My Shoes vs. Gen Y Shoes

Dunia pewayangan gegeeerrrr…….

Pregnancy Empathy – Blog Fanny Herdina

*mari kita tarik napas sebelum mulai menulis*

Sudah sejak lama saya ingin menulis dengan tema ini, tapi lagi lagi saya kesulitan menemukan kata sifat yang tepat untuk jadi ide utamanya. Nah, gegernya dunia pewayangan beberapa hari belakangan membantu saya menemukan kata sifatnya.

Sebut saja Bunga -nama samaran-red-. Jiaaah, dia juga ga keberatan kok kayaknya jadi topik pembicaraan di sosial media, jadi ya sudahlah. Kegegeran dimulai dari posting-an di bawah ini. Buat yang ngerasa tua, please tarik napas dulu sebelum baca, ok? Buat yang muda, juga tarik napas, karena dalam beberapa detik ke depan, Anda akan merasakan perasaan maluuuuu sangat berada pada kohort yang sama dengan si Bunga ini,

ABG Edan - Blog Fanny Herdina

Begitulah mbak cantik ini berkicau di halaman personalnya. Gak bisa terlalu disalahkan memang, karena itu halaman personalnya. Semacam teras rumahnya lah. Tapi doski *biar sekalian ketahuan umur gw berapa* tereak tereak di teras bok, jadi ya wajar juga sih ya kalau yang lewat ngerasa terganggu dan mulai ngrasani sama orang lain. *enough for Bunga*

Sekarang giliran saya. Saya juga punya sederet komplen soal anak-anak se-kohort mbak-teteh-uni-apa pun lah sebutannya *orang-orang sekohort saya gak biasa manggil cuman nama say, maaf*.

Satu nih. Tetangga saya punya motor nih, Ganti-ganti motornya. Dulu vespa. Sekarang motor cowok gitu deh *jiaaaah motor dikasih jenis kelamin*. Nah biarpun ganti motor, tapi rupanya soal selera memang sulit berubah cuy. Selera anak tetangga saya ini hmmm… anu…. hmmm…. suara yang keras-lah, sebut saja begitu. Vespa dia, waktu dinyalain dulu, bikin ayah saya bangun dari tidurnya terus batuk-batuk, menjelang beliau meninggal awal tahun 2012. Ah, saya sibuk berduka, jadi saya cuekin. Walaupun saat ayah saya meninggal pun, dia ga muncul di rumah saya. Tetangga saya man, tetangga 1 tembok. Nah motor barunya ini kalau dinyalain, berhasil dengan sukses membangunkan Puti dari tidur siangnya. plus juga membangunkan bibi-bibinya dan utinya sekaligus. Waktu saya ingetin, dia marah-marah dari balik pintu rumahnya dan mengusir ibunya suruh pergi. Fiuuh.

Kedua. Pernah ngantri di McD yang buka 24 jam gak, di malam Minggu? Yes. Asep rokok. DSLR nganggur di meja atau dipakai dengan mode AUTOMATIC. Obrolan dengan suara keras diiringi kata “anj*ng” “bangs*t” “mony*t”. Itu sesudah mereka ngantri di depan kasir selama minimal 45 menit, karena dilema besar menghantui mereka, yaitu mau pilih french fries aja atau ice coffee aja. Juga sesudah mereka membayar ke mas/mbak kasir tanpa mengucapkan terima kasih, tentunya. Ganggu gak?

Ketiga ya, terakhir ah, males bahasnya walaupun bisa sampai 45 sih nomernya. Uhuk. Ketularan lebay gw. Cara mereka nongkrong seenak udelnya di depan Her* atau Indomar*t yang udah jelas-jelas gak nyediain kursi, setelah mereka beli sebotol air mineral, itu ganggu banget. Ga kinormat banget sama mbak/ mas cleaning service yang mau bersihin lantai. Kalau ditegur satpam, terus sok ngomong “gak asik gak asik”. Lah, memang situ asik?

Anyway….. *tarik napas lagi dah* Kemarin-kemarin saya anggap perilaku mereka sebagi “ya sudahlah”. Walaupun gondok dan selalu dilanjut dengan menggandeng Genta di depan mereka sambil bilang,

“Genta, kayak begitu itu tidak baik ya mas, jangan ditiru. Itu namanya tidak sopan. Kalau habis bayar, bilang terima kasih. Bla bla bla”

Tapi ketika gegernya sampai membawa-bawa orang hamil dianggap egois. Rasanya logika saya gak mampu lagi mengikuti logika mereka. Berangkat subuh? saya pernah mbak. Tulang nggeser? Udah pernah jatuh terduduk pas naik gunung? Kalau belum ,gimana kalau rasain dulu? *jiaaah, gw ketularan dia* *please stop me*

Intinya kegegeran ini membuat saya ngobrol sama suami. Hasil obrolan kami yang sangat sepihak ini -cuma pihak orang hampir 40an saja maksudnya- menyimpulkan segala kenyamanan hidup ternyata berefek negatif bagi generation Y ini. Tentunya tidak semua, tetap ada beberapa yang menunjukkan kemampuan empati yang luar biasa.

Semacam gini deh. Kalau Anda hidup enak terus dan tidak dilatih untuk bersyukur, dari mana Anda belajar menghargai kerja keras orang lain? Dari mana Anda belajar bahwa ada orang yang hidupnya mungkin tak seberuntung Anda? Dari mana Anda belajar bahwa untuk sebagian orang, hamil dan berhenti bekerja itu bukan pilihan? Dari mana Anda belajar bahwa beberapa orang itu bahkan belum pernah lihat yang namanya I-Phone? Jangankan punya atau beli, megang tu belum pernah, lihat gambarnya aja mungkin di koran? Tentunya sulit ya.

Di salah satu web yang menceritakan ciri Generation Y, nomor satu cirinya adalah, saya kutipkan,

“Tidak sabaran, tak mau rugi, banyak menuntut”

Again, tentunya tidak semua seperti itu. Tapi kegegeran dunia pewayangan di atas mungkin mengacu pada ciri ini yang dominan pada si Bunga dan beberapa komentator di bawahnya. Tidak sabar dan banyak menuntut nampaknya adalah hasil dari perilaku self-centered yang berlebihan. Sehingga tidak membuka ruang bagi mereka untuk berempati, untuk melihat melalui kacamata orang lain. Atau berjalan memakai sepatu orang lain. Dalam rangka apa mereka mau pakai sepatu orang lain wong sepatu mereka udah enak banget dipakenya?

Kehilangan empati memang tugas berat untuk dibetulkan jika terjadi pada usia Bunga. Kecuali sesuatu yang intens terjadi padanya dan mampu mengubah seluruh paradigmanya plus cara merespon dunia luar. Tanggung jawab siapa? Gak usaha gaya deh menuduh dunia pendidikan bertanggung jawab atas ini, ya jelas sekolahan bertanggung-jawab. Orang tua juga bertanggung jawab. Tapi itu tanggung jawab yang private yang gak manis disobek-sobek di muka umum seperti di blog saya ini.

Gimana dengan tanggung jawab kita sebagai masyarakat? Apa yang sudah kita lakukan untuk bersama-sama memetik kekuatan Generation Y dan memotong ranting-ranting busuk mereka? Apakah kita sudah….

  • mengingatkan mereka untuk membuang sampah di tempatnya karena yang kebanjiran bisa jadi bukan rumah mereka, tapi mereka tetap bisa ikut berkontribusi mencegahnya
  • mengingatkan mereka untuk tidak merokok di sembarang tempat, walaupun tempat umum dan ada tanda boleh merokok, terutama kalau berdekatan dengan orang hamil, orang tua, anak-anak atau orang-orang yang memberi kode dengan manis melalui batuknya
  • mengingatkan mereka bahwa di luar sana ada banyak orang yang butuh kerjaan, rela bekerja apa pun demi memberi makan anak istrinya sehingga tidak etis bagi mereka menolak begitu saja pekerjaan karena alasan yang tidak esensial
  • mengingatkan mereka bahwa antri itu tanda orang berpendidikan bukan tanda pecundang atau orang yang takut sama mereka
  • mengingatkan bahwa sebaiknya hobi itu bukan yang mengganggu orang lain, punya motor berisik misalnya, piara anjing tapi gak pernah dikasih makan misalnya
  • mengingatkan bahwa terkadang senyum dan menundukkan kepala sedikit ketika bertemu orang adalah tanpa sopan santun yang umum, bahkan di dunia internasional yang biasanya mereka bangga-banggakan
  • mengingatkan bahwa di luar negeri tren memanggil orang itu dengan “dear” “honey” bukan monyet, anjing atau kutil, masak gaya baju ikut luar negeri kelakukan jaman jahiliyah
  • mengingatkan bahwa merawat dan menjaga kerapian rambut itu penting, tapi melempar poni ke kiri kemudian menyibakkannya kembali ke kanan pakai tangan setiap 2 menit sekali itu mengganggu, bahkan menunjukkan rendahnya tingkat PD mereka
  • mengingatkan bahwa berbaju rapi dan bersih saat keluar rumah itu baik, tapi bukan berarti sibuk ngaca setiap kali ada cermin atau selfie-an di sembarang tempat

Yess. Saya yakin Anda bisa menambahkan sendiri daftarnya. Silakan tambahkan di komen ya, sekaligus tinggalkan link blog Anda, saya saya tambahkan ke dalam tulisan ini bersama link-nya. Itung-itung selain komplen, kita sedikiiiiiit berkontribusi menyampaikan ini ke dunia *gak janji juga bakal sampai ke mereka sih* tentang hal-hal yang mungkin bisa kita lakukan bagi generasi yang tidak mau merepotkan orang lain itu.

Pssst, kalau baju sepatu tas belum bisa bikin sendiri benernya itu juga masih merepotkan sih bok. Apalagi masih kerja sama orang, itu juga ngerepotin. Belum lagi kalau mulutnya kayak gitu, itu juga merepotkan sih. Jadi ya, saya simpulkan doa Bunga belum diijabah nampaknya. Dia masih merepotkan banyak orang. Yang bantuin ibunya ngelairin, juga repot. DOkter yang betulin tulangnya yang nggeser juga repot. *priiiit Fan, priiiit, enough*

Sebagai penutup, sebelum acara ramah tamah dimulai dan lagu kemesraan dikumandangkan *hanya yang bukan Gen Y yang paham ini nampaknya*, gambar di bawah mungkin bisa jadi pengingat yang manis. Selamat malam teman-teman. Selamat malam Bunga, semoga tempat tidur, kasur dan sprei tempatmu tidur malam ini buatanmu sendiri, sehingga tidak merepotkan orang lain. Banyak cinta kukirim untukmu, karena …… *mari katakan ini bersama-sama dear readers* 

hanya orang kekurangan kehangatanlah yang mampu mengeluarkan kata-kata sedingin itu

*meminjam ungkapan kakak kelas saya di salah satu status facebook-nya*. Muaaaah *cium basah*

Berikan kursi - Blog Fanny Herdina

Advertisements

Get A Life!

Get A Life -- Blog Fanny Herdina

Rasanya saya pengen teriak judul di atas kalau ketemu sama orang yang sibuuuuuk banget ngurusin hidup orang tapi lupa ngurusin hidupnya sendiri.

Beberapa kenalan saya hobinya menasehati tapi apa sesungguhnya mereka layak menasehati?

Ada yang hobi menasehati soal agama, tapi ya pacaran juga, minum alkohol juga.

Ada yang hobi menasehati soal anak, tapi bahkan menikah saja belum.

Ada yang hobi menasehati soal hubungan dalam pernikahan, laaaah, seriously menikah atau berpacaran saja tidak.

Kemudian saya berpikir apa memang begini ya pembagian tugas di dunia? Yang ahli menasehati, sengaja belum diberi kesempatan jadi pelaku. Karena kalau nglakoni, pasti bakalan klakep ga bisa ngomong karena ga semua teori itu mutlak kebenarannya.

Bukankah 1+1=2 saja masih bisa diperdebatkan?

Tapi tidak bagi para penasehat ini. Mereka yakin betul kebenaran hanya milik dirinya seorang, plus sebagian orang lain yang mereka “approve”.

Begini ya. Mengurus anak orang sama anak sendiri itu berbeda. Sama halnya mengasuh sesekali di hari libur atau dititipi anak 2-4 jam saat ayah ibunya sedang berlibur, itu beda dengan mengasuh anak 24/7 dengan pertanggung-jawaban akhirat.

Atau gini deh. Mengurus orang sakit 1-2 hari atau seminggu lah, itu beda dengan melayani orang sakit selama 7 tahun. Menengok si sakit di hari libur 2-3 kali setahun tentunya beda dinamikanya dengan setiap hari memandikan dan membersihkan kotoran yang keluar dari pantatnya. Bedaaaaaa, jadi please jangan samakan.

Membayari kebutuhan orang lain, mulai dari makan, minum, bensin, sampai kebutuhan gak penting kayak rokok. Kalau dilakukan sekali setahun pas Lebaran, memang terasa ringan, anggap saja sedekah. Tapi kalau bertahun-tahun tanpa ada alasan yang pasti, sementara orang yang dibayari hidup foya-foya dengan uang kita. Ya, sebagai manusia tentu ada rasa jengkel.

Etapi kalau belum pernah merasakan semua itu, lalau menganggap segala yang 1-2 hari itu mewakili yang bertahun-tahun, yaaaaaa gimana ya? Kemudian sibuk berkomentar seolah-olah paling ahli dalam melakukan semuanya. Komentar saya ya itu, GET A LIFE! Karena kalau kita punya kehidupan, biasanya kita ga punya cukup waktu buat berkomentar atas hidup orang lain.

So, atas nama kesehatan mental kita semua.

Get a life and start living, stop commenting.

*meminjam istilah teman, ini tokoh dalam cerita wayang saya*

Sopan Santun – Subo Seto

Attitude is everything - Blog Fanny Herdina

Haiyaaa…. sopan santun selalu jadi isu di keluarga saya. Dan selalu ada dobel standar dalam penilaiannya. Kadang sopan berarti yang muda wajib mendatangi yang tua, tapi di lain kesempatan sopan artinya yang sempat yang mampir (Oh teriring doa untuk almarhum papah saya Tatok M. Heriyantono yang dengan bijak menganut paham kedua). Sering kali -khususnya ketika menyangkut saya- sopan artinya mengantar orang-orang tua ke tempat mereka mau pergi walaupun itu saya harus “menthang” dari tujuan saya, tapi bagi orang lain sopan itu cukup dengan mencarikan taksi di depan rumah atau bahkan cuma dengan meyakinkan bahwa akan ada taksi lewat di depan rumah. Ada kalanya sopan itu artinya kalau lagi di deket-deket ya mbok mampir, sementara bagi yang lain sopan itu artinya “biarpun deket-deket gw kan kerja jadi ya gak bisa mampir”.

Anyway saya paling bingung kalau ngomongin sopan santun. Jadi bahkan untuk memulai tulisan ini saja saya bingung harus mulai dari mana. Supaya mulainya pun sopan. Baiklah, saya mulai saja dari pendapat ahli ya.

—————————————————————-

Daniel Goleman menyatakan dalam salah satu buku bersejarah dalam psikologi populer, bagaimana faktor EQ berperan dalam kesuksesan seseorang. Faktor IQ yang dulunya menjadi raja diraja dalam menentukan kesuksesan, ternyata turun derajat sejak eranya David Goleman.

Yah anggap saja di dalam EQ termaktub pantang menyerah, mampu bersosialisasi, inisiatif, mampu bekerja dalam tim, senang dan bisa belajar dengan cepat. Dan lain sebagainya. Mari bicara soal sosialisasi saja, di mana sopan santun mungkin berpengaruh.

Bayangkan saja, Anda lagi mimpin meeting nih di kantor, tiba-tiba teman kuliah Anda yang baru join di perusahaan yang sama main nylonong aja masuk ruangan Anda dan menyapa Anda dengan,

“Hai Mbul. Gila, masih gembul aja lo. Makmur lo ya sekarang. Sukses.”

Sambil nepuk-nepuk punggung dan salaman sih memang. Di depan anak buah. Kira-kira apa ya perasaan Anda? Kalau Anda kemudian berkesempatan ditanya atasan Anda tentang teman Anda, Anda bakal jawab apa ya?

Ah itu sih contoh ekstrem. Baru cerita rekayasa. Belum sungguh-sungguh terjadi. Masak ada sih orang kayak gitu.

———————————————————-

Di sebuah gedung perkuliahan di kota besar, para mahasiswa yang datang 10 menit sebelum kuliah dimulai terbirit-birit menuju pintu lift. Sori, bagi yang mengalami kuliah naik tangga, wake up, it’s 2014 now. Tangga mempunyai istri now, namanya darurat. Ok? So, face it. Anak kuliah sekarang naiknya lift man. Pegangnya IPhone. Ngetiknya di IPad. Makannnya sih teteap Indomie. Eh, ini kenapa sampai sini sih? Balik!

Nah di depan lift ini, sudah menunguu lah seorang ibu yang menggendong anak bayi, membawa stroller dan 1 anak balita di sebelahnya. Ribet? Sudahlah. Demikian hidup emak-emak jaman sekarang. See the differences? Bawaan mahasiswa sekarang vs. bawaan emak-emak sekarang. Jelas saya bukan dua-duanya, karena saya adalah seorang….. ^sensor^

Pintu lift terbuka untuk pertama kalinya, setelah si Emak ini menunggu sekitar 10 menit. Oh sori, lift nya cuma 1, yang 1 rusak. Isinya penuh mahasiswa yang suaranya terdengar bahkan sebelum lift sampai di lantai itu. Tanpa ba bi bu. Pintu lift ditutup lagi dari dalam diiringi cekikikan para kaum belum-pernah-ngerjain-skripsi itu. Nunggu lagi deh, 10 menit kemudian muncul lah si mahasiswa yang terbirit-birit tadi, langsung tanpa permisi berdiri di depan pintu lift, bikin si emak terpaksa mundur dan menarik pelan anak balitanya. Saat lift terbuka, langsung 2 mahasiswa ini masuk seperti tanpa pernah tahu definisi antri.

Dasar Emak ga mau kalah, anak, bayi sama stroller tetep dijejelin ke dalam lift. Muat lah. Pintu lift tertutup. Tiba-tiba ada suara.

“hmm, lantai 3 dong”

*Emak clingak clinguk karena berdiri di dekat tombol lift* sambil tahu diri mencet angka 3 sesuai order si mahasiswa k*t*k*pr*t itu. #eh maaf sudah tidak sopan.

Cerita selanjutnya ga penting kan? Dan kabarnya mahasiswa adalah embrio cendekia bangsa. Calon penerus kebesaran atau kekerdilan bangsa.

————————————————————-

Saya lupa dengar cerita ini dari mana. Detailnya pun mungkin banyak yang salah. Tapi ambil saja seperlunya, lainnya kembalikan lagi atau buang ke sampah.

Alkisah seorang pengusaha yang sudah sangat sukses tinggal di sebuah apartemen. Setiap pagi si Bapak ini selalu turun dari apartemennya, membeli koran dari penjual koran kaki lima di depan lobi apartemennya. Setiap pagi saat beli koran, si Bapak selalu menyapa penjual korannya dengan ramah. Selamat pagi. Apa kabar. Dan segala sapaan sopan lainnya. Sementara si Penjual koran menjawabnya dengan asal-asalan bahkan sering kali dengan gerutuan dan suara yang kasar. Kejadian ini berlangsung tiap hari.

Dan seseorang di tempat jual koran itu yang punya kebiasaan membeli koran juga di tempat yang sama terheran-heran. Kenapa si Bapak pengusaha sukses ini tetap “ngotot” menyapa pak Penjual koran dengan sapaan yang hangat dan bersahabat, padahal sudah pasti jawabannya gerutuan dan keluhan? Keheranannya tidak tertahan sampai akhirnya dia bertanya pada si Bapak. Dan si Bapak pengusaha sukses itu menjawab.

“Perilaku saya yang membawa saya ke kesuksesan seperti yang saya miliki saat ini. Perilaku dia yang membawa dia ke posisi dia saat ini.”

———————————————————

Dan saya masih bingung bagaimana cara sopan memulai tulisan ini. Fiuh. Please help.

Tentang Ronde

Wedang Ronde SAlatiga - Blog Fanny Herdina

Ini dia penampakan ronde Salatiga yang super ngetop itu

Duluuu, saat saya masih jauh lebih mudah dari sekarang, saya paling heran kalau papah mamah saya bersama teman-temannya yang datang berkunjung memanggil tukang ronde yang lewat depan rumah. Bagi saya itu makanan atau minuman aja gak jelas. Rasanya pedes tapi bukan cabe. Aneh lah. Minuman khas orang tua. #uhuk #batuk

Kemudian beranjak remaja dan mulai ngekos di Yogya, kadang kala badan rasanya remek kalau habis berkegiatan di alam. Pengen minum sesuatu yang enak di badan. Sekali waktu coba bubuk jahe wangi instan, minumnya pake air es dan es batu. Ternyata rasanya seru. Semriwing gitu. Ga bikin keringetan, seger di lidah tapi hangat di badan. Lumayan sering akhrirnya saya minum es jahe itu.

Sekarang ini, tukang ronde yang suka lewat depan rumah saya, malah jadi langganan saya. Kadang saya bahkan berharap dia lewat, walaupun ditunggu tak kunjung datang. Rasanya badan lebih segar dan hangat setiap kali habis minum ronde, yang buat saya isinya cuma kacang dan air jahe hangat. Soal rasa, ronde sudah jadi favorit saya, beda dengan referensi saya duluuuuu waktu masih lebih muda. Am I getting old? Kok gak terasa ya. #uhuk #batuklagi

Pernah juga suatu ketika, sedang hamil Puti, saya dan keluarga jalan-jalan ke Yogya. Hamil Puti sungguhlah menguras tenaga. SAmpai di Vila Kandang Sapi milik seorang sahabat tersayang, saya terserang demam yang luar biasa. Kondisi hamil, saya berusaha keras ga minum obat. Dikeroki sama budhe yang mengasuh anak teman saya. Mendingan, tapi belum total. DIpijetin. DIbikinin teh panas. Tetep saya nyidam ronde. Malam-malam saya diajak ke angkringan yang saya gak tahu lokasinya di mana. Sepanjang perjalanan, saya cuma tidur sambil sayup-sayup dengar suami dan sahabatnya ngobrol. SAmpe di angkringan, saya langsung dipesenin minuman ini. Uenak pol. Isinya jahe, lemongrass sama apaaa gitu. Ampuuuun itu di lidah sama di badan uenak banget rasanya. Mirip ronde dengan rasa yang lebih kaya. Layak dicoba.

Kemudian saya jadi terpikir malam ini. Pendapat saya soal ronde mengalami perubahan nampaknya. Drastis lo. Dari anti jadi cinta. Dari nolak jadi ngarep. Walah. Kenapa ini kok bisa terjadi. Again. Am I getting old? Selain tulang yang gampang capek dan tumpukan lemak di perut yang tak mau pergi, saya kok merasa tetap orang yang sama dengan yang anti sama ronde beberapa waktu lalu ya. Walau ternyata harus diakui, saya berubah. Perubahannya pelan dan tidak terasa. Tahu-tahu, di sinilah saya sekarang, ngefans sama ronde, yang dulu kepikir mau nyium baunya aja nggak.

Kalau selera minuman saya -yes, ronde itu minuman, now I know- saja sudah berubah sedrastis itu, apakah perilaku dan amalan saya juga sudah berubah ya? Aaah, sekarang baru saya merasa tua. At least lebih tua dari si saya yang gak suka ronde itu. Ya Allah, bantu saya ya. Kulit mulai keriput, rambut putih mulai muncul, bahkan minuman udah jadi ronde, kok amal begini-begini aja. Bantu saya yaaa……

Oiya, soal ronde saya punya cerita lucu. Waktu SMA, saya dan sahabat ikut pelatihan di kota Salatiga yang sejuk. Selesai pelatihan, kami ngobrol dengan instruktur kami yang mahasiswa UKSW.

“Di sini malem-malem gini, enaknya ngapain mbak? Ada apa aja di sini?”

“Hmmm, ada konde”

“Apa? Konde?”

“Bukan. Konde. Wedang konde. Di deretan depan toko roti Tegal”

“Wedang konde? Apa isinya tuh mbak?”

“Hmmm, #salting. Konde. Wedang konde.”

Tiba-tiba baru nyadar, saya dan teman saya teriak hampir bersamaan. “Ooooo, wedang ronde. Iya. iya” #ngacir. Kami berdua langsung masuk kamar sambil nahan tawa. Kami lupa kalau si mbak ngomongnya memang sengau, jadi ngomong “ronde” terdengar “konde” di telinga kami. Kelakuan anak SMA memang adaaaaa aja.

Ah, sudahlah. Cukup soal ronde. Malam ini saya berhasil mencegat si abang penjual ronde. Menjelang tidur ini, ijinkan saya berharap, jika selera saya sudah berubah, semoga akhlak dan amalan saya juga berubah ke arah yang baik. Aamiin.

Gerobak Ronde Salatiga - Blog Fanny Herdina

Ini gerobak rondenya. Hampir semua penjual ronde di Saltiga model gerobaknya kayak gini.

 

Toko Roti Tegal - Blog Fanny Herdina

Ini Toko Roti Tegal di Salatiga. Yak. Nama tokonya Tegal. Roti kejunya enaaak banget. Kamar mandinya bersih. Kalau-kalau nyasar di Salatiga, modal beli roti keju, mampirlah ke kamar mandiinya buat pipis. Hihihi.