Sebelah Hati

Seumur hidup saya yang menjelang 40th ini saya jarang punya teman dekat perempuan. Entah kenapa.

Waktu SMA mungkin alasannya karena sekolah saya memang oerempuannya cuma 30% dari total jumlah siswanya. Kebanyakan anak kos dan beretnis cina, yang kadang sulit saya dekati karena beda gaya hidup. Mereka bisa makan apa saja saat makan siang sementara satu2nya makanan halal di dekat sekolah adalah bakso gepeng. Lainnya, mencurigakan kehalalannya. Mereka bisa main sampai jam berapa pun, sementara saya sebelum maghrib harus sampai rumah. Well, alasan kan bisa dibikin. *menyeringai*

Waktu SMP saya sempat di 2 sekolah. Di sekolah pertama, saya kelas 1 dan 3, long story, nanti kapan2 saya ceritakan alasannya. Di kelas 1 saya berteman dengan 2 perempuan. Di kelas 3 saya berteman juga dengan beberapa perempuan. Tapi semuanya sudah berbahasa beda saat ini kalau ketemu. Entah saya yang nganeh-nganehi atau memang dunianya terlalu berbeda.

Lulus SMA saya cabut dari Semarang langsung ke Yogya, masuk fakultas yang cowoknya 30% dari seluruh siswa per angkatannya. Teteeep saja teman saya kebanyakan laki-laki. Yang perempuan entah kenapa kok kayaknya gatel deket2 saya.

Kemudian tahun 2015 saya berkenalan dengan sekelompok ibu2 yang sebagian besarnya belum pernah saya temui. Kami ngobrol via WA. Colek2an via Facebook. Telpon2an koordinasi ala ala gitu deh. Sebelum akhirnya kami bertemu setelah kurang lebih 2 bulan bersama di #sedekahoksigen. Menariknya, pertemuan pertama kami ga sempat diisi basa basi. Pembahasan langsung merangsek masuk ke area personal diselingi tawa dari mode terkikih terkekek sampai terbahak-bahak.

Sampai-sampai saya perlu mengingatkan,
Kalau ada orang lain, tolong behave yaaa….
Hehehehe

Saya pikir hubungan kami akan mereda ketika #sedekahoksigen berkurang kegiatannya. Ternyata tidak. Grup yang tadinya dibuat untuk koordinasi kemudian berubah jadi ajang sharing ilmu, dari biologi sel sampai ke internet marketing. Juga tempat curhat, tentang apa lagi kalau bukan suami anak mertua juga tentang dia yangbtak boleh disebut namanya. Juga jadi tempat menyembuhkan luka-luka lama. Tempat saling support saat sakit, merasa sedih, butuh dukungan. Bahkan jadi saran kirim mengirim hadiah satu sama lain, dari sekedar eclair sampai ke pil )(€£₩&^$@* *nama dirahasiakan*, hehehehehehe.

Suami saya sempat bertanya.
Kamu convinient dengan temen2mu itu? Nyaman? Karena mereka jelas gak akan kamu temenin sekian belas tahun yang lalu.

Saya jawab.
Iya nyaman. Kayak aku gak perlu jadi orang lain. Gak perlu pura-pura, basa-basi, ga takut di judge, gak takut dibilang aneh. Nyaman. Dan sering kali rindu.

Pssst, saat berpisah dengan salah satu teman saya ini di Palangkaraya beberapa waktu lalu. Saya berpelukan dengan dia cukup lama sambil keras menahan airmata kami. Kemudian ketika 2 minggu berikutnya saya datang dan harus pulanv lagi, saya pikir akan lebih mudah, ternyata tidak juga. Dada dan perut saya terasa bolong saat harus berpisah.

Belum saat salah satunya berlibur ke Jakarta akhir tahun lalu. Saya pikir intensitas rsanya akan berkurang, ternyata gak juga. Saat kami berpisah, kali ini tanpa pelukan, karena ada suami dan anak2 yang hebooooh bin ribet. Tapi saat taksi mulai berjalan meninggalkan saya, sebagian hati saya rasanya ikut pulang ke Surabaya.

Aaaah saya memanflah seoranf Gemini yang lebay soal merasa.

Mamah saya di masa lalu pernah bilang.
Kurangi keterus-teranganmu, sebagian orang gak suka sama gayamu yang tanpa basa-basi, main langsung clekop aja.

Butuh hampir 40th buat saya membuktikan. Teman sejati. Teman yang insyaa allah berteman karena Allah, melalui hati, gak menuntut saya to act less than who I am. Hampir 40th.

Am i happy? Yeeeessss, sure… perjalanan panjang dan berliku memang hampir gak terasa ketika kita dapat sesuatu yang sungguh2 kita inginkan. Dan dalam kasus saya, sekelompok teman perempuan. Yipiiieee….

Dan impian saya dan teman2 makin berlanjut. Bisa liburan sambil ngobrol sana sini sambil baksos di tempat2 di Indonesia tiap 2-3 bulan sekali. Semoga Allah ridho.

5 januari. Saya bersyukur bertemu teman2 baik yang mengisi hati saya dengan kehangatan yang tidak bisa diterangkan dengan kata2. Saya bersyukur teman2 saya bersedia menjambak rambut saya saat saya mulai keluar jalur. Saya bersyukur saya senang dan gak sakit hati, bahkan kadang sukarela dijambak oleh mereka. Saya bersyukur atas gerakan #sedekahoksigen yang mempertemukan saya dengan ibu-ibu cadaz macam mereka.

I love you giiiiirrrrlllllsssss…..

image

Ini salah satu yang ingin saya lakukan bareng temen2 saya. Di pantai, lereng gunung, atau sekedar di hotel atau di mobil. Hehehehe.

image

Salah satu baksos yang kami lakukan di Palembang

image

Baksos juga di Palangkaraya

Advertisements

Untuk Apa Koneksi Internet Cepat?

Koneksi Internet Cepat - Blog Fanny Herdina

Hayo jawab yang hobinya minta internet cepat, jawab dulu pertanyaan pak menteri. Kalau saya sih memang gak suka nunggu. Jadi sukanya klik langsung buka page nya, atau maksimal nunggu 1-2 detik lah. Jadi setiap ada modem yang ngaku punya kecepatan super, saya langsung terbang bak superman membeli modem itu, kemudian akan saya ganti begitu ada yang lebih super lagi.

Buat apa? Ya buat kepo di Facebook lah. Buat apa lagi emak-emak kayak saya ini.

Tapi seorang teman menjelaskan dengan baik soal pentingnya koneksi internet cepat. Begini penjelasannya yang saya terjemahkan dengan bebas.

Koneksi internet cepat itu gak cuman butuh buat download tapi juga upload. Apalagi buat industri kreatif yang butuh ngirim gambar dengan ukuran file besar. Sering kali urusan kerjaan jadi terhambat gara-gara file yang terkirim berhenti di tengah jalan a.k.a harus ngulang dari depan.

Nah penjelasan di atas masuk akal sih buat saya. Bener juga kan ya? Entar dikira kita yang lambat kerja. Padahal internetnya yang gak mau kirim-kirim filenya.

Ada juga yang bilang koneksi internet cepat itu buat download file-file yang isinya knowledge, supaya bangsa Indonesia ini lebih cepat menyerap ilmu baru. Sehingga harapannya lebih cepat berkembang.

Itu juga masuk akal sih.

Kalau saya sih alasan utama saya berharap koneksi internet di Indonesia cepat itu karena merasa kasihan sama teman-teman yang pulang dari luar negeri. Pas di luar negeri yang saya yakin koneksi internetnya cepet banget, mereka jadi mudah upload gambar, ganti status atau saling memberi komentar. Tapi begitu pulang ke Indonesia sering kali mereka tidak terdengar lagi kabarnya, jarang upload jalan-jalannya, jarang ganti status, juga jarang memberi komen atau nge-like status temennya. Itu kan pasti karena mereka terbiasa dengan koneksi cepat di luar negeri, terus jadi malas update pas sudah di Indonesia, karena koneksi internet di Indonesia lambat. Iya kan pak Menteri?

My Rainy Days Shoes

Sudah baca cerita saya tentang sepatu coklat butut yang jebol hari Rabu kemarin? Sepatu itu saya beli tahun 2009, saya suka sekali sepatu itu. Empuk, haknya pendek, model wedges, warnanya coklat. I like everything about that brown shoes. Entah mulai kapan saya mulai jarang memakainya. Begitu dia mulai rusak, saya hanya pakai untuk acara santai saja, ke pasar misalnya, makan pagi di hari Minggu saat semua orang keluar rumah belum mandi. Hihihi.

I call it “my rainy days shoes”. Sepatu yang saya pakai kalau hujan atau becek, supaya sepatu saya lainnya -yang lebih baru, lebih bagus- ga rusak. Toh dia sudah lama saya punyanya, sudah rusak juga, jadi sekalian saja saya pakai buat hujan.

Padahal dulu awal-awal habis beli, itu sepatu menemani saya ke banyak acara resmi yang membanggakan. Acara yang saya berdandan khusus dan bahkan memakai pensil alis di atas mata saya. Yup. Pensil alis adalah tanda saya menganggap acara yang saya datangi special. Belakangan, malah justru malu saya kalau pakai sepatu itu ke acara yang begituan. Cukuplah di hari hujan, becek, pasar atau acara santai lainnya.

—————————–

Tahun 2013 kemarin tahun yang berat bagi saya dan keluarga. Bisnis yang kami bangun gagal, sampai kami menangguk hutang ratusan juta. SAmpai sekarang kami masih dalam proses mengangsur hutang itu.

Di saat seperti itu, muncullah kejadian-kejadian yang selama ini belum pernah kami alami. Tiba-tiba ada orang-orang yang dulu begitu menghormati kami, memperlakukan kami -saya dan keluarga- semena-mena. Padahal dulu, kalau pinjam uang, haduuuuh, rayuannya maut bener. Jaman dulu sering betul rumah kami didatangi, sekedar duduk dan ngobrol. Saat susah, jangankan ngobrol, ibu saya saja dimusuhin tanpa alasan.

Ada juga teman yang dulu dekaaaat betul sama saya. Sekarang entah di mana, lagi apa. *kayak lirik lagu ya*. Kadang kangen rasanya. Tapi “relation” ternyata juga bisa menua dan rusak. Ada juga sih teman dan saudara yang tetap berhubungan baik. Bahkan ada beberapa kenalan yang justru muncul di masa seperti ini.

—————————

Saya teringat sepatu coklat saya, my rainy days shoes. Apakah orang-orang itu, yang memperlakukan saya bagai dewa saat saya bisa memenuhi permintaan mereka, memperlakukan saya sekarang sebagai “rainy days shoes”? Yang hanya dipakai ke pasar, saat hujan dan becek, karena terlalu malu buat dipakai ke acara yang penting?

But shoes are things. They get old. They can be broken. That’s my defence. People do get old but they can not be broken. So you can’t treat people like you treat shoes. Right?

Ps. If you do feel like some people treat you as rainy day shoes, don’t worry Roqib tidak pernah salah mencatat.

Rainy Days Shoes - Cerita Fanny

Penampakan sepatu saya yang brodhol. Hiks.

 

SIlaturahmi

Kemarin pagi, saya diundang TK Citta Bangsa Jatibening untuk mengisi sharing session dengan orang tua muridnya. Temanya sekitar bagaimana memakai NLP dan hipnosis untuk membangun komunikasi yang bermakna dengan anak-anak. Oh, detail tentang ini silakan langsung berkunjung ke rumah saya satunya ya?

Saya baru selesai siap-siap. Laptop. Speaker. Proyektor. Tiba-tiba muncul wajah yang familiar bagi saya. Ya. Salha satu pesertanya adalah seorang teman lama. Saya kenal pasangan ini, saya masih kuliah di Yogya. Sreu rasanya bertemu teman lama. Tiba-tiba, saya seperti dihantam badai memori indah yang saya miliki bersama mereka. Bersenang-senang di satu desa kecil, Durian Gadang, di Sumatera Barat. Menikmati malam yang indah sambil dinyanyikan pantun oleh penduduk setempat. Wah. Wah. Serunya mengingat masa-masa itu.

Selesai sesi, kami digiring mengunjungi mereka di istananya. Sejuk. Saya, suami saya dan Genta berkenalan dengan anaknya. Seru. Tiba-tiba saja, anaknya suka meletakkan kepalanya di pangkuan saya. Wah. Senengnya. Awalnya dia malah maunya tiduran di kaki saya. Telapak kaki saya. Biarpun anak-anak, tetap saja risih ada orang menciumi dan tiduran di kaki saya. Hehehe.

Kami makan siang dan ngobrol ke sana kemari. Saya dan suami, mengenal suami istri itu sekitar tahun 90-an akhir. Jadi tahun ini kami mungkin sudah berkenalan selama hampir 15 tahun. Banyak yang berubah. Waktu itu mereka masih pacaran. Belum punya istana dan pangeran kecilnya. Kami? Bahkan saat kenal mereka, saya dan suami belum mulai pacaran. Hehehe.

Pulang dari istana mereka, saya dan suami bergumam satu sama lain, ” Kok bisa ya, dulu kan kita mahasiswa, kok sekarang tiba-tiba sudah jadi orang tua ya?” Pikiran saya masih melayang-layang. Saya yakin suami saya juga begitu. Tapi saya melihat senyuman di sudut bibirnya. Life has lead us to here & now. And memory of those in the past would always be a nice way to remind us, on how many things we have to be grateful.

Ah, I always love silaturahmi.

Isn’t it always hard to say goodbye to the one you love?

(dipublish ulang dari rumah sebelah…)
(soundtrack: Kemesraan-request by Rully; Manusia Bodoh-request by Aya)

Ya, that was exactly the line that came cross my mind when I really did have to say goddbye to my classmates few days ago. Feels like something is missing inside of me, but knowing that life must go on (for me and also for them) I knew at that time it was a very precious way to say goodbye. You know, for me frineds are like part of your body, knowing that you wouldn’t be able to see them easily was like knowing that part of yours were going to be others. Thinking of them, their future bond with the company they work for, with their new friends, with their newly-build-family, really kills me. But just like one of my friend said, life is like a movie, sometimes an actor or an actress should leave the screen and what we need to do is just wait for another screen which will allow them to be part of your movie (again). And when that happen, there is joyful feeling you have inside that makes you feel so grateful for being apart for a while. And now I’m longing for that feeling…

I started this week by spending very intense time with my classmates and then we closed it by saying “goodbye and good luck” in a proper way. But for me, how can you say goodbye in a proper way if you need to say it in front of others? So I’m going to use this chance to say goodbye properly to each of my dearest classmates because every single of you has inspired me in a way or another. This is just a simple way to say big thanks and to let you know that you have stepped into my heart and there’s nothing in this world that would help you to get out from there. He..he..

And I am not alone I guess. Pada waktu yang hampir berdekatan a new friend of mine berbagi cerita tentang rumah tangganya, keinginannya untuk berpisah dengan pasangannya namun juga dilema yang dirasakannya sehubungan dengan rasa cinta yang maish dimilikinya. Isnt it hard? Kupikir selalu sulit untuk berpisah dengan sesuatu yang kita cintai, orang, komunitas, kebiasaan, tempat tinggal (kayak Yogya buatku yang selalu mengundangku untuk tinggal kembali di kota yang sangat menyenangkan itu), apa pun. Namun sering kali kita memang dihadapkan pada pilihan tumbuh atau mati.

Seperti kata banyak orang bijak, air yang menggenang selalu berakhir dengan bau dan kemudian menjadi kotor, supaya air tetap bersih, ia haruslah mengalir, berpindah, berubah, berpisah dengan hulunya yang melahirkannya. Aku ingat sekian tahun yang lalu saat pertama kali meninggalkan ”kandang kenyamananku” di Kelud. Setiap minggu aku nangis, merasa sendirian, kehilangan semua yang kumiliki, home-sick, but then if I didnt move, apa yang bakal terjadi sama aku? Hehehe gak berani bayangin aku seperti air comberan yang menggenang dan menimbulkan bau…

Seperti orang pacaran yang sering kali berakhir dengan teriakan ”give me some space”, Kahlil Gibran sangat ok menjelaskannya dalam ”biarkanlah angin tetap menari-nari di antara 2 hati”. Kata per katanya gak tepat seperti itu, tapi menurutku Gibran sedang berusaha menerangkan bahwa segala sesuatu yang ”terlalu” selalu memberikan pengaruh buruk. Cinta yang terlalu dekat membuat buta, terlalu jauh juga jadi tidak nampak. Dalam konteks-ku mungkin ”cinta”-ku untuk temen-temen sekelas sudah diuji dalam ”kedekatan” dan sekaranglah titik ujian berikutnya di mana ”cinta” kami diuji dalam ”jarak”. Agak berlebihan gak?

Tahun 94, cintaku buat keluargaku diuji juga dalam. Buat beberapa teman, saat ini cinta mereka terhadap pasangannya juga sedang diuji melalui kesetiaan dan jarak. Mungkin memang ada momen-momen dalam hidup di mana kita harus dengan ”terpaksa” say good bye pada hal-hal yang kita pikir kita cintai, not for no reason, jelas for a better future. Like me berpisah dengan keluargaku buat menuntut ilmu, sekarang berpisah dengan teman-teman untuk benar-benar menjajal sejauh mana ilmu kami mampu membantu orang yang lebih banyak, juga mungkin berpisah dengan orang-orang yang memberikan pengaruh buruk bagi hidupku.

Gampang buatku ngomong, tentunya jauh lebih sulit buat ngelakuinnya. Tapi sejauh perjalanan 29 tahun hidupku, Allah swt selalu memberikan jawabannya di saat yang tidak terduga. Saat sekarang aku gamang bergerak ke dunia yang lebih riil, yang tidak dilindungi oleh dinding universitas, aku yakin sekian tahun yang akan datang Tuhan akan kasih jawaban kenapa saat ini kami harus berpisah. For one good reason, I believe. But that doesnt reduce the tears, does it? Hehehe.

For ALL my friends, thanks for being “in” my circle and enrich my life.Depok, 30 Juli 2005 – fa laksmi