Another Mixed Feeling Session

Bulan Desember punya banyak cerita buat saya.

Waktu SD, Desember berarti kami latihan nyanyi di kelas. Disusul dengan hari-hari pulang cepat yang diisi dengan mendekor kelas, makan eskrim bersama 1 sekolah, juga mainan dry ice bareng kepala sekolah kami yang super sepuh, ibu Kolmus tersayang. Ingat tentang menyanyi selalu membawa senyuman kecil di dalam dada, teringat guru-guru tersayang pak Kuncoro, bu Mar dan bu Ros.

SMP dan SMA gak terlalu banyak berarti buat saya. Desember sama saja seperti bulan-bulan lainnya, kecuali bahwa sekolah mulai heboh mempersiapkan misa natal dan segala kegiatan yang berhubungan dengan natal.

Saat kuliah, Desember sering kali berarti ujian semesteran. Saat semua teman berlomba mencari catatan terbaik, memfotokopi dan mabuk-mabukan kopi untuk belajar dengan sistem kejar semalam yang dilematis, dibenci dan dicinta sekaligus.

Adek saya terkecil lahir 24 Desember. 25 Desember saya dan suami juga anak-anak hampir selalu berkumpul di rumah mertua untuk kumpul keluarga.

Sejak Desember 2011, Desember juga kelabu buat saya. Papah saya meninggal tanggal 1 Januari 2012, setelah sakit 4 bulan dan terakhir tidur di rumah saya selama 3 minggu terakhir. Suasana rumah yang sendu karena semua berempati sama papah. Suasana kelabu yang menunjukkan kesedihan semua penghuninya. Meledak bersama di pagi hari tahun baru, saat banyak orang bangun siang karena malamnya begadang, saya dan suami mengetuk pintu-pintu rumah tetangga di tengah hujan deras untuk meminta bantuan mengangkat papah ke mobil, karena napasnya mulai tidak bisa terdeteksi. Papah meninggal sekitar jam 8.30 pagi sesudah sholat dhuha.

Kemudian Desember 2014 datang. Belum 3 tahun papah meninggal. Mamah menyusul kekasih hatinya. Tanggal 23 Desember 2014 mamah meninggal tanpa didahului kejelasan penyakitnya. Beberapa hari sebelumnya saya sempat ngobrol sama mamah yang menangisi kondisi fisiknya yang gampang lelah. Beberapa bulan sebelumnya mamah reuni dengan teman-temannya jalan-jalan ke Yogya. Sebelumnya kami berlibur di rumah mamah di Semarang bersama adek-adek dan keluarganya.

Dan Desember 2015 ini, hampir 1 tahun saya resmi yatim piatu. Tidak pernah cukup tulisan menunjukkan betapa kosong sebagian hati saya menjadi yatim piatu. Namun juga tidak cukup menunjukkan gimana Allah memberi kekuatan lewat hal-hal kecil yang sungguh tidak diduga.

Manusia memang kapabel merasakan beberapa emosi sekaligus di satu waktu. Desember ini, saya merasakannya lagi. Sedih menjadi yatim piatu belum berakir rupanya walau sudah hampir setahun. Rindu atas komen-komennya yang pedas dan super realistic kadang masih sangat mengganggu hati. Belum ungkapan sebagian teman yang menyatakan rindunya pada mamah, yang super galak semasa hidupnya, namun ternyata dicinta banyak orang, termasuk teman-teman saya.

Suami saya bilang, mamah adalah the best mom in law in the world. I can’t argue with that. Saya selalu iri melihat perlakukan mamah ke suami saya. Setiap kali saya dan suami berantem, selalu suami yang dibela, saya yang salah, no matter what happen. Kata mamah,

Kalau mbok bela anaknya itu udah biasa, tapi dia anak orang, harus ada yang bela dia di keluarga ini. Itu tugasku.

Aaah, ingatan tentang mamah selalu membawa senyum dan airmata. See? Manusia memang kapabel merasakan 2 emosi, bahkan yang saling bertentangan sekalipun.

Teriring salam cinta buat semua papah dan mamah Anda. You have no idea betapa saya iri melihat keluarga dengan anak-anaknya makan malam di restoran, didampingi kakek dan neneknya.

December, please be nice to me.

10560306_10203906859465820_9008259935750321618_o

Ini foto jalan-jalan kami di Tangkuban Perahu. Mamah kagum lihat kelindahan pemandangannya sampai nangis.

10402028_10204798423994376_4566278910118711856_n

Ini foto suami saya bareng anak dan ponakan main hujan di depan rumah mamah di Semarang, 2 hari setelah mamah meninggal. Hujan super deras. Suami memutuskan menghibur anak-anak yang sudah beberapa hari terundung kesedihan orang tuanya. Selalu meleleh lihat foto ini.

Latepost : Nasehat Cinta

Nasehat Capres Blog Fanny Herdina

Let me start the story with…. When I was young…….er than now…. *mekso*

Ini cerita tentang saya dan teman saya. Belasan tahun yang lalu, boleh dibilang puluhan tahun yang lalu, saat mahasiswa, saya berteman dengan si Cantik satu ini. Saat itu dia berpacaran dengan laki-laki yang jelas-jelas saya tahu masih punya pacar. Tanpa konfirmasi ke Cantik, dalam hati saya mbatin.

“Huh. Dasar perempuan gatel. Udah tahu masih punya pacar, kok ya diembat juga”

Demikian juga rumor yang beredar di sekeliling saya tentang si Cantik. Tambah hari saya tambah mengamini bahwa si Cantik ini memang “gatel” *uh maafkan bahasa saya yang ehm uhm berantakan*

Karena waktu itu saya lebih dekat dengan si cowok, saya konfirmasi ke pacar si Cantik yang masih punya pacar lain itu. Jawabnya.

“Gak kok. Cuman temen deket aja”

Walah. Kaget saya. Saya pikir mereka sudah pacaran, ternyata si Cowok cuma menganggap Cantik sebagai teman dekat. *please abaikan norma hubungan laki-perempuan kami saat itu, walau tidak bisa dimaklumi, anggap saja kami muda dan masih exploring*. Tapi saya bingung, karena obrolan dan sindir-sindiran di sekitar saya itu jelas menunjukkan seolah-olah mereka pacaran.

But anyway, siapa juga saya ngurusin urusan orang? Udah jelas waktu itu saya yang gak punya pacar, belum KKN, apalagi skripsi, ga punya duit buat bayar kos pulak. Sudahlah. Perhatian saya teralihkan.

Kemudian saya punya pacar. Yihaa. *gak usah ditiru* Kemudian saya KKN, skripsi, lulus, bla bla bla. *flash forward* Here I am di awal 30-an *waktu itu ya, sekarang mah udah late 20s lah, bundhet bundhet deh ini time frame nya* Saya ketemu lagi si Cantik. Tentu kami udah berbeda. Ya iyalah, if you are still the same person as you were when you were 18 years old, hmm, let me just call you crazy. Percakapan kemudian mulai nyinggung soal masa lalu. Ya apa lagi sih yang diomongin kalau reuni? hihihihi.

Btw Cantik dan si Cowok itu akhirnya berpisah. Cantik sudah menikah sekarang. Si Cowok menikahi pacarnya yang memang dari dulu dipacarinya itu.

Ngobral ngobrol. Setelah panjang lebar, sampailah ke topik tentang si Cowok. Setelah update berita terakhir dan sebagainya, tanpa sadar pertanyaan saya belasan tahun yang lalu meloncat dari binir saya.

“Lha kamu udah tahu dia punya pacar, kok ya mbok pacari?”

“Loh, dia ngakunya udah putus kok waktu itu. Tenan. Nek aku ngerti dia masih punya pacar, ya gak mungkin lah kudeketin. Edan po aku?”

*dalam hati* whaaaaatttt???? *ngeyel* Loh tapi kan kamu tahu dia itu ada pacarnya kan?”

“Gak. Sumpah gak Fan. DIa ngakunya udah putus. Gak lah kukejar-kejar dia kalau tahu dia masih punya pacar.”

Saat itu, saat reuni itu tiba-tiba ingatan saya kembali ke jaman (lebih) muda saat saya dan beberapa teman ikut mengejek atau menyindir Cantik soal ke-gatel-annya. Belum sempat kembali nyawa saya, tiba-tiba Cantik nanya lagi.

“Lha kamu tahu to kalau dia masih punya pacar waktu itu?”

“Iya, tahu.”

“Kenapa gak ngasih tahu aku? Aku kan temenmu”

“Kupikir kamu tahu dan tetep aja cuek mau pacaran sama dia.”

Kalua boleh saya gambarkan muka si Cantik waktu dengar jawaban saya. Hmmm, sungguh. Bukan ekspresi menyenangkan yang ingin saya lihat di wajah teman saya. Sekarang kami masih berteman. Belajar dari kebodohan masa lalu. Kesalahan-kesalahan yang kami buat. Beberapa tahun yang lalu saat ketemu lagi, percakpan berubah menjadi

“Iya juga sih Fan, kalau toh kamu kasih tahu waktu itu ya mungkin aku gak mau dengar”

Itu yang cerita tentang Cantik. Cerita tentang saya juga gak kalah banyaknya. Diingetin mamah, adek saya, temen-temen baik saya –salah satunya jadi suami saya sekarang, hiks- tapi ya ngeyeeeel aja tetep deket-deket sama orang yang gak PAS. Saya juga protes, terutama sama suami saya

“Kenapa dulu kamu gak ingetin sih mas?”

“Lha udah kusindir, udah ku ece-ece juga ga paham-paham ok kamu”

Anyway, Cantik, Cowok, saya dan suami saya, kami sudah menikah sekarang dengan pasangan masing-masing ya. Dan kami hidup bahagia di atas kesalahan-kesalahan kecil yang kami buat. *jangan ngarep ada inspirasi ya dari tulisan ini, ini cerpen roman historical yang semi picisan kok* hihihihi

Saya bersyukur punya teman-teman yang kadang ngingetin kalau pas bikin salah. Saya juga bersyukur orang tua saya gak sok bergaya orang tua yang nasehatin anaknya, apalagi pas jatuh cinta. Ortu saya, terutama mamah saya kalau kasih nasehat mah nyante, selalu seolah-olah kami selevel. Gak main gaya nasehat orang tua ke anak.

“Kamu harus gini. Ini buktinya. Mamah itu lebih tahu. Karena mamah memang yaaa lebih tahu. Kamu yang harusnya tu lihat ni bukti-bukti yang mamah bawa”

Alhamdulillah mamah saya gak gitu caranya ngasih tahu. Karena dalam model percakapan kayak di atas, seolah-olah terselip bahwa mamah yang lebih tahu. Bahkan dengan usia dan pengalamannya, Mamah gak pernah merasa lebih tahu. Mamah saya lebih model yang kayak gini,

“Kamu yakin sama pilihanmu? Ok. Kalau kamu yakin, mamah dukung. Tapi kalau nanti kamu mau berbalik. Balik kanan aja, mamah di belakangmu.”

Begitu terbukti saya benar, mamah minta maaf, mengaku pilihan saya benar. Begitu terbukti mamah benar, saya minta maaf karena sudah begitu dibutakan sama cinta. Jiaaaaaahhh.

Saya lega dikelilingi banyak orang yang tidak merasa paling benar, paling pintar, paling jago, paling update dan perlu memberi nasehat. Ada sih sebagian yang suka  berasa paling tapi udah saya unfollow #eh. Sori, Kembali ke laptop. Maksud saya begini, berhentilah memberi nasehat ketika gak diminta. Juga berhentilah berpikir bahwa Anda perlu memberi nasehat. Berhentilah merasa lebih tahu, lebih update, lebih luas wawasannya, lebih bijak, lebih gemuk -oh ini saya yang merasa-. Karena yang jatuh cinta memang sedang gila karena cinta. Lha Anda? Jangan-jangan Anda gila karena merasa lebih. Ups. Sesama orang gila gak boleh saling mencela. Ok?

 

Walk Away, Please Go *singing*

Just Walk Away - Blog Fanny Herdina

 

Suatu malam menjelang tidur, terdamparlah saya di artikel di atas. Ingatan saya langsung melayang ke 15 tahun yang lalu. Whaaat? Lama betul ternyata sudah. Kurang lebih begini memori yang main di kepala saya.

Mamah : Fan, apa pun keputusanmu, mamah ada di belakangmu. Termasuk kalau kamu memutuskan untuk udahan.

Saya : Maksudnya mah?

Mamah : Maksudnya kalau kamu memutuskan dia bukan yang terbaik, kamu tinggal balik kanan, jalan, gak usah nengok-nengok lagi. Mamah tetap ada di belakangmu.

Sungguh percakapan yang sangat melegakan waktu itu. Sampai sekarang saya bersyukur mamah mengeluarkan statement itu. Karena sesungguhnya waktu itu, itu statement yang sangat ingin saya dengar. Bermodal itulah kemudian saya sungguhan balik kanan dan bubar jalan. Hihihihi.

Anyway, dalam banyak kasus, seringkali kita *eh kok kita, saya maksudnya* -saya- ngotot bertahan pada hal-hal yang sebenarnya sudah tidak bisa dipertahankan. Mulai dari gaya baju, potongan rambut, cara bicara bahkan pacar. Entah apa alasannya. Bisa jadi karena menyerah terdengar bukan kita banget, jadi akhirnya kita ngotot bertahan. Halah, kita lagi, saya maksudnya. Maaf.

Dan ketika saya mendapat kode “boleh balik kanan bubar jalan” itu semacam kode “it’s ok to give up”, rasanya super lega. Rasanya beban yang ada di dada dan pundak langsung berkurang separuhnya. Kemudian efeknya kepala saya lebih mampu berpikir jernih. Hatipun terasa lebih lembut gak asal ngotot seperti kelakukan Genta -my 4yo- belakangan ini. ALhamdulillah, keputusan yang kemudian diambil pun jadi membuat hidup lebih hidup. *bukan iklan*

Ternyata dalam kajian ilmu psikologi, yang dibilang mamah saya itu ada benarnya. Kemungkinan boleh menyerah membuat beban terasa lebih ringan. Lagipula, beberapa hal memang sudah selayaknya tidak dipertahankan. Buat apa ngotot baca buku yang bikin kita super ngantuk dan bosan? Buat apa ngotot nonton film yang kita ga suka, cuman supaya masuk kalangan “penonton perdana”? Ngapain ngotot sama potongan rambut yang gak cocok sama muka kita? Ngapain ngotot sama hubungan yang adanya bikin nangiiiiiisss melulu? *curcol telat 15 tahun*

So sometimes yang kita perlukan memang keberanian untuk *meminjam istilah mamah saya* balik kanan dan bubar jalan. Kemudian memang dilanjutkan dengan, start all over again….

Atau dengan kata lain, boleh never give up, tapi pilihlah yang mau di-never-give-up-in.

Tentang “Roso”

Beberapa saat yang lalu pak Prasetya M. Brata menulis di statusnya di Faceboook tentang cinta. Let me quote ya….

Kenapa kamu cinta aku? | Gatau. Kalau aku bisa nyebut alasannya, berarti jangan2 yang kucintai bukan kamu, tapi alasan tentang kamu…

Membaca itu kemudian saya teringat percakapan jauuuuh beberapa tahun lalu dengan mamah saya. Saat itu umur saya awal 20. Mamah saya bertanya, kenapa saya pacaran dengan pacar saya saat itu. Saya klakep, ga bisa jawab.

Hmm, kenapa ya mah? Ya memang dia pinter sih, tapi…. Lucu, baik…. *tapi saya tetap gagal menjawab pertanyaan mamah saya*

Mamah saya tetap diam dan memperhatikan wajah saya, seolah menunggu akhir dari kalimat saya. “Tapi?” kata mamah.

“Tapi bukan itu mah, alasannya aku pacaran sama dia.” Kata saya.

“Yah, kalau gitu kamu tak dukung. Berarti itu karena roso. Eman. Cinta. Karena orang bisa pinter, lucu, baik, segala macam, tapi kalau kamu gak eman, ya gak pengaruh. Roso itu penting Fan”

#Demikian kata mamah saya. Haaaaa, yang kenal saya di awal 20an, gak usah sibuk mbayangin siapa ini yang diomongin, ok? Ora usah iyik. Hihihi.

Terus terang saya kaget mamah memahami kesulitan saya mengungkapkan alasan. Mamah bukan orang yang ekspresif urusan cinta. Papah bilang kangen aja, mamah langsung blingsatan salah tingkah gak karuan, bisa-bisa endingnya marah karena super salah tingkah. Setahu saya, bahkan sampai papah meninggal di tahun 2012 pun, mamah gak pernah bilang cinta sama papah. Tapi keterangan mamah soal “roso” memang benar.

Kadang kita sibuk mencari alasan kenapa kita jatuh cinta sama seseorang. Padahal alasannya ya sudah jelas, ya kita cinta aja sama dia.  Love me for a reason, let the reason be love. *singing lagu jadul*

Dalam banyak hal, sepertinya nasehat mamah juga bisa diterapkan. “Roso” harus diutamakan. Boleh aja sih jago ilmu hukum, tahu segala macam soal hak dan kewajiban, tanpa “roso”, jadilah pengacara jadi-jadian yang hobinya ngajak debat orang. Boleh jadi insinyur jagoan, diakui secara internasional, gelar dari luar negeri, tanpa “roso”, jadilah ilmuwan menara gading, terpisah dari esensi ilmu yang tujuannya memecahkan masalah, masalah sendirinya jadi sumber masalah.

Mamah saya memang jarang salah. Walaupun kadang kebenarannya baru terbukti puluhan tahun kemudian. Itu gak perlu gelar. Gak perlu sertifikasi. Cuman perlu “roso”, Insting yang tulus dari seorang ibu, seorang manusia; yang sekarang jaraaaaang sekali saya temukan dari orang lain.

Nah, itu dia mamah saya. Gaul kan? Itu foto mamah di Dubai, di pinggir pantai tempat lihat Burj Al Arab. Mohon doa yaaaa supaya panjang umur, sehat, barokah usianya.

Eh soal Pak Prasetya M. Brata, beliau salah satu idola saya memang. Makanya saya kepo sekali sama beliau, bahkan statusnya aja saya jadikan bahan tulisan. Ini kali kedua beliau menginspirasi tulisan saya, yang kali pertama boleh cek di sini.

Libur 2 Tahun Saya

Hampir 2 tahun saya tidak menulis di blog. Kalau ditanya alasannya, saya bisa sebutkan banyak sekali alasan yang masuk akal. Tapi bukan itu tujuan tulisan ini. Saya cuma ingin cerita apa yang terjadi kurang lebih 2 tahun yang lalu yang belum pernah saya tulis di mana pun.

wpid-img-20120502-wa0000

Makam papah di Bergota, Semarang

Tanggal 1 Januari 2012, papah saya meninggal dunia di usianya yang ke-62. Masih relatif muda. Kurang lebih di usia yang sama dengan usia Nabi Muhammad meninggal, insyaa allah itu tanda baik bagi jiwanya. Papah meninggal di rumah saya, di atas sofa hitam, yang sampai sekarang masih bertengger indah di depan TV di rumah kami, Tanggal 2 Januari sesungguhnya beliau akan merayakan ulang tahun pernikahan dengan mamah saya yang ke-37 tahun.

Papah sudah sakit kurang lebih 4 bulan sejak lebaran tahun 2011. Bulan Agustus 2011, keponakan saya lahir. Seperti biasa, kemudian papah dan mamah datang ke Jakarta dan menghabiskan libur lebaran di Jakarta. Libur Lebaran inilah papah ketahuan sakit. Badannya panas tinggi selama beberapa hari. Tapi papah memang bukan orang yang manja atau banyak mulut. Dia tidak mengeluh sedikit pun selama ritual lebaran itu. Kami tetap pergi ke sana kemari. Sampai suatu hari, saya kebetulan melewati beliau yang lagi istirahat dan tidak sengaja bersentuhan dengan kulitnya. Wow, panas betul. Langsung saya minta buat dibawa ke rumah sakit. Akhirnya beliau bersedia, setelah berhari-hari menolak ajakan mamah.

Dokter bilang, “Ada massa di dalam paru-parunya.” Harus dilakukan tindakan lain untuk mengetahui massa itu apa. Second opinion? Sudah langsung dilakukan. Jawabannya sama, standar, ada massa dalam paru-paru. Harus dilakukan biopsi untuk tahu itu apa.

Papah langsung menolak. Entah kenapa. Unrealistic optimism saya bergejolak. Jauh dalam hati, saya takut itu massa tidak bersahabat. Tapi dengan optimisme dan segala pikiran positif, plus papah masih sangat segar bisa bersepeda dari rumah kami sampai kompleks Emerald dengan sangat cepat, menurut saya everything’s gonna be OK. Papah pilih pengobatan secara herbal.

Aha. Begitulah paradoksnya. Walaupun belum jelas ketahuan itu apa sakitnya. Tapi semua langsung setuju pengobatan herbal. Seolah-olah, jika kami semua melakukan pengobatan herbal, maka itu artinya penyakitnya tidak terlalu parah. Ngobrol dengan salah seorang dokter, katany silakan kalau mau pulang ke Semarang dan mencoba herbal. Tapi dalam waktu 3 bulan, harus kembali diperiksakan untuk melihat perkembangannya.

Mamah langsung in charge di Semarang. Papah pulang ke Semarang dan segala makan dan obat-obatan herbal dihandle langsung oleh mamah. Tidak makan ayam dan daging sapi. Kebanyakan sayuran, ikan, no MSG dan segala macam ide yang entah kami dapatkan dari mana pada waktu itu.

But somehow kondisi papah memburuk sangat cepat. Sejak Agustus 2011 sampai Desember 2011, papah jauuuuh lebih kurus dan tidak lagi mampu melakukan hal-hal yang tadinya mampu dilakukannya. Mamah menelpon bilang beliau ketakutan soal papah. Papah menelpon bilang pingin ke Jakarta, tapi takut tidak diijinkan mamah karena badannya terlalu lemah. Pertengahan Desember 2011, papah akhirnya berhasil meyakinkan mamah untuk pergi ke Jakarta dengan alasan jadwalnya check up 3 bulan, sesuai permintaan dokter.

Waktu beliau datang sampai di rumah saya, saya sungguh terkejut. Saya tidak mampu melihat matanya. Saya takut, ketakutan yang ada di mata saya akan terbaca oleh beliau. Badannya kurus kering, tinggal kulit dan tulang. 4 bulan yang lalau setiap orang yang bertemu selalu memuji betapa gagah dan gantengnya beliau di usianya, sekarang bahkan untuk berjalan dari pesawat ke tempat baggage claim, dia tidak mampu. Ditawari untuk pakai kursi roda? Sudah. Tapi Anda yang kenal papah saya pasti tahu apa jawabab beliau.

Mulailah lagi kami gerilya mencari dokter paling tepat untuk mengobatinya. Mencari info tentang apa sesungguhnya penyakitya. Banyak cerita tidak mengenakkan tentang bagaimana dokter meminta kami melakukan banyak tes, menunggu seminggu hasil tesnya, belum jadi juga, kemudian semena-mena saja menebak papah sakit apa tanpa ada hasil tesnya.

“Ya walaupun hasil lab-nya belum keluar, tapi saya sudah tahulah ini penyakitnya apa. Ini kanker. Ganas.”

Kurang lebih begitu jawaban dokter atas pertanyaan saya. Saya dan suami yang bertugas menemui dokter ini sungguh pengen marah. Tapi kami berdua paham, bahwa kesok-tahuan dokter itu cuma sedikit alasan bagi kami untuk marah. Alasan sesungguhnya kami ingin marah adalah isi dari beritanya; yang sebenarnya mungkin sudah kami ketahui juga kebenarannya. Hiks.

Kami berdua memutuskan untuk tidak memberi-tahu mamah soal berita ini sampai hasil lab benar-benar keluar. DI rumah kesibukan kami sekitar memasak makanan sesuai permintaan papah, mencari tabung oksigen, browsing rumah sakit di Penang dan Singapura, cari tiket di awal tahun dan merencanakan membawa papah ke 2 kota tersebut untuk berobat segera di awal tahun.

Sekitar 3 hari setelah berita itu, hasil lab sungguh-sungguh keluar. Kami -saya, suami dan adek- bertugas lagi mengambil hasilnya. Dalam perjalanan saya dan suami tidak banyak bicara. Cuaca Desember yang mendung rasanya tambah bikin suasana hati gelaaaaap betul. Sampai di rumah setelah mengambil hasil lab, suami saya bertugas memberi-tahu mamah dan papah soal hasilnya. Alhamdulillah bukan saya yang bertugas untuk itu. Saya dengan gamblang menyatakan bisa melakukan banyak hal lainnya, tapi tidak yang satu itu.

Sekitar jam 7 malam, tanggal 31 Januari 2011, mas Tonny jongkok di sebelah papah yang duduk di sofa hitam, menerangkan hasil lab nya ke papah. Papah tidak banyak bicara. Saya lelah sungguh secara psikologis. Saya ingin liburan akhir tahun ini segera berlalu. Segera Senin dan saya akan langsung menghubungi perwakilan rumah sakit Penang di Jakarta, sesuai rekomendasi teman yang suaminya bolak-balik dirawat ginjalnya di sana. Saya langsung tidur.

Pagi-pagi kami bangun, Bintaro hujan deras. Hampir tidak ada suara motor atau mobil yang lewat. Papah sedang sangat kesakitan karena tidak bisa bernapas. Mamah kebingungan karena semalaman dibangunkan papah yang tidak bisa bernapas. Mas Tonny tadi malam mengantarkan papah untuk pipis ke kamar mandi dan terkejut melihat warna pipisnya yang hitam dan ada endapan-endapannya. Pagi yang sangat tidak ingin saya ulangi.

Kemudian, setelah mamah selesai membimbing papah sholat Dhuha, menemani mamah istirahat, kami ngobrol di kamar depan. Tiba-tiba mas Tonny yang ada di luar bersama papah, memanggil kami dengan wajah sangat cemas dan meminta kami membawa papah ke rumah sakit. Mata papah sudah tertutup. Napasnya masih satu-satu. Again. Unrealistic optimists saya terlalu berlebihan.

Pun saya langsung memakai celana saya, berusaha membantu mas Tonny mengangkat papah dan tidak berhasil. Saya mengambil payung, mengetuk rumah tetangga satu demi satu. Rumah ke-4 yang saya ketuk akhirnya keluar penghuninya, mas ARif namanya membantu kami mengangkat papah ke mobil. Suami saya juga sudah mengundang satpam untuk membantu. Saya menyetir mobil. Mamah di samping saya. Mas Tonny di belakang memangku papah.

Sampai rumah sakit. Waktu berjalan sangat lambat. Rasanya hampir tidak ada suara di sekitar kami. Tik tok tik tok. Mas Tonny menyusul saya dan sedang memarkir mobil sambil bilang.

“Ayo masuk cepetan, tengokin papah. Papah udah gak ada”

Saat menulis kalimat di atas barusan, kembali saya menangis. Well, saya bukan orang bodoh. Ilmu agama saya tidak sempurna, tapi saya tahu semua orang pasti mati. Dan mati bukanlah suatu hal yang menimpa hanya orang-orang jahat. Tapi ketika papah saya meninggal, rasanya saya tidak tahu lagi harus bereaksi apa dan bagaimana. Mamah histeris dan berkali-kali hampir menjatuhkan diri di lantai UGD rumah sakit. Sambil mengulang-ulang.

“Mas Tatok. Janjinya gak begini mas Tatok. Katanya mau ngurus cucu sama-sama mas Tatok.”

Well well well. Apalah arti janji manusia dibanding takdir Allah. Papah dimakamkan di Semarang. Suami saya menemani jenasah papah di ambulance dalam perjalanan darat terakhirnya menuju kota kelahirannya. Tetap ada terselip cerita lucu selama proses berduka itu.

Seperti suami saya yang sedang menunggu ambulance datang menjemput jenasah papah di RS, tiba-tiba hp-nya berbunyi. Nama yang tertera di hp itu adalah “PAPAH”. Tanpa sadar suami saya menjawab perlahan,”Iya iya pah. Sebentar pah.” Baru kemudian ingat bahwa papah sudah meninggal.

Sejaka papah meninggal dunia saya berubah. Saya bukan anak yang dekat dengan papah. Adek-adek saya ada yang memiliki hubungan lebih akrab sama papah. Papah bukan sosok yang banyak bicara atau banyak memuji atau bahkan nimbrung kalau kami pas ngumpul ngrasai orang lain. Tapi kepergian beliau merubah hidup saya. Saya yang dikenal sebagai orang yang selalu optimis dan bahagia, sekarang seperti selalu ada bayang-bayang berwarna grey di belakangnya. Seperti ada lubang yang besar di peryt saya. My life change internally. Orang yang mengenal saya dengan baik, pasti melihat perubahan itu.

Tidak banyak yang saya sesali dalam perjalanan papah sampai waktu meninggalnya. Karena saya bukan jenis orang yang kemudian sibuk dengan pertanyaan mengapa. Atau seandainya. Saya menerima takdir ini. Hanya saya menyesal tidak ada di sampingnya -literally di sampingnya- saat beliau menghembuskan napas terakhirnya. Jarak saya memang cuma 1 meter dari beliau, tapi saya tidak di sampingnya.

Papah yang dalam diamnya melindungi. Tidak hanya melindungi kami. ternyata diamnya adalah perlindungan bagi banyak aib keluarga yang beliau ketahui, yang kemudian baru setelah beliau meninggal kami ketahui. Papah yang diamnya membuat sebagian orang tak bernyali makin ciut nyalinya untuk menyakiti kami. Dan kepergian beliau seperti siraman minyak tanah di atas api egoisme dan sirik sebagian orang. Papah yang diamnya adalah tanda kuatnya beliau menahan lisannya dari bergunjing.

Mohon doa bagi arwah beliau, Tatok Mohammad Heriyantono. Mohon dimaafkan segala kesalahannya, bagi yang pernah mengenalnya. Tulisan ini baru berhasil saya buat 2 tahun setelah kepergiannya. Semoga itu bisa menunjukkan bagaimana kepergian beliau sungguh membuat beda bagi hidup saya.