Another Mixed Feeling Session

Bulan Desember punya banyak cerita buat saya.

Waktu SD, Desember berarti kami latihan nyanyi di kelas. Disusul dengan hari-hari pulang cepat yang diisi dengan mendekor kelas, makan eskrim bersama 1 sekolah, juga mainan dry ice bareng kepala sekolah kami yang super sepuh, ibu Kolmus tersayang. Ingat tentang menyanyi selalu membawa senyuman kecil di dalam dada, teringat guru-guru tersayang pak Kuncoro, bu Mar dan bu Ros.

SMP dan SMA gak terlalu banyak berarti buat saya. Desember sama saja seperti bulan-bulan lainnya, kecuali bahwa sekolah mulai heboh mempersiapkan misa natal dan segala kegiatan yang berhubungan dengan natal.

Saat kuliah, Desember sering kali berarti ujian semesteran. Saat semua teman berlomba mencari catatan terbaik, memfotokopi dan mabuk-mabukan kopi untuk belajar dengan sistem kejar semalam yang dilematis, dibenci dan dicinta sekaligus.

Adek saya terkecil lahir 24 Desember. 25 Desember saya dan suami juga anak-anak hampir selalu berkumpul di rumah mertua untuk kumpul keluarga.

Sejak Desember 2011, Desember juga kelabu buat saya. Papah saya meninggal tanggal 1 Januari 2012, setelah sakit 4 bulan dan terakhir tidur di rumah saya selama 3 minggu terakhir. Suasana rumah yang sendu karena semua berempati sama papah. Suasana kelabu yang menunjukkan kesedihan semua penghuninya. Meledak bersama di pagi hari tahun baru, saat banyak orang bangun siang karena malamnya begadang, saya dan suami mengetuk pintu-pintu rumah tetangga di tengah hujan deras untuk meminta bantuan mengangkat papah ke mobil, karena napasnya mulai tidak bisa terdeteksi. Papah meninggal sekitar jam 8.30 pagi sesudah sholat dhuha.

Kemudian Desember 2014 datang. Belum 3 tahun papah meninggal. Mamah menyusul kekasih hatinya. Tanggal 23 Desember 2014 mamah meninggal tanpa didahului kejelasan penyakitnya. Beberapa hari sebelumnya saya sempat ngobrol sama mamah yang menangisi kondisi fisiknya yang gampang lelah. Beberapa bulan sebelumnya mamah reuni dengan teman-temannya jalan-jalan ke Yogya. Sebelumnya kami berlibur di rumah mamah di Semarang bersama adek-adek dan keluarganya.

Dan Desember 2015 ini, hampir 1 tahun saya resmi yatim piatu. Tidak pernah cukup tulisan menunjukkan betapa kosong sebagian hati saya menjadi yatim piatu. Namun juga tidak cukup menunjukkan gimana Allah memberi kekuatan lewat hal-hal kecil yang sungguh tidak diduga.

Manusia memang kapabel merasakan beberapa emosi sekaligus di satu waktu. Desember ini, saya merasakannya lagi. Sedih menjadi yatim piatu belum berakir rupanya walau sudah hampir setahun. Rindu atas komen-komennya yang pedas dan super realistic kadang masih sangat mengganggu hati. Belum ungkapan sebagian teman yang menyatakan rindunya pada mamah, yang super galak semasa hidupnya, namun ternyata dicinta banyak orang, termasuk teman-teman saya.

Suami saya bilang, mamah adalah the best mom in law in the world. I can’t argue with that. Saya selalu iri melihat perlakukan mamah ke suami saya. Setiap kali saya dan suami berantem, selalu suami yang dibela, saya yang salah, no matter what happen. Kata mamah,

Kalau mbok bela anaknya itu udah biasa, tapi dia anak orang, harus ada yang bela dia di keluarga ini. Itu tugasku.

Aaah, ingatan tentang mamah selalu membawa senyum dan airmata. See? Manusia memang kapabel merasakan 2 emosi, bahkan yang saling bertentangan sekalipun.

Teriring salam cinta buat semua papah dan mamah Anda. You have no idea betapa saya iri melihat keluarga dengan anak-anaknya makan malam di restoran, didampingi kakek dan neneknya.

December, please be nice to me.

10560306_10203906859465820_9008259935750321618_o

Ini foto jalan-jalan kami di Tangkuban Perahu. Mamah kagum lihat kelindahan pemandangannya sampai nangis.

10402028_10204798423994376_4566278910118711856_n

Ini foto suami saya bareng anak dan ponakan main hujan di depan rumah mamah di Semarang, 2 hari setelah mamah meninggal. Hujan super deras. Suami memutuskan menghibur anak-anak yang sudah beberapa hari terundung kesedihan orang tuanya. Selalu meleleh lihat foto ini.

Advertisements

Happy New Year from @butikbocah

Happy new year… Maaf ya bun, agak telat….
Hiks, tahun 2014 ditutup dengan sedih nih ceritanya, owner kehilangan ibu yang meninggal akhir desember kemarin

Jadi pengen ngingetin temen2 tersayang soal menyayangi orang tua. Terdengar klise memang, tapi bunda dan ayah yang sekarang sudah punya bocah kecil pasti paham kan, gimana sayangnya ortu itu sama anak2nya? I know you do. Bayangin aja kalau bunda sakit, serumah jadi kayak sedih dan kelabakan. Betul kan?

Sekalian share ah, ummi dalam bahasa arab, kabarnya memiliki arti menuju. Itu makanya dalam keluarga, semua anggota seperti menuju ke sang bunda. Mulai cari kaos kaki bocah, kacamata ayah atau mungkin sekedar menunjukkan bangunan dari lego yang baru dibuat.
Saya baru paham juga kenapa anak2 senang sekali gelendotan di saya. Haaa, semoga semua bunda diberkahi kesabaran dan keikhlasan buat mengurus bocah2 kecilnya. Dan semoga orang tua kita semua ditinggikan derajatnya ya, di dunia dan di akhirat. Aamiin.

Juga semoga sukses, bahagia dan barokah menghujani kita semua di tahun 2015 dan selanjutnya. Muaaachh…

image

#komikbutikbocah #ilustrasibutikbocah #mom #ibu #2015 #butikbocahparenting

Mama Lebay

image

 

Lihat tulisan ini di facebook teman, terus ketawa sendiri.

Nomor 1, betul banget. Waktu Genta dan Puti bayi, kalau gak ada asisten dan suami harus berangkat pagi. Mandi berarti nunggu suami pulang, yaitu jam 8 malem, atau jam 5 sore dengan pintu kamar mandi dibuka dan bayi duduk di kursi di depan pintu kamar mandi. Jangankan cuci muka pakai pembersih, sempat handukan sampai kering aja, udah alhamdulillah nya panjaaaang bener.

Nomor 2. Nah ini yang sempet bikin nangis. Tetangga depan rumah suka kedatangan tamu yang pakai baju rapi. Hiks. I call it smart dress. Terus karena lagi melow, jadi inget jaman kerja pakai blazer, beli baju cantik, pakai asesoris, huaaaaa. Jadi pengeeeeen.

Nomor 3. Hihihihi, waktu nikah suami kasih hadiah satu set perhiasan, semua bentuknya hoop, lingkaran. Anting2 yang paling bertahan dipakai. Cincin kawin hilang dijual orang. Liontin dan kalung jarang dipakai. Gelang apalagi. Anting selamet dipakai sampai Genta mulai narik-narik buat gondhelan pas belajar berdiri. Well, selamet sampai sekarang gak pake anting. Sempet sih pake anting sebelum Puti lahir beberapa bulan, tapi sekarang udah lepas lagi. Until then, hoop earrings.

Nomor 4, emang dari dulu ga pake heels sih sepatunya jadi aman. Cuman ribet aja pas kondangan. Kenapa ribet? COba aja gendong bayi atau nitah bayi pake rok span sama high heels. Then we’ll talk yey?

Nomor 5 kupikir lebay. Sampai beberapa bulan lalu, gigi depan saya gumpil nggigit garpu. Ceritanya karena mulai pusing, maksain makan pas Puti belum tidur. Karena ga tenang di kursinya, pas lagi masukin makanan ke mulut, lompatlah saya lihat Puti yang hampir jatuh. Garpu belum keluar dari mulut saya gigit. Aduuuuuh, itu linunya beberapa hari ga hilang. Dan gigi depan saya gumpil. hihihih.

Eh eh eh. Ini bukan mengeluh atau tidak bersyukur. Ini cuman cara mengingat bahwa saya tidak sendirian melakukan pekerjaan ini. Saya nulisnya juga pakai senyum-senyum kok. Senang aja, ternyata yang saya rasakan itu skalanya internasional. Wong yang pakai bahasa Inggris juga ternyata ngalamin. I have an international experience. Do you have it?

Let’s Just Not Being Judgmental

Let’s Just Not Being Judgmental

Pertanyaan tentang mana yang lebih baik, diasuh orang tua atau babysitter, atau penitipan anak, atau neneknya, selalu jadi pertanyaan klasik setiap kali saya mengisi acara. Sayangnya saya tidak punya komparasi, karena selama saya menjadi ibu, selama itu pula saya memutuskan bekerja dari rumah. In my circumstances, considering all my resources, this is at least the best I can do for my kids. But this article really give clear perspective, that every mom should be at their full understanding when dedicing on this matter.

Fun Being A Mom

Saya lupa saya dapat gambar di atas dari mana. Mungkin kiriman dari grup WA, atau juga mungkin salah satu page parenting yang saya follow, tapi jelas itu bukan buatan saya sendiri. Kenapa?

Pertama, dapur saya tidak nampak sedikit pun seperti di gambar. Jadi itu pasti bukan di rumah saya.

Kedua, anak saya dua-duanya berambut hitam dan ikal, bahkan cenderung keriting kriwil. Jadi 2 anak di bawah itu bukan anak saya.

Ketiga, saya sudah cek berkali-kali di lemari saya, jelas pakaian yang dipakai sang ibu, bukan termasuk wardrobe saya. Jadi jelas itu foto bukan bikinan saya sendiri.

Tapi saya sungguh merasa sangat relate dengan gambar di atas. Sungguh. Saya memahami perasaan sang ibu, sampai-sampai saya tidak sanggup menahan tawa saya setiap kali melihat gambar di atas. Bukan tawa menghina. Lebih tawa yang “you are not alone”. Tawa yang penuh kelegaan.

Huahahaha. Kondisi rumah saya di akhir hari, mirip sekali gambar di atas. Bentuk saya saat suami pulang kantor, juga mirip, dengan rambut berantakan dan kelek bau asem, serta energi bar yang sudah berwarna merah. Dan 2 anak saya di akhir hari, juga mirip 2 anak di atas, tertawa riang, di antara mainannya yang berantakan di lantai, dengan energi yang masih full seperti baru bangun tidur.

Aha. Bukankah memang itu yang penting untuk diperhatikan? 2 anak yang tetap riang di akhir hari. Biarpun rumah kecil, berantakan kayak kapal pecah. Kelek ibunya bau asem. Tapi tawa mereka tetap mengembang.  Apakah mungkin karena mereka tidak memperhatikan rumah yang berantakan dan kelek bau asem? Apakah itu mungkin karena mereka merasakan cinta? Apakah mungkin, pada akhirnya, saya bisa bilang, I have done a great job today, that contribute to that wonderful smiles. Mungkinkah?

Please say yes. Please. Don’t make me beg.

Privilege 2 tahun

Sejak belum hamil, entah kenapa, saya merasa sangat yakin bahwa nantinya saya akan menyusui anak saya sampai 2 tahun. Kenapa sampai 2 tahun? Yah, ini salah satu rekomendasi agama yang harusnya dengan mudah bisa saya kerjakan.

Saat hamil, pikiran itu menguat. Tidak pernah sedikit pun melemah. Bahkan setelah kenalan sama hypnosis, saya makin yakin. Walaupun terasa ekstrem, namun jauh di dalam sana memang saya tidak pernah melihat alternatif lain buat anak saya. Selain ASI.

Begitu Genta lahir. Masalah pertama muncul. Setiap kali Genta ditaruh di posisi menyusui. Dia teriak-teriak, nangis sampai gelagepan. Hari pertama, masih belum ketahuan kenapa. Tapi tetep aja saya tempelin. Cukup katanya. Hari ke-2, masih juga teriak-teriak. Tempelin lagi. Selesai. Omong-omong mulai dari Genta umur 1 hari, saya dan suami sudah punya jadwal rutin bangunin Genta 2 jam sekali buat nyusuin. Haah, rasanya jam cepet banget jalannya. Baru aja Genta tidur, tau-tau sudha waktunya bangunin dia. Bangunin Genta, awal-awal, butuh waktu kurang lebih 1 jam. Hihi. Entah ayah ibunya yang ga tegaan. Atau ni anak memang niru persis kebiasaan tidur orang tuanya.

Minggu ke-3 baru Genta bisa menyusu langsung di saya. Sebelumnya? Disendokin lah. Aktivitas saya selama 3 minggu pertama berkisar di makan, minum, mandi dan meras ASI. Hehehe. Kaki rasanya melayang kalau pas jalan. Capek banget. Kayak habis naik gunung 3 hari 3 malam. Baru turun langsung disuruh naik lagi. Setelah 3 minggu, jadwal saya mulai berkurang kepadatannya. Meras cuma kalau terasa kencang aja.

Ada juga adegan di umur Genta 4 hari. Hari itu Genta dibawa pulang. Dasar Jakarta. Macet di mana-mana. Ga sempet meres di tengah jalan. Belum punya alatnya. Sampai rumah, Genta kayaknya udah kehausan banget. DItempelin ke gentongnya. masih juga ga mau. Alhasil di rumah, langsung dibentuk TIM EMERGENCY. Terdiri dari 2 tim. Tim pertama, lokasi di dapur. Anggota saya dan mamah saya. Tugas: memeras ASI. Tim 2, lokasi di ruang keluarga. Anggotanya papah saya dan Iya, adek saya. Ada juga 1 tim lagi, lagi ngopi di teras depan. Stres dengerin Genta nangis sejak tol JORR sampai rumah. ANggotanya, suami saya. Hehehe.

Metodenya peras, kirim, suapin. Peras, kirim, suapin. Aduuuuuh, itu dada rasanya suaaakiiiit banget. Mamah sambil mijitin, sambil meres, sempet-sempet bilang, “Udah kamu pikirin, buat sementara, susu sambungannya apa?”

Aduh. Pikiranku terbelah. Antara ini dada sakit amat. Itu Genta belum berhenti nangisnya. Cepet amat dia minumnya. Mas Tonny lama amat stresnya. Sama, ni mamah serius nanyanya? Mamah nyusui semua anak-anak sampai minimal 2 tahun. Saya anak tertua. Adek saya ada 3 orang. Hah? Masak ini orang yang nyaranin buat cari susu sambungan?

Setelah diam beberapa saat, saya akhirnya punya keberanian buat menjawab, “Nggak lah mah.” Singkat. Itu jawabannya.

Agustus 2011 nanti Genta umurnya 2 tahun. Sampai sekarang selamat dia terus minum ASI. Saya sungguh sangat bersyukur atas jawaban singkat saya waktu itu.

Tebak, ini lagi ngapain kami berdua?

Air Mata

Di keluarga kami, saya termasuk perempuan yang paling sulit mengeluarkan air mata. Kalau sampai air mata saya sudah mengalir, tandanya perempuan-perempuan lain dalam keluarga kami, udah pasti bengkak matanya. Semacam otot, otot air mata saya sudah terlatih lah. Keluarnya cuma yang penting-penting saja. Hehe. Itu setahu orang lain lo.

Sesungguhnya saya gampang sekali menangis. Waktu ikut sertifikasi NLP 7 hari, ya 7 hari itu saya menangis terus. Setiap pulang training, dijemput suami, komentarnya, “Kamu nangis lagi dek?” Hahaha. Nonton serial PARENTHOOOD, udah pasti nangis. Jangankan itu, nonton GLEE aja, yang isinya nyanyi semua, pasti nangis. Lagi jalan-jalan di mall, ketemu orang tua yang galak banget sama anaknya, pasti nangis. Suami saya sampai hapal. Kalau dia lihat juga kejadian itu, selalu kepala saya diarahkan ke titik lain. Sambil dia bilang, “Udah tenang aja. Bukan urusanmu.”

Saya ingat juga hari pertama ikut NLP Practitionaire. Pas bagian bikin anchor damai, partner saya sampai takut dan manggil trainernya. Karena lagi-lagi, saya nangis. Saya sampai dikerubutin 3 orang. Dikiranya ada yang salah. Tahunya ya memang saya menangis karena merasa sangat damai. Hehehe. DI hari ke-6 atau ke-7, mas Ronny, trainernya sampai khusus datengin saya. Dia bilang, “Kamu kalau bahagia itu nangis to Fan.” Saya bilang, “Iya mas.” “Ya sudah kalau gitu.”

Entah ya. Air mata saya rasanya kok murah sekali. Dan saya gak keberatan sama sekali mengeluarkannya di mana saja. Kemarin waktu mengisi seminar, ada yang cerita tentang WFO-nya berdiri di depan ka’bah. Dia nangis, saya juga ikut nangis. Kapan lagi itu, ada yang nelpon, cerita masalah personalnya. Niatnya mau minta tolong diterapi, sambil menuntun dia terapi, air mata juga gak tertahan, merembes sampai ke leher.

Dan efeknya? Saya menyukai efek emosi setelah saya menangis. Entahlah. Rasanya pandangan lebih clear. Napas lebih ringan. Pikiran lebih fresh. Dan hati? Hati kayak lembuuuuut banget. Saya ingat suatu hari dikirim sms dari seorang teman, mas Hendro namanya. Dia seorang Muslim yang super taat. Intinya sms-nya bilang, “airmata itu melembutkan hati.” Dan itu ada dalam tuntunan agama Islam. Menurut saya? Tentunya saya setuju.

Oiya. Omong-omong saya menulis note ini setelah lihat foto teman-teman pulang umroh beberapa hari yang lalu. Baru lihat fotonya aja, saya udah merinding dan mata saya langsung hangat. Orang Jawa bilang, ngecembeng. Penuh air mata. Waduh, gimana nanti kalau pas udah di sana ya?

Kalau bener efek air mata itu sebegitu dahsyatnya buat kesejahteraan hidup kita. Apa masih mau kita larang anak-anak kita mengeluarkan air mata?

Quiet Moment

Setiap Genta tidur, saya punya kemewahan atas rumah yang begitu sepi dan tenang. Alunan blower AC dan kipas angin bagaikan gemercik air di vila kecil di Sukabumi. Terus menerus, ritmis, ada dan tidak mengganggu. Saya sangat menikmati momen ini. Saya meyebutnya sebagai quiet moment. Tidak sungguh-sungguh tanpa suara. Namun suarnya lirih sekali seperti pecinta sedang berbisik, sampai saya mampu mendengar suara kecil dari dalam dada saya sendiri.

Rasanya? Senang. Damai. Uhh, seperti menarik selimut kesayangan di tengah hujan lebat. Aman.

Dalam quiet moment saya beberapa waktu lalu, saya mendapat kemewahan untuk memikirkan tentang hidup. Saya teringat tahun-tahun saya di Yogya. Segala sesuatu berjalan sangat cepat seperti kilat menyambar. Cepat, keras dan kemudian hilang. Saya juga teringat salah seorang teman baik, yang entah sedang berdiri di bagian dunia yang mana sekarang, berkata,”Ternyata hidup itu gak selalu harus berlari ya Fan? Jalan juga boleh kok.”

Waktu itu saya mengiyakan. Walaupun dalam hati bertanya-tanya. Bagaimana mungkin dalam hidup yang singkat ini kita tidak perlu berlari. Ada banyak tujuan yang harus didatangi. Ada banyak asa yang mau direngkuh. Kalau tidak berlari, tidak mungkin rasanya melakukan semua hal itu sebelum waktunya habis. Namun atas nama hormat, saya iyakan saja.

Kemudian beberapa tahun sesudahnya, ketika kelelahan sedang menggoda. Seperti seorang belly dancer yang menari di kerumunan turis-turis padang pasir, saya teringat lagi kata-katanya. Iya saya semakin dalam, namun masih belum menemukan caranya untuk memperlambat langkah saya. Pertemuan-pertemuan dengan orang hebat lainnya membuat saya paham, bahwa perjalanan sama indahnya seperti tujuan.

Lalu tahun 2009, saya bertemu malaikat kecil yang nampak sangat lugu. Macam bunga mawar yang tumbuh tenang di tengah padang rumput. Dengan caranya yang halus, justru dia mengajarkan saya tentang memperlambat lari saya. Tanpa kata. Tanpa tekanan. Dan hidup saya berjalan lebih pelan. Sekarang saya paham bahwa hidup memang tidak perlu berlari. Saya menikmati hari yang cepat berlalu dengan langkah pelan saya. And yes, I begin to enjoy little things in life.

Apakah saya kehilangan tujuan? Kehabisan mimpi-mimpi yang mau diraih? Kota-kota yang akan dicium aromanya? BUKAN. Saya punya lebih banyak tujuan sekarang. Hidup saya bukan lagi tentang saya saja. Tentunya jadi makin banyak asa yang mau saya rengkuh. Dan saya tetap melangkah pasti menuju semua itu. Hanya kali ini langkah saya lebih pelan. Dengan begitu saya jadi banyak belajar bersyukur.

Apakah lebih lama untuk sampai ke sana dengan langkah yang pelan? Walaupun sulit dijelaskan dengan logika sederhana, saya malah lebih cepat sampai tujuan dengan langkah pelan saya. Genta, si malaikat kecil, mengajarkan ibunya untuk menarik nafas dan mengeluarkannya dalam damai.

Aneh? Ya. Bukannya hidup memang serangkaian keanehan yang menyenangkan?

Belajar Ikhlas di Pesawat

Setiap kali pergi naik pesawat, aku tertarik untuk mengamati wajah-wajah sesama penumpang. Dalam hatiku, aku bertanya-tanya, “Hebat betul oarng-orang ini ya. Senyum-senyum. Kayaknya gak takut sama sekali mau terbang.” Hehehe. Sementara aku, sebenarnya setiap kali mau terbang, selalu sibuk “menggusah” wourst case scenarios yang menari-nari di kepalaku. Belakangan skenarionya semakin menegangkan karena aku pergi bersama Genta.

Hari Senin kemarin aku naik pesawat lagi dari Semarang ke Jakarta, cuma berdua sama Genta. Soal cuma berdua, sama sekali bukan masalah besar. Genta sangat mudah diajak kerja sama. Lagipula sepengalamanku, orang-orang nampak sangat berempati dan ringan tangan membantuku setiap kali aku bepergian hanya berdua sama Genta.

Problemnya adalah, Genta nangis setiap kali pesawat mau take-off. Well, ini bukan pertama kali Genta naik pesawat. Tapi ini memang pertama kalinya Genta naik pesawat hanya berdua denganku. Dan juga pertama kalinya Genta nangis di dalam pesawat.

Sebagai orang yang intuitif, langsung saja skenarionya semakin kencang menari di kepalaku. “Anak kecil kan sensitive,” ujarku dalam hati. Jangan-jangan dia kerasa kalau pesawat ini nggak aman. Ok. Pintu daruratnya di mana? Diikuti dengan langkah-langkah antisipatif lainnya yang seperti SOP langsung aku susun di kepalaku. Alhasil, tentunya Genta semakin keras nangisnya. Minta keluar. Nunjuk-nunjuk pintu keluar. Detak jantungku aku sadari makin kencang. Napasku juga makin memburu kayak lagi lari. Bagian bawah lenganku mulai hangat. Aduh, apa yang harus aku lakukan?

Tiba-tiba ada suara kecil, ramah dan sangat lembut bilang, ”Pasrah Fan. Ikhlas. Dan sabar.” Suaranya kecil sekali. Kalau ditanya di mana tepatnya suara itu muncul, tepatnya muncul dari belakang my belly button. Apakah suara itu seperti laki-laki atau perempuan? Perempuan. Seperti suara anak-anak yang menarik-narik ujung bajuku dengan wajah polosnya. Kemudian, napasku melambat, detak jantungku mulai tertata kembali. AC pesawat juga mulai terasa sejuknya. Aku melihat ke luar pesawat lewat jendelaku. Sesaat kemudian aku menengok ke arah Genta, matanya mulai menutup pelan-pelan. Dalam hitungan detik dia tidur memelukku dengan tenangnya.

Sudut bibirku tertarik ke atas. Aku tersenyum. Sungguh. Naik pesawat adalah momen yang tepat buat belajar ikhlas. Aku teringat guru NLP ku, mas Ronny dan tanpa sebab yang jelas ada running text muncul di kepalaku, ”Happiness atau apa pun emosi yang ingin kau rasakan is a decision away.” Suara anak perempuan tadi membantuku mengambil keputusan yang tepat soal emosi apa yang ingin aku rasakan.

Dan aku juga membuktikan satu hal lagi tentang parenting. Anak sungguh adalah perasa energi yang luar biasa akurat. Genta nangis bukan karena takut. Genta nangis karena terkena aliran energi ketakutanku yang berusaha keras aku tutupi. Orang dewasa bisa dibohongi soal energi. Tapi Genta, dan anak-anak lainnya, sepertinya tidak bisa dibohongi.

Kurang lebih 1 jam kemudian aku dan Genta sudah ada di mobil kami, dalam perjalanan pulang ke rumah kami, Bintaro. Dalam beberapa helaan napas, rasanya mataku hangat dan airmataku hampir turun, terutama waktu ketemu ayahnya Genta dan bibinya, yang menjemput. Well, sebuah pengalaman worth to share.

Vitamin for Life

Dulu waktu kuliah di Yogya, ada waktunya aku gak pergi keluar kos sama sekali seharian. Duduk diam di dalam kamar, baca buku, nonton film, main game. Seharian, bahkan mungkin beberapa hari sekaligus. Padahal sesungguhnya aku orang yang gak bisa gak ngobrol dalam sehari, bisa stres aku. Hehe.

Istilahku waktu itu, BUTUH MENANGIS. Iya, aku cari buku, film atau game yang bisa bikin aku nangis. Nangis karena bahagia, haru, bersyukur dan segala emosi positif lainnya. Bukan nangis karena sedih. Hehehe. Kalau nangis karena sedih sih, jaman segitu, cukup lihat pacar juga, udah pengen nangis SEDIIIIIH. Huahahaha.

Rupanya kebiasaan ini berlangsung terus sampai sekarang. Kadang dalam beberapa minggu, aku gak baca buku atau main game atau nonton film bagus sama sekali. Tapi sekali waktu kerinduan itu dateng. Seperti sekarang. 1 buku dibaca 1 hari, habis. Sambil nemenin Genta mainan Play-Doh, ngelirik Indovision, dapet deh 2 film bagus. Malam-malam sambil nemenin bos besar update berita Nurdin Halid, maen game deh.

And you know what? Rasanya kayak habis minum vitamin. Badan lebih segar. Pikiran fresh. Suasana hati luar biasa. Energi kayak habis di recharge. Mata kayak habis digurah. Rasa syukur lebih melimpah. Dan terutama, makin merasa sayang sama orang-orang terdekat. Makin merasa bahwa waktu yang aku punya adalah sekarang. Kesempatannya ya saat ini.

Well, sebagian orang minum vitamin buat badannya. Hari ini aku minum vitamin for jiwaku. And I am being so very grateful for that.