Piye Le? Enak Jamanku Mbiyen To?

Bagi yang sering perjalanan darat, pasti sudah tidak asing dengan stiker belakang truk di atas. Pertama kali saya lihat dalam perjalanan Jakarta-Semarang, waktu mudik rame-rame. Ketawa saya gak habis-habis. Mbayangin cara ngomongnya. Nada bicaranya. Tone-nya. Ngekek ga selesai-selesai sama suami. Sekaligus juga membayangkan betapa ibu-ibu di desa sana sungguh merasakan hal yang sama.

Padahal saya juga ingat waktu 1998, saat rasanya hal yang gak mungkin lihat beliau lengser, ternyata lengser juga. sumpah sumpah rasanya waktu itu. Habis era ini pasti Indonesia jadi bakal lebih maju, karena kekayaannya gak disedot sama satu keluarga saja. Pasti Indonesia bakal lebih kreatif karena TV-TV gak takut sama segala peraturan yang dibuat oleh si bapak fenomenal itu.

Nyatanya? Aaah, lepas dari kontroversi soal ekonomi membaik berkorelasi dengan kenaikan harga barang. Nyatanya hidup di Indonesia tidak makin membaik bagi sebagian orang, bahkan memburuk bagi sebagian. Industri kreatif seperti lepas dari kandang, bebas sebebas-bebasnya, bahkan lebih ngartis dari artisnya. Nasionalisme yang rapuh berganti dengan kedaerahan yang tidak kalah rapuhnya. Entah sesungguhnya hutang bangsa ini bertambah atau berkurang, yang jelas Jakarta makin macet. Makin lama waktu yang dibutuhkan dari satu tempat ke tempat lain.

Sering begitu ya kita ini memang. Pas jaman dia, kita ngotot minta presidennya ganti. Habis diganti, kita nyesel, karena gantinya gak lebih baik juga dari dia. Minimal presiden dulu ga hobi curhat dan somasi rakyatnya kan?

Gak cuma soal presiden, soal pembantu rumah tangga juga gitu kan? Ngeluh terus soal si mbak yang ngeyelan, masaknya keasinan, mulutnya bau, begitu lebaran gak balik, terpaksa cari ganti, baru deh kerasa kalau masih mending deh ada si mbak kemaren-kemaren.

Itu masih urusan pembantu, gimana dengan suami atau istri? Eh, dulu saya pernah pacaran sama orang yang seru banget, he made me laugh all the time. Tapi dia kurang bisa diajak ngobrol yang serius. Kurang pas responnya. Terus diam-diam saya berharap, semoga saya bisa dapet pacar yang bisa diajak ngobrol serius. Dapet sih. Bisa banget diajak ngobrol serius, serius banget bahkan, sampai-sampai gak pernah bikin saya ketawa. Bikin saya mikiiiiir terus. Endingnya, nyesel deh. Enak jamanmu maaaasss……, hihihihi.

Suami-istri juga gitu mungkin ya. Ngarep dapet istri yang jago masak, cuantik, badannya keren, wangi, pinter ngasuh anak, bisa kerja dari rumah, omset miliaran. Yang istri juga ngarep dapet suami ganteng, tinggi besar, seksi, gaji miliaran, sayang keluarga. Sampai-sampai lupa bersyukur sama yang udah didapet. Yang udah diketok jadi jodoh kita oleh Sang Maha Empunya Segala. Padahal lupa bersyukur bikin dikurangi nikmatnya. Ampuuuuun deh.

Lupa bersyukur itu memang berat dah balasannya. Yang lupa bersyukur punya pacar bikin ketawaaaaa terus, langsung dikasih pacar yang hobinya bikin nangiiiiiiissss aja. Yang lupa bersyukur punya badan sehat, baru dikasih bisulan aja udah ampun-ampun. Yang lupa bersyukur masih punya rumah buat tidur, dikasih bocor pas musim hujan gini, baru aja ngeh. Yang lupa bersyukur punya saudara yang sayang sama dia, baru dah tuh nyadar kalau dikelilingi orang-orang yang oportunis.

Aaaah, sabar dan syukur memang harus jadi pegangan. Supaya gak gigit jari lain kali lihat stiker di belakang truk. Piye, enak jamanku mbiyen to?

Saya attach beberapa gambar yang sama temanya. Semoga Anda juga bisa ngekek seperti saya.

Tentang Si Cantik

Di sekolah Genta tadi pagi, seorang teman Genta nangis teriak-teriak sampai muntah. Bau muntahannya nyebar sampai ke mana-mana. Muka anak cantik itu sampai merah. Wajahnya basah, gabungan air mata, ingus dan muntahan, membentuk pola yang sudah sering saya lihat di wajahnya. Rasanya nyeri di dada, setiap kali lihat anak nangis. Kayak ada lobang di dadaku, sementara angin dingin wara wiri keluar masuk. Nyeri.

Gabungan rasa kasihan sama si anak, juga jengkel. Siapa sih orang tua yang gak jengkel lihat anak yang sulit dikasih tahu? Hiks. Jangan-jangan cuma saya ya yang suka jengkel kalau lihat anak sulit diajak bicara. Hahahaha.

Anyway, si Cantik temannya Genta ini, sebut saja namanya Cantik ya? Karena memang dia cantik, mungil dan imut-imut. Energinya juga berlimpah ruah. Saya perhatikan, kalau dia datang bareng ibunya, anak ini nampak happy sekali. Main lompat-lompatan, kejar-kejaran bareng ibunya. Ketawa-ketawa. Dan jarang sekali nangis atau bahkan ngambek kayak tadi. Sayangnya ibunya termasuk ibu yang jarang kelihatan di sekolah. Sayang sekali.

Cantik lebih sering diantar orang lain. Gantiganti pula. Tantenya, mbah putrinya, om-nya, tante yang lain lagi, tante dari pihak saudara ibunya, ada banyaaak tantenya. Dan namanya manusia ya bu, yah, semuanya bedabeda cara mendekati si Cantik. Dari jauh saya suka mengamati dan kasihan sama si Cantik. Cantik nampak putus asa. Saya ikut sedih.

Hari ini Cantik diantar baby-sitternya. Baby-sitternya lebih banyak ngelamun di kelas. Bukan ngurusin si Cantik. Cantik dibiarin berkeliaran di kelas. Sampai nanti ditegur sama salah satu gurunya, terus Cantik diseret atau diangkat paksa begitu saja, TANPA PENJELASAN, oleh sang baby-sitter. Biasanya kemudian Cantik nangis, teriak-teriak sambil tiduran di lantai. Sama baby-sitternya yaaaa dibiarin aja atau malah ditakut-takutin.

Mau ditinggal? Mau? Mau?

Begitu ancam si baby-sitter.

Hari ini, seorang guru mencoba menenangkan Cantik. Menurut saya, caranya benar. Dibawa ke sudut, diajak bicara. Tapi Cantik sudah gak peduli. Dia tetap teriak-teriak. Dia seperti tidak percaya bahwa bicara baik-baik bisa menyelesaikan masalah. Gimana cara dia percaya? Wong dia gak pernah punya pengalaman seperti itu?

Gudang perpustakaan bawah sadarnya hanya menyimpan inventory bahwa ketika orang dewasa bicara dengannya, itu adalah suruhan, bentakan, amukan atau ancaman. Kasihan si Cantik. Bahkan ketika si Guru baik hati ini memakai cara benar buat bicara pun, Cantik tidak punya kesabaran buat mendengarkan. Apalagi kemampuan buat mengendalikan marahnya. Kasihan betul si Cantik.

Cantik gak punya simpanan file tentang bicara baikbaik. Cantik juga gak punya ingatan tentang hal-hal yang boleh dan tidak boleh serta konsekuensinya. Cantik hanya tahu, dia bisa lakukan apa saja yang dia mau, sampai satu titik yang tidak jelas, seorang dewasa akan menyatakan itu tidak boleh. Kemudian dia bisa teriak sekencang-kencangnya, biasanya itu bisa bikin dia BOLEH melakukan apa pun yang dia inginkan.

Aaaaah, lupakan segala teori soal konsistensi, kongruensi, konsekuensi, pendidikan nilai, ngajarin antri, pengelolaan emosi dan segala tetek bengek lainnya. Tentunya itu semua penting dalam mendidik anak. Tapi bukan soal itu kali ini. Kali ini saya mau bicara soal yang gampang-gampang saja.

Gimana Cantik bisa buat trust sama orang kalau orang di sekitarnya bahkan tidak pernah belajar mendengarkan pendapatnya?

Gimana Cantik mengelola rasa putus asanya sementara dia belum ahli betul mengekpresikan rasanya?

Gimana badan Cantik terpengaruh sama hormon stresnya yang sudah pasti mengalir deras saat dia nangis, teriak dan muntah-muntah tadi?

Ah, bisa apa saya? Saya cuma bisa merasa nyeri, seperti dada yang berlubang dengan angin dingin wara wiri di dalamnya. Dan ini saya alami  minimal 1 minggu sekali. Hiks.

19 July 2011
-catatan sedih ibu-ibu yang rajin anter sekolah anaknya

Mari Menangis eh Mari Bicara

Hari ini, di Semarang. Pagi-pagi, Genta dan saya sudah harus diguyur dinginnya air Semarang. Sebagian bilang airnya sudah tidak terlalu dingin. Buat kami yang biasa bersentuhan dengan air Bintaro, air Semarang rasanya cesssss, kayak air es.

Ngapain pagi-pagi mandi? Pagi ini jadwalnya mas Archi, sepupu Genta, sekolah di PAUD. Seperti biasa, 3x seminggu, tiap kali di Semarang, kami ikutan sibuk nganter mas Archi sekolah. Genta ikutan masuk kelas. Nyanyi pelangi-pelangi. Genta selalu senang kalau dikelilingi kakak-kakaknya.

Sambil memandang Genta kecil main, sudut mata saya menangkap ada guru yang sibuk dengan kain pel dan pewangi ruangan. Hmm. Ada apa ini? Walaupun pemandangan seperti itu biasa di tempat yang banyak anaknya. Somehow, saya penasaran. Tidak terlalu lama, ada orang tua murid yang mendekati mamah saya.

“Nangis lagi Kayla. Sampai muntah-muntah.

Ditinggal sama pembantunya.

Ibunya sibuk, kerja, gak pernah nganter.”

(Oiya, namanya nama samaran ya)

Pemandangan berikutnya adalah guru PAUD sedang menggandeng gadis kecil yang mata bengkak karena menangis. Rasa pertama yang muncul lihat anak kecil nangis, selalu saja kasihan. Heran juga saya. Dalam diam, saya berbisik manja pada diri saya sendiri.

“Anak NANGIS itu artinya dia sedang BICARA.

Kenapa kasihan?

Memang orang dewasa, nangisnya karena sedih?”

 

Dalam bayangan saya, saya sedang bicara dengan sangat lembut pada bawah sadar saya yang terlanjur menerima informasi yang SALAH ini. Betul juga. Anak-anak ber-KOMUNIKASI lewat TANGIS-an, salah satunya. Jadi kenapa kasihan?

Seharusnya kita, orang dewasa bertugas merespon. Sesuai kebutuhannya. Bukan kasihan. Respon yang paling tepat adalah yang paling sesuai kebutuhan. Cara pertama, ya diajak bicara. Wong mau BICARA ya harus di-JAWAB kan?Bukannya malah disuruh diam?

Hehe. Tiba-tiba di kepala saya berkelebat bayangan lucu. Orang dewasa yang mau bicara, disuruh DIAM oleh partner biacaranya. Pasti rasanya jengkel betul. Anak-anak BICARA lewat TANGIS-annya, juga disuruh diam sama orang dewasa. Kira-kira anak-anak itu sejengkel yang tua ga ya rasanya?

Pesawat Lagi

Kemarin Genta dan saya lagi-lagi naik pesawat hanya berdua. Hehe. Maksudnya tanpa pendamping. Tanpa mas Tonny, suami saya. Pun juga tanpa adek-adek saya yang biasanya sering menemani ke mana-mana. Ini sudah ke sekian kali kami pergi hanya berdua.

Sejak seminggu lalu, saya sudah mulai conditioning. 2x pergi naik pesawat yang terakhir, Genta selalu nangis setiap landing dan take off. Yang kali ini, sudah saya niatkan supaya tidak terjadi seperti itu. Sejak Minggu lalu, saya berusaha melakukan conditioning. Hehehe. Mulai dari membelikan Genta mainan pesawat-pesawatan. Setiap kali sekolah, sambil nunggu bibi Fatriya menjemput, kami main pesawat-pesawatan itu.

Saya dan suami juga makin intens nunjuk ke pesawat yang lewat. Sambil dadah-dadah. Bilang halo pesawat. Juga sambil mengajak Genta bilang, “Mas Archi, sini sini, ayo kita naik pesawat.“ Setiap kali ada pesawat lewat, saya juga nambahin, “Minggu depan Genta naik pesawat yaaaa? Mau ke Semarang“

Selama perjalanan ke airport, karena Genta tidur. Conditioning tidak bisa dilakukan. Begitu bangun, check in dll, langsung dimulai lagi. Kami berdua nyanyi-nyanyi di lorong menuju gate A2.

“O We are flying in an aeroplane,
looking out the window,
watching the clouds go by…“

Begitu mau boarding, Genta semangat sekali. Kata dia, ”Mau naik pesawat, kayak BJ.” Hahaha. Agak deg-degan, kali ini Genta boarding jalan sendiri. Selamaaaat. Dia jalan terus sendiri di lorong pesawat sampai duduk di tempat duduknya. DI kursi dia juga sibuk banget ngitungin jumlah peswat yang kelihatan drai jendelanya. Begitu take off, dia agak deg-degan sedikit. Tapi berikutnya, langsung baca buku pesawat dan tiduuuuuur.

Genta bangun persis waktu pesawat selesai landing. Turun pesawat, dia masih sempat aja ciumin tangan para pramugari. Senangnya. Senangnya. Hahahaha. Senangnya berhasil mengendalikan pancaran energi cemasku setiap kali naik pesawat. Dan tidak mentransfernya ke Genta.

Air Mata

Di keluarga kami, saya termasuk perempuan yang paling sulit mengeluarkan air mata. Kalau sampai air mata saya sudah mengalir, tandanya perempuan-perempuan lain dalam keluarga kami, udah pasti bengkak matanya. Semacam otot, otot air mata saya sudah terlatih lah. Keluarnya cuma yang penting-penting saja. Hehe. Itu setahu orang lain lo.

Sesungguhnya saya gampang sekali menangis. Waktu ikut sertifikasi NLP 7 hari, ya 7 hari itu saya menangis terus. Setiap pulang training, dijemput suami, komentarnya, “Kamu nangis lagi dek?” Hahaha. Nonton serial PARENTHOOOD, udah pasti nangis. Jangankan itu, nonton GLEE aja, yang isinya nyanyi semua, pasti nangis. Lagi jalan-jalan di mall, ketemu orang tua yang galak banget sama anaknya, pasti nangis. Suami saya sampai hapal. Kalau dia lihat juga kejadian itu, selalu kepala saya diarahkan ke titik lain. Sambil dia bilang, “Udah tenang aja. Bukan urusanmu.”

Saya ingat juga hari pertama ikut NLP Practitionaire. Pas bagian bikin anchor damai, partner saya sampai takut dan manggil trainernya. Karena lagi-lagi, saya nangis. Saya sampai dikerubutin 3 orang. Dikiranya ada yang salah. Tahunya ya memang saya menangis karena merasa sangat damai. Hehehe. DI hari ke-6 atau ke-7, mas Ronny, trainernya sampai khusus datengin saya. Dia bilang, “Kamu kalau bahagia itu nangis to Fan.” Saya bilang, “Iya mas.” “Ya sudah kalau gitu.”

Entah ya. Air mata saya rasanya kok murah sekali. Dan saya gak keberatan sama sekali mengeluarkannya di mana saja. Kemarin waktu mengisi seminar, ada yang cerita tentang WFO-nya berdiri di depan ka’bah. Dia nangis, saya juga ikut nangis. Kapan lagi itu, ada yang nelpon, cerita masalah personalnya. Niatnya mau minta tolong diterapi, sambil menuntun dia terapi, air mata juga gak tertahan, merembes sampai ke leher.

Dan efeknya? Saya menyukai efek emosi setelah saya menangis. Entahlah. Rasanya pandangan lebih clear. Napas lebih ringan. Pikiran lebih fresh. Dan hati? Hati kayak lembuuuuut banget. Saya ingat suatu hari dikirim sms dari seorang teman, mas Hendro namanya. Dia seorang Muslim yang super taat. Intinya sms-nya bilang, “airmata itu melembutkan hati.” Dan itu ada dalam tuntunan agama Islam. Menurut saya? Tentunya saya setuju.

Oiya. Omong-omong saya menulis note ini setelah lihat foto teman-teman pulang umroh beberapa hari yang lalu. Baru lihat fotonya aja, saya udah merinding dan mata saya langsung hangat. Orang Jawa bilang, ngecembeng. Penuh air mata. Waduh, gimana nanti kalau pas udah di sana ya?

Kalau bener efek air mata itu sebegitu dahsyatnya buat kesejahteraan hidup kita. Apa masih mau kita larang anak-anak kita mengeluarkan air mata?

Belajar Ikhlas di Pesawat

Setiap kali pergi naik pesawat, aku tertarik untuk mengamati wajah-wajah sesama penumpang. Dalam hatiku, aku bertanya-tanya, “Hebat betul oarng-orang ini ya. Senyum-senyum. Kayaknya gak takut sama sekali mau terbang.” Hehehe. Sementara aku, sebenarnya setiap kali mau terbang, selalu sibuk “menggusah” wourst case scenarios yang menari-nari di kepalaku. Belakangan skenarionya semakin menegangkan karena aku pergi bersama Genta.

Hari Senin kemarin aku naik pesawat lagi dari Semarang ke Jakarta, cuma berdua sama Genta. Soal cuma berdua, sama sekali bukan masalah besar. Genta sangat mudah diajak kerja sama. Lagipula sepengalamanku, orang-orang nampak sangat berempati dan ringan tangan membantuku setiap kali aku bepergian hanya berdua sama Genta.

Problemnya adalah, Genta nangis setiap kali pesawat mau take-off. Well, ini bukan pertama kali Genta naik pesawat. Tapi ini memang pertama kalinya Genta naik pesawat hanya berdua denganku. Dan juga pertama kalinya Genta nangis di dalam pesawat.

Sebagai orang yang intuitif, langsung saja skenarionya semakin kencang menari di kepalaku. “Anak kecil kan sensitive,” ujarku dalam hati. Jangan-jangan dia kerasa kalau pesawat ini nggak aman. Ok. Pintu daruratnya di mana? Diikuti dengan langkah-langkah antisipatif lainnya yang seperti SOP langsung aku susun di kepalaku. Alhasil, tentunya Genta semakin keras nangisnya. Minta keluar. Nunjuk-nunjuk pintu keluar. Detak jantungku aku sadari makin kencang. Napasku juga makin memburu kayak lagi lari. Bagian bawah lenganku mulai hangat. Aduh, apa yang harus aku lakukan?

Tiba-tiba ada suara kecil, ramah dan sangat lembut bilang, ”Pasrah Fan. Ikhlas. Dan sabar.” Suaranya kecil sekali. Kalau ditanya di mana tepatnya suara itu muncul, tepatnya muncul dari belakang my belly button. Apakah suara itu seperti laki-laki atau perempuan? Perempuan. Seperti suara anak-anak yang menarik-narik ujung bajuku dengan wajah polosnya. Kemudian, napasku melambat, detak jantungku mulai tertata kembali. AC pesawat juga mulai terasa sejuknya. Aku melihat ke luar pesawat lewat jendelaku. Sesaat kemudian aku menengok ke arah Genta, matanya mulai menutup pelan-pelan. Dalam hitungan detik dia tidur memelukku dengan tenangnya.

Sudut bibirku tertarik ke atas. Aku tersenyum. Sungguh. Naik pesawat adalah momen yang tepat buat belajar ikhlas. Aku teringat guru NLP ku, mas Ronny dan tanpa sebab yang jelas ada running text muncul di kepalaku, ”Happiness atau apa pun emosi yang ingin kau rasakan is a decision away.” Suara anak perempuan tadi membantuku mengambil keputusan yang tepat soal emosi apa yang ingin aku rasakan.

Dan aku juga membuktikan satu hal lagi tentang parenting. Anak sungguh adalah perasa energi yang luar biasa akurat. Genta nangis bukan karena takut. Genta nangis karena terkena aliran energi ketakutanku yang berusaha keras aku tutupi. Orang dewasa bisa dibohongi soal energi. Tapi Genta, dan anak-anak lainnya, sepertinya tidak bisa dibohongi.

Kurang lebih 1 jam kemudian aku dan Genta sudah ada di mobil kami, dalam perjalanan pulang ke rumah kami, Bintaro. Dalam beberapa helaan napas, rasanya mataku hangat dan airmataku hampir turun, terutama waktu ketemu ayahnya Genta dan bibinya, yang menjemput. Well, sebuah pengalaman worth to share.

Repost: Matahari, Cahaya & Cinta

Tulisanku tahun 2004…  Menarik…

My first mountain

Only for those who are willing to understand

Pernah merasa ternyata hamparan salju putih yang sangat diidam-idamkan oleh masyarakat yangtinggal di negara tropis ternyata jahat banget? Pernah bayangin gimana rasanya terjebak di bawah timbunan salju dipegunungan Himalaya? Gak ada orang yang tahu persis posisi kita, cuma bisa dengar suara orang yang kita cintai dari walkie talkie.

Pernah merasa hidup rasanya malem terus? Gak ada terang, gak ada matahari, gak ada kegembiraan? Pernah merasa malam rasanya gak habis-habis sampai hampir mau putus asa nunggu terang?
Pernah merasa dunia ini tidak adil? Sangat tidak adil dan there’s nothing you can do about it? Membuatmu jadi tidak tahu seperti apa masa depan yang menanti? So confuse sampai hampir, so close to desperate.
Tiba-tiba di atas ada sedikit cahaya, sedikit sekali dan sangat jauh. Tapi beberapa saat yang lalu bahkan setitik cahaya itu pun tidak ada. Atau tiba-tiba ada rasa hangat di ujung jempol dari sinar matahariyang mulai muncul di ujung hari baru. Seluruh badan masih merasakan dinginnya malam atau salju yang menyelimuti tapi ada rasa ringan, hangat yang menjalar pelan sangat pelan dari ujung badan yang selama ini tidak diperhitungkan.
Hangatnya matahari setelah malam yang sangat gelap dan dingin, indahnya secercah sinar menembus timbunan salju yang sangat membuat putus asa, atau buat sebagian orang juga perasaan cinta yang pelan-pelan menghangatkan hati setelah kebekuan yang cukup lama…
Rasanya indah kan?
Hangat, penuh harapan, lembut dan segala rasa positif yang bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Apa sih arti setitik sinar bagi seorang yang jatuh tertimbun salju?
Apa arti rasa hangat di ujung jempol bagi orang yang menunggu malam berakhir di atas gunung?
Apa arti rasa hangat di dalam hati bagi orang yang telah lama menunggu cinta?
Solusi? Pertolongan? Harapan?
Orang bijak berkata, “If you wait long enough, the right bus would come.”
Sering dalam hidup di mana masalah tidak bisa mengkategorikan dirinya sendiri menurut kepentingannya –urgent, agak penting, tidak penting-, aku sering dibingungkan dengan banyak pilihan tentang prioritas apa yang harus diambil pada satu kesempatan. Saat itu rasanya banyak bis yang lewat tapi tidak satu pun yang sesuai dengan tujuanku. Rasanya semua orang mendapatkan bis sesuai tujuannya dan tidak seorang pun menemaniku menunggu bis yang tepat itu.Saat-saat seperti itu aku selalu membayangkan diriku terjebak dalam timbunan salju di pegunungan Himalaya seperti dalam film Vertical Limit atau sedang dalam perjalanan naik gunung Sindoro yang tiba-tiba cuaca berubah tidak bersahabat dan aku terpaksa menunggu malam berganti pagi.
Perasaan tidak berdaya, tidak ada harapan, seolah-olah berdiri di antara dua jurang yang dalam, membuatku kembali menyebut nama Sang Khalik. Kecil rasanya aku dibandingkan dengan kekuasaan-Nya. Sebagai manusia nampaknya batas antara putus asa dan harapan dan celah kecil di antaranya-lah yang membuatku jadi makin manusiawi.
Kalau dalam pendakian Himalaya, secercah sinar menjadi tumpuan harapan. Sementara dalam pendakian Sindoro, hangatnya matahari berarti “selamat datang” di hari baru maka pada hati yang terlalu lama beku hangatnya uap cinta seperti terlepas dari himpitan batu besar.
Jika hidup adalah sebuah perumpamaan, aku yakin manusia bagaikan seekor keledai yang masih sering terjatuh dalam lubang yang sama duakali, bahkan lebih. Jika Tuhan boleh diumpamakan maka Ia adalah seorang ibu yang tak hentinya memaafkan anak-Nya dan menasehatinya agar jangan mengulang kesalahannya.Dan jika cinta juga boleh diumpamakan maka ialah perekat antara keledai dan ibu tersebut, bisa melalui keledai lain atau melalui anaknya.
Well, anyway, aku percaya bahwa kalau aku bertahan cukup lama, dalam banyak hal, then setitik cahaya, hangatnya fajar dan bahkan lembutnya cinta will come my way.
With all my love…
fa, Depok, 6 September 2004

Vitamin for Life

Dulu waktu kuliah di Yogya, ada waktunya aku gak pergi keluar kos sama sekali seharian. Duduk diam di dalam kamar, baca buku, nonton film, main game. Seharian, bahkan mungkin beberapa hari sekaligus. Padahal sesungguhnya aku orang yang gak bisa gak ngobrol dalam sehari, bisa stres aku. Hehe.

Istilahku waktu itu, BUTUH MENANGIS. Iya, aku cari buku, film atau game yang bisa bikin aku nangis. Nangis karena bahagia, haru, bersyukur dan segala emosi positif lainnya. Bukan nangis karena sedih. Hehehe. Kalau nangis karena sedih sih, jaman segitu, cukup lihat pacar juga, udah pengen nangis SEDIIIIIH. Huahahaha.

Rupanya kebiasaan ini berlangsung terus sampai sekarang. Kadang dalam beberapa minggu, aku gak baca buku atau main game atau nonton film bagus sama sekali. Tapi sekali waktu kerinduan itu dateng. Seperti sekarang. 1 buku dibaca 1 hari, habis. Sambil nemenin Genta mainan Play-Doh, ngelirik Indovision, dapet deh 2 film bagus. Malam-malam sambil nemenin bos besar update berita Nurdin Halid, maen game deh.

And you know what? Rasanya kayak habis minum vitamin. Badan lebih segar. Pikiran fresh. Suasana hati luar biasa. Energi kayak habis di recharge. Mata kayak habis digurah. Rasa syukur lebih melimpah. Dan terutama, makin merasa sayang sama orang-orang terdekat. Makin merasa bahwa waktu yang aku punya adalah sekarang. Kesempatannya ya saat ini.

Well, sebagian orang minum vitamin buat badannya. Hari ini aku minum vitamin for jiwaku. And I am being so very grateful for that.