Ini Soal Kepentingan!

Puluhan tahun yang lalu, saya berkumpul bersama puluhan mahasiswa UGM dari berbagai fakultas di sebuah villa di Kaliurang. Saya datang terlambat karrna memilih menyelesaikan dulu urusan dengan organisasi pecinta alam yang waktu itu sungguh sudah membuat hati saya tersekap. *bosoku rek*
Saya datang terlambat saat acara rapat sudah dimulai. Dingin udara kaliurang nampaknya kurang mampu meniup hawa panas di ruang rapat. Saya duduk di bangku tengah, tepat di belakang teman teman yang sedang berdiri dari kursinya untyk meneriakkan pendapatnya.

When I say meneriakkan, itu bukan konotatif, tapi denotatif. Mereka saling berteriak. Sementara di bangku belakang sebagian mahasiswa sedang bergeromvol sendiri. Sebagian nampak serius berdiskusi dengan wajah gabungan jengkel dan kecewa, tapi suaranya sangat kecil. Sebagian acuh tak peduli, bayangan saya mereka lelah dan tak habis pikir.

Saya terjebak dalam posisi tengah antara kelompok mahasiswa yang berdiri dan teriak dengan kelompok mahasiswa yang duduk dan berbisik. Saya mencoba mendengarkan, cukup keras, untuk tahu masalah pelik apakah gerangan yang sedang kami -para mahasiswa yang di bahunya terletak masa drpan bangsa- bahas.

Dahi saya berkerut. Telinga berusaha keras mendengar kata2 para pemimpin rapat di ujung depan ruangan. Sementara mata senantiasa melihat pantat2 di depan saya yang bergerak gerak. Aaaah betapa banyak godaan saya saat itu untyk fokus.

Ahaaaa….. saya akhirnya mendengar kata2 dari pengeras suara….

Jadi apakah sebaiknya kita pakai koma atau titik koma setelah kata sementara?

Koma!

Titik koma!

Kalau titik koma iti bisa disalahartikan!

Justru koma yang bisa disalahartikan!

Atau titik saja?
Whaaaaaaat? What? What? What? 

Apa ini yang kita bicarakan? 
Saya cek jadwal acara di kertas yang saya pegang. Harusnya ini sesi pembahasan tata tertib sidang.

Whaaaaat? Masih bahas tata tertib udah hangat hangat bagai indomie baru diangkat dari wajan? Gimana sesi sidangnya nih?

Aaaah dari jauh saya mengenali 2 pantat yang nampak familiar. Saya colek pelan dengan harapan dia tidak kaget. Kawan saya satu ini menoleh. 

Hei.

Hai. Apa ini? Tata tertib?

Heeh

Udah seheboh ini?

Teman saya menunjukkan wajah yang tidak setuju. #ups. Rupanya dia salah satu pihak yang sedang bersikukuh soal tanda baca tadi. Dahinya verkerut menggantikan kerutan di dahi spaya tadi. Bibitnya mulai terangkat sedikit ke satu sisi. Kemudian dengan keras dia menjawab….

Ini soal kepentingan Fan! Semua ini soal kepentingan! Aaaah kamu gak paham sih!

Jleb, auuuuuuu……

Mendadak saya mengalami disorientasi. Saya duduk sambil melihat sekeliling saya. Bukankah kita semua yang ada di sini baru saja selesai dipilih dan dilantik? Lalu dari mana dia jadi lanyah bicara kepentingan sementara saya masih menggerutu harus meninggalkan pacar saya di Yogya buat acara ini?

Merasa seperti kura kura tertinggal dala  lomba lati oleh kelinci……

Malam ini saya terlempar ke villa itu di Kaliurang, tempat saya kemudian mengenal beberapa teman lain yang sempat saya kagumi saat itu. Dinginnya udara. Ketusnya ucapan. Batunya ekspresi wajah. 

Saya ingat pada waktu itu syaa memilih meninggalkan ruangan menikmati udara dingin gunung yang memanf kesukaan saya.

Kepentingan. Kepentingan. Mahasiswa. Peneruz perjuangan. Tata tertib sidang. Titik koma. Koma. Titik. Kepentingan. Oh. Why am i lost?

Puluhan tahun kemudian orang2 yanga da di ruangan itu menjelma menjadi banyak hal. Entah berapa yang mrnjadi ibu rumah tangga, saya gak tahu. Tapi kebanyakan menjadi aktivis, independen atau bagian dari organisasi. Organisasinya bisa lokal, internasional bahkan juga pemetintahan. Well. 

Kemudian malam ini saya entah kenapa ingat pada sebuah berita yang sekilas saya baca di TL.

Cabr mahal. Tanem sendiri. Gak usah bikin sambel. Bersyukur!. Salah pemerintah. Ini kepentingan.

BBM naik. Pindah ke Arab sana yang BBM murah. Untungku berkurang berapa nih?. Walk out dari sidang sambil nangis termehek mehek atau pura pura aja ga tahu sambil ga komen, toh kan beda periode. Tergantung kepentingan.

Kalah duel atau dikeroyok? Tergantung kepentingan.

Bubarkan FPI atau dukung FPI? Tergantung kepentingan.

Fitza hats. Salah pengetik, prlapor, pembaca, penyebar foto atau salah kita yang mengolok olok? Tergantung kepentingan.

Saya ga akan kasih pilihan sebarkan hoax atau hentikan. Karena saya yakin seyakin yakinnya, kalau orang itu ga suka nyebarin hoax, kalau mereka tahu itu hoax. Soal malas ngecek atau rasa puas saat terima hoax yang sesuai kepentingan, itu mah urusan pengendalian jempol.

Di usia sekarang saya paham maksud kenalan saya itu bilang bahwa di dunia ini semua serva kepentingan. Apakah maksudnya serba terlalu penting? Hahahahaga……

Memang kepentingan yang menggerakkan kita rupanya. Masalahnya adalah kepentingan apa?

Kepentingan perut? Lapar vs. Kenyang?

Kepentingan dada? Penghargaan vs. Penghinaan?

Kepentingan mata? Indah vs. Busuk?

Kepentingan jempol? Nyinyir vs. *apa ya anyi nyinyir itu?*

Kepentingan apa? Duniawi vs. Akhirat?

Usia udah 40. Di Quran sudah diingatkan surug hati hati. Keluar malem dikit udah masuk angin. Kena AC kelamaan udah pilek besoknya. Roadtrip ke Curebon aja recovery 3 hari. 1x begadang pulangnya kerokan. Jadi yaaaa harusnya kepentingannya disortir, sehingga efeknya diksi pun jadi terfilter.

Tapi itu saya yang udah 40 tahun. Kepentingan saya cuman sehat, biar bisa tetep jalanan jalan dan makan makan bareng Pak Bondan. Hahahahaha.

Malrm friends. Sleep tight. Dream of me.

Ecieeee….. itu kan dulu penutup di surat surat cinta ayeeeee….. uhuk…..


2 weeks of sleep, everyone?

Advertisements
Gallery

Latepost : Nasehat Cinta

Nasehat Capres Blog Fanny Herdina

Let me start the story with…. When I was young…….er than now…. *mekso*

Ini cerita tentang saya dan teman saya. Belasan tahun yang lalu, boleh dibilang puluhan tahun yang lalu, saat mahasiswa, saya berteman dengan si Cantik satu ini. Saat itu dia berpacaran dengan laki-laki yang jelas-jelas saya tahu masih punya pacar. Tanpa konfirmasi ke Cantik, dalam hati saya mbatin.

“Huh. Dasar perempuan gatel. Udah tahu masih punya pacar, kok ya diembat juga”

Demikian juga rumor yang beredar di sekeliling saya tentang si Cantik. Tambah hari saya tambah mengamini bahwa si Cantik ini memang “gatel” *uh maafkan bahasa saya yang ehm uhm berantakan*

Karena waktu itu saya lebih dekat dengan si cowok, saya konfirmasi ke pacar si Cantik yang masih punya pacar lain itu. Jawabnya.

“Gak kok. Cuman temen deket aja”

Walah. Kaget saya. Saya pikir mereka sudah pacaran, ternyata si Cowok cuma menganggap Cantik sebagai teman dekat. *please abaikan norma hubungan laki-perempuan kami saat itu, walau tidak bisa dimaklumi, anggap saja kami muda dan masih exploring*. Tapi saya bingung, karena obrolan dan sindir-sindiran di sekitar saya itu jelas menunjukkan seolah-olah mereka pacaran.

But anyway, siapa juga saya ngurusin urusan orang? Udah jelas waktu itu saya yang gak punya pacar, belum KKN, apalagi skripsi, ga punya duit buat bayar kos pulak. Sudahlah. Perhatian saya teralihkan.

Kemudian saya punya pacar. Yihaa. *gak usah ditiru* Kemudian saya KKN, skripsi, lulus, bla bla bla. *flash forward* Here I am di awal 30-an *waktu itu ya, sekarang mah udah late 20s lah, bundhet bundhet deh ini time frame nya* Saya ketemu lagi si Cantik. Tentu kami udah berbeda. Ya iyalah, if you are still the same person as you were when you were 18 years old, hmm, let me just call you crazy. Percakapan kemudian mulai nyinggung soal masa lalu. Ya apa lagi sih yang diomongin kalau reuni? hihihihi.

Btw Cantik dan si Cowok itu akhirnya berpisah. Cantik sudah menikah sekarang. Si Cowok menikahi pacarnya yang memang dari dulu dipacarinya itu.

Ngobral ngobrol. Setelah panjang lebar, sampailah ke topik tentang si Cowok. Setelah update berita terakhir dan sebagainya, tanpa sadar pertanyaan saya belasan tahun yang lalu meloncat dari binir saya.

“Lha kamu udah tahu dia punya pacar, kok ya mbok pacari?”

“Loh, dia ngakunya udah putus kok waktu itu. Tenan. Nek aku ngerti dia masih punya pacar, ya gak mungkin lah kudeketin. Edan po aku?”

*dalam hati* whaaaaatttt???? *ngeyel* Loh tapi kan kamu tahu dia itu ada pacarnya kan?”

“Gak. Sumpah gak Fan. DIa ngakunya udah putus. Gak lah kukejar-kejar dia kalau tahu dia masih punya pacar.”

Saat itu, saat reuni itu tiba-tiba ingatan saya kembali ke jaman (lebih) muda saat saya dan beberapa teman ikut mengejek atau menyindir Cantik soal ke-gatel-annya. Belum sempat kembali nyawa saya, tiba-tiba Cantik nanya lagi.

“Lha kamu tahu to kalau dia masih punya pacar waktu itu?”

“Iya, tahu.”

“Kenapa gak ngasih tahu aku? Aku kan temenmu”

“Kupikir kamu tahu dan tetep aja cuek mau pacaran sama dia.”

Kalua boleh saya gambarkan muka si Cantik waktu dengar jawaban saya. Hmmm, sungguh. Bukan ekspresi menyenangkan yang ingin saya lihat di wajah teman saya. Sekarang kami masih berteman. Belajar dari kebodohan masa lalu. Kesalahan-kesalahan yang kami buat. Beberapa tahun yang lalu saat ketemu lagi, percakpan berubah menjadi

“Iya juga sih Fan, kalau toh kamu kasih tahu waktu itu ya mungkin aku gak mau dengar”

Itu yang cerita tentang Cantik. Cerita tentang saya juga gak kalah banyaknya. Diingetin mamah, adek saya, temen-temen baik saya –salah satunya jadi suami saya sekarang, hiks- tapi ya ngeyeeeel aja tetep deket-deket sama orang yang gak PAS. Saya juga protes, terutama sama suami saya

“Kenapa dulu kamu gak ingetin sih mas?”

“Lha udah kusindir, udah ku ece-ece juga ga paham-paham ok kamu”

Anyway, Cantik, Cowok, saya dan suami saya, kami sudah menikah sekarang dengan pasangan masing-masing ya. Dan kami hidup bahagia di atas kesalahan-kesalahan kecil yang kami buat. *jangan ngarep ada inspirasi ya dari tulisan ini, ini cerpen roman historical yang semi picisan kok* hihihihi

Saya bersyukur punya teman-teman yang kadang ngingetin kalau pas bikin salah. Saya juga bersyukur orang tua saya gak sok bergaya orang tua yang nasehatin anaknya, apalagi pas jatuh cinta. Ortu saya, terutama mamah saya kalau kasih nasehat mah nyante, selalu seolah-olah kami selevel. Gak main gaya nasehat orang tua ke anak.

“Kamu harus gini. Ini buktinya. Mamah itu lebih tahu. Karena mamah memang yaaa lebih tahu. Kamu yang harusnya tu lihat ni bukti-bukti yang mamah bawa”

Alhamdulillah mamah saya gak gitu caranya ngasih tahu. Karena dalam model percakapan kayak di atas, seolah-olah terselip bahwa mamah yang lebih tahu. Bahkan dengan usia dan pengalamannya, Mamah gak pernah merasa lebih tahu. Mamah saya lebih model yang kayak gini,

“Kamu yakin sama pilihanmu? Ok. Kalau kamu yakin, mamah dukung. Tapi kalau nanti kamu mau berbalik. Balik kanan aja, mamah di belakangmu.”

Begitu terbukti saya benar, mamah minta maaf, mengaku pilihan saya benar. Begitu terbukti mamah benar, saya minta maaf karena sudah begitu dibutakan sama cinta. Jiaaaaaahhh.

Saya lega dikelilingi banyak orang yang tidak merasa paling benar, paling pintar, paling jago, paling update dan perlu memberi nasehat. Ada sih sebagian yang suka  berasa paling tapi udah saya unfollow #eh. Sori, Kembali ke laptop. Maksud saya begini, berhentilah memberi nasehat ketika gak diminta. Juga berhentilah berpikir bahwa Anda perlu memberi nasehat. Berhentilah merasa lebih tahu, lebih update, lebih luas wawasannya, lebih bijak, lebih gemuk -oh ini saya yang merasa-. Karena yang jatuh cinta memang sedang gila karena cinta. Lha Anda? Jangan-jangan Anda gila karena merasa lebih. Ups. Sesama orang gila gak boleh saling mencela. Ok?