Merah Putih Kami

Mengutip kalimat mas Hunggul Budi Prihono.
Ibarat puzzle. Para relawan, dermawan, manusia berhati sosial, pemilik ide cemerlang tersebar dan bertebaran (nampak berantakan karena saking banyaknya) di seluruh penjuru negeri yg teramat kaya ini (kalo ada yg tidak mau mengakui bahwa negeri ini kaya silahkan minggir ke negeri tetangga 󾌼).
Semua mereka ada, karena pada dasarnya negeri ini merdeka dg kerja keras, merdeka dg saling gotong royong, merdeka dg penuh darah dan airmata, merdeka dg segala kekuatan yg tersebar yg mulanya satu menjadi dua, dua menjadi tiga yg kemudian saling bersatu bermodal bambu runcing dan nasi bungkus ala kadarnya. Lempengan2 puzzle menjadi kuat dan berwujud sebuah gambar merah putih di dada dan menjadi kekuatan dahsyat melawan mortir dan senapan mesin sang nederland.

Siapa yg menyatukan puzzle tersebut?

Tidaklah penting menanyakan siapa tokoh yg menyatukan puzzle2 kekuatan rakyat semesta saat itu karena pada dasarnya para pahlawan tidak mengharap sebuah penghargaan dan pengakuan.

Relawan juga sebuah kekuatan dahsyat, energi individu yg masih tersebar dan twrcerai di seantero negeri ini. Ibarat sebuah generator listrik, bagian komponennya masih tercecer di seluruh pelosok dan sudut kota.

Si kabel mungkin ada di Padang, si akki ada di Bogor, si karburator ada di Ambon, dll….. Semua akan berfungsi dan memberi manfaat sbg sebuah energi besar setelah ada yg merangkai dan menyatukan.

Siapa yg akan merangkai dan menyatukan puzzle2 ini??

Banyak lembaga sosial, banyak kelompok2 peduli, banyak komunitas (yg positif) dimana mana mulai para abg, emak2 rempong, bapak2 sampai civitas kampus dan teknokrat dan cendikia.

Tidak penting siapa mereka menurut saya.

Kekuatan yg akan menyatukan puzzle2 ini adalah MERAH PUTIH di dada.
Kekuatan dahsyat seperti sang bambu runcing melawan mortir dan senapan mesin.
Di MERAH PUTIH tidak ada RAS, MERAH PUTIH tidak menanyakan agamamu MERAH PUTIH tidak menanyakan asalmu.

Selamat menebar manfaat RELAWAN!!

Sharing Sekolah Relawan Bersama Sandiaga Uno

Sharing Sekolah Relawan Bersama Sandiaga Uno

Ini penulis aslinya. Namanya mas Eko Subiyantoro. Pemanjat handal. Relawan senior. Integritas gak perlu dibahas lagi.

Ini penulis aslinya.
Namanya mas Eko Subiyantoro. Pemanjat handal. Relawan senior. Integritas gak perlu dibahas lagi.

Advertisements

Life in a Bowl of Indomie

Berada di Semarang, malam-malam, kemudian memutuskan makan Indomie di warung burjo akang2 di Tembalang, sungguh semacam melemparkan saya ke badai memori sekian puluh atau belas tahun yang lalu.

Semua ingatan seperti menari-nari berusaha menarik ingatan syaa lebih dalan pada satu ingatan khusus. Sayang saya sedang tak dalam tahap setia pada satu ingatan saja. Saya memilih terbang menikmati terjangan semua memori itu. Mulai dari yang indah dan mengundang senyum sampai yang biru dan butuh tenaga untuk menahan airmata.

18 tahun pertama hidup saya, saya habiskan di kota ini. Pertama kali nonton bioskop. Pertama kali pacaran. Pertama kali ditinggal cowok tanpa jelas apa alasannya. Pertama kali dikirim mewakili sekolah untuk pertandingan. Banyaj hal yang pertama kali terjadi dalam hidup saya, terjadi di kota ini. So, harddisk external 1TM juga nampaknya gak cukup menampung kilasan videonya, apalagi muatan emosinya.

Sementar warung Indomie warna hijay yang layoutnya khas itu mengingatkan saya pada malam-malam sepi di Yogya saat darah muda menggelegak. Menghabiskan malam dengan diskusi-diskusi ngotot tentang hidup, tentang negara, tentang cinta, tentang pertunjukan-pertunjukan drama, tentang “dia”, tentang masa depan. Tentang hidup pasca kampus biru, pasca kartu mahasiswa expired.

Sungguh, kebahagiaan hidup memang terletak pada kemampuan bersyukur.

Saya tersenyum mengingat malam-malam kami, saya dan suami, berburu indomie. Naik motor. Berjaket. Jam 9-10 malam, setelah pulang dari saya mengajar, menenteng printer pinjaman dari tempat kursus saya mengajar bahasa inggris, mampir sebentar sebelum lanjut nebeng ngetik skripsi di rumah teman yang punya komputer. Kenapa malam? Karena siangnya saya kerja, komputernya dipakai yang punya serta printernya dipakai buat ngeprint tagihan di kantor. Hehehehe.

Malam berlanjut dengan teman saya tidur di kamar teman lainnya. Suami saya yang saat itu jabatannya sahabat saya akan melek semalamam sambil baca buku tanpa berkata sepatah kata pun. Dan saya akan akan mengetik sampai jam 3-4 pagi sebelum tergeletak di depan komputer. Bangun jam 5, ngesave ulang semua ketikan, minum teh buatan teman yang punya komputer, kemudian menembus udara pagi dinginnya Yogya di tahun 2000an awal bersama sahabat saya mengembalikan printer sebelum jam 7 kantor buka lagi. Aaaah romantisme masa muda memanag luar biasa.

Badai memori saya terinterupsi suami yang mengingatkan soal beli salonpas untuk tangannya yang sakit.

Well, laki-laki ini, yang dulu mengantar, menjemput dan menemani saya mengeyik skripsi. Yang kuat tanpa jaket menerjang dinginnya Kaliurang. Sekarang mengeluhkan pergelangan tangannya sakit dan perlu salonpas buat meredakan sakitnya

Sekali lagi saya tersenyum geli, gimana selempar kertas berlem mampu melemparkan saya kembali ke tahun 2016. Di kamar mandi, saya melirik kilasan benang putih yang nampaknya enggan terlepas dari kepala saya. Aaah si putih pun mulai bertebaran di kepala. But I dont feel like I am getting older for even a day. Hihihi.

Wow. How time flash. It was only yesterday, or even this morning as I remember. But hearing my kids breathing in their sleep right in the rear seat of the car reminds me of one peculiar thing. Time is slow and fast at the same time that it makes me confused of separating memory and dream. Or are they really from the same planet? *sigh*

Here at my almost 40 stage, I realize that this sentence below is really really giving you harsh fact.

“Demi waktu, sesungguhnya manusia itu merugi”

Dan Fan, kaudapatkan insight itu melalui Indomie dan Salonpas? Well, may be you should try salmon steak next time for better insight. Hihihi.

image

Sebelah Hati

Seumur hidup saya yang menjelang 40th ini saya jarang punya teman dekat perempuan. Entah kenapa.

Waktu SMA mungkin alasannya karena sekolah saya memang oerempuannya cuma 30% dari total jumlah siswanya. Kebanyakan anak kos dan beretnis cina, yang kadang sulit saya dekati karena beda gaya hidup. Mereka bisa makan apa saja saat makan siang sementara satu2nya makanan halal di dekat sekolah adalah bakso gepeng. Lainnya, mencurigakan kehalalannya. Mereka bisa main sampai jam berapa pun, sementara saya sebelum maghrib harus sampai rumah. Well, alasan kan bisa dibikin. *menyeringai*

Waktu SMP saya sempat di 2 sekolah. Di sekolah pertama, saya kelas 1 dan 3, long story, nanti kapan2 saya ceritakan alasannya. Di kelas 1 saya berteman dengan 2 perempuan. Di kelas 3 saya berteman juga dengan beberapa perempuan. Tapi semuanya sudah berbahasa beda saat ini kalau ketemu. Entah saya yang nganeh-nganehi atau memang dunianya terlalu berbeda.

Lulus SMA saya cabut dari Semarang langsung ke Yogya, masuk fakultas yang cowoknya 30% dari seluruh siswa per angkatannya. Teteeep saja teman saya kebanyakan laki-laki. Yang perempuan entah kenapa kok kayaknya gatel deket2 saya.

Kemudian tahun 2015 saya berkenalan dengan sekelompok ibu2 yang sebagian besarnya belum pernah saya temui. Kami ngobrol via WA. Colek2an via Facebook. Telpon2an koordinasi ala ala gitu deh. Sebelum akhirnya kami bertemu setelah kurang lebih 2 bulan bersama di #sedekahoksigen. Menariknya, pertemuan pertama kami ga sempat diisi basa basi. Pembahasan langsung merangsek masuk ke area personal diselingi tawa dari mode terkikih terkekek sampai terbahak-bahak.

Sampai-sampai saya perlu mengingatkan,
Kalau ada orang lain, tolong behave yaaa….
Hehehehe

Saya pikir hubungan kami akan mereda ketika #sedekahoksigen berkurang kegiatannya. Ternyata tidak. Grup yang tadinya dibuat untuk koordinasi kemudian berubah jadi ajang sharing ilmu, dari biologi sel sampai ke internet marketing. Juga tempat curhat, tentang apa lagi kalau bukan suami anak mertua juga tentang dia yangbtak boleh disebut namanya. Juga jadi tempat menyembuhkan luka-luka lama. Tempat saling support saat sakit, merasa sedih, butuh dukungan. Bahkan jadi saran kirim mengirim hadiah satu sama lain, dari sekedar eclair sampai ke pil )(€£₩&^$@* *nama dirahasiakan*, hehehehehehe.

Suami saya sempat bertanya.
Kamu convinient dengan temen2mu itu? Nyaman? Karena mereka jelas gak akan kamu temenin sekian belas tahun yang lalu.

Saya jawab.
Iya nyaman. Kayak aku gak perlu jadi orang lain. Gak perlu pura-pura, basa-basi, ga takut di judge, gak takut dibilang aneh. Nyaman. Dan sering kali rindu.

Pssst, saat berpisah dengan salah satu teman saya ini di Palangkaraya beberapa waktu lalu. Saya berpelukan dengan dia cukup lama sambil keras menahan airmata kami. Kemudian ketika 2 minggu berikutnya saya datang dan harus pulanv lagi, saya pikir akan lebih mudah, ternyata tidak juga. Dada dan perut saya terasa bolong saat harus berpisah.

Belum saat salah satunya berlibur ke Jakarta akhir tahun lalu. Saya pikir intensitas rsanya akan berkurang, ternyata gak juga. Saat kami berpisah, kali ini tanpa pelukan, karena ada suami dan anak2 yang hebooooh bin ribet. Tapi saat taksi mulai berjalan meninggalkan saya, sebagian hati saya rasanya ikut pulang ke Surabaya.

Aaaah saya memanflah seoranf Gemini yang lebay soal merasa.

Mamah saya di masa lalu pernah bilang.
Kurangi keterus-teranganmu, sebagian orang gak suka sama gayamu yang tanpa basa-basi, main langsung clekop aja.

Butuh hampir 40th buat saya membuktikan. Teman sejati. Teman yang insyaa allah berteman karena Allah, melalui hati, gak menuntut saya to act less than who I am. Hampir 40th.

Am i happy? Yeeeessss, sure… perjalanan panjang dan berliku memang hampir gak terasa ketika kita dapat sesuatu yang sungguh2 kita inginkan. Dan dalam kasus saya, sekelompok teman perempuan. Yipiiieee….

Dan impian saya dan teman2 makin berlanjut. Bisa liburan sambil ngobrol sana sini sambil baksos di tempat2 di Indonesia tiap 2-3 bulan sekali. Semoga Allah ridho.

5 januari. Saya bersyukur bertemu teman2 baik yang mengisi hati saya dengan kehangatan yang tidak bisa diterangkan dengan kata2. Saya bersyukur teman2 saya bersedia menjambak rambut saya saat saya mulai keluar jalur. Saya bersyukur saya senang dan gak sakit hati, bahkan kadang sukarela dijambak oleh mereka. Saya bersyukur atas gerakan #sedekahoksigen yang mempertemukan saya dengan ibu-ibu cadaz macam mereka.

I love you giiiiirrrrlllllsssss…..

image

Ini salah satu yang ingin saya lakukan bareng temen2 saya. Di pantai, lereng gunung, atau sekedar di hotel atau di mobil. Hehehehe.

image

Salah satu baksos yang kami lakukan di Palembang

image

Baksos juga di Palangkaraya

Di Januari *bukan oleh Glenn Fredly*

Hari keempat tahun 2016. Alhamdulillah I survived December 2015. Hehehehe.

Januari selalu penuh optimisme. Entah kenapa. Mungkin karena mayoritas penduduk dunia bersepakat soal tanggal yang tepat untuk memulai hitungan tahun. Atau karena sebagian habis berpesta semalaman hingga keriaan masih tersisa. Buat saya Januari terasa optimus #eh optimis, karena saya berhasil melewati Desember tanpa berkurang kewarasannya. Hiks. Lebay.

Di Januari ini saya berjanji buat bersyukur setiap hari atas hal-hal dalam hidup saya.

1 januari, saya bersyukur berhasil melalui 4th meninggalnya papah saya. Melewati 1 tahun jadi yatim piatu tanpa kehilangan my sanity. Huks. Bersyukur sudah melewati malam bersama 2 sahabat baru-rasa-lama dengan segala macam pembicaraa dari yang intelektual soal buku sampai blas gak intelek soal voldemort a.k.a misteri hilangnya kota di peta. Hihihi.

2 januari, saya bersyukur Genta memutuskan untuk menginap dan meng-exercise kemandiriannya lagi, walau diselingi tangisan kangen di malam harinya. Bersyukur saya dan suami punya waktu mengingat masa muda dengan nonton bioskop. Bersyukur Puti yang sangat kooperatif dipaksa nemenin ayah ibunya nonton bioskop.  Hiyak.

3 januari, saya bersyukur berhasil marathon nonton bioskop bareng laki2 yang sudah bersama saya selama 14th. Menonton 2 film Indonesia yang keren, Bulan Terbelah di Langit Amerika juga Negeri Van Oranje. Saya bersyukur menonton 2 film apik dan membuat saya  teringat tentang pentingnya beragama dengn baik. Juga film yang menghibur, membuat saya tertawa dan bernostalgia. Aaaah nostalgiaaa memang selalu syahdu buat dilakukan. Hehehe.

4 januari, hari ini. Saya bersyukur atas semangat baru yang entah datang dari celh sebelah mana di tubuh saya tapi terasa nggremet sejuk dan hangt di waktu yang sama. Saya berayukur atas berita baik dari adek kecil saya dan keluarganya yang akan segera bertambah anggotanya. Saya bersyukur saya menikahi sahabat saya. Saya bersyukur atas usia yang hampir 40th serta aset di kepala saya yang akan menjadi cahaya di alam kubur nanti *if you know what I mean*.

Saya bersyukur atas gadget ini di mana saya bisa menuliskan rasa syukur saya sambil menemani Puti yang tidur siang. Saya bersyukur atas liburan yang sudah lewat juga liburan yang sebentar lagi akan datang. *sayang gak ada icon joged*

Anyway saya berniat hanya akan bersyukur di tahun ini. Semoga Allag ridho dan menambahkan nikmatNya sehingga saya makin bersyukur.

Happy 2016. May the force be with you. #ealah. May you have a great and barokah life ahead.

image

ODOJ : Mission Impossible (For Me)

ODOJ - Cerita Fanny

Hi again. Ijinkan kali ini saya bercerita tentang perjalanan saya belajar baca Quran.

Biarpun beragama Islam sejak lahir, saya baru bisa lancar baca Al-Quran tahun 2011-2012 an. Itu pun karena kebingungan. 2012 saya dan suami berencana berangkat umroh. Membayangkan saya harus membawa Al-Quran super besar yang ada tulisan latin dan bahasa Indonesianya selama di sana, membuat saya terbiritbirit belajar baca Quran. Sampai berangkat umroh tahun 2012, saya gagal meng-khatamkan baca Quran. Baru di Ramadhan 2013 saya berhasil khatam baca Al-Quran pertama kali. Yak. Pertama kali dalam hidup saya.

Rasanya superb sekali. Surreal. Buku setebal itu dengan tulisan se-unfamiliar itu, akhirnya bisa saya selesaikan. Sejak saya mulai belajar baca Quran, dalam hati saya berkata,

“Sekurang-kurangnya saya pengen khatam 1x dalam hidup saya.”

Mengingat segala kondisi saya. Jadi waktu akhirnya berhasil khatam 1x, rasanya kayak top of the world. Mimpi di siang bolong.

Buat Anda yang belajar baca Quran sejak kecil, Anda mungkin sulit memahami rasanya. Belajar baca Quran itu saya lakukan kadang sambil mangku anak, nyusuin Puti, sampai kadang kepala saya pusing saking tegang karena ga bisa-bisa. Jadi saat akhirnya berhasil menyelesaikan satu Quran, wuuuuaaaah, sungguh pencapaian yang luar biasa bagi saya yang hampir 40 tahun ini. (Perhatikan kata “hampir” nya ya, bukan “40” nya)

Saya bangga. Juga tidak bangga. Senang tapi juga malu. Pengen teriak pengumuman ke seluruh dunia tapi juga rasanya pengen ngumpet saking menyesalnya. But anyway, saya berhasil belajar membaca Quran di usia saya yang hampir 40 tahun dan khatam 1x di tahun 2013. Semoga tidak ada orang di dunia ini yang merasa berhak mengecilkan pencapaian saya ini.

Kemudian di Desember 2013 seorang kenalan mengajak saya ikut di komunitas One Day One Juz. Komentar pertama saya adalah, whaaaaaattttt???? Kami sempat berbalas-balasan beberapa kali sms. Saya sibuk menerangkan, saya ini baru bisa baca mbak, saya ini bacanya masih pelan, nanti kalau gak berhasil gimana, malah ngerepotin orang, jadi kesannya gak committed, padahal mah memang ga mampu. Sementara sms dari sisi sebelah sana isinya sekitar, yang penting diusahain dulu bu, pasti nanti dibantu sama Allah, temen-temen satu grup juga pasti bantu, coba aja dulu, kalau memang gagal ya gak papa.

Ah, saya sudah putuskan tahun 2013 saya akan melakukan hal yang berbeda dalam hidup saya, yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Dengan niat makin mendekatkan Quran dalam keseharian dan bismillah, saya setuju bergabung. Deg-degan luar biasa. Grupnya isinya perempuan-perempuan yang entah sudah berapa kali khatam. Pada jago pakai bahasa Arab dalam percakapan sehari-hari, sementara doa makan saja, saya baru tahu artinya dari Genta. (Thanks to Miss Atie dan Miss Alif, gurunya Genta di Budi Mulia Dua Bintaro)

Begitu on grup-nya, eeeeh tamu bulanan saya datang, kebagian deh baca terjemahannya. Bisa? Ya masih bisalah kalau cuma baca terjemahan. Saya biasa baca buku tulisan Latin, jadi lancar. Selameeet selamet, dalam hati saya. Belum selesai tamu bulanan, Genta libur sekolah. Jadwal harian mulai kacau. Baca terjemahan masih kepegang. DI tengah-tengah libur, tamu bulanan sudah pamit, Puti dan suami sakit. Huaaa. Sungguh saya sudah menghubungi penanggung jawab grup nya untuk mengundurkann diri. Hihihihi, sebut saja saya cemen, gpp. Hiks. Huaaa. Tapi jangan dong please?

Tapi jawaban dari mbak Admin Grup ODOJ 774, Bunda Choir, bener-bener ampuh.

Jangan off mbak. Kalau lagi pada sakit dan gak kepegang bacaannya, gpp, juz nya dilelang dulu, tapi jangan off ya.

Wuah. Rasanya malu dan heran. Malu karena saya mudah menyerah. Padahal dalam banyak hal lain, sungguh, saya bukan orang yang mudah menyerah. Saya keras kepala, man. Saya sungguh bertekad baja. Juga heran, kenapa sih saya sudah bilang gak mampu, ga bisa, ga mungkin, enggak lah pokoknya sama 2 orang dan 2-2 nya dengan indahnya menolak sejuta daftar alasan saya.

Bermodal malu dan tekad yang menguat, awal Januari 2014, saat Genta mulai sekolah lagi. Saya menjawab sms mbak Admin.

Ok mbak. Insyaa allah hari ini saya mulai on.

Dalam hati, mulai on piyeeeee? Tapi tetep dijalanin. Kan udah commit. Urusan gagal entar kita omongin. Yang penting, perang dulu, kalah belakangan. Begini kurang lebih  urutan saya dalam sehari kalau baca Quran. Siapa tahu ada yang heran atau mau meniru.

Pagi, Genta sekolah, saya nyusuin Puti sambil nunggu Puti tidur. Begitu dia tidur, saya langsung baca Quran, sebisanya, sampai Puti bangun. Kemudian aktivitas rumah tangga sudah menunggu.

Siang, Genta pulang sekolah, nyuapin Puti, kemudian Genta main sendiri, Puti duduk di kursinya, saya sholat Dhuhur sambil membaca situasi. Kalau memungkinkan, selesai sholat saya baca sampai Puti atau Genta sudah tidak sabar meminta perhatian saya.

Saat mereka tidur siang, saya baca lagi. Biasanya jam segini saya sudah selesai 1 juz. Ngeri kan? Ternyata saya yang bacanya kayak kurakura aja bisa selesai lo 1 juz sebelum Ashar.

Tapi dalam kondisi tertentu (yang tentunya ini lebih sering sih), sholat Ashar, Maghrib dan Isha’, saya masih membaca juga sisa-sisa lembar yang belum terpegang. Kadang bahkan saya minta perpanjangan waktu, menunggu anak-anak tidur, kemudian mulai baca Quran jam 10-11 malam. Sering kali saya orang terakhir yang menyetorkan bacaannya.

Malu? Iya. Tapi saya committed. Saya tidak menyerah.

Sampai sekarang saya masih bergabung di ODOJ Grup 774. Keponthalponthal? Iya. Belum bisa ambil lelangan juz orang lain. Tapi saya sungguhsungguhsungguh berusaha. Sampai saat ini saya hampir selalu berhasil menyelesaikan bacaan 1 juz dalam 1 hari. Tapi saya juga kadang mendapat bantuan dari teman-teman untuk menyelesaikan lembar-lembar terakhir yang belum saya pegang, karena waktu yang sudah terlalu mepet.

Apakah saya menyerah? Nope. Saya masih berperang. Doakan saya ya.

Tapi btw, bahkan dalam bacaan saya yang entah segronjalan apa. Saya menemukan ketenangan, seperti yang dijanjikanNya pada hambaNya yang membaca Quran. Dan ketenangan yang seperti ini sungguh addicted. Jadi saya kecanduan. Semoga Allah ridha dengan usaha dan kecanduan saya yang satu ini.

*hari ini, di rumah mertua saya yang beragama Katolik, di pojok ruangan, saya membaca jatah juz saya dengan suara lirih.

Pesan Allah di Januari

Genta sambil mandi sore sendiri, tiba-tiba nyeletuk

“Bu, menurut Allah, di bulan Januari ini, kalau mandi sore ga harus rata sabunannya, ada yang kelewatan sedikit gak papa”

Hmm. Where should I start?

First of all, I am a proud mom of him being able to compose that complex statement. Yes the statement is beyond any wild imagination a mom could have at 5 pm, after a very tiring swimming day. But that sentence is great, isn’t it?

Secondly, I’m also proud that he understand the existence of Allah and also understand that if he wants to convince me of doing things, he should associate his action with Allah. That is also a complex understanding, right?

Third, I’m glad that he has that much confidenceknowing that he said what he said in the bathroom, totally naked, calmly brush his skin using bubbles– to try to persuade me of doing things he knew exactly would not be the thing I prefer. I want to have confident boy. There he is. If he is that confident talking about Allah nakedly, I could only imagine what he can do in a full working suit. Ah.

Last, of course not the least. I’m contented with the fact that he composed the statement really thoroughly. Provided with a lot of details, like the month now, the exact kind of mandi and of course the explanation of “gak rata”.

By the way, here is the rest of the conversation after that convincing killing statement.

Me : Oh, ya? Mas Genta tahu dari mana kalau Allah ngomong itu?

G : Ya dari Allah. Bener lo bu. Genta ga bercanda

M : Iya iya. Ibu tahu *ga bercanda adalah kata kuncinya Fan*. Tapi Allah itu ngomongnya di mana?

G : Ya di Mekah lah. Allah kan di Mekah.

M : Oh *salah lagi kalimatku*, maksud ibu omongan Allah itu kan biasanya di Quran.

G : Ya gak di Al Quran lah. Masak di Quran.

M : Lah tapi Allah itu omongannya semua adanya di Quran mas. Kok ibu belum pernah tahu ya di Quran, Allah ngomong gitu.

G : Ya memang gak di Quran siiih… *fade out

Nampaknya jawaban terakhir itu saat Genta mulai merasa statementnya kurang didukung data faktual. Kemudian dia mundur teratur dengan terhormat, tentunya setelah pertarungan yang fair.

*for more parenting stories and tips, please visit my Keep The Tiger In The Closet blog.

Repost : Belajar Islam (1)

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Dalam sebuah pengajian, dibahas soal kelompok-kelompok muslim yang hobinya “meluruskan” teman-temannya. Kelompok-kelompok ini tersebar berbendera banyak nama di Jakarta. Pilihan kata “meluruskan” memang terdengar kurang enak di hati, terutama bagi yang “diluruskan“.

Namun surat 64:16 (At-Taghābun) di atas nampaknya memang menunjukkan bahwa Allah Maha Mengetahui ciptaan-Nya. Sebagian orang sanggup puasa Daud sepanjang tahun, karena diberi nikmat kesehatan perut yang luar biasa. Sementara sebagian lain memperoleh nikmat harta, sehingga mampu bersedekah miliaran rupiah. Yang lain lagi mendapat nikmat kekuatan hati untuk bangun malam dan melaksanakan sholat malam.

Bahkan Abu Bakar dan Umar, dua sahabat nabi memilih waktu yang berbeda untuk melakukan sholat witir. Semuanya dengan pertimbangan kesanggupannya masing-masing. Kalau Rasulullah saw saja membiarkan sahabat-sahabatnya melakukan ibadah sesuai kesanggupannya, lalu apakah manusia sekarang berhak memaksakan pendapatnya pada orang lain yang dianggapnya masih “bengkok“?

*masih belajar