Kota Dengan 1000 Kata Pulang

Bahkan judulnya saja sudah mengundang senyum bagi sebagian orang. Pulang. Bagi yang pernah tidur di bawah langit Yogya, pasti paham artinya. Pulang bukan lagi tentang kembali ke kota kelahiran. Pulang juga berarti Yogya. Wa bil khusus buat saya. Hehe.

Tahun ini saja sudah 2x saya kembali ke kota yang tiap sudut menyapa dengan kenangan. Jiaaah…. Kali ini pulangnya agak beda. Kenapa? Well, masih top secret tapi saya mohon doanya yaaa…..

Saya cuman mau share perjalanan saya ke Yogya kali ini…. Mengingat beberapa temen bertanya tentang lokasi-lokasi foto kami yang katanya keren banget. Kata yang motret,

Itu sih bukan karena lokasinya, karena yang motretnya aja keren

uhuk…

13139296_10208155933290010_1479203377506331672_n

First stop. Graha Sabha Pramana. Apalah arti ke Yogya kalau gak ngelewatin tempat ini barang sekali. Sejuta kenangan. Literan air mata juga beronggok senyum tersipu-sipu berserakan di dinding gedung ini. Gedung tempat wisuda saya yang dinanti-nanti mamah dan papah.

Kalau sore biasanya banyak yang jogging dan olahraga di sini. Ada yang cuman duduk-duduk aja nikmatin langit Yogya sambil tebak-tebakan kapan lampu jalan mulai nyala menjelang maghrib. Dulu banyak yang jual es gula asam favorit saya, tapi entah ke mana mereka semua sekarang.

Wisuda. Ah. Harus bicara wisudaa kalau ngomongin GSP ini. Ngomong wisuda harusnya juga ngomongin ini…

Bakti kami mahasiswa Gadjah Mada semua

Kuberjanji memenuhi panggilan bangsaku

Di bawah Pancasilamu jiwa dan seluruh ragaku

Kujunjung kebudayaanmu

Kejayaan Indoneeeeesia

Lepas dari tingkah sebagian oknum alumninya yang terlalu kebarat-baratan, menurut saya, kampus ini memiliki lebih dari separuh cinta dan hormat saya. Sisa hati saya, saya bagikan buat komunitas lain tempat saya juga mendulang ilmu.

So buat yang mau nyante menikmati hawa Yogya, duduklah di tangga itu, dii depan GSP. Kemudian pastikan Anda melihat ketika lampu jalan mulai menyala. Uhuy…

13177130_10208181782736230_2402353836933254142_n

Next. Mari bicara budaya. Apalah Yogya tanpa keramahan warganya yang konsisten berbahasa Jawa. Kali ini kami menginap di Omkara Resort di Donoharjo Sleman. Bagi yang menyukai kesunyian, menyendiri sambil merenung. Well, ini tempat yang tepat. Saya kepikir buat ke sini lagi, dengan 2 syarat.

  1. Kamarnya dipasangin AC, hiks. maafkan.
  2. Airnya dikencengin alirannya. hiks. iya airnya kecil banget

Tapi secara ketenangan dan sekelilingnya, manteb. Petugasnya juga mbantu banget. Kami ditawarin naik gerobak sapi, yang tentunya langsung kami iyakan. Hahaha. Kampuuuung banget deh kami. Keliling desa pakai gerobak, Genta dan Puti banyak lihat pemandangan yang gak biasa. Mulai dari sawah yang dibajak pakai mesin dan pakai sapi. Lihat sendang alam yang masih dipakai buat nyuci dan mandi oleh penduduk sekitar.

Ketemu Gani dan kakaknya yang kelas 4SD yang sedang nyuci baju di sendang. Nice exposure buat Genta yang terheran-heran ngeliat 2 anak kecil nyuci bajunya sendiri di deket kolam segede itu, dan ga ada orang dewasa yang njagain mereka dari kemungkinan tenggelem. Hiks.

Belum lihat kebun salak yang gak komersil, metik langsung dari pohonya, beli dari petaninya. Genta sempet ketusuk duri salak di kakinya dan berdarah lumayan banyak jadi harus digendong ayahnya keluar dari kebun.

Seru. Puti yang lari-lari di jalan tanpa harus takut kesruduk motor yang dikendarai anak di bawah umur. Juga tanpa teriakan ibunya yang otomatis bilang “hati-hat” tiap 30 detik sekali. *mungkin efek kelamaan jadi operator Kraeplin*

Genta dan Puti melihat banyak hal baru yang tidak setiap hari bisa mereka lihat. Saya terlalu mainstream jika menyebut mereka belajar banyak hal baru. Tapi jelas merek melihat mendengar merasakan banyak hal-hal yang gak umumnya mereka lihat di Bintaro. Bersama itu saya berdoa wawasan mereka berkembang.

 

13177924_10208147298514146_7628220770834465280_n

Kemudian. Angkringan. Yogya tanpa angkringan seperti Yogya tanpa kamu. Masih ada sih tapi berasa bedanya. #eaaaa….

Yogya selalu juga tentang angkringan kan? Tempat di mana kebersahajaan seperti terulur indah sepanjang tahun. Sudut di mana idealisme idealisme sederhana menguncup dan bermekaran bersama setiap potong ceker bakar yang bergelimpangan. Tempat di mana intelektualitas dengan resmi bersanding dengan aksi, bukan sebatas wacana. Aaah. Romantisme masa muda. Oh romantisme jiwa muda, maksud saya.

Nah angkringan yang saya datangi ini lokasinya di belakang Hotel AMbarukmo. Hiks. Namanya apa nanti saya tanyakan teman saya. Tapi enak. Angkringan itu diukur dari es teh manisnya, menurut saya. Juga porsi serta pilihan nasi bungkusnya. Dan untuk semua indkator di atas, maka angkringan tempat saya berfoto bolehlah mendapatkan nilai 8.5. 1.5 saya simpan ketika mereka menyiapkan arena bermain bagi jiwa-jiwa muda berbungkus hayati tua ini yang datang mengenalkan kebersahajaan ada anak-anaknya. Merdeka!

Tapi, apalah arti angkringan tanpa sekelompok teman dari masa lalu yang terus menerus menghembuskan cerita yang sama tentang jaman dahulu kala, sekedar untuk menenggak indahnya masa muda dan kebodohan-kebodohan yang juga teriring  di dalamnya. Hahaha. Diiringi Baju Pengantin yang mengalun mesra. Juga John Denver dan ingatan tentang kehangatan api unggunnya. Pengkhianatan cinta khas anak muda. Serta ingatan lain yang mengundang tawa, bahagia maupun getir. Ah. Tercabik oleh kenangan, kata teman saya waktu itu.

Hahahaha. Yogya selalu menyimpang kenangan. Sebagian mempertontonkan kenangannya. Sebagian lagi menyimpannya untuk diri sendiri. Sementara sebagian kecil berpura-pura lupa atas kenangan yang selalu gagal dilupakannya. Well, ingatan memang milik pribadi kan? Then, enjoy….

13177423_10208192965055781_5491665489069514985_n

Terakhir. Pantai. Yogya tanpa pantai seperti sayur tanpa kuah. Ada sih sayur tanpa kuah. Tapi di musim yang dingin sayur berkuah mampu menghangatkan. Jiaaaahhh….

Kali ini kami ke Parangtritis. Tempat jaman dulu suami saya mabuk sama temen-temen SMA nya. hiks. gak usah ditiru. Tempat dulu saya hujan-hujanan sama teman-teman terbaik pada masanya membuktikan bahwa perempuan tidak lemah, tidak takut dan mandiri. Hehehe.

Itu foto kami di pantai sesaat setelah topi warna oranye punya Genta terseret arus. Kami bertiga memandangi laut berharap topi oranye sekear melambai kembali untuk berpamitan. Tapi tidak. Arus selatan bukan arus main-main. Topi oranye Genta tidak pernah kembali. Genta jelas sesengggukan melihat dengan mata kepalanya topi itu terserer arus. Hehehe. Saya dan Puti sekedar berempati. Dan ayahnya memotret dari kejauahan.

 

(bersamung)

Di Januari *bukan oleh Glenn Fredly*

Hari keempat tahun 2016. Alhamdulillah I survived December 2015. Hehehehe.

Januari selalu penuh optimisme. Entah kenapa. Mungkin karena mayoritas penduduk dunia bersepakat soal tanggal yang tepat untuk memulai hitungan tahun. Atau karena sebagian habis berpesta semalaman hingga keriaan masih tersisa. Buat saya Januari terasa optimus #eh optimis, karena saya berhasil melewati Desember tanpa berkurang kewarasannya. Hiks. Lebay.

Di Januari ini saya berjanji buat bersyukur setiap hari atas hal-hal dalam hidup saya.

1 januari, saya bersyukur berhasil melalui 4th meninggalnya papah saya. Melewati 1 tahun jadi yatim piatu tanpa kehilangan my sanity. Huks. Bersyukur sudah melewati malam bersama 2 sahabat baru-rasa-lama dengan segala macam pembicaraa dari yang intelektual soal buku sampai blas gak intelek soal voldemort a.k.a misteri hilangnya kota di peta. Hihihi.

2 januari, saya bersyukur Genta memutuskan untuk menginap dan meng-exercise kemandiriannya lagi, walau diselingi tangisan kangen di malam harinya. Bersyukur saya dan suami punya waktu mengingat masa muda dengan nonton bioskop. Bersyukur Puti yang sangat kooperatif dipaksa nemenin ayah ibunya nonton bioskop.  Hiyak.

3 januari, saya bersyukur berhasil marathon nonton bioskop bareng laki2 yang sudah bersama saya selama 14th. Menonton 2 film Indonesia yang keren, Bulan Terbelah di Langit Amerika juga Negeri Van Oranje. Saya bersyukur menonton 2 film apik dan membuat saya  teringat tentang pentingnya beragama dengn baik. Juga film yang menghibur, membuat saya tertawa dan bernostalgia. Aaaah nostalgiaaa memang selalu syahdu buat dilakukan. Hehehe.

4 januari, hari ini. Saya bersyukur atas semangat baru yang entah datang dari celh sebelah mana di tubuh saya tapi terasa nggremet sejuk dan hangt di waktu yang sama. Saya berayukur atas berita baik dari adek kecil saya dan keluarganya yang akan segera bertambah anggotanya. Saya bersyukur saya menikahi sahabat saya. Saya bersyukur atas usia yang hampir 40th serta aset di kepala saya yang akan menjadi cahaya di alam kubur nanti *if you know what I mean*.

Saya bersyukur atas gadget ini di mana saya bisa menuliskan rasa syukur saya sambil menemani Puti yang tidur siang. Saya bersyukur atas liburan yang sudah lewat juga liburan yang sebentar lagi akan datang. *sayang gak ada icon joged*

Anyway saya berniat hanya akan bersyukur di tahun ini. Semoga Allag ridho dan menambahkan nikmatNya sehingga saya makin bersyukur.

Happy 2016. May the force be with you. #ealah. May you have a great and barokah life ahead.

image

One in A Million

Sebagai enterpreneur, sering kali kita lupa, ealah kok kita, saya lupa. Sering saya berpikir kesuksesan saya berkorelasi linier dengan kerja keras saya, kerja pintar saya, jumlah jam kerja saya, jumlah jam mikir saya, jumlah network saya. Ketika semua hal yang saya sangka baik sudah saya lakukan, eh lha kok malah bangkrut, ditagih bayar hutang oleh orang2 yang dulu bilang mengagumi keputusan saya untuk jadi enterpreneur. Saya punya 2 pilihan.

Merajuk. Merengek. Dalam hati bertanya dan ngeyel, aku sudah lakukan hal yang benaaaaar, tapi kenapa kau bangkrutkan juga akuuuu? Sementara mereka kau sukseskaaaaaan? Kemudian melacurkan diri dengan melabel diri sendiri gagal, kehilangan muka bertemu orang lain, menyerah pada mimpi2 idealistik saya. Terakhir hidup menjadi versi terburuk dari segala kemungkinan diri saya.

Atau….
Sebaliknya…..
Anda bisa bayangkan sendiri kan sebaliknya? Atau tetep perlu saya ketik? Gimana? Manja ya? Tetep mau diketikin? Baiklah, saya ketikin, Anda tinggal share….

Atau saya bisa tetap tegak berdiri dengan kepala diangkat. Bangga atas kesempatan jatuh, yang artinya saya mencoba. Bangga dengan kesempatan bangkrut, yang artinya saya pernah memulai. Bangga dengan kesempatan berada di luar jalur umum, yang artinya saya elang yang terbang sendiri. Bangga dengan dkesempatan tertinggal, yang artinya saya punya waktu untuk berdiri dan membersihkan badan dari debu.

Sambil bersyukur dalam hati, terima kasih untuk tetap memintaku rendah hati. Terima kasih untuk tetap memintaku hidup sak madya. Terima kasih untuk menunjukkan padaku siapa teman2ku. Terima kasih untuk men-jlentrek-kan *use google translate for detail* siapa orang yang bersorak ketika saya sukses, siapa yang diam2 ndepipis di pojokan bersorak ketika saya jatuh. Terima kasih untuk memintaku tetap dekat denganMu. Terima kasih untuk tetap menjagaku dalam kebaikan. Tapi lain kali, tolong ajari aku semua itu, dengan uang 5M di rekening. Please? Biaya kuliah Genta sama Puti kan tetap perlu dicari kan, ya Allah?

Dah, udah saya ketikin yaaaa….. kebangeten kalau gak di share…..
Love you friends

*di bawah ini tulisan teman yang saya share*

Arthur Ashe, pemain Wimbledon legendaris sekarat karena AIDS yg berasal dari darah yg terinfeksi virus ketika operasi jantung pada 1983.

Dia menerima surat dari para penggemarnya, salah satu dari mereka ada yg menyampaikan:
“Mengapa Tuhan memilih Anda untuk mendapatkan penyakit yg buruk seperti ini??”

Terhadapnya, Arthur Ashe menjawab:
Lima puluh juta anak mulai bermain tenis,
Lima juta dari mereka belajar bagaimana bermain tenis,
Lima ratus ribu belajar tenis secara profesional,
Lima puluh ribu bertanding dalam turnamen,
Lima ribu mencapai Grand Slam,
Lima puluh mencapai Wimbledon,
Empat mencapai semifinal,
Dua mencapai final dan ketika saya menggenggam pialanya, saya tak pernah bertanya pada Tuhan, “Kenapa (harus) saya?”

Jadi ketika sekarang saya sakit, bagaimana bisa saya menanyakan kepada Tuhan, “Kenapa (harus) saya?”

Kebahagiaan membuatmu tetap manis.
Cobaan membuatmu kuat. Kesedihan membuatmu tetap menjadi manusia.
Kegagalan membuatmu tetap rendah hati.
Kesuksesan membuatmu tetap berpijar.
Namun, hanya iman yg membuatmu tetap melangkah.

Kadang engkau merasa tidak puas terhadap kehidupanmu sementara banyak orang di dunia ini memimpikan bisa hidup sepertimu.

Anak kecil di ladang memandang pesawat terbang di atasnya, dan memimpikan bisa terbang, tetapi sang pilot di pesawat itu memandang ladang di bawahnya dan memimpikan bisa pulang ke rumah.

Begitulah hidup.
Nikmatilah hidupmu.

Jika kekayaan adalah rahasia kebahagiaan, tentu orang-orang kaya akan menari-nari di jalanan.
Tapi? Hanya anak2 miskinlah yg melakukannya.

Jika kekuatan memang menjamin keamanan, tentu orang-orang penting akan berjalan tanpa pengawalan.
Tapi? Hanya mereka yg hidup sederhana yg bisa tidur nyenyak.

Jika kecantikan dan kepopuleran memang membawa kita pada hubungan yang ideal, tentu para selebriti pasti punya perkawinan yg terbaik.

Hiduplah sederhana
Berjalanlah dengan rendah hati.
Dan mencintailah dengan tulus.
Jujur dalam berucap
Ikhlas dalam bekerja…
(Copas dari grup WA GK Psikologi ’96)

Barney Class : #1

Barney Growing - Blog Fanny Herdina

Groooowing we do it everyday,

we’re growing when we’re sleeping and even when we play

And as we grow little older we can do more things,

because we’re growing and so are you

each day we grow little taller, little bigger, not smaller

and we grow a little friendlier too

We try to be little nicer as we grow each day,

because we’re growing and so are you

Bagi para orang tua yang menghabiskan waktu menemani anaknya nonton TV biasanya paham ini lagu siapa. Big purple dinosaur? Yup. Barney. Yeeey, helloooo Barney.

Sejak Genta kecil (sekarang 4th umurnya) saya selalu menemani Genta nonton TV. Salah satu tontonan awalnya adalah Barney. Sekarang Puti (1th) mulai nonton Barney juga. Entah ya. Setiap episode-nya.. saya merasa Barney berhasil menyampaikan value yang penting bagi anak-anak. Jadi so far, Barney masih tontonan wajib buat anak-anak saya.

Lagu di atas misalnya. Selain bicara soal “growing”, saya senang Barney menyelipkan “a little nicer” dalam syair lagunya.

Aaaah, sebut saja saya kuno atau kurang modern, atau sok tua. Tapi sungguh, sopan santun di tahun 2014 ini, di kota Jakarta yang sering saya datangi ini (saya tinggal di Bintaro, Tangerang Selatan), rasanya suliiit sekali ditemukan. Jangankan dari para remaja dan anak-anak yang jelas pre-frontal korteks-nya belum optimal berkembang. Bahkan dari para orang tuanya saja kadang harus bermodal keberuntungan untuk bertemu orang dengan sopan santun sekelas Indonesia (yang konon kabarnya orangnya ramah tamah dan sopan santun).

Tapi ya begitulah kata Barney,

“we try to be a little nicer as we grow each day because we’re growing…”

Jadi bolehkah saya katakan, orang-orang yang gagal menjadi “nicer” tiap harinya, sesungguhnya mereka sedang melawan hukum alam dengan menolak tumbuh?

Multiplied

Multiplicity by Anton B Priyantoro #Puti - Blog Fanny Herdina

Ini kreasi terbaru suami saya. Haa, yang jago fotografi pasti gak heran, saya sih heran. Hihihi.

Lokasi : Taman Kota Serpong

Wardrobe : Pribadi

Property : Pribadi. Hehehe. Itu Puti, anak kedua saya, bulan Februari ini dia 1 tahun umurnya.

Selamat menikmati.

Kata kunci kalau mau google teknik ini, MULTIPLICITY. Have fun.

Foto Suami Saya

Suami saya suka sekali memotret. Tapi dia tidak punya blog dan malas ikut kompetisi. Hiks. Padahal menurut saya foto-fotonya super bagusnya. Jadi mulai sekarang, saya putuskan untuk upload beberapa fotonya di blog ini. You tell me, how great this is.

Yang di atas itu foto Genta, anak pertama saya. Foto ini diambil di Gunung Geulis Bogor, akhir tahun 2013.

Nah yang ini foto Puti, anak kedua saya. Hmm. Seingat saya ini foto juga akhir 2013, di Jungleland, Sentul.

Anak-anak selalu jadi objek foto yang menarik ya. Ekspresinya. Binar matanya. Kepolosannya. Ah, seandainya hidup sesederhana dunia di mata mereka.

Weekly Photo Challenge : Family

Family Fun - Cerita Fanny

It was actually a lazy saturday afternoon, when we all woke up late, took a bath late and ate late. It was almost midday and both parents haven’t eat anything for breakfast. We were both starving. So on our way taking Genta to his martial art, we stopped in front of Masjid near our house to buy siomay from a street-food seller.

Hungry and kids just won’t stop singing and bouncing, we decided to capture the moment. The special lazy starving Saturday afternoon.

People say that when your life-light begins to dim, it’s the most important thing in life that would come flashing in your mind. I don’t know for I am not dimming yet (I hope). But I know for sure that when in trouble I think of these people. When I lay down and try to close my eyes, I wish the very best for all of them. I even think of them when I’m alone in the bathroom. So I guess it’s right that people say, you finally have only your family.

ODOJ : Mission Impossible (For Me)

ODOJ - Cerita Fanny

Hi again. Ijinkan kali ini saya bercerita tentang perjalanan saya belajar baca Quran.

Biarpun beragama Islam sejak lahir, saya baru bisa lancar baca Al-Quran tahun 2011-2012 an. Itu pun karena kebingungan. 2012 saya dan suami berencana berangkat umroh. Membayangkan saya harus membawa Al-Quran super besar yang ada tulisan latin dan bahasa Indonesianya selama di sana, membuat saya terbiritbirit belajar baca Quran. Sampai berangkat umroh tahun 2012, saya gagal meng-khatamkan baca Quran. Baru di Ramadhan 2013 saya berhasil khatam baca Al-Quran pertama kali. Yak. Pertama kali dalam hidup saya.

Rasanya superb sekali. Surreal. Buku setebal itu dengan tulisan se-unfamiliar itu, akhirnya bisa saya selesaikan. Sejak saya mulai belajar baca Quran, dalam hati saya berkata,

“Sekurang-kurangnya saya pengen khatam 1x dalam hidup saya.”

Mengingat segala kondisi saya. Jadi waktu akhirnya berhasil khatam 1x, rasanya kayak top of the world. Mimpi di siang bolong.

Buat Anda yang belajar baca Quran sejak kecil, Anda mungkin sulit memahami rasanya. Belajar baca Quran itu saya lakukan kadang sambil mangku anak, nyusuin Puti, sampai kadang kepala saya pusing saking tegang karena ga bisa-bisa. Jadi saat akhirnya berhasil menyelesaikan satu Quran, wuuuuaaaah, sungguh pencapaian yang luar biasa bagi saya yang hampir 40 tahun ini. (Perhatikan kata “hampir” nya ya, bukan “40” nya)

Saya bangga. Juga tidak bangga. Senang tapi juga malu. Pengen teriak pengumuman ke seluruh dunia tapi juga rasanya pengen ngumpet saking menyesalnya. But anyway, saya berhasil belajar membaca Quran di usia saya yang hampir 40 tahun dan khatam 1x di tahun 2013. Semoga tidak ada orang di dunia ini yang merasa berhak mengecilkan pencapaian saya ini.

Kemudian di Desember 2013 seorang kenalan mengajak saya ikut di komunitas One Day One Juz. Komentar pertama saya adalah, whaaaaaattttt???? Kami sempat berbalas-balasan beberapa kali sms. Saya sibuk menerangkan, saya ini baru bisa baca mbak, saya ini bacanya masih pelan, nanti kalau gak berhasil gimana, malah ngerepotin orang, jadi kesannya gak committed, padahal mah memang ga mampu. Sementara sms dari sisi sebelah sana isinya sekitar, yang penting diusahain dulu bu, pasti nanti dibantu sama Allah, temen-temen satu grup juga pasti bantu, coba aja dulu, kalau memang gagal ya gak papa.

Ah, saya sudah putuskan tahun 2013 saya akan melakukan hal yang berbeda dalam hidup saya, yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Dengan niat makin mendekatkan Quran dalam keseharian dan bismillah, saya setuju bergabung. Deg-degan luar biasa. Grupnya isinya perempuan-perempuan yang entah sudah berapa kali khatam. Pada jago pakai bahasa Arab dalam percakapan sehari-hari, sementara doa makan saja, saya baru tahu artinya dari Genta. (Thanks to Miss Atie dan Miss Alif, gurunya Genta di Budi Mulia Dua Bintaro)

Begitu on grup-nya, eeeeh tamu bulanan saya datang, kebagian deh baca terjemahannya. Bisa? Ya masih bisalah kalau cuma baca terjemahan. Saya biasa baca buku tulisan Latin, jadi lancar. Selameeet selamet, dalam hati saya. Belum selesai tamu bulanan, Genta libur sekolah. Jadwal harian mulai kacau. Baca terjemahan masih kepegang. DI tengah-tengah libur, tamu bulanan sudah pamit, Puti dan suami sakit. Huaaa. Sungguh saya sudah menghubungi penanggung jawab grup nya untuk mengundurkann diri. Hihihihi, sebut saja saya cemen, gpp. Hiks. Huaaa. Tapi jangan dong please?

Tapi jawaban dari mbak Admin Grup ODOJ 774, Bunda Choir, bener-bener ampuh.

Jangan off mbak. Kalau lagi pada sakit dan gak kepegang bacaannya, gpp, juz nya dilelang dulu, tapi jangan off ya.

Wuah. Rasanya malu dan heran. Malu karena saya mudah menyerah. Padahal dalam banyak hal lain, sungguh, saya bukan orang yang mudah menyerah. Saya keras kepala, man. Saya sungguh bertekad baja. Juga heran, kenapa sih saya sudah bilang gak mampu, ga bisa, ga mungkin, enggak lah pokoknya sama 2 orang dan 2-2 nya dengan indahnya menolak sejuta daftar alasan saya.

Bermodal malu dan tekad yang menguat, awal Januari 2014, saat Genta mulai sekolah lagi. Saya menjawab sms mbak Admin.

Ok mbak. Insyaa allah hari ini saya mulai on.

Dalam hati, mulai on piyeeeee? Tapi tetep dijalanin. Kan udah commit. Urusan gagal entar kita omongin. Yang penting, perang dulu, kalah belakangan. Begini kurang lebih  urutan saya dalam sehari kalau baca Quran. Siapa tahu ada yang heran atau mau meniru.

Pagi, Genta sekolah, saya nyusuin Puti sambil nunggu Puti tidur. Begitu dia tidur, saya langsung baca Quran, sebisanya, sampai Puti bangun. Kemudian aktivitas rumah tangga sudah menunggu.

Siang, Genta pulang sekolah, nyuapin Puti, kemudian Genta main sendiri, Puti duduk di kursinya, saya sholat Dhuhur sambil membaca situasi. Kalau memungkinkan, selesai sholat saya baca sampai Puti atau Genta sudah tidak sabar meminta perhatian saya.

Saat mereka tidur siang, saya baca lagi. Biasanya jam segini saya sudah selesai 1 juz. Ngeri kan? Ternyata saya yang bacanya kayak kurakura aja bisa selesai lo 1 juz sebelum Ashar.

Tapi dalam kondisi tertentu (yang tentunya ini lebih sering sih), sholat Ashar, Maghrib dan Isha’, saya masih membaca juga sisa-sisa lembar yang belum terpegang. Kadang bahkan saya minta perpanjangan waktu, menunggu anak-anak tidur, kemudian mulai baca Quran jam 10-11 malam. Sering kali saya orang terakhir yang menyetorkan bacaannya.

Malu? Iya. Tapi saya committed. Saya tidak menyerah.

Sampai sekarang saya masih bergabung di ODOJ Grup 774. Keponthalponthal? Iya. Belum bisa ambil lelangan juz orang lain. Tapi saya sungguhsungguhsungguh berusaha. Sampai saat ini saya hampir selalu berhasil menyelesaikan bacaan 1 juz dalam 1 hari. Tapi saya juga kadang mendapat bantuan dari teman-teman untuk menyelesaikan lembar-lembar terakhir yang belum saya pegang, karena waktu yang sudah terlalu mepet.

Apakah saya menyerah? Nope. Saya masih berperang. Doakan saya ya.

Tapi btw, bahkan dalam bacaan saya yang entah segronjalan apa. Saya menemukan ketenangan, seperti yang dijanjikanNya pada hambaNya yang membaca Quran. Dan ketenangan yang seperti ini sungguh addicted. Jadi saya kecanduan. Semoga Allah ridha dengan usaha dan kecanduan saya yang satu ini.

*hari ini, di rumah mertua saya yang beragama Katolik, di pojok ruangan, saya membaca jatah juz saya dengan suara lirih.

Short Escape

View

Menjelang habis liburan, kami putuskan pergi mendadak berlibur. Hihihi. Dekat-dekat saja, sekitar Bogor, Puncak atau Sukabumi. Belum tahu mau pergi ke mana waktu kami meninggalkan rumah, jangankan pesan hotel.

Makan duluuuu. Sip. Sambil makan masih juga mikir mau ke mana daaaan belum ketemu juga, Tiba-tiba seorang teman sms suami saya, kebetulan dia sedang di Jakarta. Ah, klasik, mana ada kebetulan? Memanglah dia dikirim ke kami buat menunjukkan mau ke mana liburan kali ini. Singkat padat dan jelas, dia bersedia ikut kami. Kami memanggilnya Pakde Arif, supaya Genta dan Puti juga terbiasa dengan panggilan itu. Teman di mana? Walah, panjang ceritanya, intinya teman, teman baik, teman yang masih mudah ditemui walau tinggal di kota berbeda. #kode

Selesai makan kami menjemput Pakde Arif menuju Puncak. Si pakde langsung menyebut lokasi rekomendasinya, punya temannya katanya. Si pakde memang punya banyak sekali kenalan. Terjebak macet selama 4 jam di keluar tol Jagorawi sama sekali tidak mengurangi serunya liburan kami. Foto di atas adalah pemandangan dari dalam kamar kami. Gimana? Cocok kan?

Komentar Genta, “Kok rasanya Genta pengen kayak gini tiap hari ya buuu”

Jiaaah, ya tentunya leee, ayah ibumu juga mau. Sabar ya. Lagi bikin infrastruktur dulu. Hee, kayak pemerintah aja ngomongnya. Anyway, it was a great short escape. Thanks to Pakde Arif, suami saya mematikan GPS nya dan hanya bergantung pada GPS hidup di sebelahnya. Hehehe.

Otw pulang, mampir dulu ke air terjun Cikoneng Sentul. Cakeeeep.

Otw pulang, mampir dulu ke air terjun Cikoneng Sentul. Cakeeeep.

Itu dia kami beberapa saat sebelum turun hujan.

Itu dia kami beberapa saat sebelum turun hujan.

Ini dia wajah kami sepulang dari Bumi Geulis. Mampir sebentar di Waroeng Ijo, Sentul.

Ini dia wajah kami sepulang dari Bumi Geulis. Mampir sebentar di Waroeng Ijo, Sentul. Seger kan?

^semua foto courtesy ayah Anton dan pakde Arif^

Pssstt, take a break, file some days off -the company won’t miss you that much-, spend times with family, don’t say you would do it later, if you can’t find time now I don’t think you could find it later and see how that short break breaks ear-to-ear smile on your kids face.