Life in a Bowl of Indomie

Berada di Semarang, malam-malam, kemudian memutuskan makan Indomie di warung burjo akang2 di Tembalang, sungguh semacam melemparkan saya ke badai memori sekian puluh atau belas tahun yang lalu.

Semua ingatan seperti menari-nari berusaha menarik ingatan syaa lebih dalan pada satu ingatan khusus. Sayang saya sedang tak dalam tahap setia pada satu ingatan saja. Saya memilih terbang menikmati terjangan semua memori itu. Mulai dari yang indah dan mengundang senyum sampai yang biru dan butuh tenaga untuk menahan airmata.

18 tahun pertama hidup saya, saya habiskan di kota ini. Pertama kali nonton bioskop. Pertama kali pacaran. Pertama kali ditinggal cowok tanpa jelas apa alasannya. Pertama kali dikirim mewakili sekolah untuk pertandingan. Banyaj hal yang pertama kali terjadi dalam hidup saya, terjadi di kota ini. So, harddisk external 1TM juga nampaknya gak cukup menampung kilasan videonya, apalagi muatan emosinya.

Sementar warung Indomie warna hijay yang layoutnya khas itu mengingatkan saya pada malam-malam sepi di Yogya saat darah muda menggelegak. Menghabiskan malam dengan diskusi-diskusi ngotot tentang hidup, tentang negara, tentang cinta, tentang pertunjukan-pertunjukan drama, tentang “dia”, tentang masa depan. Tentang hidup pasca kampus biru, pasca kartu mahasiswa expired.

Sungguh, kebahagiaan hidup memang terletak pada kemampuan bersyukur.

Saya tersenyum mengingat malam-malam kami, saya dan suami, berburu indomie. Naik motor. Berjaket. Jam 9-10 malam, setelah pulang dari saya mengajar, menenteng printer pinjaman dari tempat kursus saya mengajar bahasa inggris, mampir sebentar sebelum lanjut nebeng ngetik skripsi di rumah teman yang punya komputer. Kenapa malam? Karena siangnya saya kerja, komputernya dipakai yang punya serta printernya dipakai buat ngeprint tagihan di kantor. Hehehehe.

Malam berlanjut dengan teman saya tidur di kamar teman lainnya. Suami saya yang saat itu jabatannya sahabat saya akan melek semalamam sambil baca buku tanpa berkata sepatah kata pun. Dan saya akan akan mengetik sampai jam 3-4 pagi sebelum tergeletak di depan komputer. Bangun jam 5, ngesave ulang semua ketikan, minum teh buatan teman yang punya komputer, kemudian menembus udara pagi dinginnya Yogya di tahun 2000an awal bersama sahabat saya mengembalikan printer sebelum jam 7 kantor buka lagi. Aaaah romantisme masa muda memanag luar biasa.

Badai memori saya terinterupsi suami yang mengingatkan soal beli salonpas untuk tangannya yang sakit.

Well, laki-laki ini, yang dulu mengantar, menjemput dan menemani saya mengeyik skripsi. Yang kuat tanpa jaket menerjang dinginnya Kaliurang. Sekarang mengeluhkan pergelangan tangannya sakit dan perlu salonpas buat meredakan sakitnya

Sekali lagi saya tersenyum geli, gimana selempar kertas berlem mampu melemparkan saya kembali ke tahun 2016. Di kamar mandi, saya melirik kilasan benang putih yang nampaknya enggan terlepas dari kepala saya. Aaah si putih pun mulai bertebaran di kepala. But I dont feel like I am getting older for even a day. Hihihi.

Wow. How time flash. It was only yesterday, or even this morning as I remember. But hearing my kids breathing in their sleep right in the rear seat of the car reminds me of one peculiar thing. Time is slow and fast at the same time that it makes me confused of separating memory and dream. Or are they really from the same planet? *sigh*

Here at my almost 40 stage, I realize that this sentence below is really really giving you harsh fact.

“Demi waktu, sesungguhnya manusia itu merugi”

Dan Fan, kaudapatkan insight itu melalui Indomie dan Salonpas? Well, may be you should try salmon steak next time for better insight. Hihihi.

image

Advertisements

Another Mixed Feeling Session

Bulan Desember punya banyak cerita buat saya.

Waktu SD, Desember berarti kami latihan nyanyi di kelas. Disusul dengan hari-hari pulang cepat yang diisi dengan mendekor kelas, makan eskrim bersama 1 sekolah, juga mainan dry ice bareng kepala sekolah kami yang super sepuh, ibu Kolmus tersayang. Ingat tentang menyanyi selalu membawa senyuman kecil di dalam dada, teringat guru-guru tersayang pak Kuncoro, bu Mar dan bu Ros.

SMP dan SMA gak terlalu banyak berarti buat saya. Desember sama saja seperti bulan-bulan lainnya, kecuali bahwa sekolah mulai heboh mempersiapkan misa natal dan segala kegiatan yang berhubungan dengan natal.

Saat kuliah, Desember sering kali berarti ujian semesteran. Saat semua teman berlomba mencari catatan terbaik, memfotokopi dan mabuk-mabukan kopi untuk belajar dengan sistem kejar semalam yang dilematis, dibenci dan dicinta sekaligus.

Adek saya terkecil lahir 24 Desember. 25 Desember saya dan suami juga anak-anak hampir selalu berkumpul di rumah mertua untuk kumpul keluarga.

Sejak Desember 2011, Desember juga kelabu buat saya. Papah saya meninggal tanggal 1 Januari 2012, setelah sakit 4 bulan dan terakhir tidur di rumah saya selama 3 minggu terakhir. Suasana rumah yang sendu karena semua berempati sama papah. Suasana kelabu yang menunjukkan kesedihan semua penghuninya. Meledak bersama di pagi hari tahun baru, saat banyak orang bangun siang karena malamnya begadang, saya dan suami mengetuk pintu-pintu rumah tetangga di tengah hujan deras untuk meminta bantuan mengangkat papah ke mobil, karena napasnya mulai tidak bisa terdeteksi. Papah meninggal sekitar jam 8.30 pagi sesudah sholat dhuha.

Kemudian Desember 2014 datang. Belum 3 tahun papah meninggal. Mamah menyusul kekasih hatinya. Tanggal 23 Desember 2014 mamah meninggal tanpa didahului kejelasan penyakitnya. Beberapa hari sebelumnya saya sempat ngobrol sama mamah yang menangisi kondisi fisiknya yang gampang lelah. Beberapa bulan sebelumnya mamah reuni dengan teman-temannya jalan-jalan ke Yogya. Sebelumnya kami berlibur di rumah mamah di Semarang bersama adek-adek dan keluarganya.

Dan Desember 2015 ini, hampir 1 tahun saya resmi yatim piatu. Tidak pernah cukup tulisan menunjukkan betapa kosong sebagian hati saya menjadi yatim piatu. Namun juga tidak cukup menunjukkan gimana Allah memberi kekuatan lewat hal-hal kecil yang sungguh tidak diduga.

Manusia memang kapabel merasakan beberapa emosi sekaligus di satu waktu. Desember ini, saya merasakannya lagi. Sedih menjadi yatim piatu belum berakir rupanya walau sudah hampir setahun. Rindu atas komen-komennya yang pedas dan super realistic kadang masih sangat mengganggu hati. Belum ungkapan sebagian teman yang menyatakan rindunya pada mamah, yang super galak semasa hidupnya, namun ternyata dicinta banyak orang, termasuk teman-teman saya.

Suami saya bilang, mamah adalah the best mom in law in the world. I can’t argue with that. Saya selalu iri melihat perlakukan mamah ke suami saya. Setiap kali saya dan suami berantem, selalu suami yang dibela, saya yang salah, no matter what happen. Kata mamah,

Kalau mbok bela anaknya itu udah biasa, tapi dia anak orang, harus ada yang bela dia di keluarga ini. Itu tugasku.

Aaah, ingatan tentang mamah selalu membawa senyum dan airmata. See? Manusia memang kapabel merasakan 2 emosi, bahkan yang saling bertentangan sekalipun.

Teriring salam cinta buat semua papah dan mamah Anda. You have no idea betapa saya iri melihat keluarga dengan anak-anaknya makan malam di restoran, didampingi kakek dan neneknya.

December, please be nice to me.

10560306_10203906859465820_9008259935750321618_o

Ini foto jalan-jalan kami di Tangkuban Perahu. Mamah kagum lihat kelindahan pemandangannya sampai nangis.

10402028_10204798423994376_4566278910118711856_n

Ini foto suami saya bareng anak dan ponakan main hujan di depan rumah mamah di Semarang, 2 hari setelah mamah meninggal. Hujan super deras. Suami memutuskan menghibur anak-anak yang sudah beberapa hari terundung kesedihan orang tuanya. Selalu meleleh lihat foto ini.

Libur 2 Tahun Saya

Hampir 2 tahun saya tidak menulis di blog. Kalau ditanya alasannya, saya bisa sebutkan banyak sekali alasan yang masuk akal. Tapi bukan itu tujuan tulisan ini. Saya cuma ingin cerita apa yang terjadi kurang lebih 2 tahun yang lalu yang belum pernah saya tulis di mana pun.

wpid-img-20120502-wa0000

Makam papah di Bergota, Semarang

Tanggal 1 Januari 2012, papah saya meninggal dunia di usianya yang ke-62. Masih relatif muda. Kurang lebih di usia yang sama dengan usia Nabi Muhammad meninggal, insyaa allah itu tanda baik bagi jiwanya. Papah meninggal di rumah saya, di atas sofa hitam, yang sampai sekarang masih bertengger indah di depan TV di rumah kami, Tanggal 2 Januari sesungguhnya beliau akan merayakan ulang tahun pernikahan dengan mamah saya yang ke-37 tahun.

Papah sudah sakit kurang lebih 4 bulan sejak lebaran tahun 2011. Bulan Agustus 2011, keponakan saya lahir. Seperti biasa, kemudian papah dan mamah datang ke Jakarta dan menghabiskan libur lebaran di Jakarta. Libur Lebaran inilah papah ketahuan sakit. Badannya panas tinggi selama beberapa hari. Tapi papah memang bukan orang yang manja atau banyak mulut. Dia tidak mengeluh sedikit pun selama ritual lebaran itu. Kami tetap pergi ke sana kemari. Sampai suatu hari, saya kebetulan melewati beliau yang lagi istirahat dan tidak sengaja bersentuhan dengan kulitnya. Wow, panas betul. Langsung saya minta buat dibawa ke rumah sakit. Akhirnya beliau bersedia, setelah berhari-hari menolak ajakan mamah.

Dokter bilang, “Ada massa di dalam paru-parunya.” Harus dilakukan tindakan lain untuk mengetahui massa itu apa. Second opinion? Sudah langsung dilakukan. Jawabannya sama, standar, ada massa dalam paru-paru. Harus dilakukan biopsi untuk tahu itu apa.

Papah langsung menolak. Entah kenapa. Unrealistic optimism saya bergejolak. Jauh dalam hati, saya takut itu massa tidak bersahabat. Tapi dengan optimisme dan segala pikiran positif, plus papah masih sangat segar bisa bersepeda dari rumah kami sampai kompleks Emerald dengan sangat cepat, menurut saya everything’s gonna be OK. Papah pilih pengobatan secara herbal.

Aha. Begitulah paradoksnya. Walaupun belum jelas ketahuan itu apa sakitnya. Tapi semua langsung setuju pengobatan herbal. Seolah-olah, jika kami semua melakukan pengobatan herbal, maka itu artinya penyakitnya tidak terlalu parah. Ngobrol dengan salah seorang dokter, katany silakan kalau mau pulang ke Semarang dan mencoba herbal. Tapi dalam waktu 3 bulan, harus kembali diperiksakan untuk melihat perkembangannya.

Mamah langsung in charge di Semarang. Papah pulang ke Semarang dan segala makan dan obat-obatan herbal dihandle langsung oleh mamah. Tidak makan ayam dan daging sapi. Kebanyakan sayuran, ikan, no MSG dan segala macam ide yang entah kami dapatkan dari mana pada waktu itu.

But somehow kondisi papah memburuk sangat cepat. Sejak Agustus 2011 sampai Desember 2011, papah jauuuuh lebih kurus dan tidak lagi mampu melakukan hal-hal yang tadinya mampu dilakukannya. Mamah menelpon bilang beliau ketakutan soal papah. Papah menelpon bilang pingin ke Jakarta, tapi takut tidak diijinkan mamah karena badannya terlalu lemah. Pertengahan Desember 2011, papah akhirnya berhasil meyakinkan mamah untuk pergi ke Jakarta dengan alasan jadwalnya check up 3 bulan, sesuai permintaan dokter.

Waktu beliau datang sampai di rumah saya, saya sungguh terkejut. Saya tidak mampu melihat matanya. Saya takut, ketakutan yang ada di mata saya akan terbaca oleh beliau. Badannya kurus kering, tinggal kulit dan tulang. 4 bulan yang lalau setiap orang yang bertemu selalu memuji betapa gagah dan gantengnya beliau di usianya, sekarang bahkan untuk berjalan dari pesawat ke tempat baggage claim, dia tidak mampu. Ditawari untuk pakai kursi roda? Sudah. Tapi Anda yang kenal papah saya pasti tahu apa jawabab beliau.

Mulailah lagi kami gerilya mencari dokter paling tepat untuk mengobatinya. Mencari info tentang apa sesungguhnya penyakitya. Banyak cerita tidak mengenakkan tentang bagaimana dokter meminta kami melakukan banyak tes, menunggu seminggu hasil tesnya, belum jadi juga, kemudian semena-mena saja menebak papah sakit apa tanpa ada hasil tesnya.

“Ya walaupun hasil lab-nya belum keluar, tapi saya sudah tahulah ini penyakitnya apa. Ini kanker. Ganas.”

Kurang lebih begitu jawaban dokter atas pertanyaan saya. Saya dan suami yang bertugas menemui dokter ini sungguh pengen marah. Tapi kami berdua paham, bahwa kesok-tahuan dokter itu cuma sedikit alasan bagi kami untuk marah. Alasan sesungguhnya kami ingin marah adalah isi dari beritanya; yang sebenarnya mungkin sudah kami ketahui juga kebenarannya. Hiks.

Kami berdua memutuskan untuk tidak memberi-tahu mamah soal berita ini sampai hasil lab benar-benar keluar. DI rumah kesibukan kami sekitar memasak makanan sesuai permintaan papah, mencari tabung oksigen, browsing rumah sakit di Penang dan Singapura, cari tiket di awal tahun dan merencanakan membawa papah ke 2 kota tersebut untuk berobat segera di awal tahun.

Sekitar 3 hari setelah berita itu, hasil lab sungguh-sungguh keluar. Kami -saya, suami dan adek- bertugas lagi mengambil hasilnya. Dalam perjalanan saya dan suami tidak banyak bicara. Cuaca Desember yang mendung rasanya tambah bikin suasana hati gelaaaaap betul. Sampai di rumah setelah mengambil hasil lab, suami saya bertugas memberi-tahu mamah dan papah soal hasilnya. Alhamdulillah bukan saya yang bertugas untuk itu. Saya dengan gamblang menyatakan bisa melakukan banyak hal lainnya, tapi tidak yang satu itu.

Sekitar jam 7 malam, tanggal 31 Januari 2011, mas Tonny jongkok di sebelah papah yang duduk di sofa hitam, menerangkan hasil lab nya ke papah. Papah tidak banyak bicara. Saya lelah sungguh secara psikologis. Saya ingin liburan akhir tahun ini segera berlalu. Segera Senin dan saya akan langsung menghubungi perwakilan rumah sakit Penang di Jakarta, sesuai rekomendasi teman yang suaminya bolak-balik dirawat ginjalnya di sana. Saya langsung tidur.

Pagi-pagi kami bangun, Bintaro hujan deras. Hampir tidak ada suara motor atau mobil yang lewat. Papah sedang sangat kesakitan karena tidak bisa bernapas. Mamah kebingungan karena semalaman dibangunkan papah yang tidak bisa bernapas. Mas Tonny tadi malam mengantarkan papah untuk pipis ke kamar mandi dan terkejut melihat warna pipisnya yang hitam dan ada endapan-endapannya. Pagi yang sangat tidak ingin saya ulangi.

Kemudian, setelah mamah selesai membimbing papah sholat Dhuha, menemani mamah istirahat, kami ngobrol di kamar depan. Tiba-tiba mas Tonny yang ada di luar bersama papah, memanggil kami dengan wajah sangat cemas dan meminta kami membawa papah ke rumah sakit. Mata papah sudah tertutup. Napasnya masih satu-satu. Again. Unrealistic optimists saya terlalu berlebihan.

Pun saya langsung memakai celana saya, berusaha membantu mas Tonny mengangkat papah dan tidak berhasil. Saya mengambil payung, mengetuk rumah tetangga satu demi satu. Rumah ke-4 yang saya ketuk akhirnya keluar penghuninya, mas ARif namanya membantu kami mengangkat papah ke mobil. Suami saya juga sudah mengundang satpam untuk membantu. Saya menyetir mobil. Mamah di samping saya. Mas Tonny di belakang memangku papah.

Sampai rumah sakit. Waktu berjalan sangat lambat. Rasanya hampir tidak ada suara di sekitar kami. Tik tok tik tok. Mas Tonny menyusul saya dan sedang memarkir mobil sambil bilang.

“Ayo masuk cepetan, tengokin papah. Papah udah gak ada”

Saat menulis kalimat di atas barusan, kembali saya menangis. Well, saya bukan orang bodoh. Ilmu agama saya tidak sempurna, tapi saya tahu semua orang pasti mati. Dan mati bukanlah suatu hal yang menimpa hanya orang-orang jahat. Tapi ketika papah saya meninggal, rasanya saya tidak tahu lagi harus bereaksi apa dan bagaimana. Mamah histeris dan berkali-kali hampir menjatuhkan diri di lantai UGD rumah sakit. Sambil mengulang-ulang.

“Mas Tatok. Janjinya gak begini mas Tatok. Katanya mau ngurus cucu sama-sama mas Tatok.”

Well well well. Apalah arti janji manusia dibanding takdir Allah. Papah dimakamkan di Semarang. Suami saya menemani jenasah papah di ambulance dalam perjalanan darat terakhirnya menuju kota kelahirannya. Tetap ada terselip cerita lucu selama proses berduka itu.

Seperti suami saya yang sedang menunggu ambulance datang menjemput jenasah papah di RS, tiba-tiba hp-nya berbunyi. Nama yang tertera di hp itu adalah “PAPAH”. Tanpa sadar suami saya menjawab perlahan,”Iya iya pah. Sebentar pah.” Baru kemudian ingat bahwa papah sudah meninggal.

Sejaka papah meninggal dunia saya berubah. Saya bukan anak yang dekat dengan papah. Adek-adek saya ada yang memiliki hubungan lebih akrab sama papah. Papah bukan sosok yang banyak bicara atau banyak memuji atau bahkan nimbrung kalau kami pas ngumpul ngrasai orang lain. Tapi kepergian beliau merubah hidup saya. Saya yang dikenal sebagai orang yang selalu optimis dan bahagia, sekarang seperti selalu ada bayang-bayang berwarna grey di belakangnya. Seperti ada lubang yang besar di peryt saya. My life change internally. Orang yang mengenal saya dengan baik, pasti melihat perubahan itu.

Tidak banyak yang saya sesali dalam perjalanan papah sampai waktu meninggalnya. Karena saya bukan jenis orang yang kemudian sibuk dengan pertanyaan mengapa. Atau seandainya. Saya menerima takdir ini. Hanya saya menyesal tidak ada di sampingnya -literally di sampingnya- saat beliau menghembuskan napas terakhirnya. Jarak saya memang cuma 1 meter dari beliau, tapi saya tidak di sampingnya.

Papah yang dalam diamnya melindungi. Tidak hanya melindungi kami. ternyata diamnya adalah perlindungan bagi banyak aib keluarga yang beliau ketahui, yang kemudian baru setelah beliau meninggal kami ketahui. Papah yang diamnya membuat sebagian orang tak bernyali makin ciut nyalinya untuk menyakiti kami. Dan kepergian beliau seperti siraman minyak tanah di atas api egoisme dan sirik sebagian orang. Papah yang diamnya adalah tanda kuatnya beliau menahan lisannya dari bergunjing.

Mohon doa bagi arwah beliau, Tatok Mohammad Heriyantono. Mohon dimaafkan segala kesalahannya, bagi yang pernah mengenalnya. Tulisan ini baru berhasil saya buat 2 tahun setelah kepergiannya. Semoga itu bisa menunjukkan bagaimana kepergian beliau sungguh membuat beda bagi hidup saya.

Gagak Temanku

Halaman Depan SD Gergaji Semarang

Tiba-tiba saya teringat Gagak. Teman saya waktu SD di Semarang. Saya satu kelas sama Gagak, sejak kelas 1, kalau gak salah. Bahkan sering kali kami 1 bangku. Inget kan? Bangku jaman dulu. Yang nyambung sama kursinya. Ada lubang di tengahnya. Jaman dulu sih buat tinta. Jaman saya, cuman buat mainan aja, jatuh-jatuhin penggaris. Hehe.

Oiya. Saya sekolah di sekolah kristen di Semarang. Namanya SD Gergaji. Namanya aneh memang. Tapi, lagi-lagi seinget saya, termasuk sekolah terbagus di Semarang. Yah, namanya juga sekolah saya sendiri, ya saya puji sendiri lah. Hehehe.

Balik lagi soal Gagak. 3 tahun sekelas sama Gagak. Mamah saya belum pernah ketemu sekali pun sama dia. Tapi Mamah selalu dengar cerita tentang dia. Karena pulang sekolah, sambil makan siang, kami biasa berbagi cerita di meja makan. Saya dan 2 orang adik saya satu sekolah. Hampir tidak ada rahasia yang bisa disimpan dari mamah. Ya, meja makan itu pusat semua rahasianya. Saya sering cerita soal Gagak sama mamah. Mamah nampak cuma mendengar dan tidak keberatan atas semua cerita-cerita saya.

Sampai tahun ke-3 saya sekelas. Mamah mulai nampak keberatan. Ingatan saya mamah mulai nanya-nanya tentang Gagak. Salah satu pertanyaannya adalah.

“Gagak itu nakal atau malas sih Fan? Kok dia gak bisa bikin garis sendiri di bukunya. Sampai kamu harus garisin. Kamu juga yang ambilin pensilnya waktu jatuh. Kamu jangan mau ya disuruh-suruh gitu sama temenmu.”

Sesungguhnya saat itu saya bingung. Karena rasanya saya tidak disuruh Gagak buat melakukan semua itu. Saya senang melakukannya. Gagak teman yang seru. Anaknya berkulit putih, rambutnya (kalau gak salah) agak keriting. Dia lucu. Kami sering bertukar cerita sambil dengerin guru ngomong di depan. Tentunya sembunyi-sembunyi. Dan, satu lagi, Gagak anak yang PINTAR. Nilai-nilainya bagus. Kadang bahkan nilainya lebih bagus dari saya. Dan dia tidak nakal, setahu saya. Setiap istirahat, dia lebih sering duduk-duduk di depan ruang kelas, melihat teman-teman laki kami yang berlarian main kasti. Omongannya juga gak kasar. Gak sekasar teman laki-laki saya yang lain. Betul.

Saya lupa kelanjutannya gimana. Apa mamah yang datang ke sekolah dan protes sama guru-guru saya. Karena, tenang saja, mamah protes? Sama sekali bukan berita baru di SETIAP sekolah yang pernah saya & adek-adek saya masuki. Setiap kali menurut mamah, anaknya diperlakukan tidak adil. Beliau langsung menyingsingkan lengan baju, berangkat ke sekolah, bicara sama guru kami. Nah, soal Gagak, saya agak lupa. Mungkin mamah datang protes ke sekolah. Atau akhirnya saya yang cerita lebih lanjut.

Intinya. Naik ke kelas 4, Gagak pindah sekolah. Masih seingat saya, dia ikut orang tuanya pindah ke Jakarta. Sedih? Iya. Saya ingat rasanya tidak punya teman. Saya juga cerita ke mamah soal Gagak pindah sekolah. Saya juga bilang saya sedih. Kata mamah,

“Ya malah enak kan, jadi kamu gak direpotin sama temenmu yang malas itu.”

“Tapi Gagak gak males kok mah.”

“Terus kenapa dia gak garis sendiri aja di bukunya. Kenapa dia gak ambil sendiri pensil atau penggarisnya yang jatuh?”

“Kan tangan kirinya cuma separo mah. Cuma sampai siku. Jadi dia ga bisa pegang penggaris.”

*rindu Gagak. di mana ya dia sekarang? kalo ada yg kenal, tolong kasih tahu saya ya?

Mari Menangis eh Mari Bicara

Hari ini, di Semarang. Pagi-pagi, Genta dan saya sudah harus diguyur dinginnya air Semarang. Sebagian bilang airnya sudah tidak terlalu dingin. Buat kami yang biasa bersentuhan dengan air Bintaro, air Semarang rasanya cesssss, kayak air es.

Ngapain pagi-pagi mandi? Pagi ini jadwalnya mas Archi, sepupu Genta, sekolah di PAUD. Seperti biasa, 3x seminggu, tiap kali di Semarang, kami ikutan sibuk nganter mas Archi sekolah. Genta ikutan masuk kelas. Nyanyi pelangi-pelangi. Genta selalu senang kalau dikelilingi kakak-kakaknya.

Sambil memandang Genta kecil main, sudut mata saya menangkap ada guru yang sibuk dengan kain pel dan pewangi ruangan. Hmm. Ada apa ini? Walaupun pemandangan seperti itu biasa di tempat yang banyak anaknya. Somehow, saya penasaran. Tidak terlalu lama, ada orang tua murid yang mendekati mamah saya.

“Nangis lagi Kayla. Sampai muntah-muntah.

Ditinggal sama pembantunya.

Ibunya sibuk, kerja, gak pernah nganter.”

(Oiya, namanya nama samaran ya)

Pemandangan berikutnya adalah guru PAUD sedang menggandeng gadis kecil yang mata bengkak karena menangis. Rasa pertama yang muncul lihat anak kecil nangis, selalu saja kasihan. Heran juga saya. Dalam diam, saya berbisik manja pada diri saya sendiri.

“Anak NANGIS itu artinya dia sedang BICARA.

Kenapa kasihan?

Memang orang dewasa, nangisnya karena sedih?”

 

Dalam bayangan saya, saya sedang bicara dengan sangat lembut pada bawah sadar saya yang terlanjur menerima informasi yang SALAH ini. Betul juga. Anak-anak ber-KOMUNIKASI lewat TANGIS-an, salah satunya. Jadi kenapa kasihan?

Seharusnya kita, orang dewasa bertugas merespon. Sesuai kebutuhannya. Bukan kasihan. Respon yang paling tepat adalah yang paling sesuai kebutuhan. Cara pertama, ya diajak bicara. Wong mau BICARA ya harus di-JAWAB kan?Bukannya malah disuruh diam?

Hehe. Tiba-tiba di kepala saya berkelebat bayangan lucu. Orang dewasa yang mau bicara, disuruh DIAM oleh partner biacaranya. Pasti rasanya jengkel betul. Anak-anak BICARA lewat TANGIS-annya, juga disuruh diam sama orang dewasa. Kira-kira anak-anak itu sejengkel yang tua ga ya rasanya?

Pesawat Lagi

Kemarin Genta dan saya lagi-lagi naik pesawat hanya berdua. Hehe. Maksudnya tanpa pendamping. Tanpa mas Tonny, suami saya. Pun juga tanpa adek-adek saya yang biasanya sering menemani ke mana-mana. Ini sudah ke sekian kali kami pergi hanya berdua.

Sejak seminggu lalu, saya sudah mulai conditioning. 2x pergi naik pesawat yang terakhir, Genta selalu nangis setiap landing dan take off. Yang kali ini, sudah saya niatkan supaya tidak terjadi seperti itu. Sejak Minggu lalu, saya berusaha melakukan conditioning. Hehehe. Mulai dari membelikan Genta mainan pesawat-pesawatan. Setiap kali sekolah, sambil nunggu bibi Fatriya menjemput, kami main pesawat-pesawatan itu.

Saya dan suami juga makin intens nunjuk ke pesawat yang lewat. Sambil dadah-dadah. Bilang halo pesawat. Juga sambil mengajak Genta bilang, “Mas Archi, sini sini, ayo kita naik pesawat.“ Setiap kali ada pesawat lewat, saya juga nambahin, “Minggu depan Genta naik pesawat yaaaa? Mau ke Semarang“

Selama perjalanan ke airport, karena Genta tidur. Conditioning tidak bisa dilakukan. Begitu bangun, check in dll, langsung dimulai lagi. Kami berdua nyanyi-nyanyi di lorong menuju gate A2.

“O We are flying in an aeroplane,
looking out the window,
watching the clouds go by…“

Begitu mau boarding, Genta semangat sekali. Kata dia, ”Mau naik pesawat, kayak BJ.” Hahaha. Agak deg-degan, kali ini Genta boarding jalan sendiri. Selamaaaat. Dia jalan terus sendiri di lorong pesawat sampai duduk di tempat duduknya. DI kursi dia juga sibuk banget ngitungin jumlah peswat yang kelihatan drai jendelanya. Begitu take off, dia agak deg-degan sedikit. Tapi berikutnya, langsung baca buku pesawat dan tiduuuuuur.

Genta bangun persis waktu pesawat selesai landing. Turun pesawat, dia masih sempat aja ciumin tangan para pramugari. Senangnya. Senangnya. Hahahaha. Senangnya berhasil mengendalikan pancaran energi cemasku setiap kali naik pesawat. Dan tidak mentransfernya ke Genta.

Belajar Ikhlas di Pesawat

Setiap kali pergi naik pesawat, aku tertarik untuk mengamati wajah-wajah sesama penumpang. Dalam hatiku, aku bertanya-tanya, “Hebat betul oarng-orang ini ya. Senyum-senyum. Kayaknya gak takut sama sekali mau terbang.” Hehehe. Sementara aku, sebenarnya setiap kali mau terbang, selalu sibuk “menggusah” wourst case scenarios yang menari-nari di kepalaku. Belakangan skenarionya semakin menegangkan karena aku pergi bersama Genta.

Hari Senin kemarin aku naik pesawat lagi dari Semarang ke Jakarta, cuma berdua sama Genta. Soal cuma berdua, sama sekali bukan masalah besar. Genta sangat mudah diajak kerja sama. Lagipula sepengalamanku, orang-orang nampak sangat berempati dan ringan tangan membantuku setiap kali aku bepergian hanya berdua sama Genta.

Problemnya adalah, Genta nangis setiap kali pesawat mau take-off. Well, ini bukan pertama kali Genta naik pesawat. Tapi ini memang pertama kalinya Genta naik pesawat hanya berdua denganku. Dan juga pertama kalinya Genta nangis di dalam pesawat.

Sebagai orang yang intuitif, langsung saja skenarionya semakin kencang menari di kepalaku. “Anak kecil kan sensitive,” ujarku dalam hati. Jangan-jangan dia kerasa kalau pesawat ini nggak aman. Ok. Pintu daruratnya di mana? Diikuti dengan langkah-langkah antisipatif lainnya yang seperti SOP langsung aku susun di kepalaku. Alhasil, tentunya Genta semakin keras nangisnya. Minta keluar. Nunjuk-nunjuk pintu keluar. Detak jantungku aku sadari makin kencang. Napasku juga makin memburu kayak lagi lari. Bagian bawah lenganku mulai hangat. Aduh, apa yang harus aku lakukan?

Tiba-tiba ada suara kecil, ramah dan sangat lembut bilang, ”Pasrah Fan. Ikhlas. Dan sabar.” Suaranya kecil sekali. Kalau ditanya di mana tepatnya suara itu muncul, tepatnya muncul dari belakang my belly button. Apakah suara itu seperti laki-laki atau perempuan? Perempuan. Seperti suara anak-anak yang menarik-narik ujung bajuku dengan wajah polosnya. Kemudian, napasku melambat, detak jantungku mulai tertata kembali. AC pesawat juga mulai terasa sejuknya. Aku melihat ke luar pesawat lewat jendelaku. Sesaat kemudian aku menengok ke arah Genta, matanya mulai menutup pelan-pelan. Dalam hitungan detik dia tidur memelukku dengan tenangnya.

Sudut bibirku tertarik ke atas. Aku tersenyum. Sungguh. Naik pesawat adalah momen yang tepat buat belajar ikhlas. Aku teringat guru NLP ku, mas Ronny dan tanpa sebab yang jelas ada running text muncul di kepalaku, ”Happiness atau apa pun emosi yang ingin kau rasakan is a decision away.” Suara anak perempuan tadi membantuku mengambil keputusan yang tepat soal emosi apa yang ingin aku rasakan.

Dan aku juga membuktikan satu hal lagi tentang parenting. Anak sungguh adalah perasa energi yang luar biasa akurat. Genta nangis bukan karena takut. Genta nangis karena terkena aliran energi ketakutanku yang berusaha keras aku tutupi. Orang dewasa bisa dibohongi soal energi. Tapi Genta, dan anak-anak lainnya, sepertinya tidak bisa dibohongi.

Kurang lebih 1 jam kemudian aku dan Genta sudah ada di mobil kami, dalam perjalanan pulang ke rumah kami, Bintaro. Dalam beberapa helaan napas, rasanya mataku hangat dan airmataku hampir turun, terutama waktu ketemu ayahnya Genta dan bibinya, yang menjemput. Well, sebuah pengalaman worth to share.