Bedtime Story

Sudah sejak lama, Genta selalu dibacakan setiap kali mau tidur. Kalau gak, bisa pecah perang dunia di kerajaan kami. Jadi sengantuk2nya sejengkel2nya secapek2nya kami, selalu ada yang mbacain cerita buat Genta. Kecuali kasus khusus, pulang terlalu malam, dia sudah ketiduran, terlalu , maka selalu ada cerita sebelum tidur buat ksatria kami.

Biasanya ayahnya yang mbacain. Namun karena satu dan lain hal, which is kemacetan Jakarta yang nggilani hari ini, saya yang kemudian mbacain critanya.

Judulnya “Siapa yang akan jadi raja”

Ceritanya hutan pohon besar lagi mau pemilihan raja. Singa, harimau, elang, gajah menemukan alasan masing2 buat menjadikan dirinya raja. Sementara si tupai, yang sibuk memikirkan siapa di antara 4 yang mau jadi raja itu, yang bisa jadi raja, dengan cara yang adil. Kenapa tupai yang sibuk? Karena tupai ini memang terkenal ringan tangan, suka membantu memecahkan maslah orang lain.

Singkat kata singkat cerita, aku dan dia jatuuuuh cinta. Cinta yang dalam sedalam laut, laut meluap cinta pun hanyut. Jatuh cinta ayo ta…. *oh sori, malah nyanyi*

Nah, akhirnya tupai mengusulkan buat pemungutan suara. Karena apa? Karena raja kan memimpin semua hewan, jadi semua hewan harus terlibat pemilihannya. Bukan cuman siapa yang mau. Naaaah, hasil vvvoting *baca dengan v yang berat* malah menunjukkan suara terbanyak adalah TUPAI. Tupailah yang jadi raja, karena dia yang selalu membantu menyelesaikan maslah teman2nya.

Paragraf terakhir dari cerita itu yang semoga tertanam betul di Genta, harapan saya adalah…

“Dan tupai pun menjadi raja hutan pohon besar. Dan dia semakin banyak mendengarkan masalah hewan2, semakin banyak membantu menyelesaikannya, semakin rendah hati dan semakin dicintai oleh rakyatnya”

Somehow saya teringat Umar bin Khattab, sang ksatria sejati favorit saya, dengan cerita beliau yang membantu seorang suami yang istrinya mau melahirkan. Umar bin Khattab memang selalu mengundang bulu kuduk saya berdiri atas “kekuatan” nya.

Yaaah, seru ya. Jaman dulu, rakyat punya Umar bin Khattab. Hutan pohon besar saja punya raja tupai. ‪#‎demikian‬ ‪#‎theend‬ ‪#‎endofstory‬ ‪#‎selesai‬ ‪#‎nggantungyoben‬

Eh eh bedtime story mu apah?

Advertisements

Latepost : Nasehat Cinta

Nasehat Capres Blog Fanny Herdina

Let me start the story with…. When I was young…….er than now…. *mekso*

Ini cerita tentang saya dan teman saya. Belasan tahun yang lalu, boleh dibilang puluhan tahun yang lalu, saat mahasiswa, saya berteman dengan si Cantik satu ini. Saat itu dia berpacaran dengan laki-laki yang jelas-jelas saya tahu masih punya pacar. Tanpa konfirmasi ke Cantik, dalam hati saya mbatin.

“Huh. Dasar perempuan gatel. Udah tahu masih punya pacar, kok ya diembat juga”

Demikian juga rumor yang beredar di sekeliling saya tentang si Cantik. Tambah hari saya tambah mengamini bahwa si Cantik ini memang “gatel” *uh maafkan bahasa saya yang ehm uhm berantakan*

Karena waktu itu saya lebih dekat dengan si cowok, saya konfirmasi ke pacar si Cantik yang masih punya pacar lain itu. Jawabnya.

“Gak kok. Cuman temen deket aja”

Walah. Kaget saya. Saya pikir mereka sudah pacaran, ternyata si Cowok cuma menganggap Cantik sebagai teman dekat. *please abaikan norma hubungan laki-perempuan kami saat itu, walau tidak bisa dimaklumi, anggap saja kami muda dan masih exploring*. Tapi saya bingung, karena obrolan dan sindir-sindiran di sekitar saya itu jelas menunjukkan seolah-olah mereka pacaran.

But anyway, siapa juga saya ngurusin urusan orang? Udah jelas waktu itu saya yang gak punya pacar, belum KKN, apalagi skripsi, ga punya duit buat bayar kos pulak. Sudahlah. Perhatian saya teralihkan.

Kemudian saya punya pacar. Yihaa. *gak usah ditiru* Kemudian saya KKN, skripsi, lulus, bla bla bla. *flash forward* Here I am di awal 30-an *waktu itu ya, sekarang mah udah late 20s lah, bundhet bundhet deh ini time frame nya* Saya ketemu lagi si Cantik. Tentu kami udah berbeda. Ya iyalah, if you are still the same person as you were when you were 18 years old, hmm, let me just call you crazy. Percakapan kemudian mulai nyinggung soal masa lalu. Ya apa lagi sih yang diomongin kalau reuni? hihihihi.

Btw Cantik dan si Cowok itu akhirnya berpisah. Cantik sudah menikah sekarang. Si Cowok menikahi pacarnya yang memang dari dulu dipacarinya itu.

Ngobral ngobrol. Setelah panjang lebar, sampailah ke topik tentang si Cowok. Setelah update berita terakhir dan sebagainya, tanpa sadar pertanyaan saya belasan tahun yang lalu meloncat dari binir saya.

“Lha kamu udah tahu dia punya pacar, kok ya mbok pacari?”

“Loh, dia ngakunya udah putus kok waktu itu. Tenan. Nek aku ngerti dia masih punya pacar, ya gak mungkin lah kudeketin. Edan po aku?”

*dalam hati* whaaaaatttt???? *ngeyel* Loh tapi kan kamu tahu dia itu ada pacarnya kan?”

“Gak. Sumpah gak Fan. DIa ngakunya udah putus. Gak lah kukejar-kejar dia kalau tahu dia masih punya pacar.”

Saat itu, saat reuni itu tiba-tiba ingatan saya kembali ke jaman (lebih) muda saat saya dan beberapa teman ikut mengejek atau menyindir Cantik soal ke-gatel-annya. Belum sempat kembali nyawa saya, tiba-tiba Cantik nanya lagi.

“Lha kamu tahu to kalau dia masih punya pacar waktu itu?”

“Iya, tahu.”

“Kenapa gak ngasih tahu aku? Aku kan temenmu”

“Kupikir kamu tahu dan tetep aja cuek mau pacaran sama dia.”

Kalua boleh saya gambarkan muka si Cantik waktu dengar jawaban saya. Hmmm, sungguh. Bukan ekspresi menyenangkan yang ingin saya lihat di wajah teman saya. Sekarang kami masih berteman. Belajar dari kebodohan masa lalu. Kesalahan-kesalahan yang kami buat. Beberapa tahun yang lalu saat ketemu lagi, percakpan berubah menjadi

“Iya juga sih Fan, kalau toh kamu kasih tahu waktu itu ya mungkin aku gak mau dengar”

Itu yang cerita tentang Cantik. Cerita tentang saya juga gak kalah banyaknya. Diingetin mamah, adek saya, temen-temen baik saya –salah satunya jadi suami saya sekarang, hiks- tapi ya ngeyeeeel aja tetep deket-deket sama orang yang gak PAS. Saya juga protes, terutama sama suami saya

“Kenapa dulu kamu gak ingetin sih mas?”

“Lha udah kusindir, udah ku ece-ece juga ga paham-paham ok kamu”

Anyway, Cantik, Cowok, saya dan suami saya, kami sudah menikah sekarang dengan pasangan masing-masing ya. Dan kami hidup bahagia di atas kesalahan-kesalahan kecil yang kami buat. *jangan ngarep ada inspirasi ya dari tulisan ini, ini cerpen roman historical yang semi picisan kok* hihihihi

Saya bersyukur punya teman-teman yang kadang ngingetin kalau pas bikin salah. Saya juga bersyukur orang tua saya gak sok bergaya orang tua yang nasehatin anaknya, apalagi pas jatuh cinta. Ortu saya, terutama mamah saya kalau kasih nasehat mah nyante, selalu seolah-olah kami selevel. Gak main gaya nasehat orang tua ke anak.

“Kamu harus gini. Ini buktinya. Mamah itu lebih tahu. Karena mamah memang yaaa lebih tahu. Kamu yang harusnya tu lihat ni bukti-bukti yang mamah bawa”

Alhamdulillah mamah saya gak gitu caranya ngasih tahu. Karena dalam model percakapan kayak di atas, seolah-olah terselip bahwa mamah yang lebih tahu. Bahkan dengan usia dan pengalamannya, Mamah gak pernah merasa lebih tahu. Mamah saya lebih model yang kayak gini,

“Kamu yakin sama pilihanmu? Ok. Kalau kamu yakin, mamah dukung. Tapi kalau nanti kamu mau berbalik. Balik kanan aja, mamah di belakangmu.”

Begitu terbukti saya benar, mamah minta maaf, mengaku pilihan saya benar. Begitu terbukti mamah benar, saya minta maaf karena sudah begitu dibutakan sama cinta. Jiaaaaaahhh.

Saya lega dikelilingi banyak orang yang tidak merasa paling benar, paling pintar, paling jago, paling update dan perlu memberi nasehat. Ada sih sebagian yang suka  berasa paling tapi udah saya unfollow #eh. Sori, Kembali ke laptop. Maksud saya begini, berhentilah memberi nasehat ketika gak diminta. Juga berhentilah berpikir bahwa Anda perlu memberi nasehat. Berhentilah merasa lebih tahu, lebih update, lebih luas wawasannya, lebih bijak, lebih gemuk -oh ini saya yang merasa-. Karena yang jatuh cinta memang sedang gila karena cinta. Lha Anda? Jangan-jangan Anda gila karena merasa lebih. Ups. Sesama orang gila gak boleh saling mencela. Ok?

 

My Shoes vs. Gen Y Shoes

Dunia pewayangan gegeeerrrr…….

Pregnancy Empathy – Blog Fanny Herdina

*mari kita tarik napas sebelum mulai menulis*

Sudah sejak lama saya ingin menulis dengan tema ini, tapi lagi lagi saya kesulitan menemukan kata sifat yang tepat untuk jadi ide utamanya. Nah, gegernya dunia pewayangan beberapa hari belakangan membantu saya menemukan kata sifatnya.

Sebut saja Bunga -nama samaran-red-. Jiaaah, dia juga ga keberatan kok kayaknya jadi topik pembicaraan di sosial media, jadi ya sudahlah. Kegegeran dimulai dari posting-an di bawah ini. Buat yang ngerasa tua, please tarik napas dulu sebelum baca, ok? Buat yang muda, juga tarik napas, karena dalam beberapa detik ke depan, Anda akan merasakan perasaan maluuuuu sangat berada pada kohort yang sama dengan si Bunga ini,

ABG Edan - Blog Fanny Herdina

Begitulah mbak cantik ini berkicau di halaman personalnya. Gak bisa terlalu disalahkan memang, karena itu halaman personalnya. Semacam teras rumahnya lah. Tapi doski *biar sekalian ketahuan umur gw berapa* tereak tereak di teras bok, jadi ya wajar juga sih ya kalau yang lewat ngerasa terganggu dan mulai ngrasani sama orang lain. *enough for Bunga*

Sekarang giliran saya. Saya juga punya sederet komplen soal anak-anak se-kohort mbak-teteh-uni-apa pun lah sebutannya *orang-orang sekohort saya gak biasa manggil cuman nama say, maaf*.

Satu nih. Tetangga saya punya motor nih, Ganti-ganti motornya. Dulu vespa. Sekarang motor cowok gitu deh *jiaaaah motor dikasih jenis kelamin*. Nah biarpun ganti motor, tapi rupanya soal selera memang sulit berubah cuy. Selera anak tetangga saya ini hmmm… anu…. hmmm…. suara yang keras-lah, sebut saja begitu. Vespa dia, waktu dinyalain dulu, bikin ayah saya bangun dari tidurnya terus batuk-batuk, menjelang beliau meninggal awal tahun 2012. Ah, saya sibuk berduka, jadi saya cuekin. Walaupun saat ayah saya meninggal pun, dia ga muncul di rumah saya. Tetangga saya man, tetangga 1 tembok. Nah motor barunya ini kalau dinyalain, berhasil dengan sukses membangunkan Puti dari tidur siangnya. plus juga membangunkan bibi-bibinya dan utinya sekaligus. Waktu saya ingetin, dia marah-marah dari balik pintu rumahnya dan mengusir ibunya suruh pergi. Fiuuh.

Kedua. Pernah ngantri di McD yang buka 24 jam gak, di malam Minggu? Yes. Asep rokok. DSLR nganggur di meja atau dipakai dengan mode AUTOMATIC. Obrolan dengan suara keras diiringi kata “anj*ng” “bangs*t” “mony*t”. Itu sesudah mereka ngantri di depan kasir selama minimal 45 menit, karena dilema besar menghantui mereka, yaitu mau pilih french fries aja atau ice coffee aja. Juga sesudah mereka membayar ke mas/mbak kasir tanpa mengucapkan terima kasih, tentunya. Ganggu gak?

Ketiga ya, terakhir ah, males bahasnya walaupun bisa sampai 45 sih nomernya. Uhuk. Ketularan lebay gw. Cara mereka nongkrong seenak udelnya di depan Her* atau Indomar*t yang udah jelas-jelas gak nyediain kursi, setelah mereka beli sebotol air mineral, itu ganggu banget. Ga kinormat banget sama mbak/ mas cleaning service yang mau bersihin lantai. Kalau ditegur satpam, terus sok ngomong “gak asik gak asik”. Lah, memang situ asik?

Anyway….. *tarik napas lagi dah* Kemarin-kemarin saya anggap perilaku mereka sebagi “ya sudahlah”. Walaupun gondok dan selalu dilanjut dengan menggandeng Genta di depan mereka sambil bilang,

“Genta, kayak begitu itu tidak baik ya mas, jangan ditiru. Itu namanya tidak sopan. Kalau habis bayar, bilang terima kasih. Bla bla bla”

Tapi ketika gegernya sampai membawa-bawa orang hamil dianggap egois. Rasanya logika saya gak mampu lagi mengikuti logika mereka. Berangkat subuh? saya pernah mbak. Tulang nggeser? Udah pernah jatuh terduduk pas naik gunung? Kalau belum ,gimana kalau rasain dulu? *jiaaah, gw ketularan dia* *please stop me*

Intinya kegegeran ini membuat saya ngobrol sama suami. Hasil obrolan kami yang sangat sepihak ini -cuma pihak orang hampir 40an saja maksudnya- menyimpulkan segala kenyamanan hidup ternyata berefek negatif bagi generation Y ini. Tentunya tidak semua, tetap ada beberapa yang menunjukkan kemampuan empati yang luar biasa.

Semacam gini deh. Kalau Anda hidup enak terus dan tidak dilatih untuk bersyukur, dari mana Anda belajar menghargai kerja keras orang lain? Dari mana Anda belajar bahwa ada orang yang hidupnya mungkin tak seberuntung Anda? Dari mana Anda belajar bahwa untuk sebagian orang, hamil dan berhenti bekerja itu bukan pilihan? Dari mana Anda belajar bahwa beberapa orang itu bahkan belum pernah lihat yang namanya I-Phone? Jangankan punya atau beli, megang tu belum pernah, lihat gambarnya aja mungkin di koran? Tentunya sulit ya.

Di salah satu web yang menceritakan ciri Generation Y, nomor satu cirinya adalah, saya kutipkan,

“Tidak sabaran, tak mau rugi, banyak menuntut”

Again, tentunya tidak semua seperti itu. Tapi kegegeran dunia pewayangan di atas mungkin mengacu pada ciri ini yang dominan pada si Bunga dan beberapa komentator di bawahnya. Tidak sabar dan banyak menuntut nampaknya adalah hasil dari perilaku self-centered yang berlebihan. Sehingga tidak membuka ruang bagi mereka untuk berempati, untuk melihat melalui kacamata orang lain. Atau berjalan memakai sepatu orang lain. Dalam rangka apa mereka mau pakai sepatu orang lain wong sepatu mereka udah enak banget dipakenya?

Kehilangan empati memang tugas berat untuk dibetulkan jika terjadi pada usia Bunga. Kecuali sesuatu yang intens terjadi padanya dan mampu mengubah seluruh paradigmanya plus cara merespon dunia luar. Tanggung jawab siapa? Gak usaha gaya deh menuduh dunia pendidikan bertanggung jawab atas ini, ya jelas sekolahan bertanggung-jawab. Orang tua juga bertanggung jawab. Tapi itu tanggung jawab yang private yang gak manis disobek-sobek di muka umum seperti di blog saya ini.

Gimana dengan tanggung jawab kita sebagai masyarakat? Apa yang sudah kita lakukan untuk bersama-sama memetik kekuatan Generation Y dan memotong ranting-ranting busuk mereka? Apakah kita sudah….

  • mengingatkan mereka untuk membuang sampah di tempatnya karena yang kebanjiran bisa jadi bukan rumah mereka, tapi mereka tetap bisa ikut berkontribusi mencegahnya
  • mengingatkan mereka untuk tidak merokok di sembarang tempat, walaupun tempat umum dan ada tanda boleh merokok, terutama kalau berdekatan dengan orang hamil, orang tua, anak-anak atau orang-orang yang memberi kode dengan manis melalui batuknya
  • mengingatkan mereka bahwa di luar sana ada banyak orang yang butuh kerjaan, rela bekerja apa pun demi memberi makan anak istrinya sehingga tidak etis bagi mereka menolak begitu saja pekerjaan karena alasan yang tidak esensial
  • mengingatkan mereka bahwa antri itu tanda orang berpendidikan bukan tanda pecundang atau orang yang takut sama mereka
  • mengingatkan bahwa sebaiknya hobi itu bukan yang mengganggu orang lain, punya motor berisik misalnya, piara anjing tapi gak pernah dikasih makan misalnya
  • mengingatkan bahwa terkadang senyum dan menundukkan kepala sedikit ketika bertemu orang adalah tanpa sopan santun yang umum, bahkan di dunia internasional yang biasanya mereka bangga-banggakan
  • mengingatkan bahwa di luar negeri tren memanggil orang itu dengan “dear” “honey” bukan monyet, anjing atau kutil, masak gaya baju ikut luar negeri kelakukan jaman jahiliyah
  • mengingatkan bahwa merawat dan menjaga kerapian rambut itu penting, tapi melempar poni ke kiri kemudian menyibakkannya kembali ke kanan pakai tangan setiap 2 menit sekali itu mengganggu, bahkan menunjukkan rendahnya tingkat PD mereka
  • mengingatkan bahwa berbaju rapi dan bersih saat keluar rumah itu baik, tapi bukan berarti sibuk ngaca setiap kali ada cermin atau selfie-an di sembarang tempat

Yess. Saya yakin Anda bisa menambahkan sendiri daftarnya. Silakan tambahkan di komen ya, sekaligus tinggalkan link blog Anda, saya saya tambahkan ke dalam tulisan ini bersama link-nya. Itung-itung selain komplen, kita sedikiiiiiit berkontribusi menyampaikan ini ke dunia *gak janji juga bakal sampai ke mereka sih* tentang hal-hal yang mungkin bisa kita lakukan bagi generasi yang tidak mau merepotkan orang lain itu.

Pssst, kalau baju sepatu tas belum bisa bikin sendiri benernya itu juga masih merepotkan sih bok. Apalagi masih kerja sama orang, itu juga ngerepotin. Belum lagi kalau mulutnya kayak gitu, itu juga merepotkan sih. Jadi ya, saya simpulkan doa Bunga belum diijabah nampaknya. Dia masih merepotkan banyak orang. Yang bantuin ibunya ngelairin, juga repot. DOkter yang betulin tulangnya yang nggeser juga repot. *priiiit Fan, priiiit, enough*

Sebagai penutup, sebelum acara ramah tamah dimulai dan lagu kemesraan dikumandangkan *hanya yang bukan Gen Y yang paham ini nampaknya*, gambar di bawah mungkin bisa jadi pengingat yang manis. Selamat malam teman-teman. Selamat malam Bunga, semoga tempat tidur, kasur dan sprei tempatmu tidur malam ini buatanmu sendiri, sehingga tidak merepotkan orang lain. Banyak cinta kukirim untukmu, karena …… *mari katakan ini bersama-sama dear readers* 

hanya orang kekurangan kehangatanlah yang mampu mengeluarkan kata-kata sedingin itu

*meminjam ungkapan kakak kelas saya di salah satu status facebook-nya*. Muaaaah *cium basah*

Berikan kursi - Blog Fanny Herdina

Untuk Apa Koneksi Internet Cepat?

Koneksi Internet Cepat - Blog Fanny Herdina

Hayo jawab yang hobinya minta internet cepat, jawab dulu pertanyaan pak menteri. Kalau saya sih memang gak suka nunggu. Jadi sukanya klik langsung buka page nya, atau maksimal nunggu 1-2 detik lah. Jadi setiap ada modem yang ngaku punya kecepatan super, saya langsung terbang bak superman membeli modem itu, kemudian akan saya ganti begitu ada yang lebih super lagi.

Buat apa? Ya buat kepo di Facebook lah. Buat apa lagi emak-emak kayak saya ini.

Tapi seorang teman menjelaskan dengan baik soal pentingnya koneksi internet cepat. Begini penjelasannya yang saya terjemahkan dengan bebas.

Koneksi internet cepat itu gak cuman butuh buat download tapi juga upload. Apalagi buat industri kreatif yang butuh ngirim gambar dengan ukuran file besar. Sering kali urusan kerjaan jadi terhambat gara-gara file yang terkirim berhenti di tengah jalan a.k.a harus ngulang dari depan.

Nah penjelasan di atas masuk akal sih buat saya. Bener juga kan ya? Entar dikira kita yang lambat kerja. Padahal internetnya yang gak mau kirim-kirim filenya.

Ada juga yang bilang koneksi internet cepat itu buat download file-file yang isinya knowledge, supaya bangsa Indonesia ini lebih cepat menyerap ilmu baru. Sehingga harapannya lebih cepat berkembang.

Itu juga masuk akal sih.

Kalau saya sih alasan utama saya berharap koneksi internet di Indonesia cepat itu karena merasa kasihan sama teman-teman yang pulang dari luar negeri. Pas di luar negeri yang saya yakin koneksi internetnya cepet banget, mereka jadi mudah upload gambar, ganti status atau saling memberi komentar. Tapi begitu pulang ke Indonesia sering kali mereka tidak terdengar lagi kabarnya, jarang upload jalan-jalannya, jarang ganti status, juga jarang memberi komen atau nge-like status temennya. Itu kan pasti karena mereka terbiasa dengan koneksi cepat di luar negeri, terus jadi malas update pas sudah di Indonesia, karena koneksi internet di Indonesia lambat. Iya kan pak Menteri?

Banyak Bisnis Gagal di Tahun Pertama

Tahukah Anda, kalau Anda ketik “bisnis di tahun pertama” di Google maka kebanyakan artikel yang muncul adalah tentang kegagalan. Wow. Sama sekali tidak mendukung entrepreneurship ya? Harusnya kan yang muncul artikel tentang, cara-cara memulai, dukungan pemerintah, kebutuhannya, dll, tapi yang muncul justru tentang kegagalan. Ni kalau gak percaya.

Setelah kegagalan saya di bisnis pendidikan tahun 2012 lalu, seorang teman juga mengirim pesan melalui WA saya yang isinya kurang lebih begini.

“Tenang wae. Rugi itu biasa. Bangkrut itu biasa. Aku dulu juga gitu. 90% bisnis gagal di tahun pertama”

Hualaaah. Satu sisi melegakan. Di sisi lain, saya bertanya-tanya, haruskah saya menyerah pada fakta bahwa saya termasuk kaum 90%? Huaaaa, hiks, hiks. Apakah wirausaha bukan jalan saya? Apa yang sebaiknya saya lakukan? Hah, otak saya langsung dipenuhi banyak pertanyaan.

Anyway, soal gagal di tahun pertama, ada banyak artikel terkait tentang mengapa bisa begitu dan bagaimana cara mengatasi atau menghindarinya, kalau mungkin. Tapi saya bukan ingin menambah deret artikel tentang mengapa dan bagaimana. Saya mau bercerita tentang rasa. Rasa gagal.

Apakah Anda memahami bahwa Anda tidak pernah sepenuhnya siap gagal, sampai akhirnya Anda sungguh gagal dalam satu lingkup hidup Anda. Ah, saya tidak sedang membahas frase klise “kegagalan adalah sukses yang tertunda” atau “kita tidak akan gagal sampai kita berhenti berusaha”. Ayolah, kita semua sudah dewasa. Sedikit kegagalan bukan masalah besar bagi siapa pun dengan self esteem yang baik. Sedikit kegagalan + banyak denial, itulah yang menimbulkan masalah.

Seorang teman memberi komentar di Facebook suatu hari saat saya share status tentang kegagalan.

“Tenang mbak. Kegagalan itu….. bukanlah kesuksesan”

Nah, itu yang tepat. Ini baru teman sejati menurut saya. Langsung menampar ke intinya. Mengguncang ke dalam ulu hati. Hihihihi.

Saya butuh waktu kurang lebih 2 tahun untuk recover dari kegagalan saya mengelola bisnis pendidikan saya. DIgabung dengan meninggalnya papah dan perlakukan semena-mena orang lain pada mamah saya, 2 tahun rasanya bukan waktu yang lama. Selama 2 tahun, saya mandeg menulis. Bukan karena tidak mau, tapi tidak bisa. Ada malam-malam di mana saya membuka laptop, mengklik tombol “Add New” di wordpress, tapi kemudian timbol-tombol lain di keyboard seperti menghinda jari-jari saya yang diam lumpuh tak bergerak.

Kurang lebih 2 tahun saya tidak melakukan kegiatan bisnis apa pun. Sibuk bertanya, apakah keputusan saya tepat untuk menghentikan bisnis saya itu, yang cukup menguntungkan secara finansial, tapi membuat saya tidak bisa tidur karena bertentangan dengan nilai dasar yang saya miliki. Bertanya-tanya apakah kerugian ratusan juta ini layak menjadi akibat kekeras-kepalaan saya mempertahankan value yang saya yakini betul kebenarannya?

2 tahun saya gigit jari setiap melihat teman menerbitkan buku keduanya. Membuka Indomaret ke-4 nya. Membuka rumah kos-kosan barunya. Membeli lempengan emas ke sekian. Membeli rumah baru. Berlibur jalan-jalan ke luar negeri bersama keluarganya. Menggigit jari dan tidak mampu menyingkirkan awan hitam di kepala saya, tentang kegagalan ini.

2 tahun merasa sendiri dalam kegagalan. Bukan karena tidak ada support, tapi karena merasa sendiri. Merasa malu karena gagal, padahal seharusnya saya bangga memenangkan value hidup saya atas nilai ratusan juta rupiah. Tidak mampu membicarakannya secara publik, tanpa marah dan jengkel pada individu yang menjadi tumpuan saya mengambil keputusan itu.

Buuuut……

2 tahun sudah berlalu my friends, awan gelap pun ada masanya bergerak. Saya di sini sekarang. Berdiri tegak, siap memulai babak baru. Perjuangan belum berakhir, begitu pula kesenangan baru dimulai. Jika dia-dia-dia yang di sana berpikir semua yang dilakukannya membuat saya menderita, saya menolak menjadi objek penderita. Saya pelaku hidup saya sendiri. You have seen me fall and you have seen me stand tall, again, and again, this time, even taller.

Tapi, janganlah ucapkan kata-kata klise soal gagal pada teman yang sedang mengalaminya, friend. Jujurlah seperti teman saya di atas jujur pada saya. Karena saat awan hitam menggantung, bukan harapan tentang sinar matahari yang dibutuhkan. Tapi pelukan hangat, pinjaman payung dan seorang teman yang tetap bertahan, itulah yang membuat saya tetap bertahan.

Ini saya attach beberapa artikel tentang kegagalan bisnis di tahun pertama. Jangan menyerah guys. Your dreams are bigger than this, right?

Tentang “Roso”

Beberapa saat yang lalu pak Prasetya M. Brata menulis di statusnya di Faceboook tentang cinta. Let me quote ya….

Kenapa kamu cinta aku? | Gatau. Kalau aku bisa nyebut alasannya, berarti jangan2 yang kucintai bukan kamu, tapi alasan tentang kamu…

Membaca itu kemudian saya teringat percakapan jauuuuh beberapa tahun lalu dengan mamah saya. Saat itu umur saya awal 20. Mamah saya bertanya, kenapa saya pacaran dengan pacar saya saat itu. Saya klakep, ga bisa jawab.

Hmm, kenapa ya mah? Ya memang dia pinter sih, tapi…. Lucu, baik…. *tapi saya tetap gagal menjawab pertanyaan mamah saya*

Mamah saya tetap diam dan memperhatikan wajah saya, seolah menunggu akhir dari kalimat saya. “Tapi?” kata mamah.

“Tapi bukan itu mah, alasannya aku pacaran sama dia.” Kata saya.

“Yah, kalau gitu kamu tak dukung. Berarti itu karena roso. Eman. Cinta. Karena orang bisa pinter, lucu, baik, segala macam, tapi kalau kamu gak eman, ya gak pengaruh. Roso itu penting Fan”

#Demikian kata mamah saya. Haaaaa, yang kenal saya di awal 20an, gak usah sibuk mbayangin siapa ini yang diomongin, ok? Ora usah iyik. Hihihi.

Terus terang saya kaget mamah memahami kesulitan saya mengungkapkan alasan. Mamah bukan orang yang ekspresif urusan cinta. Papah bilang kangen aja, mamah langsung blingsatan salah tingkah gak karuan, bisa-bisa endingnya marah karena super salah tingkah. Setahu saya, bahkan sampai papah meninggal di tahun 2012 pun, mamah gak pernah bilang cinta sama papah. Tapi keterangan mamah soal “roso” memang benar.

Kadang kita sibuk mencari alasan kenapa kita jatuh cinta sama seseorang. Padahal alasannya ya sudah jelas, ya kita cinta aja sama dia.  Love me for a reason, let the reason be love. *singing lagu jadul*

Dalam banyak hal, sepertinya nasehat mamah juga bisa diterapkan. “Roso” harus diutamakan. Boleh aja sih jago ilmu hukum, tahu segala macam soal hak dan kewajiban, tanpa “roso”, jadilah pengacara jadi-jadian yang hobinya ngajak debat orang. Boleh jadi insinyur jagoan, diakui secara internasional, gelar dari luar negeri, tanpa “roso”, jadilah ilmuwan menara gading, terpisah dari esensi ilmu yang tujuannya memecahkan masalah, masalah sendirinya jadi sumber masalah.

Mamah saya memang jarang salah. Walaupun kadang kebenarannya baru terbukti puluhan tahun kemudian. Itu gak perlu gelar. Gak perlu sertifikasi. Cuman perlu “roso”, Insting yang tulus dari seorang ibu, seorang manusia; yang sekarang jaraaaaang sekali saya temukan dari orang lain.

Nah, itu dia mamah saya. Gaul kan? Itu foto mamah di Dubai, di pinggir pantai tempat lihat Burj Al Arab. Mohon doa yaaaa supaya panjang umur, sehat, barokah usianya.

Eh soal Pak Prasetya M. Brata, beliau salah satu idola saya memang. Makanya saya kepo sekali sama beliau, bahkan statusnya aja saya jadikan bahan tulisan. Ini kali kedua beliau menginspirasi tulisan saya, yang kali pertama boleh cek di sini.