Anak Lahir Bagai Kertas Kosong

Anak lahir bagai kertas kosong. Benarkah? Ada banyak yang percaya. Banyak juga yang mengatakannya. Berulang pula. Tapi benarkah?

Sebagian orang menyebutkan teori itu demi menunjukkan bahwa anak anak adalah makhluk suci bersih tanpa noda. Yang mana saya yakin hampir semua orang setuju kan ya? Tapi benarkah kalau anak lahir bagaikan kertas kosong kemudian tugas kita memberikan gambar atau melipatnya menjadi bentuk tertentu?

Dalam sebuah kajian, Ust. Bendri mengatakan bahwa dalam Islam, kita meyakini anak anak lahir dengan fitrah. Apa sih maksudnya fitrah? Pak ustadz lebih lanjut bicara soal bagaimana fitrah itu semacam cetakan, bawaan, titik titik yang harus disambungkan. Tentunya semuanya berupa fitrah kebaikan. Sehingga tugas pengasuhan sesungguhnya adalah tugas untuk menjaga anak dalam fitrahnya, bukan menulis di selembar kertas kosong.

Sementara dalam perspektif lainnya, psikologi masih terus berdiskusi tentang seberapa banyak manusia dipengaruhi lingkungannya. Apakah manusia 100% dipengaruhi lingkungan? Atau 100% dipengaruhi oleh segala hal yang dibawanya sejak lahir.

Sejak tahun 90-an ketika pertama kali saya belajar psikologi, perdebatan itu nampaknya sudah lama berlangsung. Saya pribadi yang sejak lama percaya bahwa manusia adalah kombinasi cantik antara bawaan dan lingkungan. Kenapa?

Karena kita temui orang orang yang bawaannya pintar lalu perilakunya tidak memberikan manfaat bagi lingkungan, justru mudharat.

Juga kita temui orang orang yang bawaannya berbau asam, tapi bergaul dengan penjual minyak wangi membuatnya menyebarkan semerbak harum di mana pun dia berada.

Plus saya juga percaya bahwa dunia ini memang dibuat untuk tidak berlebih lebihan. Sehingga teori-teori fatalistis sama sekali gak menarik hati saya untuk dipelajari. 100% bawaan. 100% lingkungan. Bagi saya bagian dari teori fatalistis. hehehe. Itu istilah murni buatan saya sendiri.

Kombinasi cantik antara bawaan dan lingkungan ini yang kemudian nampaknya sejalan dengan keyakinan agama saya. Pertama, ada faktor bawaan, yang berdasarkan ilmu yang saya pahami, bahasa kerennya fitrah. Kedua, ada faktor lingkungan, yang juga berdasar ilmu yang saya tahu maka kita diingatkan untuk berhati hati dalam berteman, karena berteman dengan pande besi terbakar, berteman dengan penjual minyak wangi harum.

Lalu bagaimana menyikap adanya 2 faktor itu dalam diri anak?

Yang bawaan, kudu dikenali. Bagaimana cara mengenalinya? Ada banyak metode yang bisa dilakukan. Metode paling sederhana, murah meriah sekaligus menurut saya paling yahud adalah observasi yang dilakukan oleh orang tuanya. Maka akan ketahuan apa cetakan dasar dari anak ini. Setelah diketahui maka tugasnya menegaskan kembali fitrah itu dan memberikan kesempatan fitrah tersebut menjelma menjadi jalan kebaikan sang anak yang lebih besar di masa yang akan datang.

Yang lingkungan, maka kudu disesuaikan. Bagaimana cara menyesuaikannya? Jika Anda berharap anak Anda bisa paham matematika, apa yang Anda lakukan? Saya, saya akan membuatnya jatuh cinta sama matematika. Soal kemampuan itu belakangan. Karena cinta adalah yang utama. Maka lingkungan bagaimana yang mau Anda siapkan bagi anak anak, tergantung mau ke mana Anda dan keluarga Anda berjalan bersama. Bukankah tujuan akhir anak seharusnya adalah bagian dari tujuan akhir keluarga?

Well. Sampai di sini, saya bilang anak bukan lahir seperti kertas kosong. Bisa jadi nampak kosong karena kita tak mampu melihat cetakannya atau stensilannya yang terlalu tipis, memang karena itulah tugas kita dalam pengasuhan. Tapi apakah benar dia bagaikan kertas kosong melompong? Kalau menurut saya sih NO, gak tahu kalau mas Anang…. *nengok samping*

Advertisements
Quote

Barney Class : #1

Barney Growing - Blog Fanny Herdina

Groooowing we do it everyday,

we’re growing when we’re sleeping and even when we play

And as we grow little older we can do more things,

because we’re growing and so are you

each day we grow little taller, little bigger, not smaller

and we grow a little friendlier too

We try to be little nicer as we grow each day,

because we’re growing and so are you

Bagi para orang tua yang menghabiskan waktu menemani anaknya nonton TV biasanya paham ini lagu siapa. Big purple dinosaur? Yup. Barney. Yeeey, helloooo Barney.

Sejak Genta kecil (sekarang 4th umurnya) saya selalu menemani Genta nonton TV. Salah satu tontonan awalnya adalah Barney. Sekarang Puti (1th) mulai nonton Barney juga. Entah ya. Setiap episode-nya.. saya merasa Barney berhasil menyampaikan value yang penting bagi anak-anak. Jadi so far, Barney masih tontonan wajib buat anak-anak saya.

Lagu di atas misalnya. Selain bicara soal “growing”, saya senang Barney menyelipkan “a little nicer” dalam syair lagunya.

Aaaah, sebut saja saya kuno atau kurang modern, atau sok tua. Tapi sungguh, sopan santun di tahun 2014 ini, di kota Jakarta yang sering saya datangi ini (saya tinggal di Bintaro, Tangerang Selatan), rasanya suliiit sekali ditemukan. Jangankan dari para remaja dan anak-anak yang jelas pre-frontal korteks-nya belum optimal berkembang. Bahkan dari para orang tuanya saja kadang harus bermodal keberuntungan untuk bertemu orang dengan sopan santun sekelas Indonesia (yang konon kabarnya orangnya ramah tamah dan sopan santun).

Tapi ya begitulah kata Barney,

“we try to be a little nicer as we grow each day because we’re growing…”

Jadi bolehkah saya katakan, orang-orang yang gagal menjadi “nicer” tiap harinya, sesungguhnya mereka sedang melawan hukum alam dengan menolak tumbuh?