Ini Soal Kepentingan!

Puluhan tahun yang lalu, saya berkumpul bersama puluhan mahasiswa UGM dari berbagai fakultas di sebuah villa di Kaliurang. Saya datang terlambat karrna memilih menyelesaikan dulu urusan dengan organisasi pecinta alam yang waktu itu sungguh sudah membuat hati saya tersekap. *bosoku rek*
Saya datang terlambat saat acara rapat sudah dimulai. Dingin udara kaliurang nampaknya kurang mampu meniup hawa panas di ruang rapat. Saya duduk di bangku tengah, tepat di belakang teman teman yang sedang berdiri dari kursinya untyk meneriakkan pendapatnya.

When I say meneriakkan, itu bukan konotatif, tapi denotatif. Mereka saling berteriak. Sementara di bangku belakang sebagian mahasiswa sedang bergeromvol sendiri. Sebagian nampak serius berdiskusi dengan wajah gabungan jengkel dan kecewa, tapi suaranya sangat kecil. Sebagian acuh tak peduli, bayangan saya mereka lelah dan tak habis pikir.

Saya terjebak dalam posisi tengah antara kelompok mahasiswa yang berdiri dan teriak dengan kelompok mahasiswa yang duduk dan berbisik. Saya mencoba mendengarkan, cukup keras, untuk tahu masalah pelik apakah gerangan yang sedang kami -para mahasiswa yang di bahunya terletak masa drpan bangsa- bahas.

Dahi saya berkerut. Telinga berusaha keras mendengar kata2 para pemimpin rapat di ujung depan ruangan. Sementara mata senantiasa melihat pantat2 di depan saya yang bergerak gerak. Aaaah betapa banyak godaan saya saat itu untyk fokus.

Ahaaaa….. saya akhirnya mendengar kata2 dari pengeras suara….

Jadi apakah sebaiknya kita pakai koma atau titik koma setelah kata sementara?

Koma!

Titik koma!

Kalau titik koma iti bisa disalahartikan!

Justru koma yang bisa disalahartikan!

Atau titik saja?
Whaaaaaaat? What? What? What? 

Apa ini yang kita bicarakan? 
Saya cek jadwal acara di kertas yang saya pegang. Harusnya ini sesi pembahasan tata tertib sidang.

Whaaaaat? Masih bahas tata tertib udah hangat hangat bagai indomie baru diangkat dari wajan? Gimana sesi sidangnya nih?

Aaaah dari jauh saya mengenali 2 pantat yang nampak familiar. Saya colek pelan dengan harapan dia tidak kaget. Kawan saya satu ini menoleh. 

Hei.

Hai. Apa ini? Tata tertib?

Heeh

Udah seheboh ini?

Teman saya menunjukkan wajah yang tidak setuju. #ups. Rupanya dia salah satu pihak yang sedang bersikukuh soal tanda baca tadi. Dahinya verkerut menggantikan kerutan di dahi spaya tadi. Bibitnya mulai terangkat sedikit ke satu sisi. Kemudian dengan keras dia menjawab….

Ini soal kepentingan Fan! Semua ini soal kepentingan! Aaaah kamu gak paham sih!

Jleb, auuuuuuu……

Mendadak saya mengalami disorientasi. Saya duduk sambil melihat sekeliling saya. Bukankah kita semua yang ada di sini baru saja selesai dipilih dan dilantik? Lalu dari mana dia jadi lanyah bicara kepentingan sementara saya masih menggerutu harus meninggalkan pacar saya di Yogya buat acara ini?

Merasa seperti kura kura tertinggal dala  lomba lati oleh kelinci……

Malam ini saya terlempar ke villa itu di Kaliurang, tempat saya kemudian mengenal beberapa teman lain yang sempat saya kagumi saat itu. Dinginnya udara. Ketusnya ucapan. Batunya ekspresi wajah. 

Saya ingat pada waktu itu syaa memilih meninggalkan ruangan menikmati udara dingin gunung yang memanf kesukaan saya.

Kepentingan. Kepentingan. Mahasiswa. Peneruz perjuangan. Tata tertib sidang. Titik koma. Koma. Titik. Kepentingan. Oh. Why am i lost?

Puluhan tahun kemudian orang2 yanga da di ruangan itu menjelma menjadi banyak hal. Entah berapa yang mrnjadi ibu rumah tangga, saya gak tahu. Tapi kebanyakan menjadi aktivis, independen atau bagian dari organisasi. Organisasinya bisa lokal, internasional bahkan juga pemetintahan. Well. 

Kemudian malam ini saya entah kenapa ingat pada sebuah berita yang sekilas saya baca di TL.

Cabr mahal. Tanem sendiri. Gak usah bikin sambel. Bersyukur!. Salah pemerintah. Ini kepentingan.

BBM naik. Pindah ke Arab sana yang BBM murah. Untungku berkurang berapa nih?. Walk out dari sidang sambil nangis termehek mehek atau pura pura aja ga tahu sambil ga komen, toh kan beda periode. Tergantung kepentingan.

Kalah duel atau dikeroyok? Tergantung kepentingan.

Bubarkan FPI atau dukung FPI? Tergantung kepentingan.

Fitza hats. Salah pengetik, prlapor, pembaca, penyebar foto atau salah kita yang mengolok olok? Tergantung kepentingan.

Saya ga akan kasih pilihan sebarkan hoax atau hentikan. Karena saya yakin seyakin yakinnya, kalau orang itu ga suka nyebarin hoax, kalau mereka tahu itu hoax. Soal malas ngecek atau rasa puas saat terima hoax yang sesuai kepentingan, itu mah urusan pengendalian jempol.

Di usia sekarang saya paham maksud kenalan saya itu bilang bahwa di dunia ini semua serva kepentingan. Apakah maksudnya serba terlalu penting? Hahahahaga……

Memang kepentingan yang menggerakkan kita rupanya. Masalahnya adalah kepentingan apa?

Kepentingan perut? Lapar vs. Kenyang?

Kepentingan dada? Penghargaan vs. Penghinaan?

Kepentingan mata? Indah vs. Busuk?

Kepentingan jempol? Nyinyir vs. *apa ya anyi nyinyir itu?*

Kepentingan apa? Duniawi vs. Akhirat?

Usia udah 40. Di Quran sudah diingatkan surug hati hati. Keluar malem dikit udah masuk angin. Kena AC kelamaan udah pilek besoknya. Roadtrip ke Curebon aja recovery 3 hari. 1x begadang pulangnya kerokan. Jadi yaaaa harusnya kepentingannya disortir, sehingga efeknya diksi pun jadi terfilter.

Tapi itu saya yang udah 40 tahun. Kepentingan saya cuman sehat, biar bisa tetep jalanan jalan dan makan makan bareng Pak Bondan. Hahahahaha.

Malrm friends. Sleep tight. Dream of me.

Ecieeee….. itu kan dulu penutup di surat surat cinta ayeeeee….. uhuk…..


2 weeks of sleep, everyone?

Advertisements

Latepost : Nasehat Cinta

Nasehat Capres Blog Fanny Herdina

Let me start the story with…. When I was young…….er than now…. *mekso*

Ini cerita tentang saya dan teman saya. Belasan tahun yang lalu, boleh dibilang puluhan tahun yang lalu, saat mahasiswa, saya berteman dengan si Cantik satu ini. Saat itu dia berpacaran dengan laki-laki yang jelas-jelas saya tahu masih punya pacar. Tanpa konfirmasi ke Cantik, dalam hati saya mbatin.

“Huh. Dasar perempuan gatel. Udah tahu masih punya pacar, kok ya diembat juga”

Demikian juga rumor yang beredar di sekeliling saya tentang si Cantik. Tambah hari saya tambah mengamini bahwa si Cantik ini memang “gatel” *uh maafkan bahasa saya yang ehm uhm berantakan*

Karena waktu itu saya lebih dekat dengan si cowok, saya konfirmasi ke pacar si Cantik yang masih punya pacar lain itu. Jawabnya.

“Gak kok. Cuman temen deket aja”

Walah. Kaget saya. Saya pikir mereka sudah pacaran, ternyata si Cowok cuma menganggap Cantik sebagai teman dekat. *please abaikan norma hubungan laki-perempuan kami saat itu, walau tidak bisa dimaklumi, anggap saja kami muda dan masih exploring*. Tapi saya bingung, karena obrolan dan sindir-sindiran di sekitar saya itu jelas menunjukkan seolah-olah mereka pacaran.

But anyway, siapa juga saya ngurusin urusan orang? Udah jelas waktu itu saya yang gak punya pacar, belum KKN, apalagi skripsi, ga punya duit buat bayar kos pulak. Sudahlah. Perhatian saya teralihkan.

Kemudian saya punya pacar. Yihaa. *gak usah ditiru* Kemudian saya KKN, skripsi, lulus, bla bla bla. *flash forward* Here I am di awal 30-an *waktu itu ya, sekarang mah udah late 20s lah, bundhet bundhet deh ini time frame nya* Saya ketemu lagi si Cantik. Tentu kami udah berbeda. Ya iyalah, if you are still the same person as you were when you were 18 years old, hmm, let me just call you crazy. Percakapan kemudian mulai nyinggung soal masa lalu. Ya apa lagi sih yang diomongin kalau reuni? hihihihi.

Btw Cantik dan si Cowok itu akhirnya berpisah. Cantik sudah menikah sekarang. Si Cowok menikahi pacarnya yang memang dari dulu dipacarinya itu.

Ngobral ngobrol. Setelah panjang lebar, sampailah ke topik tentang si Cowok. Setelah update berita terakhir dan sebagainya, tanpa sadar pertanyaan saya belasan tahun yang lalu meloncat dari binir saya.

“Lha kamu udah tahu dia punya pacar, kok ya mbok pacari?”

“Loh, dia ngakunya udah putus kok waktu itu. Tenan. Nek aku ngerti dia masih punya pacar, ya gak mungkin lah kudeketin. Edan po aku?”

*dalam hati* whaaaaatttt???? *ngeyel* Loh tapi kan kamu tahu dia itu ada pacarnya kan?”

“Gak. Sumpah gak Fan. DIa ngakunya udah putus. Gak lah kukejar-kejar dia kalau tahu dia masih punya pacar.”

Saat itu, saat reuni itu tiba-tiba ingatan saya kembali ke jaman (lebih) muda saat saya dan beberapa teman ikut mengejek atau menyindir Cantik soal ke-gatel-annya. Belum sempat kembali nyawa saya, tiba-tiba Cantik nanya lagi.

“Lha kamu tahu to kalau dia masih punya pacar waktu itu?”

“Iya, tahu.”

“Kenapa gak ngasih tahu aku? Aku kan temenmu”

“Kupikir kamu tahu dan tetep aja cuek mau pacaran sama dia.”

Kalua boleh saya gambarkan muka si Cantik waktu dengar jawaban saya. Hmmm, sungguh. Bukan ekspresi menyenangkan yang ingin saya lihat di wajah teman saya. Sekarang kami masih berteman. Belajar dari kebodohan masa lalu. Kesalahan-kesalahan yang kami buat. Beberapa tahun yang lalu saat ketemu lagi, percakpan berubah menjadi

“Iya juga sih Fan, kalau toh kamu kasih tahu waktu itu ya mungkin aku gak mau dengar”

Itu yang cerita tentang Cantik. Cerita tentang saya juga gak kalah banyaknya. Diingetin mamah, adek saya, temen-temen baik saya –salah satunya jadi suami saya sekarang, hiks- tapi ya ngeyeeeel aja tetep deket-deket sama orang yang gak PAS. Saya juga protes, terutama sama suami saya

“Kenapa dulu kamu gak ingetin sih mas?”

“Lha udah kusindir, udah ku ece-ece juga ga paham-paham ok kamu”

Anyway, Cantik, Cowok, saya dan suami saya, kami sudah menikah sekarang dengan pasangan masing-masing ya. Dan kami hidup bahagia di atas kesalahan-kesalahan kecil yang kami buat. *jangan ngarep ada inspirasi ya dari tulisan ini, ini cerpen roman historical yang semi picisan kok* hihihihi

Saya bersyukur punya teman-teman yang kadang ngingetin kalau pas bikin salah. Saya juga bersyukur orang tua saya gak sok bergaya orang tua yang nasehatin anaknya, apalagi pas jatuh cinta. Ortu saya, terutama mamah saya kalau kasih nasehat mah nyante, selalu seolah-olah kami selevel. Gak main gaya nasehat orang tua ke anak.

“Kamu harus gini. Ini buktinya. Mamah itu lebih tahu. Karena mamah memang yaaa lebih tahu. Kamu yang harusnya tu lihat ni bukti-bukti yang mamah bawa”

Alhamdulillah mamah saya gak gitu caranya ngasih tahu. Karena dalam model percakapan kayak di atas, seolah-olah terselip bahwa mamah yang lebih tahu. Bahkan dengan usia dan pengalamannya, Mamah gak pernah merasa lebih tahu. Mamah saya lebih model yang kayak gini,

“Kamu yakin sama pilihanmu? Ok. Kalau kamu yakin, mamah dukung. Tapi kalau nanti kamu mau berbalik. Balik kanan aja, mamah di belakangmu.”

Begitu terbukti saya benar, mamah minta maaf, mengaku pilihan saya benar. Begitu terbukti mamah benar, saya minta maaf karena sudah begitu dibutakan sama cinta. Jiaaaaaahhh.

Saya lega dikelilingi banyak orang yang tidak merasa paling benar, paling pintar, paling jago, paling update dan perlu memberi nasehat. Ada sih sebagian yang suka  berasa paling tapi udah saya unfollow #eh. Sori, Kembali ke laptop. Maksud saya begini, berhentilah memberi nasehat ketika gak diminta. Juga berhentilah berpikir bahwa Anda perlu memberi nasehat. Berhentilah merasa lebih tahu, lebih update, lebih luas wawasannya, lebih bijak, lebih gemuk -oh ini saya yang merasa-. Karena yang jatuh cinta memang sedang gila karena cinta. Lha Anda? Jangan-jangan Anda gila karena merasa lebih. Ups. Sesama orang gila gak boleh saling mencela. Ok?

 

Sharing Bisnis : How Bad Do You Want It?

Sekali-kali mau sharing tentang usaha ah, eh tentang bisnis maksud saya.

Entah sejak kapan saya tertarik sama dunia bisnis. Bahkan sejak kuliah, saya tidak pernah membayangkan setelah lulus saya akan jadi karyawan di sebuah perusahaan besar. Saya selalu membayangkan diri saya adalah seorang wirausaha.

Jaman SD-SMP, saya sering membantu mamah saya jualan RINSO kiloan yang dibeli dari kantor papah saya. Saya narik-narik koper beroda yang keren banget itu bawa RINSO dan nawarin ke tetangga-tetangga sekitar rumah. Saya ingat mereka selalu komentar,

“Ah, Fanny. Pinternya. Anak kecil sudah pinter jualan.”

Sambil nunggu mereka ambil uang buat bayar, saya duduk tenang di teras sambil mengingat rute berikutnya. Terkadang saya sambil ngobrol dengan anak si empunya rumah yang adalah teman saya. Malu? Gak pernah terpikir bahwa saya bisa malu karena kegiatan ini. Saya justru bangga, dibilang pinter lah, cantik lah. Daaaan, saya merasa keren karena mirip kayak mbak-mbak sales door-to-door yang pada masa itu masih banyaaaak sekali jumlahnya.

Waktu SMA, mamah saya mendaftarkan saya ke AVON dan Sara Lee. Uang pendaftaran dari mamah tapi operasional selanjutnya (ini istilah mamah saya) urusan saya. Yang pesan ke saya kebanyakan saudara, tante, bude, tetangga, juga beberapa teman. Hasilnya? Saya belikann stationery di Gramedia, yang posisinya persis di sebelah kantor AVON Semarang waktu itu.

Selama kuliah, saya sering sekali didapuk jadi seksi dana dan usaha. Seru. Dan hampir selalu mencapai target. Kecuali waktu harus mengumpulkan dana buat Ekspedisi New Zealand waktu itu. Ah sedihnya kalau ingat. Anyway, soal cari dana, mulai dari cuci motor, bikin parcel, bikin kaos, kalender, masak nasi goreng, pernah saya lakukan. Lagi-lagi gak malu, seru malahan. Kali ini disambi lirik-lirikan sama gebetan masa muda. Huahaha. Hush.

Begitu lulus kuliah, saya sempat kerja formal 1 tahun di grup Astra. Habis itu lanjut lagi usaha sendiri selama kuliah S2. Jadi konsultan, lumayan juga. Cari klien sendiri,, bikin konsep sendiri, presentasi, eksekusi, bikin laporan. Teman-teman saya banyak yang sudah jadi manajer saat itu, kalau saya mau kerja formal, mungkin saya juga sudah dalam posisi mereka. *PD kan boleh ya?*

Begitu ada Genta, kegiatan konsultan otomatis berhenti. Prioritas berubah. Saya butuh bisnis yang lebih sederhana. Hahaha. Memang ada bisnis yang sederhana. Anyway, saya pernah berbisnis pendidikan, yang kemudian saya terminate karena ketidak-cocokan dengan master franchisor-nya. Sekarang saya berbisnis perlengkapan bayi dan anak, masih online dan offline ngikutin bazaar. Malu? Sekali lagi kok gak ya. Ini jenis kegiatan yang saya suka. Saya bisa bawa anak-anak, bisa meeting kapan saja, bisa kasih pekerjaan buat orang lain dan bisa ketemu konsumen yang puas sama layanan saya.

Psst, lagipula 9 dari 10 pintu rejeki itu kan konon kabarnya adalah berniaga to?

Eh jangan salah, saya juga ngalami rugi kok. Hehehe. Jutaan? pernah. Puluhan juta? pernah. Ratusan juta?? juga pernah. Namanya juga bisnis, kalau gak untung ya rugi. Sama kayak karyawan, kalau gak berprestasi ya dipecat. Sama kok.Tapi saya ga menyerah, doakan saya ya. Bisnis itu sungguh pelajaran yang lengkap dalam hidup, sayang kalau ditinggalkan.

Saya kagum sama perempuan-perempuan yang rela anaknya diasuh orang lain karena dia bekerja. Bagi saya, itu contoh konkrit kepasrahan dan keikhlasan. Pasrah dan yakin bahwa Allah akan menjaga anak-anak mereka, sehingga bisa tenang bekerja. Saya mungkin orangnya belum seikhlas dan sepasrah itu sama Allah. Saya lebih tenang dan senang mengasuh anak saya sendiri. Tapi saya bisa pasrah dan ikhlas kok menyerahkan rejeki toko saya sama Allah. Jadi saya jangan dimarahin ya? Please.

Wirausaha itu bisa dimulai kapan saja, oleh siapa saja, di mana saja. Kalau Anda salah satu yang selama ini bermimpi jadi wirausaha dan belum juga mulai bergerak, pertanyaannya adalah…. how bad do you want it?

Sopan Santun – Subo Seto

Attitude is everything - Blog Fanny Herdina

Haiyaaa…. sopan santun selalu jadi isu di keluarga saya. Dan selalu ada dobel standar dalam penilaiannya. Kadang sopan berarti yang muda wajib mendatangi yang tua, tapi di lain kesempatan sopan artinya yang sempat yang mampir (Oh teriring doa untuk almarhum papah saya Tatok M. Heriyantono yang dengan bijak menganut paham kedua). Sering kali -khususnya ketika menyangkut saya- sopan artinya mengantar orang-orang tua ke tempat mereka mau pergi walaupun itu saya harus “menthang” dari tujuan saya, tapi bagi orang lain sopan itu cukup dengan mencarikan taksi di depan rumah atau bahkan cuma dengan meyakinkan bahwa akan ada taksi lewat di depan rumah. Ada kalanya sopan itu artinya kalau lagi di deket-deket ya mbok mampir, sementara bagi yang lain sopan itu artinya “biarpun deket-deket gw kan kerja jadi ya gak bisa mampir”.

Anyway saya paling bingung kalau ngomongin sopan santun. Jadi bahkan untuk memulai tulisan ini saja saya bingung harus mulai dari mana. Supaya mulainya pun sopan. Baiklah, saya mulai saja dari pendapat ahli ya.

—————————————————————-

Daniel Goleman menyatakan dalam salah satu buku bersejarah dalam psikologi populer, bagaimana faktor EQ berperan dalam kesuksesan seseorang. Faktor IQ yang dulunya menjadi raja diraja dalam menentukan kesuksesan, ternyata turun derajat sejak eranya David Goleman.

Yah anggap saja di dalam EQ termaktub pantang menyerah, mampu bersosialisasi, inisiatif, mampu bekerja dalam tim, senang dan bisa belajar dengan cepat. Dan lain sebagainya. Mari bicara soal sosialisasi saja, di mana sopan santun mungkin berpengaruh.

Bayangkan saja, Anda lagi mimpin meeting nih di kantor, tiba-tiba teman kuliah Anda yang baru join di perusahaan yang sama main nylonong aja masuk ruangan Anda dan menyapa Anda dengan,

“Hai Mbul. Gila, masih gembul aja lo. Makmur lo ya sekarang. Sukses.”

Sambil nepuk-nepuk punggung dan salaman sih memang. Di depan anak buah. Kira-kira apa ya perasaan Anda? Kalau Anda kemudian berkesempatan ditanya atasan Anda tentang teman Anda, Anda bakal jawab apa ya?

Ah itu sih contoh ekstrem. Baru cerita rekayasa. Belum sungguh-sungguh terjadi. Masak ada sih orang kayak gitu.

———————————————————-

Di sebuah gedung perkuliahan di kota besar, para mahasiswa yang datang 10 menit sebelum kuliah dimulai terbirit-birit menuju pintu lift. Sori, bagi yang mengalami kuliah naik tangga, wake up, it’s 2014 now. Tangga mempunyai istri now, namanya darurat. Ok? So, face it. Anak kuliah sekarang naiknya lift man. Pegangnya IPhone. Ngetiknya di IPad. Makannnya sih teteap Indomie. Eh, ini kenapa sampai sini sih? Balik!

Nah di depan lift ini, sudah menunguu lah seorang ibu yang menggendong anak bayi, membawa stroller dan 1 anak balita di sebelahnya. Ribet? Sudahlah. Demikian hidup emak-emak jaman sekarang. See the differences? Bawaan mahasiswa sekarang vs. bawaan emak-emak sekarang. Jelas saya bukan dua-duanya, karena saya adalah seorang….. ^sensor^

Pintu lift terbuka untuk pertama kalinya, setelah si Emak ini menunggu sekitar 10 menit. Oh sori, lift nya cuma 1, yang 1 rusak. Isinya penuh mahasiswa yang suaranya terdengar bahkan sebelum lift sampai di lantai itu. Tanpa ba bi bu. Pintu lift ditutup lagi dari dalam diiringi cekikikan para kaum belum-pernah-ngerjain-skripsi itu. Nunggu lagi deh, 10 menit kemudian muncul lah si mahasiswa yang terbirit-birit tadi, langsung tanpa permisi berdiri di depan pintu lift, bikin si emak terpaksa mundur dan menarik pelan anak balitanya. Saat lift terbuka, langsung 2 mahasiswa ini masuk seperti tanpa pernah tahu definisi antri.

Dasar Emak ga mau kalah, anak, bayi sama stroller tetep dijejelin ke dalam lift. Muat lah. Pintu lift tertutup. Tiba-tiba ada suara.

“hmm, lantai 3 dong”

*Emak clingak clinguk karena berdiri di dekat tombol lift* sambil tahu diri mencet angka 3 sesuai order si mahasiswa k*t*k*pr*t itu. #eh maaf sudah tidak sopan.

Cerita selanjutnya ga penting kan? Dan kabarnya mahasiswa adalah embrio cendekia bangsa. Calon penerus kebesaran atau kekerdilan bangsa.

————————————————————-

Saya lupa dengar cerita ini dari mana. Detailnya pun mungkin banyak yang salah. Tapi ambil saja seperlunya, lainnya kembalikan lagi atau buang ke sampah.

Alkisah seorang pengusaha yang sudah sangat sukses tinggal di sebuah apartemen. Setiap pagi si Bapak ini selalu turun dari apartemennya, membeli koran dari penjual koran kaki lima di depan lobi apartemennya. Setiap pagi saat beli koran, si Bapak selalu menyapa penjual korannya dengan ramah. Selamat pagi. Apa kabar. Dan segala sapaan sopan lainnya. Sementara si Penjual koran menjawabnya dengan asal-asalan bahkan sering kali dengan gerutuan dan suara yang kasar. Kejadian ini berlangsung tiap hari.

Dan seseorang di tempat jual koran itu yang punya kebiasaan membeli koran juga di tempat yang sama terheran-heran. Kenapa si Bapak pengusaha sukses ini tetap “ngotot” menyapa pak Penjual koran dengan sapaan yang hangat dan bersahabat, padahal sudah pasti jawabannya gerutuan dan keluhan? Keheranannya tidak tertahan sampai akhirnya dia bertanya pada si Bapak. Dan si Bapak pengusaha sukses itu menjawab.

“Perilaku saya yang membawa saya ke kesuksesan seperti yang saya miliki saat ini. Perilaku dia yang membawa dia ke posisi dia saat ini.”

———————————————————

Dan saya masih bingung bagaimana cara sopan memulai tulisan ini. Fiuh. Please help.

Tentang Ronde

Wedang Ronde SAlatiga - Blog Fanny Herdina

Ini dia penampakan ronde Salatiga yang super ngetop itu

Duluuu, saat saya masih jauh lebih mudah dari sekarang, saya paling heran kalau papah mamah saya bersama teman-temannya yang datang berkunjung memanggil tukang ronde yang lewat depan rumah. Bagi saya itu makanan atau minuman aja gak jelas. Rasanya pedes tapi bukan cabe. Aneh lah. Minuman khas orang tua. #uhuk #batuk

Kemudian beranjak remaja dan mulai ngekos di Yogya, kadang kala badan rasanya remek kalau habis berkegiatan di alam. Pengen minum sesuatu yang enak di badan. Sekali waktu coba bubuk jahe wangi instan, minumnya pake air es dan es batu. Ternyata rasanya seru. Semriwing gitu. Ga bikin keringetan, seger di lidah tapi hangat di badan. Lumayan sering akhrirnya saya minum es jahe itu.

Sekarang ini, tukang ronde yang suka lewat depan rumah saya, malah jadi langganan saya. Kadang saya bahkan berharap dia lewat, walaupun ditunggu tak kunjung datang. Rasanya badan lebih segar dan hangat setiap kali habis minum ronde, yang buat saya isinya cuma kacang dan air jahe hangat. Soal rasa, ronde sudah jadi favorit saya, beda dengan referensi saya duluuuuu waktu masih lebih muda. Am I getting old? Kok gak terasa ya. #uhuk #batuklagi

Pernah juga suatu ketika, sedang hamil Puti, saya dan keluarga jalan-jalan ke Yogya. Hamil Puti sungguhlah menguras tenaga. SAmpai di Vila Kandang Sapi milik seorang sahabat tersayang, saya terserang demam yang luar biasa. Kondisi hamil, saya berusaha keras ga minum obat. Dikeroki sama budhe yang mengasuh anak teman saya. Mendingan, tapi belum total. DIpijetin. DIbikinin teh panas. Tetep saya nyidam ronde. Malam-malam saya diajak ke angkringan yang saya gak tahu lokasinya di mana. Sepanjang perjalanan, saya cuma tidur sambil sayup-sayup dengar suami dan sahabatnya ngobrol. SAmpe di angkringan, saya langsung dipesenin minuman ini. Uenak pol. Isinya jahe, lemongrass sama apaaa gitu. Ampuuuun itu di lidah sama di badan uenak banget rasanya. Mirip ronde dengan rasa yang lebih kaya. Layak dicoba.

Kemudian saya jadi terpikir malam ini. Pendapat saya soal ronde mengalami perubahan nampaknya. Drastis lo. Dari anti jadi cinta. Dari nolak jadi ngarep. Walah. Kenapa ini kok bisa terjadi. Again. Am I getting old? Selain tulang yang gampang capek dan tumpukan lemak di perut yang tak mau pergi, saya kok merasa tetap orang yang sama dengan yang anti sama ronde beberapa waktu lalu ya. Walau ternyata harus diakui, saya berubah. Perubahannya pelan dan tidak terasa. Tahu-tahu, di sinilah saya sekarang, ngefans sama ronde, yang dulu kepikir mau nyium baunya aja nggak.

Kalau selera minuman saya -yes, ronde itu minuman, now I know- saja sudah berubah sedrastis itu, apakah perilaku dan amalan saya juga sudah berubah ya? Aaah, sekarang baru saya merasa tua. At least lebih tua dari si saya yang gak suka ronde itu. Ya Allah, bantu saya ya. Kulit mulai keriput, rambut putih mulai muncul, bahkan minuman udah jadi ronde, kok amal begini-begini aja. Bantu saya yaaa……

Oiya, soal ronde saya punya cerita lucu. Waktu SMA, saya dan sahabat ikut pelatihan di kota Salatiga yang sejuk. Selesai pelatihan, kami ngobrol dengan instruktur kami yang mahasiswa UKSW.

“Di sini malem-malem gini, enaknya ngapain mbak? Ada apa aja di sini?”

“Hmmm, ada konde”

“Apa? Konde?”

“Bukan. Konde. Wedang konde. Di deretan depan toko roti Tegal”

“Wedang konde? Apa isinya tuh mbak?”

“Hmmm, #salting. Konde. Wedang konde.”

Tiba-tiba baru nyadar, saya dan teman saya teriak hampir bersamaan. “Ooooo, wedang ronde. Iya. iya” #ngacir. Kami berdua langsung masuk kamar sambil nahan tawa. Kami lupa kalau si mbak ngomongnya memang sengau, jadi ngomong “ronde” terdengar “konde” di telinga kami. Kelakuan anak SMA memang adaaaaa aja.

Ah, sudahlah. Cukup soal ronde. Malam ini saya berhasil mencegat si abang penjual ronde. Menjelang tidur ini, ijinkan saya berharap, jika selera saya sudah berubah, semoga akhlak dan amalan saya juga berubah ke arah yang baik. Aamiin.

Gerobak Ronde Salatiga - Blog Fanny Herdina

Ini gerobak rondenya. Hampir semua penjual ronde di Saltiga model gerobaknya kayak gini.

 

Toko Roti Tegal - Blog Fanny Herdina

Ini Toko Roti Tegal di Salatiga. Yak. Nama tokonya Tegal. Roti kejunya enaaak banget. Kamar mandinya bersih. Kalau-kalau nyasar di Salatiga, modal beli roti keju, mampirlah ke kamar mandiinya buat pipis. Hihihi.