Life in a Bowl of Indomie

Berada di Semarang, malam-malam, kemudian memutuskan makan Indomie di warung burjo akang2 di Tembalang, sungguh semacam melemparkan saya ke badai memori sekian puluh atau belas tahun yang lalu.

Semua ingatan seperti menari-nari berusaha menarik ingatan syaa lebih dalan pada satu ingatan khusus. Sayang saya sedang tak dalam tahap setia pada satu ingatan saja. Saya memilih terbang menikmati terjangan semua memori itu. Mulai dari yang indah dan mengundang senyum sampai yang biru dan butuh tenaga untuk menahan airmata.

18 tahun pertama hidup saya, saya habiskan di kota ini. Pertama kali nonton bioskop. Pertama kali pacaran. Pertama kali ditinggal cowok tanpa jelas apa alasannya. Pertama kali dikirim mewakili sekolah untuk pertandingan. Banyaj hal yang pertama kali terjadi dalam hidup saya, terjadi di kota ini. So, harddisk external 1TM juga nampaknya gak cukup menampung kilasan videonya, apalagi muatan emosinya.

Sementar warung Indomie warna hijay yang layoutnya khas itu mengingatkan saya pada malam-malam sepi di Yogya saat darah muda menggelegak. Menghabiskan malam dengan diskusi-diskusi ngotot tentang hidup, tentang negara, tentang cinta, tentang pertunjukan-pertunjukan drama, tentang “dia”, tentang masa depan. Tentang hidup pasca kampus biru, pasca kartu mahasiswa expired.

Sungguh, kebahagiaan hidup memang terletak pada kemampuan bersyukur.

Saya tersenyum mengingat malam-malam kami, saya dan suami, berburu indomie. Naik motor. Berjaket. Jam 9-10 malam, setelah pulang dari saya mengajar, menenteng printer pinjaman dari tempat kursus saya mengajar bahasa inggris, mampir sebentar sebelum lanjut nebeng ngetik skripsi di rumah teman yang punya komputer. Kenapa malam? Karena siangnya saya kerja, komputernya dipakai yang punya serta printernya dipakai buat ngeprint tagihan di kantor. Hehehehe.

Malam berlanjut dengan teman saya tidur di kamar teman lainnya. Suami saya yang saat itu jabatannya sahabat saya akan melek semalamam sambil baca buku tanpa berkata sepatah kata pun. Dan saya akan akan mengetik sampai jam 3-4 pagi sebelum tergeletak di depan komputer. Bangun jam 5, ngesave ulang semua ketikan, minum teh buatan teman yang punya komputer, kemudian menembus udara pagi dinginnya Yogya di tahun 2000an awal bersama sahabat saya mengembalikan printer sebelum jam 7 kantor buka lagi. Aaaah romantisme masa muda memanag luar biasa.

Badai memori saya terinterupsi suami yang mengingatkan soal beli salonpas untuk tangannya yang sakit.

Well, laki-laki ini, yang dulu mengantar, menjemput dan menemani saya mengeyik skripsi. Yang kuat tanpa jaket menerjang dinginnya Kaliurang. Sekarang mengeluhkan pergelangan tangannya sakit dan perlu salonpas buat meredakan sakitnya

Sekali lagi saya tersenyum geli, gimana selempar kertas berlem mampu melemparkan saya kembali ke tahun 2016. Di kamar mandi, saya melirik kilasan benang putih yang nampaknya enggan terlepas dari kepala saya. Aaah si putih pun mulai bertebaran di kepala. But I dont feel like I am getting older for even a day. Hihihi.

Wow. How time flash. It was only yesterday, or even this morning as I remember. But hearing my kids breathing in their sleep right in the rear seat of the car reminds me of one peculiar thing. Time is slow and fast at the same time that it makes me confused of separating memory and dream. Or are they really from the same planet? *sigh*

Here at my almost 40 stage, I realize that this sentence below is really really giving you harsh fact.

“Demi waktu, sesungguhnya manusia itu merugi”

Dan Fan, kaudapatkan insight itu melalui Indomie dan Salonpas? Well, may be you should try salmon steak next time for better insight. Hihihi.

image

Advertisements
Video

Sopan Santun – Subo Seto

Attitude is everything - Blog Fanny Herdina

Haiyaaa…. sopan santun selalu jadi isu di keluarga saya. Dan selalu ada dobel standar dalam penilaiannya. Kadang sopan berarti yang muda wajib mendatangi yang tua, tapi di lain kesempatan sopan artinya yang sempat yang mampir (Oh teriring doa untuk almarhum papah saya Tatok M. Heriyantono yang dengan bijak menganut paham kedua). Sering kali -khususnya ketika menyangkut saya- sopan artinya mengantar orang-orang tua ke tempat mereka mau pergi walaupun itu saya harus “menthang” dari tujuan saya, tapi bagi orang lain sopan itu cukup dengan mencarikan taksi di depan rumah atau bahkan cuma dengan meyakinkan bahwa akan ada taksi lewat di depan rumah. Ada kalanya sopan itu artinya kalau lagi di deket-deket ya mbok mampir, sementara bagi yang lain sopan itu artinya “biarpun deket-deket gw kan kerja jadi ya gak bisa mampir”.

Anyway saya paling bingung kalau ngomongin sopan santun. Jadi bahkan untuk memulai tulisan ini saja saya bingung harus mulai dari mana. Supaya mulainya pun sopan. Baiklah, saya mulai saja dari pendapat ahli ya.

—————————————————————-

Daniel Goleman menyatakan dalam salah satu buku bersejarah dalam psikologi populer, bagaimana faktor EQ berperan dalam kesuksesan seseorang. Faktor IQ yang dulunya menjadi raja diraja dalam menentukan kesuksesan, ternyata turun derajat sejak eranya David Goleman.

Yah anggap saja di dalam EQ termaktub pantang menyerah, mampu bersosialisasi, inisiatif, mampu bekerja dalam tim, senang dan bisa belajar dengan cepat. Dan lain sebagainya. Mari bicara soal sosialisasi saja, di mana sopan santun mungkin berpengaruh.

Bayangkan saja, Anda lagi mimpin meeting nih di kantor, tiba-tiba teman kuliah Anda yang baru join di perusahaan yang sama main nylonong aja masuk ruangan Anda dan menyapa Anda dengan,

“Hai Mbul. Gila, masih gembul aja lo. Makmur lo ya sekarang. Sukses.”

Sambil nepuk-nepuk punggung dan salaman sih memang. Di depan anak buah. Kira-kira apa ya perasaan Anda? Kalau Anda kemudian berkesempatan ditanya atasan Anda tentang teman Anda, Anda bakal jawab apa ya?

Ah itu sih contoh ekstrem. Baru cerita rekayasa. Belum sungguh-sungguh terjadi. Masak ada sih orang kayak gitu.

———————————————————-

Di sebuah gedung perkuliahan di kota besar, para mahasiswa yang datang 10 menit sebelum kuliah dimulai terbirit-birit menuju pintu lift. Sori, bagi yang mengalami kuliah naik tangga, wake up, it’s 2014 now. Tangga mempunyai istri now, namanya darurat. Ok? So, face it. Anak kuliah sekarang naiknya lift man. Pegangnya IPhone. Ngetiknya di IPad. Makannnya sih teteap Indomie. Eh, ini kenapa sampai sini sih? Balik!

Nah di depan lift ini, sudah menunguu lah seorang ibu yang menggendong anak bayi, membawa stroller dan 1 anak balita di sebelahnya. Ribet? Sudahlah. Demikian hidup emak-emak jaman sekarang. See the differences? Bawaan mahasiswa sekarang vs. bawaan emak-emak sekarang. Jelas saya bukan dua-duanya, karena saya adalah seorang….. ^sensor^

Pintu lift terbuka untuk pertama kalinya, setelah si Emak ini menunggu sekitar 10 menit. Oh sori, lift nya cuma 1, yang 1 rusak. Isinya penuh mahasiswa yang suaranya terdengar bahkan sebelum lift sampai di lantai itu. Tanpa ba bi bu. Pintu lift ditutup lagi dari dalam diiringi cekikikan para kaum belum-pernah-ngerjain-skripsi itu. Nunggu lagi deh, 10 menit kemudian muncul lah si mahasiswa yang terbirit-birit tadi, langsung tanpa permisi berdiri di depan pintu lift, bikin si emak terpaksa mundur dan menarik pelan anak balitanya. Saat lift terbuka, langsung 2 mahasiswa ini masuk seperti tanpa pernah tahu definisi antri.

Dasar Emak ga mau kalah, anak, bayi sama stroller tetep dijejelin ke dalam lift. Muat lah. Pintu lift tertutup. Tiba-tiba ada suara.

“hmm, lantai 3 dong”

*Emak clingak clinguk karena berdiri di dekat tombol lift* sambil tahu diri mencet angka 3 sesuai order si mahasiswa k*t*k*pr*t itu. #eh maaf sudah tidak sopan.

Cerita selanjutnya ga penting kan? Dan kabarnya mahasiswa adalah embrio cendekia bangsa. Calon penerus kebesaran atau kekerdilan bangsa.

————————————————————-

Saya lupa dengar cerita ini dari mana. Detailnya pun mungkin banyak yang salah. Tapi ambil saja seperlunya, lainnya kembalikan lagi atau buang ke sampah.

Alkisah seorang pengusaha yang sudah sangat sukses tinggal di sebuah apartemen. Setiap pagi si Bapak ini selalu turun dari apartemennya, membeli koran dari penjual koran kaki lima di depan lobi apartemennya. Setiap pagi saat beli koran, si Bapak selalu menyapa penjual korannya dengan ramah. Selamat pagi. Apa kabar. Dan segala sapaan sopan lainnya. Sementara si Penjual koran menjawabnya dengan asal-asalan bahkan sering kali dengan gerutuan dan suara yang kasar. Kejadian ini berlangsung tiap hari.

Dan seseorang di tempat jual koran itu yang punya kebiasaan membeli koran juga di tempat yang sama terheran-heran. Kenapa si Bapak pengusaha sukses ini tetap “ngotot” menyapa pak Penjual koran dengan sapaan yang hangat dan bersahabat, padahal sudah pasti jawabannya gerutuan dan keluhan? Keheranannya tidak tertahan sampai akhirnya dia bertanya pada si Bapak. Dan si Bapak pengusaha sukses itu menjawab.

“Perilaku saya yang membawa saya ke kesuksesan seperti yang saya miliki saat ini. Perilaku dia yang membawa dia ke posisi dia saat ini.”

———————————————————

Dan saya masih bingung bagaimana cara sopan memulai tulisan ini. Fiuh. Please help.