Life in a Bowl of Indomie

Berada di Semarang, malam-malam, kemudian memutuskan makan Indomie di warung burjo akang2 di Tembalang, sungguh semacam melemparkan saya ke badai memori sekian puluh atau belas tahun yang lalu.

Semua ingatan seperti menari-nari berusaha menarik ingatan syaa lebih dalan pada satu ingatan khusus. Sayang saya sedang tak dalam tahap setia pada satu ingatan saja. Saya memilih terbang menikmati terjangan semua memori itu. Mulai dari yang indah dan mengundang senyum sampai yang biru dan butuh tenaga untuk menahan airmata.

18 tahun pertama hidup saya, saya habiskan di kota ini. Pertama kali nonton bioskop. Pertama kali pacaran. Pertama kali ditinggal cowok tanpa jelas apa alasannya. Pertama kali dikirim mewakili sekolah untuk pertandingan. Banyaj hal yang pertama kali terjadi dalam hidup saya, terjadi di kota ini. So, harddisk external 1TM juga nampaknya gak cukup menampung kilasan videonya, apalagi muatan emosinya.

Sementar warung Indomie warna hijay yang layoutnya khas itu mengingatkan saya pada malam-malam sepi di Yogya saat darah muda menggelegak. Menghabiskan malam dengan diskusi-diskusi ngotot tentang hidup, tentang negara, tentang cinta, tentang pertunjukan-pertunjukan drama, tentang “dia”, tentang masa depan. Tentang hidup pasca kampus biru, pasca kartu mahasiswa expired.

Sungguh, kebahagiaan hidup memang terletak pada kemampuan bersyukur.

Saya tersenyum mengingat malam-malam kami, saya dan suami, berburu indomie. Naik motor. Berjaket. Jam 9-10 malam, setelah pulang dari saya mengajar, menenteng printer pinjaman dari tempat kursus saya mengajar bahasa inggris, mampir sebentar sebelum lanjut nebeng ngetik skripsi di rumah teman yang punya komputer. Kenapa malam? Karena siangnya saya kerja, komputernya dipakai yang punya serta printernya dipakai buat ngeprint tagihan di kantor. Hehehehe.

Malam berlanjut dengan teman saya tidur di kamar teman lainnya. Suami saya yang saat itu jabatannya sahabat saya akan melek semalamam sambil baca buku tanpa berkata sepatah kata pun. Dan saya akan akan mengetik sampai jam 3-4 pagi sebelum tergeletak di depan komputer. Bangun jam 5, ngesave ulang semua ketikan, minum teh buatan teman yang punya komputer, kemudian menembus udara pagi dinginnya Yogya di tahun 2000an awal bersama sahabat saya mengembalikan printer sebelum jam 7 kantor buka lagi. Aaaah romantisme masa muda memanag luar biasa.

Badai memori saya terinterupsi suami yang mengingatkan soal beli salonpas untuk tangannya yang sakit.

Well, laki-laki ini, yang dulu mengantar, menjemput dan menemani saya mengeyik skripsi. Yang kuat tanpa jaket menerjang dinginnya Kaliurang. Sekarang mengeluhkan pergelangan tangannya sakit dan perlu salonpas buat meredakan sakitnya

Sekali lagi saya tersenyum geli, gimana selempar kertas berlem mampu melemparkan saya kembali ke tahun 2016. Di kamar mandi, saya melirik kilasan benang putih yang nampaknya enggan terlepas dari kepala saya. Aaah si putih pun mulai bertebaran di kepala. But I dont feel like I am getting older for even a day. Hihihi.

Wow. How time flash. It was only yesterday, or even this morning as I remember. But hearing my kids breathing in their sleep right in the rear seat of the car reminds me of one peculiar thing. Time is slow and fast at the same time that it makes me confused of separating memory and dream. Or are they really from the same planet? *sigh*

Here at my almost 40 stage, I realize that this sentence below is really really giving you harsh fact.

“Demi waktu, sesungguhnya manusia itu merugi”

Dan Fan, kaudapatkan insight itu melalui Indomie dan Salonpas? Well, may be you should try salmon steak next time for better insight. Hihihi.

image

Advertisements

Di Januari *bukan oleh Glenn Fredly*

Hari keempat tahun 2016. Alhamdulillah I survived December 2015. Hehehehe.

Januari selalu penuh optimisme. Entah kenapa. Mungkin karena mayoritas penduduk dunia bersepakat soal tanggal yang tepat untuk memulai hitungan tahun. Atau karena sebagian habis berpesta semalaman hingga keriaan masih tersisa. Buat saya Januari terasa optimus #eh optimis, karena saya berhasil melewati Desember tanpa berkurang kewarasannya. Hiks. Lebay.

Di Januari ini saya berjanji buat bersyukur setiap hari atas hal-hal dalam hidup saya.

1 januari, saya bersyukur berhasil melalui 4th meninggalnya papah saya. Melewati 1 tahun jadi yatim piatu tanpa kehilangan my sanity. Huks. Bersyukur sudah melewati malam bersama 2 sahabat baru-rasa-lama dengan segala macam pembicaraa dari yang intelektual soal buku sampai blas gak intelek soal voldemort a.k.a misteri hilangnya kota di peta. Hihihi.

2 januari, saya bersyukur Genta memutuskan untuk menginap dan meng-exercise kemandiriannya lagi, walau diselingi tangisan kangen di malam harinya. Bersyukur saya dan suami punya waktu mengingat masa muda dengan nonton bioskop. Bersyukur Puti yang sangat kooperatif dipaksa nemenin ayah ibunya nonton bioskop.  Hiyak.

3 januari, saya bersyukur berhasil marathon nonton bioskop bareng laki2 yang sudah bersama saya selama 14th. Menonton 2 film Indonesia yang keren, Bulan Terbelah di Langit Amerika juga Negeri Van Oranje. Saya bersyukur menonton 2 film apik dan membuat saya  teringat tentang pentingnya beragama dengn baik. Juga film yang menghibur, membuat saya tertawa dan bernostalgia. Aaaah nostalgiaaa memang selalu syahdu buat dilakukan. Hehehe.

4 januari, hari ini. Saya bersyukur atas semangat baru yang entah datang dari celh sebelah mana di tubuh saya tapi terasa nggremet sejuk dan hangt di waktu yang sama. Saya berayukur atas berita baik dari adek kecil saya dan keluarganya yang akan segera bertambah anggotanya. Saya bersyukur saya menikahi sahabat saya. Saya bersyukur atas usia yang hampir 40th serta aset di kepala saya yang akan menjadi cahaya di alam kubur nanti *if you know what I mean*.

Saya bersyukur atas gadget ini di mana saya bisa menuliskan rasa syukur saya sambil menemani Puti yang tidur siang. Saya bersyukur atas liburan yang sudah lewat juga liburan yang sebentar lagi akan datang. *sayang gak ada icon joged*

Anyway saya berniat hanya akan bersyukur di tahun ini. Semoga Allag ridho dan menambahkan nikmatNya sehingga saya makin bersyukur.

Happy 2016. May the force be with you. #ealah. May you have a great and barokah life ahead.

image

Another Mixed Feeling Session

Bulan Desember punya banyak cerita buat saya.

Waktu SD, Desember berarti kami latihan nyanyi di kelas. Disusul dengan hari-hari pulang cepat yang diisi dengan mendekor kelas, makan eskrim bersama 1 sekolah, juga mainan dry ice bareng kepala sekolah kami yang super sepuh, ibu Kolmus tersayang. Ingat tentang menyanyi selalu membawa senyuman kecil di dalam dada, teringat guru-guru tersayang pak Kuncoro, bu Mar dan bu Ros.

SMP dan SMA gak terlalu banyak berarti buat saya. Desember sama saja seperti bulan-bulan lainnya, kecuali bahwa sekolah mulai heboh mempersiapkan misa natal dan segala kegiatan yang berhubungan dengan natal.

Saat kuliah, Desember sering kali berarti ujian semesteran. Saat semua teman berlomba mencari catatan terbaik, memfotokopi dan mabuk-mabukan kopi untuk belajar dengan sistem kejar semalam yang dilematis, dibenci dan dicinta sekaligus.

Adek saya terkecil lahir 24 Desember. 25 Desember saya dan suami juga anak-anak hampir selalu berkumpul di rumah mertua untuk kumpul keluarga.

Sejak Desember 2011, Desember juga kelabu buat saya. Papah saya meninggal tanggal 1 Januari 2012, setelah sakit 4 bulan dan terakhir tidur di rumah saya selama 3 minggu terakhir. Suasana rumah yang sendu karena semua berempati sama papah. Suasana kelabu yang menunjukkan kesedihan semua penghuninya. Meledak bersama di pagi hari tahun baru, saat banyak orang bangun siang karena malamnya begadang, saya dan suami mengetuk pintu-pintu rumah tetangga di tengah hujan deras untuk meminta bantuan mengangkat papah ke mobil, karena napasnya mulai tidak bisa terdeteksi. Papah meninggal sekitar jam 8.30 pagi sesudah sholat dhuha.

Kemudian Desember 2014 datang. Belum 3 tahun papah meninggal. Mamah menyusul kekasih hatinya. Tanggal 23 Desember 2014 mamah meninggal tanpa didahului kejelasan penyakitnya. Beberapa hari sebelumnya saya sempat ngobrol sama mamah yang menangisi kondisi fisiknya yang gampang lelah. Beberapa bulan sebelumnya mamah reuni dengan teman-temannya jalan-jalan ke Yogya. Sebelumnya kami berlibur di rumah mamah di Semarang bersama adek-adek dan keluarganya.

Dan Desember 2015 ini, hampir 1 tahun saya resmi yatim piatu. Tidak pernah cukup tulisan menunjukkan betapa kosong sebagian hati saya menjadi yatim piatu. Namun juga tidak cukup menunjukkan gimana Allah memberi kekuatan lewat hal-hal kecil yang sungguh tidak diduga.

Manusia memang kapabel merasakan beberapa emosi sekaligus di satu waktu. Desember ini, saya merasakannya lagi. Sedih menjadi yatim piatu belum berakir rupanya walau sudah hampir setahun. Rindu atas komen-komennya yang pedas dan super realistic kadang masih sangat mengganggu hati. Belum ungkapan sebagian teman yang menyatakan rindunya pada mamah, yang super galak semasa hidupnya, namun ternyata dicinta banyak orang, termasuk teman-teman saya.

Suami saya bilang, mamah adalah the best mom in law in the world. I can’t argue with that. Saya selalu iri melihat perlakukan mamah ke suami saya. Setiap kali saya dan suami berantem, selalu suami yang dibela, saya yang salah, no matter what happen. Kata mamah,

Kalau mbok bela anaknya itu udah biasa, tapi dia anak orang, harus ada yang bela dia di keluarga ini. Itu tugasku.

Aaah, ingatan tentang mamah selalu membawa senyum dan airmata. See? Manusia memang kapabel merasakan 2 emosi, bahkan yang saling bertentangan sekalipun.

Teriring salam cinta buat semua papah dan mamah Anda. You have no idea betapa saya iri melihat keluarga dengan anak-anaknya makan malam di restoran, didampingi kakek dan neneknya.

December, please be nice to me.

10560306_10203906859465820_9008259935750321618_o

Ini foto jalan-jalan kami di Tangkuban Perahu. Mamah kagum lihat kelindahan pemandangannya sampai nangis.

10402028_10204798423994376_4566278910118711856_n

Ini foto suami saya bareng anak dan ponakan main hujan di depan rumah mamah di Semarang, 2 hari setelah mamah meninggal. Hujan super deras. Suami memutuskan menghibur anak-anak yang sudah beberapa hari terundung kesedihan orang tuanya. Selalu meleleh lihat foto ini.

Latepost : Nasehat Cinta

Nasehat Capres Blog Fanny Herdina

Let me start the story with…. When I was young…….er than now…. *mekso*

Ini cerita tentang saya dan teman saya. Belasan tahun yang lalu, boleh dibilang puluhan tahun yang lalu, saat mahasiswa, saya berteman dengan si Cantik satu ini. Saat itu dia berpacaran dengan laki-laki yang jelas-jelas saya tahu masih punya pacar. Tanpa konfirmasi ke Cantik, dalam hati saya mbatin.

“Huh. Dasar perempuan gatel. Udah tahu masih punya pacar, kok ya diembat juga”

Demikian juga rumor yang beredar di sekeliling saya tentang si Cantik. Tambah hari saya tambah mengamini bahwa si Cantik ini memang “gatel” *uh maafkan bahasa saya yang ehm uhm berantakan*

Karena waktu itu saya lebih dekat dengan si cowok, saya konfirmasi ke pacar si Cantik yang masih punya pacar lain itu. Jawabnya.

“Gak kok. Cuman temen deket aja”

Walah. Kaget saya. Saya pikir mereka sudah pacaran, ternyata si Cowok cuma menganggap Cantik sebagai teman dekat. *please abaikan norma hubungan laki-perempuan kami saat itu, walau tidak bisa dimaklumi, anggap saja kami muda dan masih exploring*. Tapi saya bingung, karena obrolan dan sindir-sindiran di sekitar saya itu jelas menunjukkan seolah-olah mereka pacaran.

But anyway, siapa juga saya ngurusin urusan orang? Udah jelas waktu itu saya yang gak punya pacar, belum KKN, apalagi skripsi, ga punya duit buat bayar kos pulak. Sudahlah. Perhatian saya teralihkan.

Kemudian saya punya pacar. Yihaa. *gak usah ditiru* Kemudian saya KKN, skripsi, lulus, bla bla bla. *flash forward* Here I am di awal 30-an *waktu itu ya, sekarang mah udah late 20s lah, bundhet bundhet deh ini time frame nya* Saya ketemu lagi si Cantik. Tentu kami udah berbeda. Ya iyalah, if you are still the same person as you were when you were 18 years old, hmm, let me just call you crazy. Percakapan kemudian mulai nyinggung soal masa lalu. Ya apa lagi sih yang diomongin kalau reuni? hihihihi.

Btw Cantik dan si Cowok itu akhirnya berpisah. Cantik sudah menikah sekarang. Si Cowok menikahi pacarnya yang memang dari dulu dipacarinya itu.

Ngobral ngobrol. Setelah panjang lebar, sampailah ke topik tentang si Cowok. Setelah update berita terakhir dan sebagainya, tanpa sadar pertanyaan saya belasan tahun yang lalu meloncat dari binir saya.

“Lha kamu udah tahu dia punya pacar, kok ya mbok pacari?”

“Loh, dia ngakunya udah putus kok waktu itu. Tenan. Nek aku ngerti dia masih punya pacar, ya gak mungkin lah kudeketin. Edan po aku?”

*dalam hati* whaaaaatttt???? *ngeyel* Loh tapi kan kamu tahu dia itu ada pacarnya kan?”

“Gak. Sumpah gak Fan. DIa ngakunya udah putus. Gak lah kukejar-kejar dia kalau tahu dia masih punya pacar.”

Saat itu, saat reuni itu tiba-tiba ingatan saya kembali ke jaman (lebih) muda saat saya dan beberapa teman ikut mengejek atau menyindir Cantik soal ke-gatel-annya. Belum sempat kembali nyawa saya, tiba-tiba Cantik nanya lagi.

“Lha kamu tahu to kalau dia masih punya pacar waktu itu?”

“Iya, tahu.”

“Kenapa gak ngasih tahu aku? Aku kan temenmu”

“Kupikir kamu tahu dan tetep aja cuek mau pacaran sama dia.”

Kalua boleh saya gambarkan muka si Cantik waktu dengar jawaban saya. Hmmm, sungguh. Bukan ekspresi menyenangkan yang ingin saya lihat di wajah teman saya. Sekarang kami masih berteman. Belajar dari kebodohan masa lalu. Kesalahan-kesalahan yang kami buat. Beberapa tahun yang lalu saat ketemu lagi, percakpan berubah menjadi

“Iya juga sih Fan, kalau toh kamu kasih tahu waktu itu ya mungkin aku gak mau dengar”

Itu yang cerita tentang Cantik. Cerita tentang saya juga gak kalah banyaknya. Diingetin mamah, adek saya, temen-temen baik saya –salah satunya jadi suami saya sekarang, hiks- tapi ya ngeyeeeel aja tetep deket-deket sama orang yang gak PAS. Saya juga protes, terutama sama suami saya

“Kenapa dulu kamu gak ingetin sih mas?”

“Lha udah kusindir, udah ku ece-ece juga ga paham-paham ok kamu”

Anyway, Cantik, Cowok, saya dan suami saya, kami sudah menikah sekarang dengan pasangan masing-masing ya. Dan kami hidup bahagia di atas kesalahan-kesalahan kecil yang kami buat. *jangan ngarep ada inspirasi ya dari tulisan ini, ini cerpen roman historical yang semi picisan kok* hihihihi

Saya bersyukur punya teman-teman yang kadang ngingetin kalau pas bikin salah. Saya juga bersyukur orang tua saya gak sok bergaya orang tua yang nasehatin anaknya, apalagi pas jatuh cinta. Ortu saya, terutama mamah saya kalau kasih nasehat mah nyante, selalu seolah-olah kami selevel. Gak main gaya nasehat orang tua ke anak.

“Kamu harus gini. Ini buktinya. Mamah itu lebih tahu. Karena mamah memang yaaa lebih tahu. Kamu yang harusnya tu lihat ni bukti-bukti yang mamah bawa”

Alhamdulillah mamah saya gak gitu caranya ngasih tahu. Karena dalam model percakapan kayak di atas, seolah-olah terselip bahwa mamah yang lebih tahu. Bahkan dengan usia dan pengalamannya, Mamah gak pernah merasa lebih tahu. Mamah saya lebih model yang kayak gini,

“Kamu yakin sama pilihanmu? Ok. Kalau kamu yakin, mamah dukung. Tapi kalau nanti kamu mau berbalik. Balik kanan aja, mamah di belakangmu.”

Begitu terbukti saya benar, mamah minta maaf, mengaku pilihan saya benar. Begitu terbukti mamah benar, saya minta maaf karena sudah begitu dibutakan sama cinta. Jiaaaaaahhh.

Saya lega dikelilingi banyak orang yang tidak merasa paling benar, paling pintar, paling jago, paling update dan perlu memberi nasehat. Ada sih sebagian yang suka  berasa paling tapi udah saya unfollow #eh. Sori, Kembali ke laptop. Maksud saya begini, berhentilah memberi nasehat ketika gak diminta. Juga berhentilah berpikir bahwa Anda perlu memberi nasehat. Berhentilah merasa lebih tahu, lebih update, lebih luas wawasannya, lebih bijak, lebih gemuk -oh ini saya yang merasa-. Karena yang jatuh cinta memang sedang gila karena cinta. Lha Anda? Jangan-jangan Anda gila karena merasa lebih. Ups. Sesama orang gila gak boleh saling mencela. Ok?

 

Mama Lebay

image

 

Lihat tulisan ini di facebook teman, terus ketawa sendiri.

Nomor 1, betul banget. Waktu Genta dan Puti bayi, kalau gak ada asisten dan suami harus berangkat pagi. Mandi berarti nunggu suami pulang, yaitu jam 8 malem, atau jam 5 sore dengan pintu kamar mandi dibuka dan bayi duduk di kursi di depan pintu kamar mandi. Jangankan cuci muka pakai pembersih, sempat handukan sampai kering aja, udah alhamdulillah nya panjaaaang bener.

Nomor 2. Nah ini yang sempet bikin nangis. Tetangga depan rumah suka kedatangan tamu yang pakai baju rapi. Hiks. I call it smart dress. Terus karena lagi melow, jadi inget jaman kerja pakai blazer, beli baju cantik, pakai asesoris, huaaaaa. Jadi pengeeeeen.

Nomor 3. Hihihihi, waktu nikah suami kasih hadiah satu set perhiasan, semua bentuknya hoop, lingkaran. Anting2 yang paling bertahan dipakai. Cincin kawin hilang dijual orang. Liontin dan kalung jarang dipakai. Gelang apalagi. Anting selamet dipakai sampai Genta mulai narik-narik buat gondhelan pas belajar berdiri. Well, selamet sampai sekarang gak pake anting. Sempet sih pake anting sebelum Puti lahir beberapa bulan, tapi sekarang udah lepas lagi. Until then, hoop earrings.

Nomor 4, emang dari dulu ga pake heels sih sepatunya jadi aman. Cuman ribet aja pas kondangan. Kenapa ribet? COba aja gendong bayi atau nitah bayi pake rok span sama high heels. Then we’ll talk yey?

Nomor 5 kupikir lebay. Sampai beberapa bulan lalu, gigi depan saya gumpil nggigit garpu. Ceritanya karena mulai pusing, maksain makan pas Puti belum tidur. Karena ga tenang di kursinya, pas lagi masukin makanan ke mulut, lompatlah saya lihat Puti yang hampir jatuh. Garpu belum keluar dari mulut saya gigit. Aduuuuuh, itu linunya beberapa hari ga hilang. Dan gigi depan saya gumpil. hihihih.

Eh eh eh. Ini bukan mengeluh atau tidak bersyukur. Ini cuman cara mengingat bahwa saya tidak sendirian melakukan pekerjaan ini. Saya nulisnya juga pakai senyum-senyum kok. Senang aja, ternyata yang saya rasakan itu skalanya internasional. Wong yang pakai bahasa Inggris juga ternyata ngalamin. I have an international experience. Do you have it?

Get A Life!

Get A Life -- Blog Fanny Herdina

Rasanya saya pengen teriak judul di atas kalau ketemu sama orang yang sibuuuuuk banget ngurusin hidup orang tapi lupa ngurusin hidupnya sendiri.

Beberapa kenalan saya hobinya menasehati tapi apa sesungguhnya mereka layak menasehati?

Ada yang hobi menasehati soal agama, tapi ya pacaran juga, minum alkohol juga.

Ada yang hobi menasehati soal anak, tapi bahkan menikah saja belum.

Ada yang hobi menasehati soal hubungan dalam pernikahan, laaaah, seriously menikah atau berpacaran saja tidak.

Kemudian saya berpikir apa memang begini ya pembagian tugas di dunia? Yang ahli menasehati, sengaja belum diberi kesempatan jadi pelaku. Karena kalau nglakoni, pasti bakalan klakep ga bisa ngomong karena ga semua teori itu mutlak kebenarannya.

Bukankah 1+1=2 saja masih bisa diperdebatkan?

Tapi tidak bagi para penasehat ini. Mereka yakin betul kebenaran hanya milik dirinya seorang, plus sebagian orang lain yang mereka “approve”.

Begini ya. Mengurus anak orang sama anak sendiri itu berbeda. Sama halnya mengasuh sesekali di hari libur atau dititipi anak 2-4 jam saat ayah ibunya sedang berlibur, itu beda dengan mengasuh anak 24/7 dengan pertanggung-jawaban akhirat.

Atau gini deh. Mengurus orang sakit 1-2 hari atau seminggu lah, itu beda dengan melayani orang sakit selama 7 tahun. Menengok si sakit di hari libur 2-3 kali setahun tentunya beda dinamikanya dengan setiap hari memandikan dan membersihkan kotoran yang keluar dari pantatnya. Bedaaaaaa, jadi please jangan samakan.

Membayari kebutuhan orang lain, mulai dari makan, minum, bensin, sampai kebutuhan gak penting kayak rokok. Kalau dilakukan sekali setahun pas Lebaran, memang terasa ringan, anggap saja sedekah. Tapi kalau bertahun-tahun tanpa ada alasan yang pasti, sementara orang yang dibayari hidup foya-foya dengan uang kita. Ya, sebagai manusia tentu ada rasa jengkel.

Etapi kalau belum pernah merasakan semua itu, lalau menganggap segala yang 1-2 hari itu mewakili yang bertahun-tahun, yaaaaaa gimana ya? Kemudian sibuk berkomentar seolah-olah paling ahli dalam melakukan semuanya. Komentar saya ya itu, GET A LIFE! Karena kalau kita punya kehidupan, biasanya kita ga punya cukup waktu buat berkomentar atas hidup orang lain.

So, atas nama kesehatan mental kita semua.

Get a life and start living, stop commenting.

*meminjam istilah teman, ini tokoh dalam cerita wayang saya*

Piye Le? Enak Jamanku Mbiyen To?

Bagi yang sering perjalanan darat, pasti sudah tidak asing dengan stiker belakang truk di atas. Pertama kali saya lihat dalam perjalanan Jakarta-Semarang, waktu mudik rame-rame. Ketawa saya gak habis-habis. Mbayangin cara ngomongnya. Nada bicaranya. Tone-nya. Ngekek ga selesai-selesai sama suami. Sekaligus juga membayangkan betapa ibu-ibu di desa sana sungguh merasakan hal yang sama.

Padahal saya juga ingat waktu 1998, saat rasanya hal yang gak mungkin lihat beliau lengser, ternyata lengser juga. sumpah sumpah rasanya waktu itu. Habis era ini pasti Indonesia jadi bakal lebih maju, karena kekayaannya gak disedot sama satu keluarga saja. Pasti Indonesia bakal lebih kreatif karena TV-TV gak takut sama segala peraturan yang dibuat oleh si bapak fenomenal itu.

Nyatanya? Aaah, lepas dari kontroversi soal ekonomi membaik berkorelasi dengan kenaikan harga barang. Nyatanya hidup di Indonesia tidak makin membaik bagi sebagian orang, bahkan memburuk bagi sebagian. Industri kreatif seperti lepas dari kandang, bebas sebebas-bebasnya, bahkan lebih ngartis dari artisnya. Nasionalisme yang rapuh berganti dengan kedaerahan yang tidak kalah rapuhnya. Entah sesungguhnya hutang bangsa ini bertambah atau berkurang, yang jelas Jakarta makin macet. Makin lama waktu yang dibutuhkan dari satu tempat ke tempat lain.

Sering begitu ya kita ini memang. Pas jaman dia, kita ngotot minta presidennya ganti. Habis diganti, kita nyesel, karena gantinya gak lebih baik juga dari dia. Minimal presiden dulu ga hobi curhat dan somasi rakyatnya kan?

Gak cuma soal presiden, soal pembantu rumah tangga juga gitu kan? Ngeluh terus soal si mbak yang ngeyelan, masaknya keasinan, mulutnya bau, begitu lebaran gak balik, terpaksa cari ganti, baru deh kerasa kalau masih mending deh ada si mbak kemaren-kemaren.

Itu masih urusan pembantu, gimana dengan suami atau istri? Eh, dulu saya pernah pacaran sama orang yang seru banget, he made me laugh all the time. Tapi dia kurang bisa diajak ngobrol yang serius. Kurang pas responnya. Terus diam-diam saya berharap, semoga saya bisa dapet pacar yang bisa diajak ngobrol serius. Dapet sih. Bisa banget diajak ngobrol serius, serius banget bahkan, sampai-sampai gak pernah bikin saya ketawa. Bikin saya mikiiiiir terus. Endingnya, nyesel deh. Enak jamanmu maaaasss……, hihihihi.

Suami-istri juga gitu mungkin ya. Ngarep dapet istri yang jago masak, cuantik, badannya keren, wangi, pinter ngasuh anak, bisa kerja dari rumah, omset miliaran. Yang istri juga ngarep dapet suami ganteng, tinggi besar, seksi, gaji miliaran, sayang keluarga. Sampai-sampai lupa bersyukur sama yang udah didapet. Yang udah diketok jadi jodoh kita oleh Sang Maha Empunya Segala. Padahal lupa bersyukur bikin dikurangi nikmatnya. Ampuuuuun deh.

Lupa bersyukur itu memang berat dah balasannya. Yang lupa bersyukur punya pacar bikin ketawaaaaa terus, langsung dikasih pacar yang hobinya bikin nangiiiiiiissss aja. Yang lupa bersyukur punya badan sehat, baru dikasih bisulan aja udah ampun-ampun. Yang lupa bersyukur masih punya rumah buat tidur, dikasih bocor pas musim hujan gini, baru aja ngeh. Yang lupa bersyukur punya saudara yang sayang sama dia, baru dah tuh nyadar kalau dikelilingi orang-orang yang oportunis.

Aaaah, sabar dan syukur memang harus jadi pegangan. Supaya gak gigit jari lain kali lihat stiker di belakang truk. Piye, enak jamanku mbiyen to?

Saya attach beberapa gambar yang sama temanya. Semoga Anda juga bisa ngekek seperti saya.

Fun Being A Mom

Saya lupa saya dapat gambar di atas dari mana. Mungkin kiriman dari grup WA, atau juga mungkin salah satu page parenting yang saya follow, tapi jelas itu bukan buatan saya sendiri. Kenapa?

Pertama, dapur saya tidak nampak sedikit pun seperti di gambar. Jadi itu pasti bukan di rumah saya.

Kedua, anak saya dua-duanya berambut hitam dan ikal, bahkan cenderung keriting kriwil. Jadi 2 anak di bawah itu bukan anak saya.

Ketiga, saya sudah cek berkali-kali di lemari saya, jelas pakaian yang dipakai sang ibu, bukan termasuk wardrobe saya. Jadi jelas itu foto bukan bikinan saya sendiri.

Tapi saya sungguh merasa sangat relate dengan gambar di atas. Sungguh. Saya memahami perasaan sang ibu, sampai-sampai saya tidak sanggup menahan tawa saya setiap kali melihat gambar di atas. Bukan tawa menghina. Lebih tawa yang “you are not alone”. Tawa yang penuh kelegaan.

Huahahaha. Kondisi rumah saya di akhir hari, mirip sekali gambar di atas. Bentuk saya saat suami pulang kantor, juga mirip, dengan rambut berantakan dan kelek bau asem, serta energi bar yang sudah berwarna merah. Dan 2 anak saya di akhir hari, juga mirip 2 anak di atas, tertawa riang, di antara mainannya yang berantakan di lantai, dengan energi yang masih full seperti baru bangun tidur.

Aha. Bukankah memang itu yang penting untuk diperhatikan? 2 anak yang tetap riang di akhir hari. Biarpun rumah kecil, berantakan kayak kapal pecah. Kelek ibunya bau asem. Tapi tawa mereka tetap mengembang.  Apakah mungkin karena mereka tidak memperhatikan rumah yang berantakan dan kelek bau asem? Apakah itu mungkin karena mereka merasakan cinta? Apakah mungkin, pada akhirnya, saya bisa bilang, I have done a great job today, that contribute to that wonderful smiles. Mungkinkah?

Please say yes. Please. Don’t make me beg.

Foto Suami Saya

Suami saya suka sekali memotret. Tapi dia tidak punya blog dan malas ikut kompetisi. Hiks. Padahal menurut saya foto-fotonya super bagusnya. Jadi mulai sekarang, saya putuskan untuk upload beberapa fotonya di blog ini. You tell me, how great this is.

Yang di atas itu foto Genta, anak pertama saya. Foto ini diambil di Gunung Geulis Bogor, akhir tahun 2013.

Nah yang ini foto Puti, anak kedua saya. Hmm. Seingat saya ini foto juga akhir 2013, di Jungleland, Sentul.

Anak-anak selalu jadi objek foto yang menarik ya. Ekspresinya. Binar matanya. Kepolosannya. Ah, seandainya hidup sesederhana dunia di mata mereka.

Libur 2 Tahun Saya

Hampir 2 tahun saya tidak menulis di blog. Kalau ditanya alasannya, saya bisa sebutkan banyak sekali alasan yang masuk akal. Tapi bukan itu tujuan tulisan ini. Saya cuma ingin cerita apa yang terjadi kurang lebih 2 tahun yang lalu yang belum pernah saya tulis di mana pun.

wpid-img-20120502-wa0000

Makam papah di Bergota, Semarang

Tanggal 1 Januari 2012, papah saya meninggal dunia di usianya yang ke-62. Masih relatif muda. Kurang lebih di usia yang sama dengan usia Nabi Muhammad meninggal, insyaa allah itu tanda baik bagi jiwanya. Papah meninggal di rumah saya, di atas sofa hitam, yang sampai sekarang masih bertengger indah di depan TV di rumah kami, Tanggal 2 Januari sesungguhnya beliau akan merayakan ulang tahun pernikahan dengan mamah saya yang ke-37 tahun.

Papah sudah sakit kurang lebih 4 bulan sejak lebaran tahun 2011. Bulan Agustus 2011, keponakan saya lahir. Seperti biasa, kemudian papah dan mamah datang ke Jakarta dan menghabiskan libur lebaran di Jakarta. Libur Lebaran inilah papah ketahuan sakit. Badannya panas tinggi selama beberapa hari. Tapi papah memang bukan orang yang manja atau banyak mulut. Dia tidak mengeluh sedikit pun selama ritual lebaran itu. Kami tetap pergi ke sana kemari. Sampai suatu hari, saya kebetulan melewati beliau yang lagi istirahat dan tidak sengaja bersentuhan dengan kulitnya. Wow, panas betul. Langsung saya minta buat dibawa ke rumah sakit. Akhirnya beliau bersedia, setelah berhari-hari menolak ajakan mamah.

Dokter bilang, “Ada massa di dalam paru-parunya.” Harus dilakukan tindakan lain untuk mengetahui massa itu apa. Second opinion? Sudah langsung dilakukan. Jawabannya sama, standar, ada massa dalam paru-paru. Harus dilakukan biopsi untuk tahu itu apa.

Papah langsung menolak. Entah kenapa. Unrealistic optimism saya bergejolak. Jauh dalam hati, saya takut itu massa tidak bersahabat. Tapi dengan optimisme dan segala pikiran positif, plus papah masih sangat segar bisa bersepeda dari rumah kami sampai kompleks Emerald dengan sangat cepat, menurut saya everything’s gonna be OK. Papah pilih pengobatan secara herbal.

Aha. Begitulah paradoksnya. Walaupun belum jelas ketahuan itu apa sakitnya. Tapi semua langsung setuju pengobatan herbal. Seolah-olah, jika kami semua melakukan pengobatan herbal, maka itu artinya penyakitnya tidak terlalu parah. Ngobrol dengan salah seorang dokter, katany silakan kalau mau pulang ke Semarang dan mencoba herbal. Tapi dalam waktu 3 bulan, harus kembali diperiksakan untuk melihat perkembangannya.

Mamah langsung in charge di Semarang. Papah pulang ke Semarang dan segala makan dan obat-obatan herbal dihandle langsung oleh mamah. Tidak makan ayam dan daging sapi. Kebanyakan sayuran, ikan, no MSG dan segala macam ide yang entah kami dapatkan dari mana pada waktu itu.

But somehow kondisi papah memburuk sangat cepat. Sejak Agustus 2011 sampai Desember 2011, papah jauuuuh lebih kurus dan tidak lagi mampu melakukan hal-hal yang tadinya mampu dilakukannya. Mamah menelpon bilang beliau ketakutan soal papah. Papah menelpon bilang pingin ke Jakarta, tapi takut tidak diijinkan mamah karena badannya terlalu lemah. Pertengahan Desember 2011, papah akhirnya berhasil meyakinkan mamah untuk pergi ke Jakarta dengan alasan jadwalnya check up 3 bulan, sesuai permintaan dokter.

Waktu beliau datang sampai di rumah saya, saya sungguh terkejut. Saya tidak mampu melihat matanya. Saya takut, ketakutan yang ada di mata saya akan terbaca oleh beliau. Badannya kurus kering, tinggal kulit dan tulang. 4 bulan yang lalau setiap orang yang bertemu selalu memuji betapa gagah dan gantengnya beliau di usianya, sekarang bahkan untuk berjalan dari pesawat ke tempat baggage claim, dia tidak mampu. Ditawari untuk pakai kursi roda? Sudah. Tapi Anda yang kenal papah saya pasti tahu apa jawabab beliau.

Mulailah lagi kami gerilya mencari dokter paling tepat untuk mengobatinya. Mencari info tentang apa sesungguhnya penyakitya. Banyak cerita tidak mengenakkan tentang bagaimana dokter meminta kami melakukan banyak tes, menunggu seminggu hasil tesnya, belum jadi juga, kemudian semena-mena saja menebak papah sakit apa tanpa ada hasil tesnya.

“Ya walaupun hasil lab-nya belum keluar, tapi saya sudah tahulah ini penyakitnya apa. Ini kanker. Ganas.”

Kurang lebih begitu jawaban dokter atas pertanyaan saya. Saya dan suami yang bertugas menemui dokter ini sungguh pengen marah. Tapi kami berdua paham, bahwa kesok-tahuan dokter itu cuma sedikit alasan bagi kami untuk marah. Alasan sesungguhnya kami ingin marah adalah isi dari beritanya; yang sebenarnya mungkin sudah kami ketahui juga kebenarannya. Hiks.

Kami berdua memutuskan untuk tidak memberi-tahu mamah soal berita ini sampai hasil lab benar-benar keluar. DI rumah kesibukan kami sekitar memasak makanan sesuai permintaan papah, mencari tabung oksigen, browsing rumah sakit di Penang dan Singapura, cari tiket di awal tahun dan merencanakan membawa papah ke 2 kota tersebut untuk berobat segera di awal tahun.

Sekitar 3 hari setelah berita itu, hasil lab sungguh-sungguh keluar. Kami -saya, suami dan adek- bertugas lagi mengambil hasilnya. Dalam perjalanan saya dan suami tidak banyak bicara. Cuaca Desember yang mendung rasanya tambah bikin suasana hati gelaaaaap betul. Sampai di rumah setelah mengambil hasil lab, suami saya bertugas memberi-tahu mamah dan papah soal hasilnya. Alhamdulillah bukan saya yang bertugas untuk itu. Saya dengan gamblang menyatakan bisa melakukan banyak hal lainnya, tapi tidak yang satu itu.

Sekitar jam 7 malam, tanggal 31 Januari 2011, mas Tonny jongkok di sebelah papah yang duduk di sofa hitam, menerangkan hasil lab nya ke papah. Papah tidak banyak bicara. Saya lelah sungguh secara psikologis. Saya ingin liburan akhir tahun ini segera berlalu. Segera Senin dan saya akan langsung menghubungi perwakilan rumah sakit Penang di Jakarta, sesuai rekomendasi teman yang suaminya bolak-balik dirawat ginjalnya di sana. Saya langsung tidur.

Pagi-pagi kami bangun, Bintaro hujan deras. Hampir tidak ada suara motor atau mobil yang lewat. Papah sedang sangat kesakitan karena tidak bisa bernapas. Mamah kebingungan karena semalaman dibangunkan papah yang tidak bisa bernapas. Mas Tonny tadi malam mengantarkan papah untuk pipis ke kamar mandi dan terkejut melihat warna pipisnya yang hitam dan ada endapan-endapannya. Pagi yang sangat tidak ingin saya ulangi.

Kemudian, setelah mamah selesai membimbing papah sholat Dhuha, menemani mamah istirahat, kami ngobrol di kamar depan. Tiba-tiba mas Tonny yang ada di luar bersama papah, memanggil kami dengan wajah sangat cemas dan meminta kami membawa papah ke rumah sakit. Mata papah sudah tertutup. Napasnya masih satu-satu. Again. Unrealistic optimists saya terlalu berlebihan.

Pun saya langsung memakai celana saya, berusaha membantu mas Tonny mengangkat papah dan tidak berhasil. Saya mengambil payung, mengetuk rumah tetangga satu demi satu. Rumah ke-4 yang saya ketuk akhirnya keluar penghuninya, mas ARif namanya membantu kami mengangkat papah ke mobil. Suami saya juga sudah mengundang satpam untuk membantu. Saya menyetir mobil. Mamah di samping saya. Mas Tonny di belakang memangku papah.

Sampai rumah sakit. Waktu berjalan sangat lambat. Rasanya hampir tidak ada suara di sekitar kami. Tik tok tik tok. Mas Tonny menyusul saya dan sedang memarkir mobil sambil bilang.

“Ayo masuk cepetan, tengokin papah. Papah udah gak ada”

Saat menulis kalimat di atas barusan, kembali saya menangis. Well, saya bukan orang bodoh. Ilmu agama saya tidak sempurna, tapi saya tahu semua orang pasti mati. Dan mati bukanlah suatu hal yang menimpa hanya orang-orang jahat. Tapi ketika papah saya meninggal, rasanya saya tidak tahu lagi harus bereaksi apa dan bagaimana. Mamah histeris dan berkali-kali hampir menjatuhkan diri di lantai UGD rumah sakit. Sambil mengulang-ulang.

“Mas Tatok. Janjinya gak begini mas Tatok. Katanya mau ngurus cucu sama-sama mas Tatok.”

Well well well. Apalah arti janji manusia dibanding takdir Allah. Papah dimakamkan di Semarang. Suami saya menemani jenasah papah di ambulance dalam perjalanan darat terakhirnya menuju kota kelahirannya. Tetap ada terselip cerita lucu selama proses berduka itu.

Seperti suami saya yang sedang menunggu ambulance datang menjemput jenasah papah di RS, tiba-tiba hp-nya berbunyi. Nama yang tertera di hp itu adalah “PAPAH”. Tanpa sadar suami saya menjawab perlahan,”Iya iya pah. Sebentar pah.” Baru kemudian ingat bahwa papah sudah meninggal.

Sejaka papah meninggal dunia saya berubah. Saya bukan anak yang dekat dengan papah. Adek-adek saya ada yang memiliki hubungan lebih akrab sama papah. Papah bukan sosok yang banyak bicara atau banyak memuji atau bahkan nimbrung kalau kami pas ngumpul ngrasai orang lain. Tapi kepergian beliau merubah hidup saya. Saya yang dikenal sebagai orang yang selalu optimis dan bahagia, sekarang seperti selalu ada bayang-bayang berwarna grey di belakangnya. Seperti ada lubang yang besar di peryt saya. My life change internally. Orang yang mengenal saya dengan baik, pasti melihat perubahan itu.

Tidak banyak yang saya sesali dalam perjalanan papah sampai waktu meninggalnya. Karena saya bukan jenis orang yang kemudian sibuk dengan pertanyaan mengapa. Atau seandainya. Saya menerima takdir ini. Hanya saya menyesal tidak ada di sampingnya -literally di sampingnya- saat beliau menghembuskan napas terakhirnya. Jarak saya memang cuma 1 meter dari beliau, tapi saya tidak di sampingnya.

Papah yang dalam diamnya melindungi. Tidak hanya melindungi kami. ternyata diamnya adalah perlindungan bagi banyak aib keluarga yang beliau ketahui, yang kemudian baru setelah beliau meninggal kami ketahui. Papah yang diamnya membuat sebagian orang tak bernyali makin ciut nyalinya untuk menyakiti kami. Dan kepergian beliau seperti siraman minyak tanah di atas api egoisme dan sirik sebagian orang. Papah yang diamnya adalah tanda kuatnya beliau menahan lisannya dari bergunjing.

Mohon doa bagi arwah beliau, Tatok Mohammad Heriyantono. Mohon dimaafkan segala kesalahannya, bagi yang pernah mengenalnya. Tulisan ini baru berhasil saya buat 2 tahun setelah kepergiannya. Semoga itu bisa menunjukkan bagaimana kepergian beliau sungguh membuat beda bagi hidup saya.