Bedtime Story

Sudah sejak lama, Genta selalu dibacakan setiap kali mau tidur. Kalau gak, bisa pecah perang dunia di kerajaan kami. Jadi sengantuk2nya sejengkel2nya secapek2nya kami, selalu ada yang mbacain cerita buat Genta. Kecuali kasus khusus, pulang terlalu malam, dia sudah ketiduran, terlalu , maka selalu ada cerita sebelum tidur buat ksatria kami.

Biasanya ayahnya yang mbacain. Namun karena satu dan lain hal, which is kemacetan Jakarta yang nggilani hari ini, saya yang kemudian mbacain critanya.

Judulnya “Siapa yang akan jadi raja”

Ceritanya hutan pohon besar lagi mau pemilihan raja. Singa, harimau, elang, gajah menemukan alasan masing2 buat menjadikan dirinya raja. Sementara si tupai, yang sibuk memikirkan siapa di antara 4 yang mau jadi raja itu, yang bisa jadi raja, dengan cara yang adil. Kenapa tupai yang sibuk? Karena tupai ini memang terkenal ringan tangan, suka membantu memecahkan maslah orang lain.

Singkat kata singkat cerita, aku dan dia jatuuuuh cinta. Cinta yang dalam sedalam laut, laut meluap cinta pun hanyut. Jatuh cinta ayo ta…. *oh sori, malah nyanyi*

Nah, akhirnya tupai mengusulkan buat pemungutan suara. Karena apa? Karena raja kan memimpin semua hewan, jadi semua hewan harus terlibat pemilihannya. Bukan cuman siapa yang mau. Naaaah, hasil vvvoting *baca dengan v yang berat* malah menunjukkan suara terbanyak adalah TUPAI. Tupailah yang jadi raja, karena dia yang selalu membantu menyelesaikan maslah teman2nya.

Paragraf terakhir dari cerita itu yang semoga tertanam betul di Genta, harapan saya adalah…

“Dan tupai pun menjadi raja hutan pohon besar. Dan dia semakin banyak mendengarkan masalah hewan2, semakin banyak membantu menyelesaikannya, semakin rendah hati dan semakin dicintai oleh rakyatnya”

Somehow saya teringat Umar bin Khattab, sang ksatria sejati favorit saya, dengan cerita beliau yang membantu seorang suami yang istrinya mau melahirkan. Umar bin Khattab memang selalu mengundang bulu kuduk saya berdiri atas “kekuatan” nya.

Yaaah, seru ya. Jaman dulu, rakyat punya Umar bin Khattab. Hutan pohon besar saja punya raja tupai. ‪#‎demikian‬ ‪#‎theend‬ ‪#‎endofstory‬ ‪#‎selesai‬ ‪#‎nggantungyoben‬

Eh eh bedtime story mu apah?

Advertisements
Gallery

Latepost : Nasehat Cinta

Nasehat Capres Blog Fanny Herdina

Let me start the story with…. When I was young…….er than now…. *mekso*

Ini cerita tentang saya dan teman saya. Belasan tahun yang lalu, boleh dibilang puluhan tahun yang lalu, saat mahasiswa, saya berteman dengan si Cantik satu ini. Saat itu dia berpacaran dengan laki-laki yang jelas-jelas saya tahu masih punya pacar. Tanpa konfirmasi ke Cantik, dalam hati saya mbatin.

“Huh. Dasar perempuan gatel. Udah tahu masih punya pacar, kok ya diembat juga”

Demikian juga rumor yang beredar di sekeliling saya tentang si Cantik. Tambah hari saya tambah mengamini bahwa si Cantik ini memang “gatel” *uh maafkan bahasa saya yang ehm uhm berantakan*

Karena waktu itu saya lebih dekat dengan si cowok, saya konfirmasi ke pacar si Cantik yang masih punya pacar lain itu. Jawabnya.

“Gak kok. Cuman temen deket aja”

Walah. Kaget saya. Saya pikir mereka sudah pacaran, ternyata si Cowok cuma menganggap Cantik sebagai teman dekat. *please abaikan norma hubungan laki-perempuan kami saat itu, walau tidak bisa dimaklumi, anggap saja kami muda dan masih exploring*. Tapi saya bingung, karena obrolan dan sindir-sindiran di sekitar saya itu jelas menunjukkan seolah-olah mereka pacaran.

But anyway, siapa juga saya ngurusin urusan orang? Udah jelas waktu itu saya yang gak punya pacar, belum KKN, apalagi skripsi, ga punya duit buat bayar kos pulak. Sudahlah. Perhatian saya teralihkan.

Kemudian saya punya pacar. Yihaa. *gak usah ditiru* Kemudian saya KKN, skripsi, lulus, bla bla bla. *flash forward* Here I am di awal 30-an *waktu itu ya, sekarang mah udah late 20s lah, bundhet bundhet deh ini time frame nya* Saya ketemu lagi si Cantik. Tentu kami udah berbeda. Ya iyalah, if you are still the same person as you were when you were 18 years old, hmm, let me just call you crazy. Percakapan kemudian mulai nyinggung soal masa lalu. Ya apa lagi sih yang diomongin kalau reuni? hihihihi.

Btw Cantik dan si Cowok itu akhirnya berpisah. Cantik sudah menikah sekarang. Si Cowok menikahi pacarnya yang memang dari dulu dipacarinya itu.

Ngobral ngobrol. Setelah panjang lebar, sampailah ke topik tentang si Cowok. Setelah update berita terakhir dan sebagainya, tanpa sadar pertanyaan saya belasan tahun yang lalu meloncat dari binir saya.

“Lha kamu udah tahu dia punya pacar, kok ya mbok pacari?”

“Loh, dia ngakunya udah putus kok waktu itu. Tenan. Nek aku ngerti dia masih punya pacar, ya gak mungkin lah kudeketin. Edan po aku?”

*dalam hati* whaaaaatttt???? *ngeyel* Loh tapi kan kamu tahu dia itu ada pacarnya kan?”

“Gak. Sumpah gak Fan. DIa ngakunya udah putus. Gak lah kukejar-kejar dia kalau tahu dia masih punya pacar.”

Saat itu, saat reuni itu tiba-tiba ingatan saya kembali ke jaman (lebih) muda saat saya dan beberapa teman ikut mengejek atau menyindir Cantik soal ke-gatel-annya. Belum sempat kembali nyawa saya, tiba-tiba Cantik nanya lagi.

“Lha kamu tahu to kalau dia masih punya pacar waktu itu?”

“Iya, tahu.”

“Kenapa gak ngasih tahu aku? Aku kan temenmu”

“Kupikir kamu tahu dan tetep aja cuek mau pacaran sama dia.”

Kalua boleh saya gambarkan muka si Cantik waktu dengar jawaban saya. Hmmm, sungguh. Bukan ekspresi menyenangkan yang ingin saya lihat di wajah teman saya. Sekarang kami masih berteman. Belajar dari kebodohan masa lalu. Kesalahan-kesalahan yang kami buat. Beberapa tahun yang lalu saat ketemu lagi, percakpan berubah menjadi

“Iya juga sih Fan, kalau toh kamu kasih tahu waktu itu ya mungkin aku gak mau dengar”

Itu yang cerita tentang Cantik. Cerita tentang saya juga gak kalah banyaknya. Diingetin mamah, adek saya, temen-temen baik saya –salah satunya jadi suami saya sekarang, hiks- tapi ya ngeyeeeel aja tetep deket-deket sama orang yang gak PAS. Saya juga protes, terutama sama suami saya

“Kenapa dulu kamu gak ingetin sih mas?”

“Lha udah kusindir, udah ku ece-ece juga ga paham-paham ok kamu”

Anyway, Cantik, Cowok, saya dan suami saya, kami sudah menikah sekarang dengan pasangan masing-masing ya. Dan kami hidup bahagia di atas kesalahan-kesalahan kecil yang kami buat. *jangan ngarep ada inspirasi ya dari tulisan ini, ini cerpen roman historical yang semi picisan kok* hihihihi

Saya bersyukur punya teman-teman yang kadang ngingetin kalau pas bikin salah. Saya juga bersyukur orang tua saya gak sok bergaya orang tua yang nasehatin anaknya, apalagi pas jatuh cinta. Ortu saya, terutama mamah saya kalau kasih nasehat mah nyante, selalu seolah-olah kami selevel. Gak main gaya nasehat orang tua ke anak.

“Kamu harus gini. Ini buktinya. Mamah itu lebih tahu. Karena mamah memang yaaa lebih tahu. Kamu yang harusnya tu lihat ni bukti-bukti yang mamah bawa”

Alhamdulillah mamah saya gak gitu caranya ngasih tahu. Karena dalam model percakapan kayak di atas, seolah-olah terselip bahwa mamah yang lebih tahu. Bahkan dengan usia dan pengalamannya, Mamah gak pernah merasa lebih tahu. Mamah saya lebih model yang kayak gini,

“Kamu yakin sama pilihanmu? Ok. Kalau kamu yakin, mamah dukung. Tapi kalau nanti kamu mau berbalik. Balik kanan aja, mamah di belakangmu.”

Begitu terbukti saya benar, mamah minta maaf, mengaku pilihan saya benar. Begitu terbukti mamah benar, saya minta maaf karena sudah begitu dibutakan sama cinta. Jiaaaaaahhh.

Saya lega dikelilingi banyak orang yang tidak merasa paling benar, paling pintar, paling jago, paling update dan perlu memberi nasehat. Ada sih sebagian yang suka  berasa paling tapi udah saya unfollow #eh. Sori, Kembali ke laptop. Maksud saya begini, berhentilah memberi nasehat ketika gak diminta. Juga berhentilah berpikir bahwa Anda perlu memberi nasehat. Berhentilah merasa lebih tahu, lebih update, lebih luas wawasannya, lebih bijak, lebih gemuk -oh ini saya yang merasa-. Karena yang jatuh cinta memang sedang gila karena cinta. Lha Anda? Jangan-jangan Anda gila karena merasa lebih. Ups. Sesama orang gila gak boleh saling mencela. Ok?