My Shoes vs. Gen Y Shoes

Dunia pewayangan gegeeerrrr…….

Pregnancy Empathy – Blog Fanny Herdina

*mari kita tarik napas sebelum mulai menulis*

Sudah sejak lama saya ingin menulis dengan tema ini, tapi lagi lagi saya kesulitan menemukan kata sifat yang tepat untuk jadi ide utamanya. Nah, gegernya dunia pewayangan beberapa hari belakangan membantu saya menemukan kata sifatnya.

Sebut saja Bunga -nama samaran-red-. Jiaaah, dia juga ga keberatan kok kayaknya jadi topik pembicaraan di sosial media, jadi ya sudahlah. Kegegeran dimulai dari posting-an di bawah ini. Buat yang ngerasa tua, please tarik napas dulu sebelum baca, ok? Buat yang muda, juga tarik napas, karena dalam beberapa detik ke depan, Anda akan merasakan perasaan maluuuuu sangat berada pada kohort yang sama dengan si Bunga ini,

ABG Edan - Blog Fanny Herdina

Begitulah mbak cantik ini berkicau di halaman personalnya. Gak bisa terlalu disalahkan memang, karena itu halaman personalnya. Semacam teras rumahnya lah. Tapi doski *biar sekalian ketahuan umur gw berapa* tereak tereak di teras bok, jadi ya wajar juga sih ya kalau yang lewat ngerasa terganggu dan mulai ngrasani sama orang lain. *enough for Bunga*

Sekarang giliran saya. Saya juga punya sederet komplen soal anak-anak se-kohort mbak-teteh-uni-apa pun lah sebutannya *orang-orang sekohort saya gak biasa manggil cuman nama say, maaf*.

Satu nih. Tetangga saya punya motor nih, Ganti-ganti motornya. Dulu vespa. Sekarang motor cowok gitu deh *jiaaaah motor dikasih jenis kelamin*. Nah biarpun ganti motor, tapi rupanya soal selera memang sulit berubah cuy. Selera anak tetangga saya ini hmmm… anu…. hmmm…. suara yang keras-lah, sebut saja begitu. Vespa dia, waktu dinyalain dulu, bikin ayah saya bangun dari tidurnya terus batuk-batuk, menjelang beliau meninggal awal tahun 2012. Ah, saya sibuk berduka, jadi saya cuekin. Walaupun saat ayah saya meninggal pun, dia ga muncul di rumah saya. Tetangga saya man, tetangga 1 tembok. Nah motor barunya ini kalau dinyalain, berhasil dengan sukses membangunkan Puti dari tidur siangnya. plus juga membangunkan bibi-bibinya dan utinya sekaligus. Waktu saya ingetin, dia marah-marah dari balik pintu rumahnya dan mengusir ibunya suruh pergi. Fiuuh.

Kedua. Pernah ngantri di McD yang buka 24 jam gak, di malam Minggu? Yes. Asep rokok. DSLR nganggur di meja atau dipakai dengan mode AUTOMATIC. Obrolan dengan suara keras diiringi kata “anj*ng” “bangs*t” “mony*t”. Itu sesudah mereka ngantri di depan kasir selama minimal 45 menit, karena dilema besar menghantui mereka, yaitu mau pilih french fries aja atau ice coffee aja. Juga sesudah mereka membayar ke mas/mbak kasir tanpa mengucapkan terima kasih, tentunya. Ganggu gak?

Ketiga ya, terakhir ah, males bahasnya walaupun bisa sampai 45 sih nomernya. Uhuk. Ketularan lebay gw. Cara mereka nongkrong seenak udelnya di depan Her* atau Indomar*t yang udah jelas-jelas gak nyediain kursi, setelah mereka beli sebotol air mineral, itu ganggu banget. Ga kinormat banget sama mbak/ mas cleaning service yang mau bersihin lantai. Kalau ditegur satpam, terus sok ngomong “gak asik gak asik”. Lah, memang situ asik?

Anyway….. *tarik napas lagi dah* Kemarin-kemarin saya anggap perilaku mereka sebagi “ya sudahlah”. Walaupun gondok dan selalu dilanjut dengan menggandeng Genta di depan mereka sambil bilang,

“Genta, kayak begitu itu tidak baik ya mas, jangan ditiru. Itu namanya tidak sopan. Kalau habis bayar, bilang terima kasih. Bla bla bla”

Tapi ketika gegernya sampai membawa-bawa orang hamil dianggap egois. Rasanya logika saya gak mampu lagi mengikuti logika mereka. Berangkat subuh? saya pernah mbak. Tulang nggeser? Udah pernah jatuh terduduk pas naik gunung? Kalau belum ,gimana kalau rasain dulu? *jiaaah, gw ketularan dia* *please stop me*

Intinya kegegeran ini membuat saya ngobrol sama suami. Hasil obrolan kami yang sangat sepihak ini -cuma pihak orang hampir 40an saja maksudnya- menyimpulkan segala kenyamanan hidup ternyata berefek negatif bagi generation Y ini. Tentunya tidak semua, tetap ada beberapa yang menunjukkan kemampuan empati yang luar biasa.

Semacam gini deh. Kalau Anda hidup enak terus dan tidak dilatih untuk bersyukur, dari mana Anda belajar menghargai kerja keras orang lain? Dari mana Anda belajar bahwa ada orang yang hidupnya mungkin tak seberuntung Anda? Dari mana Anda belajar bahwa untuk sebagian orang, hamil dan berhenti bekerja itu bukan pilihan? Dari mana Anda belajar bahwa beberapa orang itu bahkan belum pernah lihat yang namanya I-Phone? Jangankan punya atau beli, megang tu belum pernah, lihat gambarnya aja mungkin di koran? Tentunya sulit ya.

Di salah satu web yang menceritakan ciri Generation Y, nomor satu cirinya adalah, saya kutipkan,

“Tidak sabaran, tak mau rugi, banyak menuntut”

Again, tentunya tidak semua seperti itu. Tapi kegegeran dunia pewayangan di atas mungkin mengacu pada ciri ini yang dominan pada si Bunga dan beberapa komentator di bawahnya. Tidak sabar dan banyak menuntut nampaknya adalah hasil dari perilaku self-centered yang berlebihan. Sehingga tidak membuka ruang bagi mereka untuk berempati, untuk melihat melalui kacamata orang lain. Atau berjalan memakai sepatu orang lain. Dalam rangka apa mereka mau pakai sepatu orang lain wong sepatu mereka udah enak banget dipakenya?

Kehilangan empati memang tugas berat untuk dibetulkan jika terjadi pada usia Bunga. Kecuali sesuatu yang intens terjadi padanya dan mampu mengubah seluruh paradigmanya plus cara merespon dunia luar. Tanggung jawab siapa? Gak usaha gaya deh menuduh dunia pendidikan bertanggung jawab atas ini, ya jelas sekolahan bertanggung-jawab. Orang tua juga bertanggung jawab. Tapi itu tanggung jawab yang private yang gak manis disobek-sobek di muka umum seperti di blog saya ini.

Gimana dengan tanggung jawab kita sebagai masyarakat? Apa yang sudah kita lakukan untuk bersama-sama memetik kekuatan Generation Y dan memotong ranting-ranting busuk mereka? Apakah kita sudah….

  • mengingatkan mereka untuk membuang sampah di tempatnya karena yang kebanjiran bisa jadi bukan rumah mereka, tapi mereka tetap bisa ikut berkontribusi mencegahnya
  • mengingatkan mereka untuk tidak merokok di sembarang tempat, walaupun tempat umum dan ada tanda boleh merokok, terutama kalau berdekatan dengan orang hamil, orang tua, anak-anak atau orang-orang yang memberi kode dengan manis melalui batuknya
  • mengingatkan mereka bahwa di luar sana ada banyak orang yang butuh kerjaan, rela bekerja apa pun demi memberi makan anak istrinya sehingga tidak etis bagi mereka menolak begitu saja pekerjaan karena alasan yang tidak esensial
  • mengingatkan mereka bahwa antri itu tanda orang berpendidikan bukan tanda pecundang atau orang yang takut sama mereka
  • mengingatkan bahwa sebaiknya hobi itu bukan yang mengganggu orang lain, punya motor berisik misalnya, piara anjing tapi gak pernah dikasih makan misalnya
  • mengingatkan bahwa terkadang senyum dan menundukkan kepala sedikit ketika bertemu orang adalah tanpa sopan santun yang umum, bahkan di dunia internasional yang biasanya mereka bangga-banggakan
  • mengingatkan bahwa di luar negeri tren memanggil orang itu dengan “dear” “honey” bukan monyet, anjing atau kutil, masak gaya baju ikut luar negeri kelakukan jaman jahiliyah
  • mengingatkan bahwa merawat dan menjaga kerapian rambut itu penting, tapi melempar poni ke kiri kemudian menyibakkannya kembali ke kanan pakai tangan setiap 2 menit sekali itu mengganggu, bahkan menunjukkan rendahnya tingkat PD mereka
  • mengingatkan bahwa berbaju rapi dan bersih saat keluar rumah itu baik, tapi bukan berarti sibuk ngaca setiap kali ada cermin atau selfie-an di sembarang tempat

Yess. Saya yakin Anda bisa menambahkan sendiri daftarnya. Silakan tambahkan di komen ya, sekaligus tinggalkan link blog Anda, saya saya tambahkan ke dalam tulisan ini bersama link-nya. Itung-itung selain komplen, kita sedikiiiiiit berkontribusi menyampaikan ini ke dunia *gak janji juga bakal sampai ke mereka sih* tentang hal-hal yang mungkin bisa kita lakukan bagi generasi yang tidak mau merepotkan orang lain itu.

Pssst, kalau baju sepatu tas belum bisa bikin sendiri benernya itu juga masih merepotkan sih bok. Apalagi masih kerja sama orang, itu juga ngerepotin. Belum lagi kalau mulutnya kayak gitu, itu juga merepotkan sih. Jadi ya, saya simpulkan doa Bunga belum diijabah nampaknya. Dia masih merepotkan banyak orang. Yang bantuin ibunya ngelairin, juga repot. DOkter yang betulin tulangnya yang nggeser juga repot. *priiiit Fan, priiiit, enough*

Sebagai penutup, sebelum acara ramah tamah dimulai dan lagu kemesraan dikumandangkan *hanya yang bukan Gen Y yang paham ini nampaknya*, gambar di bawah mungkin bisa jadi pengingat yang manis. Selamat malam teman-teman. Selamat malam Bunga, semoga tempat tidur, kasur dan sprei tempatmu tidur malam ini buatanmu sendiri, sehingga tidak merepotkan orang lain. Banyak cinta kukirim untukmu, karena …… *mari katakan ini bersama-sama dear readers* 

hanya orang kekurangan kehangatanlah yang mampu mengeluarkan kata-kata sedingin itu

*meminjam ungkapan kakak kelas saya di salah satu status facebook-nya*. Muaaaah *cium basah*

Berikan kursi - Blog Fanny Herdina

Barney Class : #1

Barney Growing - Blog Fanny Herdina

Groooowing we do it everyday,

we’re growing when we’re sleeping and even when we play

And as we grow little older we can do more things,

because we’re growing and so are you

each day we grow little taller, little bigger, not smaller

and we grow a little friendlier too

We try to be little nicer as we grow each day,

because we’re growing and so are you

Bagi para orang tua yang menghabiskan waktu menemani anaknya nonton TV biasanya paham ini lagu siapa. Big purple dinosaur? Yup. Barney. Yeeey, helloooo Barney.

Sejak Genta kecil (sekarang 4th umurnya) saya selalu menemani Genta nonton TV. Salah satu tontonan awalnya adalah Barney. Sekarang Puti (1th) mulai nonton Barney juga. Entah ya. Setiap episode-nya.. saya merasa Barney berhasil menyampaikan value yang penting bagi anak-anak. Jadi so far, Barney masih tontonan wajib buat anak-anak saya.

Lagu di atas misalnya. Selain bicara soal “growing”, saya senang Barney menyelipkan “a little nicer” dalam syair lagunya.

Aaaah, sebut saja saya kuno atau kurang modern, atau sok tua. Tapi sungguh, sopan santun di tahun 2014 ini, di kota Jakarta yang sering saya datangi ini (saya tinggal di Bintaro, Tangerang Selatan), rasanya suliiit sekali ditemukan. Jangankan dari para remaja dan anak-anak yang jelas pre-frontal korteks-nya belum optimal berkembang. Bahkan dari para orang tuanya saja kadang harus bermodal keberuntungan untuk bertemu orang dengan sopan santun sekelas Indonesia (yang konon kabarnya orangnya ramah tamah dan sopan santun).

Tapi ya begitulah kata Barney,

“we try to be a little nicer as we grow each day because we’re growing…”

Jadi bolehkah saya katakan, orang-orang yang gagal menjadi “nicer” tiap harinya, sesungguhnya mereka sedang melawan hukum alam dengan menolak tumbuh?

Fun Being A Mom

Saya lupa saya dapat gambar di atas dari mana. Mungkin kiriman dari grup WA, atau juga mungkin salah satu page parenting yang saya follow, tapi jelas itu bukan buatan saya sendiri. Kenapa?

Pertama, dapur saya tidak nampak sedikit pun seperti di gambar. Jadi itu pasti bukan di rumah saya.

Kedua, anak saya dua-duanya berambut hitam dan ikal, bahkan cenderung keriting kriwil. Jadi 2 anak di bawah itu bukan anak saya.

Ketiga, saya sudah cek berkali-kali di lemari saya, jelas pakaian yang dipakai sang ibu, bukan termasuk wardrobe saya. Jadi jelas itu foto bukan bikinan saya sendiri.

Tapi saya sungguh merasa sangat relate dengan gambar di atas. Sungguh. Saya memahami perasaan sang ibu, sampai-sampai saya tidak sanggup menahan tawa saya setiap kali melihat gambar di atas. Bukan tawa menghina. Lebih tawa yang “you are not alone”. Tawa yang penuh kelegaan.

Huahahaha. Kondisi rumah saya di akhir hari, mirip sekali gambar di atas. Bentuk saya saat suami pulang kantor, juga mirip, dengan rambut berantakan dan kelek bau asem, serta energi bar yang sudah berwarna merah. Dan 2 anak saya di akhir hari, juga mirip 2 anak di atas, tertawa riang, di antara mainannya yang berantakan di lantai, dengan energi yang masih full seperti baru bangun tidur.

Aha. Bukankah memang itu yang penting untuk diperhatikan? 2 anak yang tetap riang di akhir hari. Biarpun rumah kecil, berantakan kayak kapal pecah. Kelek ibunya bau asem. Tapi tawa mereka tetap mengembang.  Apakah mungkin karena mereka tidak memperhatikan rumah yang berantakan dan kelek bau asem? Apakah itu mungkin karena mereka merasakan cinta? Apakah mungkin, pada akhirnya, saya bisa bilang, I have done a great job today, that contribute to that wonderful smiles. Mungkinkah?

Please say yes. Please. Don’t make me beg.

Weekly Photo Challenge : Family

Family Fun - Cerita Fanny

It was actually a lazy saturday afternoon, when we all woke up late, took a bath late and ate late. It was almost midday and both parents haven’t eat anything for breakfast. We were both starving. So on our way taking Genta to his martial art, we stopped in front of Masjid near our house to buy siomay from a street-food seller.

Hungry and kids just won’t stop singing and bouncing, we decided to capture the moment. The special lazy starving Saturday afternoon.

People say that when your life-light begins to dim, it’s the most important thing in life that would come flashing in your mind. I don’t know for I am not dimming yet (I hope). But I know for sure that when in trouble I think of these people. When I lay down and try to close my eyes, I wish the very best for all of them. I even think of them when I’m alone in the bathroom. So I guess it’s right that people say, you finally have only your family.

ODOJ : Mission Impossible (For Me)

ODOJ - Cerita Fanny

Hi again. Ijinkan kali ini saya bercerita tentang perjalanan saya belajar baca Quran.

Biarpun beragama Islam sejak lahir, saya baru bisa lancar baca Al-Quran tahun 2011-2012 an. Itu pun karena kebingungan. 2012 saya dan suami berencana berangkat umroh. Membayangkan saya harus membawa Al-Quran super besar yang ada tulisan latin dan bahasa Indonesianya selama di sana, membuat saya terbiritbirit belajar baca Quran. Sampai berangkat umroh tahun 2012, saya gagal meng-khatamkan baca Quran. Baru di Ramadhan 2013 saya berhasil khatam baca Al-Quran pertama kali. Yak. Pertama kali dalam hidup saya.

Rasanya superb sekali. Surreal. Buku setebal itu dengan tulisan se-unfamiliar itu, akhirnya bisa saya selesaikan. Sejak saya mulai belajar baca Quran, dalam hati saya berkata,

“Sekurang-kurangnya saya pengen khatam 1x dalam hidup saya.”

Mengingat segala kondisi saya. Jadi waktu akhirnya berhasil khatam 1x, rasanya kayak top of the world. Mimpi di siang bolong.

Buat Anda yang belajar baca Quran sejak kecil, Anda mungkin sulit memahami rasanya. Belajar baca Quran itu saya lakukan kadang sambil mangku anak, nyusuin Puti, sampai kadang kepala saya pusing saking tegang karena ga bisa-bisa. Jadi saat akhirnya berhasil menyelesaikan satu Quran, wuuuuaaaah, sungguh pencapaian yang luar biasa bagi saya yang hampir 40 tahun ini. (Perhatikan kata “hampir” nya ya, bukan “40” nya)

Saya bangga. Juga tidak bangga. Senang tapi juga malu. Pengen teriak pengumuman ke seluruh dunia tapi juga rasanya pengen ngumpet saking menyesalnya. But anyway, saya berhasil belajar membaca Quran di usia saya yang hampir 40 tahun dan khatam 1x di tahun 2013. Semoga tidak ada orang di dunia ini yang merasa berhak mengecilkan pencapaian saya ini.

Kemudian di Desember 2013 seorang kenalan mengajak saya ikut di komunitas One Day One Juz. Komentar pertama saya adalah, whaaaaaattttt???? Kami sempat berbalas-balasan beberapa kali sms. Saya sibuk menerangkan, saya ini baru bisa baca mbak, saya ini bacanya masih pelan, nanti kalau gak berhasil gimana, malah ngerepotin orang, jadi kesannya gak committed, padahal mah memang ga mampu. Sementara sms dari sisi sebelah sana isinya sekitar, yang penting diusahain dulu bu, pasti nanti dibantu sama Allah, temen-temen satu grup juga pasti bantu, coba aja dulu, kalau memang gagal ya gak papa.

Ah, saya sudah putuskan tahun 2013 saya akan melakukan hal yang berbeda dalam hidup saya, yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Dengan niat makin mendekatkan Quran dalam keseharian dan bismillah, saya setuju bergabung. Deg-degan luar biasa. Grupnya isinya perempuan-perempuan yang entah sudah berapa kali khatam. Pada jago pakai bahasa Arab dalam percakapan sehari-hari, sementara doa makan saja, saya baru tahu artinya dari Genta. (Thanks to Miss Atie dan Miss Alif, gurunya Genta di Budi Mulia Dua Bintaro)

Begitu on grup-nya, eeeeh tamu bulanan saya datang, kebagian deh baca terjemahannya. Bisa? Ya masih bisalah kalau cuma baca terjemahan. Saya biasa baca buku tulisan Latin, jadi lancar. Selameeet selamet, dalam hati saya. Belum selesai tamu bulanan, Genta libur sekolah. Jadwal harian mulai kacau. Baca terjemahan masih kepegang. DI tengah-tengah libur, tamu bulanan sudah pamit, Puti dan suami sakit. Huaaa. Sungguh saya sudah menghubungi penanggung jawab grup nya untuk mengundurkann diri. Hihihihi, sebut saja saya cemen, gpp. Hiks. Huaaa. Tapi jangan dong please?

Tapi jawaban dari mbak Admin Grup ODOJ 774, Bunda Choir, bener-bener ampuh.

Jangan off mbak. Kalau lagi pada sakit dan gak kepegang bacaannya, gpp, juz nya dilelang dulu, tapi jangan off ya.

Wuah. Rasanya malu dan heran. Malu karena saya mudah menyerah. Padahal dalam banyak hal lain, sungguh, saya bukan orang yang mudah menyerah. Saya keras kepala, man. Saya sungguh bertekad baja. Juga heran, kenapa sih saya sudah bilang gak mampu, ga bisa, ga mungkin, enggak lah pokoknya sama 2 orang dan 2-2 nya dengan indahnya menolak sejuta daftar alasan saya.

Bermodal malu dan tekad yang menguat, awal Januari 2014, saat Genta mulai sekolah lagi. Saya menjawab sms mbak Admin.

Ok mbak. Insyaa allah hari ini saya mulai on.

Dalam hati, mulai on piyeeeee? Tapi tetep dijalanin. Kan udah commit. Urusan gagal entar kita omongin. Yang penting, perang dulu, kalah belakangan. Begini kurang lebih  urutan saya dalam sehari kalau baca Quran. Siapa tahu ada yang heran atau mau meniru.

Pagi, Genta sekolah, saya nyusuin Puti sambil nunggu Puti tidur. Begitu dia tidur, saya langsung baca Quran, sebisanya, sampai Puti bangun. Kemudian aktivitas rumah tangga sudah menunggu.

Siang, Genta pulang sekolah, nyuapin Puti, kemudian Genta main sendiri, Puti duduk di kursinya, saya sholat Dhuhur sambil membaca situasi. Kalau memungkinkan, selesai sholat saya baca sampai Puti atau Genta sudah tidak sabar meminta perhatian saya.

Saat mereka tidur siang, saya baca lagi. Biasanya jam segini saya sudah selesai 1 juz. Ngeri kan? Ternyata saya yang bacanya kayak kurakura aja bisa selesai lo 1 juz sebelum Ashar.

Tapi dalam kondisi tertentu (yang tentunya ini lebih sering sih), sholat Ashar, Maghrib dan Isha’, saya masih membaca juga sisa-sisa lembar yang belum terpegang. Kadang bahkan saya minta perpanjangan waktu, menunggu anak-anak tidur, kemudian mulai baca Quran jam 10-11 malam. Sering kali saya orang terakhir yang menyetorkan bacaannya.

Malu? Iya. Tapi saya committed. Saya tidak menyerah.

Sampai sekarang saya masih bergabung di ODOJ Grup 774. Keponthalponthal? Iya. Belum bisa ambil lelangan juz orang lain. Tapi saya sungguhsungguhsungguh berusaha. Sampai saat ini saya hampir selalu berhasil menyelesaikan bacaan 1 juz dalam 1 hari. Tapi saya juga kadang mendapat bantuan dari teman-teman untuk menyelesaikan lembar-lembar terakhir yang belum saya pegang, karena waktu yang sudah terlalu mepet.

Apakah saya menyerah? Nope. Saya masih berperang. Doakan saya ya.

Tapi btw, bahkan dalam bacaan saya yang entah segronjalan apa. Saya menemukan ketenangan, seperti yang dijanjikanNya pada hambaNya yang membaca Quran. Dan ketenangan yang seperti ini sungguh addicted. Jadi saya kecanduan. Semoga Allah ridha dengan usaha dan kecanduan saya yang satu ini.

*hari ini, di rumah mertua saya yang beragama Katolik, di pojok ruangan, saya membaca jatah juz saya dengan suara lirih.

Repost : Belajar Islam (1)

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Dalam sebuah pengajian, dibahas soal kelompok-kelompok muslim yang hobinya “meluruskan” teman-temannya. Kelompok-kelompok ini tersebar berbendera banyak nama di Jakarta. Pilihan kata “meluruskan” memang terdengar kurang enak di hati, terutama bagi yang “diluruskan“.

Namun surat 64:16 (At-Taghābun) di atas nampaknya memang menunjukkan bahwa Allah Maha Mengetahui ciptaan-Nya. Sebagian orang sanggup puasa Daud sepanjang tahun, karena diberi nikmat kesehatan perut yang luar biasa. Sementara sebagian lain memperoleh nikmat harta, sehingga mampu bersedekah miliaran rupiah. Yang lain lagi mendapat nikmat kekuatan hati untuk bangun malam dan melaksanakan sholat malam.

Bahkan Abu Bakar dan Umar, dua sahabat nabi memilih waktu yang berbeda untuk melakukan sholat witir. Semuanya dengan pertimbangan kesanggupannya masing-masing. Kalau Rasulullah saw saja membiarkan sahabat-sahabatnya melakukan ibadah sesuai kesanggupannya, lalu apakah manusia sekarang berhak memaksakan pendapatnya pada orang lain yang dianggapnya masih “bengkok“?

*masih belajar

Foto Juara

Merah Putih

Baiklah, versi kampung memang kompetisinya. Tapi ini pertama kalinya saya ikut dan langsung juara ke-2, jadi boleh ya senang. Hihihi. Lomba foto bertema Merah Putih di kompleks saya.

Awalnya memang gak terlalu niat ikut lomba. Cuma senang aja foto-foto. Bendera ini posisinya persis di sebelah rumah, bersandar di pohon yang sering buat saya berteduh kalau lagi jemur Puti. Jadi sambil jemur Puti, saya jepret benderanya, iseng saya masukkan ke Facebook. Eh, panitianya ngomporin buat ikut lomba.

Tapi tapi, menurut Anda, apakah salah Merah Putih lelah menyangga segala tingkah dan cerita bangsa kita ini?