Gallery

Latepost : Nasehat Cinta

Nasehat Capres Blog Fanny Herdina

Let me start the story with…. When I was young…….er than now…. *mekso*

Ini cerita tentang saya dan teman saya. Belasan tahun yang lalu, boleh dibilang puluhan tahun yang lalu, saat mahasiswa, saya berteman dengan si Cantik satu ini. Saat itu dia berpacaran dengan laki-laki yang jelas-jelas saya tahu masih punya pacar. Tanpa konfirmasi ke Cantik, dalam hati saya mbatin.

“Huh. Dasar perempuan gatel. Udah tahu masih punya pacar, kok ya diembat juga”

Demikian juga rumor yang beredar di sekeliling saya tentang si Cantik. Tambah hari saya tambah mengamini bahwa si Cantik ini memang “gatel” *uh maafkan bahasa saya yang ehm uhm berantakan*

Karena waktu itu saya lebih dekat dengan si cowok, saya konfirmasi ke pacar si Cantik yang masih punya pacar lain itu. Jawabnya.

“Gak kok. Cuman temen deket aja”

Walah. Kaget saya. Saya pikir mereka sudah pacaran, ternyata si Cowok cuma menganggap Cantik sebagai teman dekat. *please abaikan norma hubungan laki-perempuan kami saat itu, walau tidak bisa dimaklumi, anggap saja kami muda dan masih exploring*. Tapi saya bingung, karena obrolan dan sindir-sindiran di sekitar saya itu jelas menunjukkan seolah-olah mereka pacaran.

But anyway, siapa juga saya ngurusin urusan orang? Udah jelas waktu itu saya yang gak punya pacar, belum KKN, apalagi skripsi, ga punya duit buat bayar kos pulak. Sudahlah. Perhatian saya teralihkan.

Kemudian saya punya pacar. Yihaa. *gak usah ditiru* Kemudian saya KKN, skripsi, lulus, bla bla bla. *flash forward* Here I am di awal 30-an *waktu itu ya, sekarang mah udah late 20s lah, bundhet bundhet deh ini time frame nya* Saya ketemu lagi si Cantik. Tentu kami udah berbeda. Ya iyalah, if you are still the same person as you were when you were 18 years old, hmm, let me just call you crazy. Percakapan kemudian mulai nyinggung soal masa lalu. Ya apa lagi sih yang diomongin kalau reuni? hihihihi.

Btw Cantik dan si Cowok itu akhirnya berpisah. Cantik sudah menikah sekarang. Si Cowok menikahi pacarnya yang memang dari dulu dipacarinya itu.

Ngobral ngobrol. Setelah panjang lebar, sampailah ke topik tentang si Cowok. Setelah update berita terakhir dan sebagainya, tanpa sadar pertanyaan saya belasan tahun yang lalu meloncat dari binir saya.

“Lha kamu udah tahu dia punya pacar, kok ya mbok pacari?”

“Loh, dia ngakunya udah putus kok waktu itu. Tenan. Nek aku ngerti dia masih punya pacar, ya gak mungkin lah kudeketin. Edan po aku?”

*dalam hati* whaaaaatttt???? *ngeyel* Loh tapi kan kamu tahu dia itu ada pacarnya kan?”

“Gak. Sumpah gak Fan. DIa ngakunya udah putus. Gak lah kukejar-kejar dia kalau tahu dia masih punya pacar.”

Saat itu, saat reuni itu tiba-tiba ingatan saya kembali ke jaman (lebih) muda saat saya dan beberapa teman ikut mengejek atau menyindir Cantik soal ke-gatel-annya. Belum sempat kembali nyawa saya, tiba-tiba Cantik nanya lagi.

“Lha kamu tahu to kalau dia masih punya pacar waktu itu?”

“Iya, tahu.”

“Kenapa gak ngasih tahu aku? Aku kan temenmu”

“Kupikir kamu tahu dan tetep aja cuek mau pacaran sama dia.”

Kalua boleh saya gambarkan muka si Cantik waktu dengar jawaban saya. Hmmm, sungguh. Bukan ekspresi menyenangkan yang ingin saya lihat di wajah teman saya. Sekarang kami masih berteman. Belajar dari kebodohan masa lalu. Kesalahan-kesalahan yang kami buat. Beberapa tahun yang lalu saat ketemu lagi, percakpan berubah menjadi

“Iya juga sih Fan, kalau toh kamu kasih tahu waktu itu ya mungkin aku gak mau dengar”

Itu yang cerita tentang Cantik. Cerita tentang saya juga gak kalah banyaknya. Diingetin mamah, adek saya, temen-temen baik saya –salah satunya jadi suami saya sekarang, hiks- tapi ya ngeyeeeel aja tetep deket-deket sama orang yang gak PAS. Saya juga protes, terutama sama suami saya

“Kenapa dulu kamu gak ingetin sih mas?”

“Lha udah kusindir, udah ku ece-ece juga ga paham-paham ok kamu”

Anyway, Cantik, Cowok, saya dan suami saya, kami sudah menikah sekarang dengan pasangan masing-masing ya. Dan kami hidup bahagia di atas kesalahan-kesalahan kecil yang kami buat. *jangan ngarep ada inspirasi ya dari tulisan ini, ini cerpen roman historical yang semi picisan kok* hihihihi

Saya bersyukur punya teman-teman yang kadang ngingetin kalau pas bikin salah. Saya juga bersyukur orang tua saya gak sok bergaya orang tua yang nasehatin anaknya, apalagi pas jatuh cinta. Ortu saya, terutama mamah saya kalau kasih nasehat mah nyante, selalu seolah-olah kami selevel. Gak main gaya nasehat orang tua ke anak.

“Kamu harus gini. Ini buktinya. Mamah itu lebih tahu. Karena mamah memang yaaa lebih tahu. Kamu yang harusnya tu lihat ni bukti-bukti yang mamah bawa”

Alhamdulillah mamah saya gak gitu caranya ngasih tahu. Karena dalam model percakapan kayak di atas, seolah-olah terselip bahwa mamah yang lebih tahu. Bahkan dengan usia dan pengalamannya, Mamah gak pernah merasa lebih tahu. Mamah saya lebih model yang kayak gini,

“Kamu yakin sama pilihanmu? Ok. Kalau kamu yakin, mamah dukung. Tapi kalau nanti kamu mau berbalik. Balik kanan aja, mamah di belakangmu.”

Begitu terbukti saya benar, mamah minta maaf, mengaku pilihan saya benar. Begitu terbukti mamah benar, saya minta maaf karena sudah begitu dibutakan sama cinta. Jiaaaaaahhh.

Saya lega dikelilingi banyak orang yang tidak merasa paling benar, paling pintar, paling jago, paling update dan perlu memberi nasehat. Ada sih sebagian yang suka  berasa paling tapi udah saya unfollow #eh. Sori, Kembali ke laptop. Maksud saya begini, berhentilah memberi nasehat ketika gak diminta. Juga berhentilah berpikir bahwa Anda perlu memberi nasehat. Berhentilah merasa lebih tahu, lebih update, lebih luas wawasannya, lebih bijak, lebih gemuk -oh ini saya yang merasa-. Karena yang jatuh cinta memang sedang gila karena cinta. Lha Anda? Jangan-jangan Anda gila karena merasa lebih. Ups. Sesama orang gila gak boleh saling mencela. Ok?

 

Advertisements

Apa Urusanmu?

Bismillah….

Sebelumnya biar saya sebutkan dulu, ada banyak potongan-potongan kalimat di sini, bukanlah buatan atau milik saya pribadi. Sebagian saya lihat di status teman, atau comment di salah satu status teman, atau hasil ngobrol via inbox sama teman, atau juga percakapan imajiner saya sendiri. Jadi kalau nampak inspiring, tolong kirimkan doa kebaikan bagi siapa pun yang membuatnya pertama kali. Buat saya juga boleh, sebagai kurirnya. Hehehehe. Karena saya sering kali lupa dari mana saya dapat tulisan itu, jadi tidak saya tulis sumbernya, tapi jelas, bukan buatan saya.

Btw tulisan ini dibuat sambil mencium bau sayur lodeh yang dimasak  tetanngga. Jadi ingat, persis kayak sayur lodeh dalam proses dimasak, sosial media belakangan juga mendidih dan berbau pedas menjelang pilpres. Kacau, istilah saya. Paraaaaah, kalau kata Genta.

Saya punya preferensi sendiri, saya sudah memutuskan pilihan saya. Dan baru berani mengungkapkan pilihan saya beberapa hari belakangan. Kenapa? Saya jenis orang yang lambat ambil keputusan dalam hal ini juga mungkin kurang berani menyampaikan pendapat. Saya harus betul-betul cari data, ngobrol dengan orang-orang terdekat, sebelum memutuskan memilih apa. Bagi saya, ini soal serius. Ciee cieee, yang serius. Hihihi. Lagipula saya trauma juga dulu pemilu 2004 milih presiden. Huaaaa, sudahlah jangan ingatkan saya. *pinjem bahu*

Anyway, akhirnya saya punya pilihan dan kemudian saya memutuskan untuk berani menunjukkan pilihan saya. Karena toh, itulah kemewahan demokrasi bukan?

Pssst, sini saya bisikin, tapi kemudian saya menyesal.

Huaaa. *pinjem bahu lagi* *aleman*

Kenapa menyesal? Menyesal milih no. 1? Lah, belum ada hasilnya kok udah menyesal? tuh kan, bener kan. Makanya, pilih tuh jangan yang no. 1, menyesal kan jadinya.

Husssh. Saya menyesal mengekspresikan pilihan saya, pendapat saya, preferensi saya.

Kenapa? Karena kemudian TL saya mendadak membara. Lebaaay. Yo ben, penulis harus lebay, blog blog saya, tulisan tulisan saya. Hihihihi. Ternyata demokrasi gak semudah mengetik katanya. Fiuuh. Bebberapa teman kemudian jadi saling menyindir, ini bisa jadi saya GR lo ya. Ada juga yang bilang,

“ihh gak nyangka ya, milih no.1, blas gak nasionalis”

Yang lebih dekat dengan saya lebih berani bilang,

jare educated, kok yo milih no. 1.

Huaaaa. Toloooong. Beebaskan sayaaa…..

Dengan tersedu sedan, saya berjalan-jalan di TL saya. Lalu terdamparlah saya di salah satu comment di status salah seorang teman. Saya sungguh lupa siapa, bisa jadi juga bukan status, tapi share-nya. Anyway. Tulisannya begini

“…. apa urusanmu dengan preferensi politikku?” *ting* *musik syahdu mengalun*

Duar. Plak. Jleb. Auuuuu. Yang terakhir lagi-lagi lebay, maafkan. Bener juga ya, apa urusan Anda dengan preferensi politik saya. Pilihan. pilihan saya. Calon, calon saya. Ngomong, di TL saya. Kenapa situ sewot? semacam itulah bubble di kepala saya isinya. Jadi saya beranikan diri, bukan lagi nulis status soal pilihan saya. Bahkan saya bikin posting di blog ini. Huaaa. Nekad dot com.

*musik semangat* *final countdown* 80s bingiiits yak?

Ok. Balik ke pertama kali saya berani mengekspresikan pilihan saya, Anda gak penasaran kenapa baru bebeerapa hari ini saya berani menunjukkan pilihan saya? Mbok penasaran, biar saya ada alasan nulisin. Penasaran ya? Ya? Pengen tahu A apa pengen tahu B? Ok, terpaksa saya tulisin ya, habis dipaksa sih. *kedip-kedip malu-malu*

Pertama dan utama adalah karena mamah saya bukan pendukung no. 1. Huaaaa. *pinjem bahu yang lain*. Mamah saya cinta mati sama ibuk hmmm, tak perlu disebut lah namanya. Karena apa? karena jaman kecil, denger suara ayahnya si ibuk pidato dan langsung jatuh cinta seketika. Cinta mati ti ti ti. Cinta yang kalau lagi ngomongin ibuk, mata mamah langsung berkaca-kaca. Iya, cinta yang kayak gitu. Saya ya gak berani lah melawan cinta sekaliber ini. Belum lagi, mamah WA semua anak dan menantunya -oh atau comment di status, lupa saya- intinya

“Wis, anak karo mantuku jelas bukan pilih yang no.1. ora usah macem-macem”

-yang kenal mamah saya, pasti tahu ya gimana rasanya di comment gitu- hihihi

Saya tak berdaya dengan cinta sekelas mamah. Apalagi mamah saya jarang salah. Beberapa kali salah memang, tapi jaraaaaaaaang sekali.

Alasan kedua, bagi saya pilihan presiden saya biarlah hanya kertas suara dan Allah yang tahu. Lha wong suami saya aja gak tahu kok pilihan saya sampai saya pasang status di fb. Pribadi. Personal. Kayak warna celana dalam, biarkan hanya kita dan Allah yang tahu, jangan biarkan si mas di belakang kita juga tahu ya. Karena alasan saya memilih no. 1 bisa jadi alasan orang lain membenci no. 1. Saya paham itu. Saya milih berdasar peta saya, orang lain milih berdasar peta orang lain. Lha daripada ribut -bagi yang suka ribut- ya saya pilih diam. Serius. Ini susaaah banget, sampai ada temen inbox saya, gini katanya.

“awakmu milih capres sing endi mbak? kok kuat men le ora ngomong?”

Huahahaha. Jawaban saya.

“Lha kan mung entuk milih 1 (siji) to mas?”

Saya juga gak pernah share berita apa pun tentang capres selain pilihan saya. Baik. Buruk. Fakta. Fitnah. Black campaign. White campaign. Pink. Pick any color. Saya ga pernah share berita tentang capres satunya juga. Bagi saya itu ndak fair. Lagipula kalau saya share, saya tahu persis niat saya bukan membagi innformasi supaya orang milihnya makin mudah, tapi ya memang mau mbelain capres saya. Susah lo. Jaga jari biar gak share berita negatif soal capres satunya, padahal di TL saya juga banyak. Saya juga gak pernah share berita tentang capres no. 1 di TL saya. Saya like kalau cocok, tapi gak pernah saya share. Saya curiga sama niat saya sendiri kalau share, jadi ya mending ndak usah aja.

Nah, tapi beberapa hari yang lalu pas fb-walking, kok hati saya terasa bergejolak. Jiaaan lebay tenan saya hari ini. Hati saya bergejolak karena orang mulai melabel teman lainnya anu ini ono, hanya gara-gara beda pilihan.

Masak ada yang bilang kaum educated pasti pilih no. X? *see? saya sungguh berusaha adil* Pendidikan saya S2, dibilang educated boleh, wong ya sedikit persentase orang Indonesia berpendidikan S2. Tapi dibilang gak berpendidikan juga boleh, karena level pendidikan formal juga gak selalu berkorelasi positif terhadap tingkat “pendidikan” orang. Betul kan? Dan saya pilih no. 1. Sebagian teman memuji sebagian lain mencibir. But again, apa urusanmu sama preferensi politikku? Ini kan demokrasi, kita boleh beda, tapi gak lah saling merendahkan.

Faktanya yang mengakses facebook pastilah berpendidikan, karena minimal bisa baca tulis dan melek internet.

*seingat saya saya gak pernah bilang yang milih capres satunya gak berpendidikan, serius, kalau pernah saya minta maaf*

Ada juga yang ngomongin soal nasionalisme, cinta tanah air. Huaaaa, please don’t drag me into this topic, please. *bahu mana bahuuuu?????*

Temen saya yang buka perpusatakaan kecil pilih no. 1. Temen saya lainnya yang bikin perpustakaan di daerah terpencil, pilih capres 1-nya.

Teman saya yang di Mesir, pilih capres no.1. Teman saya yang di Belanda pilih capres 1-nya lagi.

Teman saya yang tiap weekend ngabisin waktu dengan anak gak mampu buat ngajar mlih no.1. Teman saya yang punya sekolah gratis pilih capres 1-nya.

Ga beraniiiii saya bilang yang mana yang cinta tanah air yang mana yang gak. Jelas buat saya, mereka semua cinta tanah airnya. Sama kayak saya. In fact, cinta tanah air yang bikin saya pilih no.1. Weird? Ya tapi itu faktanya, saya cinta Indoneia, ga percaya? Belahlah dadaku ini. Hiks. Lebay lagi? iya ini kenapa saya jadi lebay ya? Ok. Balik lagi,

lagian kalau kita sama semua, kata Barney

“And if everybody was the same, I couldn’t just be me”

Seorang teman menulis di statusnya, again, saya lupa siapa. Katanya.

“Kebaikan sebuah negara itu ditentukan oleh rakyatnya. Bukan cuma presidennya”

Nampar ya. Heeh. Saya juga ketampar kok. Makanya dengan tulisan ini saya mau minta maaf kalau kemarin-kemarin tulisan saya ada yang menyakitkan hati. Semata-mata berniat ekspresi kok. Kan kabarnya demokrasi itu kebebasan berpendapat dan berekspresi. Ya kalau beda, ya gak pa pa to. Lha wong Genta sama Puti tu lo bisa punya preferensi yang beda dan mereka bisa saling menghargai pilihannya kok. Ga terus ece-ecenan. Jare demokratis?

Anyway, teman-teman yang saya cintai. Anda boleh percaya boleh gak, Saya menyesal sungguh mengikuti jejak teman-teman yang lebih modern daripada saya, dengan ikutan menunjukkan pendapat saya. Karena efeknya bagi saya, kok terasa lebih banyak tidak baiknya daripada baiknya. Untuk itu saya minta maaf. SATU kali lagi, saya minta maaf. Saya cuma meyakini bahwa dalam demokrasi orang boleh berpendapat beda.

Kata Gede Prama, yang saya singkat.

Keburukan orang lain yang kau bicarakan, lebih banyak menunjukkan keburukanmu sendiri daripada kondisi sesungguhnya dari orang yang kau bicarakan. Nah.

Jadi apa urusan kita sama preferensi politik temen kita? Mbok biar mereka punya preferensi sendiri. Saya cuma berani bilang begini.

Yang pilih no. 1 PASTI orangnya pilih PRABOWO. Yang pilih 1-nya PASTI tidak PILIH PRABOWO.

Cuma sependek itu keberanian saya melabel orang. Maafkan saya. Selamat menjelang Ramadhan.

*sengaja ga pakai gambar, biar ga nambahin dosa dan penyesalan saya*