Latepost : Nasehat Cinta

Nasehat Capres Blog Fanny Herdina

Let me start the story with…. When I was young…….er than now…. *mekso*

Ini cerita tentang saya dan teman saya. Belasan tahun yang lalu, boleh dibilang puluhan tahun yang lalu, saat mahasiswa, saya berteman dengan si Cantik satu ini. Saat itu dia berpacaran dengan laki-laki yang jelas-jelas saya tahu masih punya pacar. Tanpa konfirmasi ke Cantik, dalam hati saya mbatin.

“Huh. Dasar perempuan gatel. Udah tahu masih punya pacar, kok ya diembat juga”

Demikian juga rumor yang beredar di sekeliling saya tentang si Cantik. Tambah hari saya tambah mengamini bahwa si Cantik ini memang “gatel” *uh maafkan bahasa saya yang ehm uhm berantakan*

Karena waktu itu saya lebih dekat dengan si cowok, saya konfirmasi ke pacar si Cantik yang masih punya pacar lain itu. Jawabnya.

“Gak kok. Cuman temen deket aja”

Walah. Kaget saya. Saya pikir mereka sudah pacaran, ternyata si Cowok cuma menganggap Cantik sebagai teman dekat. *please abaikan norma hubungan laki-perempuan kami saat itu, walau tidak bisa dimaklumi, anggap saja kami muda dan masih exploring*. Tapi saya bingung, karena obrolan dan sindir-sindiran di sekitar saya itu jelas menunjukkan seolah-olah mereka pacaran.

But anyway, siapa juga saya ngurusin urusan orang? Udah jelas waktu itu saya yang gak punya pacar, belum KKN, apalagi skripsi, ga punya duit buat bayar kos pulak. Sudahlah. Perhatian saya teralihkan.

Kemudian saya punya pacar. Yihaa. *gak usah ditiru* Kemudian saya KKN, skripsi, lulus, bla bla bla. *flash forward* Here I am di awal 30-an *waktu itu ya, sekarang mah udah late 20s lah, bundhet bundhet deh ini time frame nya* Saya ketemu lagi si Cantik. Tentu kami udah berbeda. Ya iyalah, if you are still the same person as you were when you were 18 years old, hmm, let me just call you crazy. Percakapan kemudian mulai nyinggung soal masa lalu. Ya apa lagi sih yang diomongin kalau reuni? hihihihi.

Btw Cantik dan si Cowok itu akhirnya berpisah. Cantik sudah menikah sekarang. Si Cowok menikahi pacarnya yang memang dari dulu dipacarinya itu.

Ngobral ngobrol. Setelah panjang lebar, sampailah ke topik tentang si Cowok. Setelah update berita terakhir dan sebagainya, tanpa sadar pertanyaan saya belasan tahun yang lalu meloncat dari binir saya.

“Lha kamu udah tahu dia punya pacar, kok ya mbok pacari?”

“Loh, dia ngakunya udah putus kok waktu itu. Tenan. Nek aku ngerti dia masih punya pacar, ya gak mungkin lah kudeketin. Edan po aku?”

*dalam hati* whaaaaatttt???? *ngeyel* Loh tapi kan kamu tahu dia itu ada pacarnya kan?”

“Gak. Sumpah gak Fan. DIa ngakunya udah putus. Gak lah kukejar-kejar dia kalau tahu dia masih punya pacar.”

Saat itu, saat reuni itu tiba-tiba ingatan saya kembali ke jaman (lebih) muda saat saya dan beberapa teman ikut mengejek atau menyindir Cantik soal ke-gatel-annya. Belum sempat kembali nyawa saya, tiba-tiba Cantik nanya lagi.

“Lha kamu tahu to kalau dia masih punya pacar waktu itu?”

“Iya, tahu.”

“Kenapa gak ngasih tahu aku? Aku kan temenmu”

“Kupikir kamu tahu dan tetep aja cuek mau pacaran sama dia.”

Kalua boleh saya gambarkan muka si Cantik waktu dengar jawaban saya. Hmmm, sungguh. Bukan ekspresi menyenangkan yang ingin saya lihat di wajah teman saya. Sekarang kami masih berteman. Belajar dari kebodohan masa lalu. Kesalahan-kesalahan yang kami buat. Beberapa tahun yang lalu saat ketemu lagi, percakpan berubah menjadi

“Iya juga sih Fan, kalau toh kamu kasih tahu waktu itu ya mungkin aku gak mau dengar”

Itu yang cerita tentang Cantik. Cerita tentang saya juga gak kalah banyaknya. Diingetin mamah, adek saya, temen-temen baik saya –salah satunya jadi suami saya sekarang, hiks- tapi ya ngeyeeeel aja tetep deket-deket sama orang yang gak PAS. Saya juga protes, terutama sama suami saya

“Kenapa dulu kamu gak ingetin sih mas?”

“Lha udah kusindir, udah ku ece-ece juga ga paham-paham ok kamu”

Anyway, Cantik, Cowok, saya dan suami saya, kami sudah menikah sekarang dengan pasangan masing-masing ya. Dan kami hidup bahagia di atas kesalahan-kesalahan kecil yang kami buat. *jangan ngarep ada inspirasi ya dari tulisan ini, ini cerpen roman historical yang semi picisan kok* hihihihi

Saya bersyukur punya teman-teman yang kadang ngingetin kalau pas bikin salah. Saya juga bersyukur orang tua saya gak sok bergaya orang tua yang nasehatin anaknya, apalagi pas jatuh cinta. Ortu saya, terutama mamah saya kalau kasih nasehat mah nyante, selalu seolah-olah kami selevel. Gak main gaya nasehat orang tua ke anak.

“Kamu harus gini. Ini buktinya. Mamah itu lebih tahu. Karena mamah memang yaaa lebih tahu. Kamu yang harusnya tu lihat ni bukti-bukti yang mamah bawa”

Alhamdulillah mamah saya gak gitu caranya ngasih tahu. Karena dalam model percakapan kayak di atas, seolah-olah terselip bahwa mamah yang lebih tahu. Bahkan dengan usia dan pengalamannya, Mamah gak pernah merasa lebih tahu. Mamah saya lebih model yang kayak gini,

“Kamu yakin sama pilihanmu? Ok. Kalau kamu yakin, mamah dukung. Tapi kalau nanti kamu mau berbalik. Balik kanan aja, mamah di belakangmu.”

Begitu terbukti saya benar, mamah minta maaf, mengaku pilihan saya benar. Begitu terbukti mamah benar, saya minta maaf karena sudah begitu dibutakan sama cinta. Jiaaaaaahhh.

Saya lega dikelilingi banyak orang yang tidak merasa paling benar, paling pintar, paling jago, paling update dan perlu memberi nasehat. Ada sih sebagian yang suka  berasa paling tapi udah saya unfollow #eh. Sori, Kembali ke laptop. Maksud saya begini, berhentilah memberi nasehat ketika gak diminta. Juga berhentilah berpikir bahwa Anda perlu memberi nasehat. Berhentilah merasa lebih tahu, lebih update, lebih luas wawasannya, lebih bijak, lebih gemuk -oh ini saya yang merasa-. Karena yang jatuh cinta memang sedang gila karena cinta. Lha Anda? Jangan-jangan Anda gila karena merasa lebih. Ups. Sesama orang gila gak boleh saling mencela. Ok?

 

Advertisements

Apa Urusanmu?

Bismillah….

Sebelumnya biar saya sebutkan dulu, ada banyak potongan-potongan kalimat di sini, bukanlah buatan atau milik saya pribadi. Sebagian saya lihat di status teman, atau comment di salah satu status teman, atau hasil ngobrol via inbox sama teman, atau juga percakapan imajiner saya sendiri. Jadi kalau nampak inspiring, tolong kirimkan doa kebaikan bagi siapa pun yang membuatnya pertama kali. Buat saya juga boleh, sebagai kurirnya. Hehehehe. Karena saya sering kali lupa dari mana saya dapat tulisan itu, jadi tidak saya tulis sumbernya, tapi jelas, bukan buatan saya.

Btw tulisan ini dibuat sambil mencium bau sayur lodeh yang dimasak  tetanngga. Jadi ingat, persis kayak sayur lodeh dalam proses dimasak, sosial media belakangan juga mendidih dan berbau pedas menjelang pilpres. Kacau, istilah saya. Paraaaaah, kalau kata Genta.

Saya punya preferensi sendiri, saya sudah memutuskan pilihan saya. Dan baru berani mengungkapkan pilihan saya beberapa hari belakangan. Kenapa? Saya jenis orang yang lambat ambil keputusan dalam hal ini juga mungkin kurang berani menyampaikan pendapat. Saya harus betul-betul cari data, ngobrol dengan orang-orang terdekat, sebelum memutuskan memilih apa. Bagi saya, ini soal serius. Ciee cieee, yang serius. Hihihi. Lagipula saya trauma juga dulu pemilu 2004 milih presiden. Huaaaa, sudahlah jangan ingatkan saya. *pinjem bahu*

Anyway, akhirnya saya punya pilihan dan kemudian saya memutuskan untuk berani menunjukkan pilihan saya. Karena toh, itulah kemewahan demokrasi bukan?

Pssst, sini saya bisikin, tapi kemudian saya menyesal.

Huaaa. *pinjem bahu lagi* *aleman*

Kenapa menyesal? Menyesal milih no. 1? Lah, belum ada hasilnya kok udah menyesal? tuh kan, bener kan. Makanya, pilih tuh jangan yang no. 1, menyesal kan jadinya.

Husssh. Saya menyesal mengekspresikan pilihan saya, pendapat saya, preferensi saya.

Kenapa? Karena kemudian TL saya mendadak membara. Lebaaay. Yo ben, penulis harus lebay, blog blog saya, tulisan tulisan saya. Hihihihi. Ternyata demokrasi gak semudah mengetik katanya. Fiuuh. Bebberapa teman kemudian jadi saling menyindir, ini bisa jadi saya GR lo ya. Ada juga yang bilang,

“ihh gak nyangka ya, milih no.1, blas gak nasionalis”

Yang lebih dekat dengan saya lebih berani bilang,

jare educated, kok yo milih no. 1.

Huaaaa. Toloooong. Beebaskan sayaaa…..

Dengan tersedu sedan, saya berjalan-jalan di TL saya. Lalu terdamparlah saya di salah satu comment di status salah seorang teman. Saya sungguh lupa siapa, bisa jadi juga bukan status, tapi share-nya. Anyway. Tulisannya begini

“…. apa urusanmu dengan preferensi politikku?” *ting* *musik syahdu mengalun*

Duar. Plak. Jleb. Auuuuu. Yang terakhir lagi-lagi lebay, maafkan. Bener juga ya, apa urusan Anda dengan preferensi politik saya. Pilihan. pilihan saya. Calon, calon saya. Ngomong, di TL saya. Kenapa situ sewot? semacam itulah bubble di kepala saya isinya. Jadi saya beranikan diri, bukan lagi nulis status soal pilihan saya. Bahkan saya bikin posting di blog ini. Huaaa. Nekad dot com.

*musik semangat* *final countdown* 80s bingiiits yak?

Ok. Balik ke pertama kali saya berani mengekspresikan pilihan saya, Anda gak penasaran kenapa baru bebeerapa hari ini saya berani menunjukkan pilihan saya? Mbok penasaran, biar saya ada alasan nulisin. Penasaran ya? Ya? Pengen tahu A apa pengen tahu B? Ok, terpaksa saya tulisin ya, habis dipaksa sih. *kedip-kedip malu-malu*

Pertama dan utama adalah karena mamah saya bukan pendukung no. 1. Huaaaa. *pinjem bahu yang lain*. Mamah saya cinta mati sama ibuk hmmm, tak perlu disebut lah namanya. Karena apa? karena jaman kecil, denger suara ayahnya si ibuk pidato dan langsung jatuh cinta seketika. Cinta mati ti ti ti. Cinta yang kalau lagi ngomongin ibuk, mata mamah langsung berkaca-kaca. Iya, cinta yang kayak gitu. Saya ya gak berani lah melawan cinta sekaliber ini. Belum lagi, mamah WA semua anak dan menantunya -oh atau comment di status, lupa saya- intinya

“Wis, anak karo mantuku jelas bukan pilih yang no.1. ora usah macem-macem”

-yang kenal mamah saya, pasti tahu ya gimana rasanya di comment gitu- hihihi

Saya tak berdaya dengan cinta sekelas mamah. Apalagi mamah saya jarang salah. Beberapa kali salah memang, tapi jaraaaaaaaang sekali.

Alasan kedua, bagi saya pilihan presiden saya biarlah hanya kertas suara dan Allah yang tahu. Lha wong suami saya aja gak tahu kok pilihan saya sampai saya pasang status di fb. Pribadi. Personal. Kayak warna celana dalam, biarkan hanya kita dan Allah yang tahu, jangan biarkan si mas di belakang kita juga tahu ya. Karena alasan saya memilih no. 1 bisa jadi alasan orang lain membenci no. 1. Saya paham itu. Saya milih berdasar peta saya, orang lain milih berdasar peta orang lain. Lha daripada ribut -bagi yang suka ribut- ya saya pilih diam. Serius. Ini susaaah banget, sampai ada temen inbox saya, gini katanya.

“awakmu milih capres sing endi mbak? kok kuat men le ora ngomong?”

Huahahaha. Jawaban saya.

“Lha kan mung entuk milih 1 (siji) to mas?”

Saya juga gak pernah share berita apa pun tentang capres selain pilihan saya. Baik. Buruk. Fakta. Fitnah. Black campaign. White campaign. Pink. Pick any color. Saya ga pernah share berita tentang capres satunya juga. Bagi saya itu ndak fair. Lagipula kalau saya share, saya tahu persis niat saya bukan membagi innformasi supaya orang milihnya makin mudah, tapi ya memang mau mbelain capres saya. Susah lo. Jaga jari biar gak share berita negatif soal capres satunya, padahal di TL saya juga banyak. Saya juga gak pernah share berita tentang capres no. 1 di TL saya. Saya like kalau cocok, tapi gak pernah saya share. Saya curiga sama niat saya sendiri kalau share, jadi ya mending ndak usah aja.

Nah, tapi beberapa hari yang lalu pas fb-walking, kok hati saya terasa bergejolak. Jiaaan lebay tenan saya hari ini. Hati saya bergejolak karena orang mulai melabel teman lainnya anu ini ono, hanya gara-gara beda pilihan.

Masak ada yang bilang kaum educated pasti pilih no. X? *see? saya sungguh berusaha adil* Pendidikan saya S2, dibilang educated boleh, wong ya sedikit persentase orang Indonesia berpendidikan S2. Tapi dibilang gak berpendidikan juga boleh, karena level pendidikan formal juga gak selalu berkorelasi positif terhadap tingkat “pendidikan” orang. Betul kan? Dan saya pilih no. 1. Sebagian teman memuji sebagian lain mencibir. But again, apa urusanmu sama preferensi politikku? Ini kan demokrasi, kita boleh beda, tapi gak lah saling merendahkan.

Faktanya yang mengakses facebook pastilah berpendidikan, karena minimal bisa baca tulis dan melek internet.

*seingat saya saya gak pernah bilang yang milih capres satunya gak berpendidikan, serius, kalau pernah saya minta maaf*

Ada juga yang ngomongin soal nasionalisme, cinta tanah air. Huaaaa, please don’t drag me into this topic, please. *bahu mana bahuuuu?????*

Temen saya yang buka perpusatakaan kecil pilih no. 1. Temen saya lainnya yang bikin perpustakaan di daerah terpencil, pilih capres 1-nya.

Teman saya yang di Mesir, pilih capres no.1. Teman saya yang di Belanda pilih capres 1-nya lagi.

Teman saya yang tiap weekend ngabisin waktu dengan anak gak mampu buat ngajar mlih no.1. Teman saya yang punya sekolah gratis pilih capres 1-nya.

Ga beraniiiii saya bilang yang mana yang cinta tanah air yang mana yang gak. Jelas buat saya, mereka semua cinta tanah airnya. Sama kayak saya. In fact, cinta tanah air yang bikin saya pilih no.1. Weird? Ya tapi itu faktanya, saya cinta Indoneia, ga percaya? Belahlah dadaku ini. Hiks. Lebay lagi? iya ini kenapa saya jadi lebay ya? Ok. Balik lagi,

lagian kalau kita sama semua, kata Barney

“And if everybody was the same, I couldn’t just be me”

Seorang teman menulis di statusnya, again, saya lupa siapa. Katanya.

“Kebaikan sebuah negara itu ditentukan oleh rakyatnya. Bukan cuma presidennya”

Nampar ya. Heeh. Saya juga ketampar kok. Makanya dengan tulisan ini saya mau minta maaf kalau kemarin-kemarin tulisan saya ada yang menyakitkan hati. Semata-mata berniat ekspresi kok. Kan kabarnya demokrasi itu kebebasan berpendapat dan berekspresi. Ya kalau beda, ya gak pa pa to. Lha wong Genta sama Puti tu lo bisa punya preferensi yang beda dan mereka bisa saling menghargai pilihannya kok. Ga terus ece-ecenan. Jare demokratis?

Anyway, teman-teman yang saya cintai. Anda boleh percaya boleh gak, Saya menyesal sungguh mengikuti jejak teman-teman yang lebih modern daripada saya, dengan ikutan menunjukkan pendapat saya. Karena efeknya bagi saya, kok terasa lebih banyak tidak baiknya daripada baiknya. Untuk itu saya minta maaf. SATU kali lagi, saya minta maaf. Saya cuma meyakini bahwa dalam demokrasi orang boleh berpendapat beda.

Kata Gede Prama, yang saya singkat.

Keburukan orang lain yang kau bicarakan, lebih banyak menunjukkan keburukanmu sendiri daripada kondisi sesungguhnya dari orang yang kau bicarakan. Nah.

Jadi apa urusan kita sama preferensi politik temen kita? Mbok biar mereka punya preferensi sendiri. Saya cuma berani bilang begini.

Yang pilih no. 1 PASTI orangnya pilih PRABOWO. Yang pilih 1-nya PASTI tidak PILIH PRABOWO.

Cuma sependek itu keberanian saya melabel orang. Maafkan saya. Selamat menjelang Ramadhan.

*sengaja ga pakai gambar, biar ga nambahin dosa dan penyesalan saya*

Untuk Apa Koneksi Internet Cepat?

Koneksi Internet Cepat - Blog Fanny Herdina

Hayo jawab yang hobinya minta internet cepat, jawab dulu pertanyaan pak menteri. Kalau saya sih memang gak suka nunggu. Jadi sukanya klik langsung buka page nya, atau maksimal nunggu 1-2 detik lah. Jadi setiap ada modem yang ngaku punya kecepatan super, saya langsung terbang bak superman membeli modem itu, kemudian akan saya ganti begitu ada yang lebih super lagi.

Buat apa? Ya buat kepo di Facebook lah. Buat apa lagi emak-emak kayak saya ini.

Tapi seorang teman menjelaskan dengan baik soal pentingnya koneksi internet cepat. Begini penjelasannya yang saya terjemahkan dengan bebas.

Koneksi internet cepat itu gak cuman butuh buat download tapi juga upload. Apalagi buat industri kreatif yang butuh ngirim gambar dengan ukuran file besar. Sering kali urusan kerjaan jadi terhambat gara-gara file yang terkirim berhenti di tengah jalan a.k.a harus ngulang dari depan.

Nah penjelasan di atas masuk akal sih buat saya. Bener juga kan ya? Entar dikira kita yang lambat kerja. Padahal internetnya yang gak mau kirim-kirim filenya.

Ada juga yang bilang koneksi internet cepat itu buat download file-file yang isinya knowledge, supaya bangsa Indonesia ini lebih cepat menyerap ilmu baru. Sehingga harapannya lebih cepat berkembang.

Itu juga masuk akal sih.

Kalau saya sih alasan utama saya berharap koneksi internet di Indonesia cepat itu karena merasa kasihan sama teman-teman yang pulang dari luar negeri. Pas di luar negeri yang saya yakin koneksi internetnya cepet banget, mereka jadi mudah upload gambar, ganti status atau saling memberi komentar. Tapi begitu pulang ke Indonesia sering kali mereka tidak terdengar lagi kabarnya, jarang upload jalan-jalannya, jarang ganti status, juga jarang memberi komen atau nge-like status temennya. Itu kan pasti karena mereka terbiasa dengan koneksi cepat di luar negeri, terus jadi malas update pas sudah di Indonesia, karena koneksi internet di Indonesia lambat. Iya kan pak Menteri?

I Have A Dream

Fanny Herdina IWPC2 at Kalbis Institute

I have a dream……

Siapa yang gak tahu potongan frase itu? Ah, hampir semua orang tahu kan? Sudah pernah denger suaranya yang menggelegar itu? Menggelegar bukan karena dia ngomong sambil teriak, kayak di acara-acara TV sekarang. Tapi menggelegar karena terasa ada dorongan dari dalam jiwa yang siap dimuntahkan. Cieee.

Anyway, I do have dreams too. Banyak mimpi saya. Salah satunya adalah berwirausaha. Ups. Sukses mandiri barokah berwirausaha. Nah, gitu lebih tepat. Kalau cuman berwirausaha kan semua juga bisa ya? Tapi saya mau sukses mandiri juga barokah.

Cerita soal wirausaha ini memang seru deh. Sejak SMA saya senang cari uang saku sendiri memang. Waktu SMA mamah saya mendaftarkan saya jadi member di beberapa direct selling kosmetik, Avon, Sara Lee (masih ada gak nih?). Mamah cuma mau bayar biaya member, habis itu, saya jualan sendiri, uangnya buat saya sendiri. Kebetulan kantor Avon Semarang sebelahan sama Gramedia. Hihihi. Jadi kalau habis order, untungnya langsung saya bawa ke Gramedia. Kebanyakan konsumennya keluarga, tante, bude, mamah sendiri. Hihihi.

Waktu kuliah, saya bekerja sampai lulus kuliah di UGM. Ngajar bahasa Inggris, terjemahan, jadi admin kegiatan dosen, fasilitator outbond, isi training. Apa aja. Yang penting SPP dan uang kos kebayar. Alhamdulillah, banyak teman, banyak kenalan. Sayang, lulusnya jadi lama. Kesenangan cari duit. #eh

Setelah lulus kuliah, sempat kerja di grup Astra. Keren kan? hihihi. Anak psikologi UGM keterima di Astra grup, wuah, a dream come true. Tapi gak lama. Jiwa saya sungguh tersiksa. Why? That’s another story. Waktu ngelanjutin kuliah di UI, pun masih saya nyambi kerja. Kali ini agak kerenan lah, lha wong udah lulus S1-nya. Sebutannya konsultan. Lama kelamaan bahkan saya bisa punya tim konsultan sendiri. Senang rasanya. Klien percaya sama saya. Saya bisa kerja dengan teman-teman pilihan saya.

Aaah, tapi itu tetap bukan wirausaha seperti bayangan saya. Betul sih selama bekerja mandiri dengan tim Arupakarta!, saya juga melakukan aktivitas promosi, networking, marketing, dll. Tapi saya mau wirausaha yang tanpa kehadiran saya, bisnis tetap bisa berjalan. Bisnis konsultan ini menuntut kehadiran saya. Klien sering kali hanya mau ketemu saya pas presentasi. Well, dengan Genta dan Puti, aktivitas konsultan pun saya hentikan. Priority change darling.

Tapi diam saja di rumah ternyata bukan hal yang mudah. Dan mimpi itu tetap menghantui. Btw, when I say “diam saja di rumah” I do not underestimate the scope of stay-at-home-mom responsibility, ok? I am myself a stay at home mom. Tapi saya merasa perlu berinteraksi dengan orang dewasa. Saya perlu memakai baju rapi dan bertemu orang-orang dewasa. Again, dont get it wrong, I love my kids. But I can’t tlak about SBY to Genta, right? Or whining about Angel Lelga to Puti. No. These kids are my love, I don’y want to ruin their brain talking about that sh*t at their early stage. #ups. #abaikan

Begitulah mimpi saya tentang berwirausaha tetap menghantui. Saya pernah coba bisnis kuliner, di pelataran Indomaret, di kolam renang, gagal. Tutup dalam tahun pertama. Onlineshop? Pernah juga. Jual beras organik, buku anak-anak, tas buatan lokal, just name it. Untung? Yes. Tapi gak sustain. Saya lapar. Saya haus. Saya rindu punya bisnis yang sustain. Saya juga pernah ambil franchise pendidikan, yang berakhir dengan hutang ratusan juta, yang masih saya cicil sampai sekarang pembayarannya.

Tapi mimpi belum berakhir. Hari masih panjang. Fajar belum merekah. And I never give up. Sekarang saya bisnis baju anak-anak dengan brand @butikbocah. Online, untung banyak, rame. Sayang asisten pulang kampung dan gak kembali lagi. Coba bazaar. Juga rame dan prospektif nampaknya.

Kemudian tahun baru 2014 datang. People talk about resolution. Tiba-tiba saya terpikir. Resolusi saya tahun ini, salah staunya adalah serius berinvestasi pada mimpi saya yang satu ini, sukses mandiri barokah berwirausaha. Dan tiba-tiba banyak pintu terbuka. Salah satunya ikut Kompetisi Womenpreneur Indonesia II yang mulai pembekalannya tanggal 24-25 Januari kemarin.

Ribet? Ya iyalah ribet. Atur waktu dengan 2 balita, no maid, no babysitter, no dedicated car for me. But, I believe it’s worth the effort.

Saya teringat kesukaan saya main arung jeram di awal usia 20-an. Saya harus angkat perahu, pompa perahu sebelum arung jeram. Setelah selesai, semua ritual diulang lagi dengan urutan yang terbalik. Was it worth? Yes. So I guess this would worth even more.

Wish me luck guys.

PS. Are you looking for me at the above picture? That’s me with orange veil, a baby in my hand, Genta by my side, in the right corner. Hihi.

Foto Juara

Merah Putih

Baiklah, versi kampung memang kompetisinya. Tapi ini pertama kalinya saya ikut dan langsung juara ke-2, jadi boleh ya senang. Hihihi. Lomba foto bertema Merah Putih di kompleks saya.

Awalnya memang gak terlalu niat ikut lomba. Cuma senang aja foto-foto. Bendera ini posisinya persis di sebelah rumah, bersandar di pohon yang sering buat saya berteduh kalau lagi jemur Puti. Jadi sambil jemur Puti, saya jepret benderanya, iseng saya masukkan ke Facebook. Eh, panitianya ngomporin buat ikut lomba.

Tapi tapi, menurut Anda, apakah salah Merah Putih lelah menyangga segala tingkah dan cerita bangsa kita ini?