Yang mana pun asalnya. Kata-katanya bagus. Maknanya like a splash of water. A very nice reminder. Please do read them.

If I had my life to live over, I would try to make more mistakes. I would relax. I would be sillier than I have been this trip. I know of very few things that I would take seriously. I would be less hygienic. I would go more places. I would climb more mountains and swim more rivers. I would eat more ice cream and less bran.

-Don Herold (1953), I'd Pick More Daisies

If I had my life to live overI’d do the same things againI’d still want to roam to the place we call homeWhere my happiness never would end.

-Moe Jaffe & friends (1993), If I Had My Life To Live Over

If I were able to live my life again, next time I would try to make more mistakes.
I would not try to be so perfect. I would be more relaxed.
I would be much more foolish than I have been.
In fact, I would take very few things seriously.
I would be much less sanitary. I would run more risks. I would take more trips, I would contemplate more sunsets,
I would climb more mountains, I would swim more rivers.
I would go to more places I have never visited.
I would eat more ice cream and fewer beans.
I would have more real problems, fewer imaginary ones.
I was one of these people who lived prudently and prolifically every moment of his life.
Certainly I had moments of great happiness: Don’t let the present slip away.
I was one of those who never went anywhere without a thermometer, a hot water bottle, an umbrella, and a parachute.
If I could live over again, I would go barefoot, beginning in early spring and would continue so until the end of autumn.
I would take more turns on the merry-go-round.
I would watch more dawns
And play with more children, if I once again had a life ahead of me.
But, you see, I am eighty-five and I know that I am dying.

-Moments, Borges

Air Mata

Di keluarga kami, saya termasuk perempuan yang paling sulit mengeluarkan air mata. Kalau sampai air mata saya sudah mengalir, tandanya perempuan-perempuan lain dalam keluarga kami, udah pasti bengkak matanya. Semacam otot, otot air mata saya sudah terlatih lah. Keluarnya cuma yang penting-penting saja. Hehe. Itu setahu orang lain lo.

Sesungguhnya saya gampang sekali menangis. Waktu ikut sertifikasi NLP 7 hari, ya 7 hari itu saya menangis terus. Setiap pulang training, dijemput suami, komentarnya, “Kamu nangis lagi dek?” Hahaha. Nonton serial PARENTHOOOD, udah pasti nangis. Jangankan itu, nonton GLEE aja, yang isinya nyanyi semua, pasti nangis. Lagi jalan-jalan di mall, ketemu orang tua yang galak banget sama anaknya, pasti nangis. Suami saya sampai hapal. Kalau dia lihat juga kejadian itu, selalu kepala saya diarahkan ke titik lain. Sambil dia bilang, “Udah tenang aja. Bukan urusanmu.”

Saya ingat juga hari pertama ikut NLP Practitionaire. Pas bagian bikin anchor damai, partner saya sampai takut dan manggil trainernya. Karena lagi-lagi, saya nangis. Saya sampai dikerubutin 3 orang. Dikiranya ada yang salah. Tahunya ya memang saya menangis karena merasa sangat damai. Hehehe. DI hari ke-6 atau ke-7, mas Ronny, trainernya sampai khusus datengin saya. Dia bilang, “Kamu kalau bahagia itu nangis to Fan.” Saya bilang, “Iya mas.” “Ya sudah kalau gitu.”

Entah ya. Air mata saya rasanya kok murah sekali. Dan saya gak keberatan sama sekali mengeluarkannya di mana saja. Kemarin waktu mengisi seminar, ada yang cerita tentang WFO-nya berdiri di depan ka’bah. Dia nangis, saya juga ikut nangis. Kapan lagi itu, ada yang nelpon, cerita masalah personalnya. Niatnya mau minta tolong diterapi, sambil menuntun dia terapi, air mata juga gak tertahan, merembes sampai ke leher.

Dan efeknya? Saya menyukai efek emosi setelah saya menangis. Entahlah. Rasanya pandangan lebih clear. Napas lebih ringan. Pikiran lebih fresh. Dan hati? Hati kayak lembuuuuut banget. Saya ingat suatu hari dikirim sms dari seorang teman, mas Hendro namanya. Dia seorang Muslim yang super taat. Intinya sms-nya bilang, “airmata itu melembutkan hati.” Dan itu ada dalam tuntunan agama Islam. Menurut saya? Tentunya saya setuju.

Oiya. Omong-omong saya menulis note ini setelah lihat foto teman-teman pulang umroh beberapa hari yang lalu. Baru lihat fotonya aja, saya udah merinding dan mata saya langsung hangat. Orang Jawa bilang, ngecembeng. Penuh air mata. Waduh, gimana nanti kalau pas udah di sana ya?

Kalau bener efek air mata itu sebegitu dahsyatnya buat kesejahteraan hidup kita. Apa masih mau kita larang anak-anak kita mengeluarkan air mata?

Quiet Moment

Setiap Genta tidur, saya punya kemewahan atas rumah yang begitu sepi dan tenang. Alunan blower AC dan kipas angin bagaikan gemercik air di vila kecil di Sukabumi. Terus menerus, ritmis, ada dan tidak mengganggu. Saya sangat menikmati momen ini. Saya meyebutnya sebagai quiet moment. Tidak sungguh-sungguh tanpa suara. Namun suarnya lirih sekali seperti pecinta sedang berbisik, sampai saya mampu mendengar suara kecil dari dalam dada saya sendiri.

Rasanya? Senang. Damai. Uhh, seperti menarik selimut kesayangan di tengah hujan lebat. Aman.

Dalam quiet moment saya beberapa waktu lalu, saya mendapat kemewahan untuk memikirkan tentang hidup. Saya teringat tahun-tahun saya di Yogya. Segala sesuatu berjalan sangat cepat seperti kilat menyambar. Cepat, keras dan kemudian hilang. Saya juga teringat salah seorang teman baik, yang entah sedang berdiri di bagian dunia yang mana sekarang, berkata,”Ternyata hidup itu gak selalu harus berlari ya Fan? Jalan juga boleh kok.”

Waktu itu saya mengiyakan. Walaupun dalam hati bertanya-tanya. Bagaimana mungkin dalam hidup yang singkat ini kita tidak perlu berlari. Ada banyak tujuan yang harus didatangi. Ada banyak asa yang mau direngkuh. Kalau tidak berlari, tidak mungkin rasanya melakukan semua hal itu sebelum waktunya habis. Namun atas nama hormat, saya iyakan saja.

Kemudian beberapa tahun sesudahnya, ketika kelelahan sedang menggoda. Seperti seorang belly dancer yang menari di kerumunan turis-turis padang pasir, saya teringat lagi kata-katanya. Iya saya semakin dalam, namun masih belum menemukan caranya untuk memperlambat langkah saya. Pertemuan-pertemuan dengan orang hebat lainnya membuat saya paham, bahwa perjalanan sama indahnya seperti tujuan.

Lalu tahun 2009, saya bertemu malaikat kecil yang nampak sangat lugu. Macam bunga mawar yang tumbuh tenang di tengah padang rumput. Dengan caranya yang halus, justru dia mengajarkan saya tentang memperlambat lari saya. Tanpa kata. Tanpa tekanan. Dan hidup saya berjalan lebih pelan. Sekarang saya paham bahwa hidup memang tidak perlu berlari. Saya menikmati hari yang cepat berlalu dengan langkah pelan saya. And yes, I begin to enjoy little things in life.

Apakah saya kehilangan tujuan? Kehabisan mimpi-mimpi yang mau diraih? Kota-kota yang akan dicium aromanya? BUKAN. Saya punya lebih banyak tujuan sekarang. Hidup saya bukan lagi tentang saya saja. Tentunya jadi makin banyak asa yang mau saya rengkuh. Dan saya tetap melangkah pasti menuju semua itu. Hanya kali ini langkah saya lebih pelan. Dengan begitu saya jadi banyak belajar bersyukur.

Apakah lebih lama untuk sampai ke sana dengan langkah yang pelan? Walaupun sulit dijelaskan dengan logika sederhana, saya malah lebih cepat sampai tujuan dengan langkah pelan saya. Genta, si malaikat kecil, mengajarkan ibunya untuk menarik nafas dan mengeluarkannya dalam damai.

Aneh? Ya. Bukannya hidup memang serangkaian keanehan yang menyenangkan?

Belajar Ikhlas di Pesawat

Setiap kali pergi naik pesawat, aku tertarik untuk mengamati wajah-wajah sesama penumpang. Dalam hatiku, aku bertanya-tanya, “Hebat betul oarng-orang ini ya. Senyum-senyum. Kayaknya gak takut sama sekali mau terbang.” Hehehe. Sementara aku, sebenarnya setiap kali mau terbang, selalu sibuk “menggusah” wourst case scenarios yang menari-nari di kepalaku. Belakangan skenarionya semakin menegangkan karena aku pergi bersama Genta.

Hari Senin kemarin aku naik pesawat lagi dari Semarang ke Jakarta, cuma berdua sama Genta. Soal cuma berdua, sama sekali bukan masalah besar. Genta sangat mudah diajak kerja sama. Lagipula sepengalamanku, orang-orang nampak sangat berempati dan ringan tangan membantuku setiap kali aku bepergian hanya berdua sama Genta.

Problemnya adalah, Genta nangis setiap kali pesawat mau take-off. Well, ini bukan pertama kali Genta naik pesawat. Tapi ini memang pertama kalinya Genta naik pesawat hanya berdua denganku. Dan juga pertama kalinya Genta nangis di dalam pesawat.

Sebagai orang yang intuitif, langsung saja skenarionya semakin kencang menari di kepalaku. “Anak kecil kan sensitive,” ujarku dalam hati. Jangan-jangan dia kerasa kalau pesawat ini nggak aman. Ok. Pintu daruratnya di mana? Diikuti dengan langkah-langkah antisipatif lainnya yang seperti SOP langsung aku susun di kepalaku. Alhasil, tentunya Genta semakin keras nangisnya. Minta keluar. Nunjuk-nunjuk pintu keluar. Detak jantungku aku sadari makin kencang. Napasku juga makin memburu kayak lagi lari. Bagian bawah lenganku mulai hangat. Aduh, apa yang harus aku lakukan?

Tiba-tiba ada suara kecil, ramah dan sangat lembut bilang, ”Pasrah Fan. Ikhlas. Dan sabar.” Suaranya kecil sekali. Kalau ditanya di mana tepatnya suara itu muncul, tepatnya muncul dari belakang my belly button. Apakah suara itu seperti laki-laki atau perempuan? Perempuan. Seperti suara anak-anak yang menarik-narik ujung bajuku dengan wajah polosnya. Kemudian, napasku melambat, detak jantungku mulai tertata kembali. AC pesawat juga mulai terasa sejuknya. Aku melihat ke luar pesawat lewat jendelaku. Sesaat kemudian aku menengok ke arah Genta, matanya mulai menutup pelan-pelan. Dalam hitungan detik dia tidur memelukku dengan tenangnya.

Sudut bibirku tertarik ke atas. Aku tersenyum. Sungguh. Naik pesawat adalah momen yang tepat buat belajar ikhlas. Aku teringat guru NLP ku, mas Ronny dan tanpa sebab yang jelas ada running text muncul di kepalaku, ”Happiness atau apa pun emosi yang ingin kau rasakan is a decision away.” Suara anak perempuan tadi membantuku mengambil keputusan yang tepat soal emosi apa yang ingin aku rasakan.

Dan aku juga membuktikan satu hal lagi tentang parenting. Anak sungguh adalah perasa energi yang luar biasa akurat. Genta nangis bukan karena takut. Genta nangis karena terkena aliran energi ketakutanku yang berusaha keras aku tutupi. Orang dewasa bisa dibohongi soal energi. Tapi Genta, dan anak-anak lainnya, sepertinya tidak bisa dibohongi.

Kurang lebih 1 jam kemudian aku dan Genta sudah ada di mobil kami, dalam perjalanan pulang ke rumah kami, Bintaro. Dalam beberapa helaan napas, rasanya mataku hangat dan airmataku hampir turun, terutama waktu ketemu ayahnya Genta dan bibinya, yang menjemput. Well, sebuah pengalaman worth to share.

Have You Ever Noticed?

Lagi-lagi cerita ini diawali dari nemenin Genta nonton Barney. Setiap kali nonton Barney, aku berkata-kata dalam hati, TV ini ada sisi positifnya juga kok. Barney punya value luar biasa yang menurutku pribadi wajib ditanamkan ke anak-anak sejak kecil.

Ini salah satu lirik lagunya, yang setiap kali bikin aku menitikkan airmata kalau denger.

Have u ever notice? I’m a little too big or sometimes my tail gets in the way.

Have u ever noticed? I dont look much like u. Would it be better if I were orange, green or blue.

But if everybody was the same, I couldnt just be me. I just have to find a way, it’s true.

To be who I am, what I am, is ALL THAT I CAN BE. Its all that I can think of… TO BE ME.

Membayangkan betapa dunia ini akan jauh lebih indah kalau anak-anaknya sangat nyaman dengan dirinya sendiri. Karena anak-anak ini yang nantinya tumbuh dewasa dan jadi para dewasa yang juga nyaman sama dirinya.

Orang yang nyaman sama dirinya sendiri dan berperilaku yang sesuai sama identitas dirinya, tentunya gak butuh atribut luar buat membuat dirinya eksis. Gak perlu narkoba. Gak perlu jabatan kalau memang gak mampu. Gak perlu tas 20 juta. Gak perlu kamera 12 juta kalau memang gak bisa makainya. Gak perlu maksa anaknya jadi ranking 1. Gak perlu ngotot sama pendapatnya sendiri sampai gak ingat sopan santun. Gak perlu berantem di depan kamera. Gak perlu nyebut dirinya jenius di depan khalayak ramai.

If only we all learn from the big purple dino….

Repost: Matahari, Cahaya & Cinta

Tulisanku tahun 2004…  Menarik…

My first mountain

Only for those who are willing to understand

Pernah merasa ternyata hamparan salju putih yang sangat diidam-idamkan oleh masyarakat yangtinggal di negara tropis ternyata jahat banget? Pernah bayangin gimana rasanya terjebak di bawah timbunan salju dipegunungan Himalaya? Gak ada orang yang tahu persis posisi kita, cuma bisa dengar suara orang yang kita cintai dari walkie talkie.

Pernah merasa hidup rasanya malem terus? Gak ada terang, gak ada matahari, gak ada kegembiraan? Pernah merasa malam rasanya gak habis-habis sampai hampir mau putus asa nunggu terang?
Pernah merasa dunia ini tidak adil? Sangat tidak adil dan there’s nothing you can do about it? Membuatmu jadi tidak tahu seperti apa masa depan yang menanti? So confuse sampai hampir, so close to desperate.
Tiba-tiba di atas ada sedikit cahaya, sedikit sekali dan sangat jauh. Tapi beberapa saat yang lalu bahkan setitik cahaya itu pun tidak ada. Atau tiba-tiba ada rasa hangat di ujung jempol dari sinar matahariyang mulai muncul di ujung hari baru. Seluruh badan masih merasakan dinginnya malam atau salju yang menyelimuti tapi ada rasa ringan, hangat yang menjalar pelan sangat pelan dari ujung badan yang selama ini tidak diperhitungkan.
Hangatnya matahari setelah malam yang sangat gelap dan dingin, indahnya secercah sinar menembus timbunan salju yang sangat membuat putus asa, atau buat sebagian orang juga perasaan cinta yang pelan-pelan menghangatkan hati setelah kebekuan yang cukup lama…
Rasanya indah kan?
Hangat, penuh harapan, lembut dan segala rasa positif yang bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Apa sih arti setitik sinar bagi seorang yang jatuh tertimbun salju?
Apa arti rasa hangat di ujung jempol bagi orang yang menunggu malam berakhir di atas gunung?
Apa arti rasa hangat di dalam hati bagi orang yang telah lama menunggu cinta?
Solusi? Pertolongan? Harapan?
Orang bijak berkata, “If you wait long enough, the right bus would come.”
Sering dalam hidup di mana masalah tidak bisa mengkategorikan dirinya sendiri menurut kepentingannya –urgent, agak penting, tidak penting-, aku sering dibingungkan dengan banyak pilihan tentang prioritas apa yang harus diambil pada satu kesempatan. Saat itu rasanya banyak bis yang lewat tapi tidak satu pun yang sesuai dengan tujuanku. Rasanya semua orang mendapatkan bis sesuai tujuannya dan tidak seorang pun menemaniku menunggu bis yang tepat itu.Saat-saat seperti itu aku selalu membayangkan diriku terjebak dalam timbunan salju di pegunungan Himalaya seperti dalam film Vertical Limit atau sedang dalam perjalanan naik gunung Sindoro yang tiba-tiba cuaca berubah tidak bersahabat dan aku terpaksa menunggu malam berganti pagi.
Perasaan tidak berdaya, tidak ada harapan, seolah-olah berdiri di antara dua jurang yang dalam, membuatku kembali menyebut nama Sang Khalik. Kecil rasanya aku dibandingkan dengan kekuasaan-Nya. Sebagai manusia nampaknya batas antara putus asa dan harapan dan celah kecil di antaranya-lah yang membuatku jadi makin manusiawi.
Kalau dalam pendakian Himalaya, secercah sinar menjadi tumpuan harapan. Sementara dalam pendakian Sindoro, hangatnya matahari berarti “selamat datang” di hari baru maka pada hati yang terlalu lama beku hangatnya uap cinta seperti terlepas dari himpitan batu besar.
Jika hidup adalah sebuah perumpamaan, aku yakin manusia bagaikan seekor keledai yang masih sering terjatuh dalam lubang yang sama duakali, bahkan lebih. Jika Tuhan boleh diumpamakan maka Ia adalah seorang ibu yang tak hentinya memaafkan anak-Nya dan menasehatinya agar jangan mengulang kesalahannya.Dan jika cinta juga boleh diumpamakan maka ialah perekat antara keledai dan ibu tersebut, bisa melalui keledai lain atau melalui anaknya.
Well, anyway, aku percaya bahwa kalau aku bertahan cukup lama, dalam banyak hal, then setitik cahaya, hangatnya fajar dan bahkan lembutnya cinta will come my way.
With all my love…
fa, Depok, 6 September 2004

Vitamin for Life

Dulu waktu kuliah di Yogya, ada waktunya aku gak pergi keluar kos sama sekali seharian. Duduk diam di dalam kamar, baca buku, nonton film, main game. Seharian, bahkan mungkin beberapa hari sekaligus. Padahal sesungguhnya aku orang yang gak bisa gak ngobrol dalam sehari, bisa stres aku. Hehe.

Istilahku waktu itu, BUTUH MENANGIS. Iya, aku cari buku, film atau game yang bisa bikin aku nangis. Nangis karena bahagia, haru, bersyukur dan segala emosi positif lainnya. Bukan nangis karena sedih. Hehehe. Kalau nangis karena sedih sih, jaman segitu, cukup lihat pacar juga, udah pengen nangis SEDIIIIIH. Huahahaha.

Rupanya kebiasaan ini berlangsung terus sampai sekarang. Kadang dalam beberapa minggu, aku gak baca buku atau main game atau nonton film bagus sama sekali. Tapi sekali waktu kerinduan itu dateng. Seperti sekarang. 1 buku dibaca 1 hari, habis. Sambil nemenin Genta mainan Play-Doh, ngelirik Indovision, dapet deh 2 film bagus. Malam-malam sambil nemenin bos besar update berita Nurdin Halid, maen game deh.

And you know what? Rasanya kayak habis minum vitamin. Badan lebih segar. Pikiran fresh. Suasana hati luar biasa. Energi kayak habis di recharge. Mata kayak habis digurah. Rasa syukur lebih melimpah. Dan terutama, makin merasa sayang sama orang-orang terdekat. Makin merasa bahwa waktu yang aku punya adalah sekarang. Kesempatannya ya saat ini.

Well, sebagian orang minum vitamin buat badannya. Hari ini aku minum vitamin for jiwaku. And I am being so very grateful for that.