Banyak Bisnis Gagal di Tahun Pertama

Tahukah Anda, kalau Anda ketik “bisnis di tahun pertama” di Google maka kebanyakan artikel yang muncul adalah tentang kegagalan. Wow. Sama sekali tidak mendukung entrepreneurship ya? Harusnya kan yang muncul artikel tentang, cara-cara memulai, dukungan pemerintah, kebutuhannya, dll, tapi yang muncul justru tentang kegagalan. Ni kalau gak percaya.

Setelah kegagalan saya di bisnis pendidikan tahun 2012 lalu, seorang teman juga mengirim pesan melalui WA saya yang isinya kurang lebih begini.

“Tenang wae. Rugi itu biasa. Bangkrut itu biasa. Aku dulu juga gitu. 90% bisnis gagal di tahun pertama”

Hualaaah. Satu sisi melegakan. Di sisi lain, saya bertanya-tanya, haruskah saya menyerah pada fakta bahwa saya termasuk kaum 90%? Huaaaa, hiks, hiks. Apakah wirausaha bukan jalan saya? Apa yang sebaiknya saya lakukan? Hah, otak saya langsung dipenuhi banyak pertanyaan.

Anyway, soal gagal di tahun pertama, ada banyak artikel terkait tentang mengapa bisa begitu dan bagaimana cara mengatasi atau menghindarinya, kalau mungkin. Tapi saya bukan ingin menambah deret artikel tentang mengapa dan bagaimana. Saya mau bercerita tentang rasa. Rasa gagal.

Apakah Anda memahami bahwa Anda tidak pernah sepenuhnya siap gagal, sampai akhirnya Anda sungguh gagal dalam satu lingkup hidup Anda. Ah, saya tidak sedang membahas frase klise “kegagalan adalah sukses yang tertunda” atau “kita tidak akan gagal sampai kita berhenti berusaha”. Ayolah, kita semua sudah dewasa. Sedikit kegagalan bukan masalah besar bagi siapa pun dengan self esteem yang baik. Sedikit kegagalan + banyak denial, itulah yang menimbulkan masalah.

Seorang teman memberi komentar di Facebook suatu hari saat saya share status tentang kegagalan.

“Tenang mbak. Kegagalan itu….. bukanlah kesuksesan”

Nah, itu yang tepat. Ini baru teman sejati menurut saya. Langsung menampar ke intinya. Mengguncang ke dalam ulu hati. Hihihihi.

Saya butuh waktu kurang lebih 2 tahun untuk recover dari kegagalan saya mengelola bisnis pendidikan saya. DIgabung dengan meninggalnya papah dan perlakukan semena-mena orang lain pada mamah saya, 2 tahun rasanya bukan waktu yang lama. Selama 2 tahun, saya mandeg menulis. Bukan karena tidak mau, tapi tidak bisa. Ada malam-malam di mana saya membuka laptop, mengklik tombol “Add New” di wordpress, tapi kemudian timbol-tombol lain di keyboard seperti menghinda jari-jari saya yang diam lumpuh tak bergerak.

Kurang lebih 2 tahun saya tidak melakukan kegiatan bisnis apa pun. Sibuk bertanya, apakah keputusan saya tepat untuk menghentikan bisnis saya itu, yang cukup menguntungkan secara finansial, tapi membuat saya tidak bisa tidur karena bertentangan dengan nilai dasar yang saya miliki. Bertanya-tanya apakah kerugian ratusan juta ini layak menjadi akibat kekeras-kepalaan saya mempertahankan value yang saya yakini betul kebenarannya?

2 tahun saya gigit jari setiap melihat teman menerbitkan buku keduanya. Membuka Indomaret ke-4 nya. Membuka rumah kos-kosan barunya. Membeli lempengan emas ke sekian. Membeli rumah baru. Berlibur jalan-jalan ke luar negeri bersama keluarganya. Menggigit jari dan tidak mampu menyingkirkan awan hitam di kepala saya, tentang kegagalan ini.

2 tahun merasa sendiri dalam kegagalan. Bukan karena tidak ada support, tapi karena merasa sendiri. Merasa malu karena gagal, padahal seharusnya saya bangga memenangkan value hidup saya atas nilai ratusan juta rupiah. Tidak mampu membicarakannya secara publik, tanpa marah dan jengkel pada individu yang menjadi tumpuan saya mengambil keputusan itu.

Buuuut……

2 tahun sudah berlalu my friends, awan gelap pun ada masanya bergerak. Saya di sini sekarang. Berdiri tegak, siap memulai babak baru. Perjuangan belum berakhir, begitu pula kesenangan baru dimulai. Jika dia-dia-dia yang di sana berpikir semua yang dilakukannya membuat saya menderita, saya menolak menjadi objek penderita. Saya pelaku hidup saya sendiri. You have seen me fall and you have seen me stand tall, again, and again, this time, even taller.

Tapi, janganlah ucapkan kata-kata klise soal gagal pada teman yang sedang mengalaminya, friend. Jujurlah seperti teman saya di atas jujur pada saya. Karena saat awan hitam menggantung, bukan harapan tentang sinar matahari yang dibutuhkan. Tapi pelukan hangat, pinjaman payung dan seorang teman yang tetap bertahan, itulah yang membuat saya tetap bertahan.

Ini saya attach beberapa artikel tentang kegagalan bisnis di tahun pertama. Jangan menyerah guys. Your dreams are bigger than this, right?

Foto Suami Saya

Suami saya suka sekali memotret. Tapi dia tidak punya blog dan malas ikut kompetisi. Hiks. Padahal menurut saya foto-fotonya super bagusnya. Jadi mulai sekarang, saya putuskan untuk upload beberapa fotonya di blog ini. You tell me, how great this is.

Yang di atas itu foto Genta, anak pertama saya. Foto ini diambil di Gunung Geulis Bogor, akhir tahun 2013.

Nah yang ini foto Puti, anak kedua saya. Hmm. Seingat saya ini foto juga akhir 2013, di Jungleland, Sentul.

Anak-anak selalu jadi objek foto yang menarik ya. Ekspresinya. Binar matanya. Kepolosannya. Ah, seandainya hidup sesederhana dunia di mata mereka.

Belajar Ikhlas di Pesawat

Setiap kali pergi naik pesawat, aku tertarik untuk mengamati wajah-wajah sesama penumpang. Dalam hatiku, aku bertanya-tanya, “Hebat betul oarng-orang ini ya. Senyum-senyum. Kayaknya gak takut sama sekali mau terbang.” Hehehe. Sementara aku, sebenarnya setiap kali mau terbang, selalu sibuk “menggusah” wourst case scenarios yang menari-nari di kepalaku. Belakangan skenarionya semakin menegangkan karena aku pergi bersama Genta.

Hari Senin kemarin aku naik pesawat lagi dari Semarang ke Jakarta, cuma berdua sama Genta. Soal cuma berdua, sama sekali bukan masalah besar. Genta sangat mudah diajak kerja sama. Lagipula sepengalamanku, orang-orang nampak sangat berempati dan ringan tangan membantuku setiap kali aku bepergian hanya berdua sama Genta.

Problemnya adalah, Genta nangis setiap kali pesawat mau take-off. Well, ini bukan pertama kali Genta naik pesawat. Tapi ini memang pertama kalinya Genta naik pesawat hanya berdua denganku. Dan juga pertama kalinya Genta nangis di dalam pesawat.

Sebagai orang yang intuitif, langsung saja skenarionya semakin kencang menari di kepalaku. “Anak kecil kan sensitive,” ujarku dalam hati. Jangan-jangan dia kerasa kalau pesawat ini nggak aman. Ok. Pintu daruratnya di mana? Diikuti dengan langkah-langkah antisipatif lainnya yang seperti SOP langsung aku susun di kepalaku. Alhasil, tentunya Genta semakin keras nangisnya. Minta keluar. Nunjuk-nunjuk pintu keluar. Detak jantungku aku sadari makin kencang. Napasku juga makin memburu kayak lagi lari. Bagian bawah lenganku mulai hangat. Aduh, apa yang harus aku lakukan?

Tiba-tiba ada suara kecil, ramah dan sangat lembut bilang, ”Pasrah Fan. Ikhlas. Dan sabar.” Suaranya kecil sekali. Kalau ditanya di mana tepatnya suara itu muncul, tepatnya muncul dari belakang my belly button. Apakah suara itu seperti laki-laki atau perempuan? Perempuan. Seperti suara anak-anak yang menarik-narik ujung bajuku dengan wajah polosnya. Kemudian, napasku melambat, detak jantungku mulai tertata kembali. AC pesawat juga mulai terasa sejuknya. Aku melihat ke luar pesawat lewat jendelaku. Sesaat kemudian aku menengok ke arah Genta, matanya mulai menutup pelan-pelan. Dalam hitungan detik dia tidur memelukku dengan tenangnya.

Sudut bibirku tertarik ke atas. Aku tersenyum. Sungguh. Naik pesawat adalah momen yang tepat buat belajar ikhlas. Aku teringat guru NLP ku, mas Ronny dan tanpa sebab yang jelas ada running text muncul di kepalaku, ”Happiness atau apa pun emosi yang ingin kau rasakan is a decision away.” Suara anak perempuan tadi membantuku mengambil keputusan yang tepat soal emosi apa yang ingin aku rasakan.

Dan aku juga membuktikan satu hal lagi tentang parenting. Anak sungguh adalah perasa energi yang luar biasa akurat. Genta nangis bukan karena takut. Genta nangis karena terkena aliran energi ketakutanku yang berusaha keras aku tutupi. Orang dewasa bisa dibohongi soal energi. Tapi Genta, dan anak-anak lainnya, sepertinya tidak bisa dibohongi.

Kurang lebih 1 jam kemudian aku dan Genta sudah ada di mobil kami, dalam perjalanan pulang ke rumah kami, Bintaro. Dalam beberapa helaan napas, rasanya mataku hangat dan airmataku hampir turun, terutama waktu ketemu ayahnya Genta dan bibinya, yang menjemput. Well, sebuah pengalaman worth to share.

Repost: Matahari, Cahaya & Cinta

Tulisanku tahun 2004…  Menarik…

My first mountain

Only for those who are willing to understand

Pernah merasa ternyata hamparan salju putih yang sangat diidam-idamkan oleh masyarakat yangtinggal di negara tropis ternyata jahat banget? Pernah bayangin gimana rasanya terjebak di bawah timbunan salju dipegunungan Himalaya? Gak ada orang yang tahu persis posisi kita, cuma bisa dengar suara orang yang kita cintai dari walkie talkie.

Pernah merasa hidup rasanya malem terus? Gak ada terang, gak ada matahari, gak ada kegembiraan? Pernah merasa malam rasanya gak habis-habis sampai hampir mau putus asa nunggu terang?
Pernah merasa dunia ini tidak adil? Sangat tidak adil dan there’s nothing you can do about it? Membuatmu jadi tidak tahu seperti apa masa depan yang menanti? So confuse sampai hampir, so close to desperate.
Tiba-tiba di atas ada sedikit cahaya, sedikit sekali dan sangat jauh. Tapi beberapa saat yang lalu bahkan setitik cahaya itu pun tidak ada. Atau tiba-tiba ada rasa hangat di ujung jempol dari sinar matahariyang mulai muncul di ujung hari baru. Seluruh badan masih merasakan dinginnya malam atau salju yang menyelimuti tapi ada rasa ringan, hangat yang menjalar pelan sangat pelan dari ujung badan yang selama ini tidak diperhitungkan.
Hangatnya matahari setelah malam yang sangat gelap dan dingin, indahnya secercah sinar menembus timbunan salju yang sangat membuat putus asa, atau buat sebagian orang juga perasaan cinta yang pelan-pelan menghangatkan hati setelah kebekuan yang cukup lama…
Rasanya indah kan?
Hangat, penuh harapan, lembut dan segala rasa positif yang bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Apa sih arti setitik sinar bagi seorang yang jatuh tertimbun salju?
Apa arti rasa hangat di ujung jempol bagi orang yang menunggu malam berakhir di atas gunung?
Apa arti rasa hangat di dalam hati bagi orang yang telah lama menunggu cinta?
Solusi? Pertolongan? Harapan?
Orang bijak berkata, “If you wait long enough, the right bus would come.”
Sering dalam hidup di mana masalah tidak bisa mengkategorikan dirinya sendiri menurut kepentingannya –urgent, agak penting, tidak penting-, aku sering dibingungkan dengan banyak pilihan tentang prioritas apa yang harus diambil pada satu kesempatan. Saat itu rasanya banyak bis yang lewat tapi tidak satu pun yang sesuai dengan tujuanku. Rasanya semua orang mendapatkan bis sesuai tujuannya dan tidak seorang pun menemaniku menunggu bis yang tepat itu.Saat-saat seperti itu aku selalu membayangkan diriku terjebak dalam timbunan salju di pegunungan Himalaya seperti dalam film Vertical Limit atau sedang dalam perjalanan naik gunung Sindoro yang tiba-tiba cuaca berubah tidak bersahabat dan aku terpaksa menunggu malam berganti pagi.
Perasaan tidak berdaya, tidak ada harapan, seolah-olah berdiri di antara dua jurang yang dalam, membuatku kembali menyebut nama Sang Khalik. Kecil rasanya aku dibandingkan dengan kekuasaan-Nya. Sebagai manusia nampaknya batas antara putus asa dan harapan dan celah kecil di antaranya-lah yang membuatku jadi makin manusiawi.
Kalau dalam pendakian Himalaya, secercah sinar menjadi tumpuan harapan. Sementara dalam pendakian Sindoro, hangatnya matahari berarti “selamat datang” di hari baru maka pada hati yang terlalu lama beku hangatnya uap cinta seperti terlepas dari himpitan batu besar.
Jika hidup adalah sebuah perumpamaan, aku yakin manusia bagaikan seekor keledai yang masih sering terjatuh dalam lubang yang sama duakali, bahkan lebih. Jika Tuhan boleh diumpamakan maka Ia adalah seorang ibu yang tak hentinya memaafkan anak-Nya dan menasehatinya agar jangan mengulang kesalahannya.Dan jika cinta juga boleh diumpamakan maka ialah perekat antara keledai dan ibu tersebut, bisa melalui keledai lain atau melalui anaknya.
Well, anyway, aku percaya bahwa kalau aku bertahan cukup lama, dalam banyak hal, then setitik cahaya, hangatnya fajar dan bahkan lembutnya cinta will come my way.
With all my love…
fa, Depok, 6 September 2004

Olahraga Otak

Julia & Oprah

Watch your brain while you watch your wrinkle

Julia Robert di OPRAH show bilang

“Otak manusia, seperti pantat. Menjelang usia 40, mulai lembek dan kurang kencang”

Dia belajar menjahit di usianya yang ke-42. Untuk memastikan bahwa otaknya tetap bekerja, sehingga tetap kencang, katanya. Aku? Aku coba belajar ketrampilan yang sudah lama aku bayangkan tapi malas aku mulai. Hari ini, malam ini, aku mulai belajar.

Otak rasanya panas. Kayak olah raga pertama kali setelah lama tidak olahraga.

Tapi puas. Persis sama rasanya waktu dulu pertama kali belajar rafting, belajar naik gunung, belajar kompetensi. Ternyata sensasi belajar apa pun di usia berapa pun, tetap sama.

Excited. Lelah. Sulit berhenti. Dan tidak sabar. Hehehe.

Semoga sel-sel abu-abuku semakin kencang dan tidak lembek yaaaaa?