Short Escape

View

Menjelang habis liburan, kami putuskan pergi mendadak berlibur. Hihihi. Dekat-dekat saja, sekitar Bogor, Puncak atau Sukabumi. Belum tahu mau pergi ke mana waktu kami meninggalkan rumah, jangankan pesan hotel.

Makan duluuuu. Sip. Sambil makan masih juga mikir mau ke mana daaaan belum ketemu juga, Tiba-tiba seorang teman sms suami saya, kebetulan dia sedang di Jakarta. Ah, klasik, mana ada kebetulan? Memanglah dia dikirim ke kami buat menunjukkan mau ke mana liburan kali ini. Singkat padat dan jelas, dia bersedia ikut kami. Kami memanggilnya Pakde Arif, supaya Genta dan Puti juga terbiasa dengan panggilan itu. Teman di mana? Walah, panjang ceritanya, intinya teman, teman baik, teman yang masih mudah ditemui walau tinggal di kota berbeda. #kode

Selesai makan kami menjemput Pakde Arif menuju Puncak. Si pakde langsung menyebut lokasi rekomendasinya, punya temannya katanya. Si pakde memang punya banyak sekali kenalan. Terjebak macet selama 4 jam di keluar tol Jagorawi sama sekali tidak mengurangi serunya liburan kami. Foto di atas adalah pemandangan dari dalam kamar kami. Gimana? Cocok kan?

Komentar Genta, “Kok rasanya Genta pengen kayak gini tiap hari ya buuu”

Jiaaah, ya tentunya leee, ayah ibumu juga mau. Sabar ya. Lagi bikin infrastruktur dulu. Hee, kayak pemerintah aja ngomongnya. Anyway, it was a great short escape. Thanks to Pakde Arif, suami saya mematikan GPS nya dan hanya bergantung pada GPS hidup di sebelahnya. Hehehe.

Otw pulang, mampir dulu ke air terjun Cikoneng Sentul. Cakeeeep.

Otw pulang, mampir dulu ke air terjun Cikoneng Sentul. Cakeeeep.

Itu dia kami beberapa saat sebelum turun hujan.

Itu dia kami beberapa saat sebelum turun hujan.

Ini dia wajah kami sepulang dari Bumi Geulis. Mampir sebentar di Waroeng Ijo, Sentul.

Ini dia wajah kami sepulang dari Bumi Geulis. Mampir sebentar di Waroeng Ijo, Sentul. Seger kan?

^semua foto courtesy ayah Anton dan pakde Arif^

Pssstt, take a break, file some days off -the company won’t miss you that much-, spend times with family, don’t say you would do it later, if you can’t find time now I don’t think you could find it later and see how that short break breaks ear-to-ear smile on your kids face.

Advertisements

Quiet Moment

Setiap Genta tidur, saya punya kemewahan atas rumah yang begitu sepi dan tenang. Alunan blower AC dan kipas angin bagaikan gemercik air di vila kecil di Sukabumi. Terus menerus, ritmis, ada dan tidak mengganggu. Saya sangat menikmati momen ini. Saya meyebutnya sebagai quiet moment. Tidak sungguh-sungguh tanpa suara. Namun suarnya lirih sekali seperti pecinta sedang berbisik, sampai saya mampu mendengar suara kecil dari dalam dada saya sendiri.

Rasanya? Senang. Damai. Uhh, seperti menarik selimut kesayangan di tengah hujan lebat. Aman.

Dalam quiet moment saya beberapa waktu lalu, saya mendapat kemewahan untuk memikirkan tentang hidup. Saya teringat tahun-tahun saya di Yogya. Segala sesuatu berjalan sangat cepat seperti kilat menyambar. Cepat, keras dan kemudian hilang. Saya juga teringat salah seorang teman baik, yang entah sedang berdiri di bagian dunia yang mana sekarang, berkata,”Ternyata hidup itu gak selalu harus berlari ya Fan? Jalan juga boleh kok.”

Waktu itu saya mengiyakan. Walaupun dalam hati bertanya-tanya. Bagaimana mungkin dalam hidup yang singkat ini kita tidak perlu berlari. Ada banyak tujuan yang harus didatangi. Ada banyak asa yang mau direngkuh. Kalau tidak berlari, tidak mungkin rasanya melakukan semua hal itu sebelum waktunya habis. Namun atas nama hormat, saya iyakan saja.

Kemudian beberapa tahun sesudahnya, ketika kelelahan sedang menggoda. Seperti seorang belly dancer yang menari di kerumunan turis-turis padang pasir, saya teringat lagi kata-katanya. Iya saya semakin dalam, namun masih belum menemukan caranya untuk memperlambat langkah saya. Pertemuan-pertemuan dengan orang hebat lainnya membuat saya paham, bahwa perjalanan sama indahnya seperti tujuan.

Lalu tahun 2009, saya bertemu malaikat kecil yang nampak sangat lugu. Macam bunga mawar yang tumbuh tenang di tengah padang rumput. Dengan caranya yang halus, justru dia mengajarkan saya tentang memperlambat lari saya. Tanpa kata. Tanpa tekanan. Dan hidup saya berjalan lebih pelan. Sekarang saya paham bahwa hidup memang tidak perlu berlari. Saya menikmati hari yang cepat berlalu dengan langkah pelan saya. And yes, I begin to enjoy little things in life.

Apakah saya kehilangan tujuan? Kehabisan mimpi-mimpi yang mau diraih? Kota-kota yang akan dicium aromanya? BUKAN. Saya punya lebih banyak tujuan sekarang. Hidup saya bukan lagi tentang saya saja. Tentunya jadi makin banyak asa yang mau saya rengkuh. Dan saya tetap melangkah pasti menuju semua itu. Hanya kali ini langkah saya lebih pelan. Dengan begitu saya jadi banyak belajar bersyukur.

Apakah lebih lama untuk sampai ke sana dengan langkah yang pelan? Walaupun sulit dijelaskan dengan logika sederhana, saya malah lebih cepat sampai tujuan dengan langkah pelan saya. Genta, si malaikat kecil, mengajarkan ibunya untuk menarik nafas dan mengeluarkannya dalam damai.

Aneh? Ya. Bukannya hidup memang serangkaian keanehan yang menyenangkan?