Pilih Temanmu!

Saya ikut di beberapa grup alumni.

Ada grup yang ceritanya apik apikan semua. Orangnya supportif. Diksinya bagus. Kalau ada yang menggok, diingetin baik baik eh la orangnya ya ngaku salah. Enak banget lah. Saya suka. Saya stay.

Ada grup yang isinya gontok gontokan. Eyel eyelan. Kadang kala nyek nyekan. Tapi gak ada yang keroyokan. Juga ga pake menyerang pribadi. Juga tidak mengklaim dirinya netral tapi kemudian jebul gak netral. Enggak banget sakjane. Sering kali perdebatan gak ketemu titik tengahnya. Tapi saya suka. Karena tak ada judgment. Bebas sebebas bebasnya. Walau ada rules-nya. Saya suka. Saya stay.

Ada grup yang isinya juga gontok gontokan. Tepatnya sih keroyokan. Kalau ada 1 beda pendapat dengan mayoritas langsung digrudug diunek unekke. Nanti kalau diingetin malah dihina orang yang ngingetin. Ngakunya netral tapi jebul memihak. Saya gak suka. Alesannya banyak. Saya tidak stay.

Ada grup yang mbelani orangnya kebangeten. Lupa kalau ada saya dan sedikit orang minoritas di grup itu yang gak setuju. Belum lagi pemakaian kata dan sangat SARA yang saya gak nyangka dipake sama alumni situ. Saya gak suka. Saya leave.

Ada grup yang kacamata kuda. Pokok kalau yang ngelakuin mas A mesti dibelain meskipun salah. Kalau yang ngelakuin mas B langsung di-bully walaupun bener. Kalau acara mas C berbondong bondong datang alasannya sekalian reuni. Kalau acara mas D tiba tiba pura pura gak liat. Liat isinya abaikan penyampainya, gak cocok sama grup ini. Saya gak suka. Saya leave.

Begitulah menurut saya metode berteman. Kita berteman dengan orang orang yang memang kita cocok kita sesuai atau minimal punya value sama sama kita.

Kecil sekali kemungkinan kita berteman dengan orang yang perilakunya berbeda banget sama kita. Keciiiil sekali.

Kalau Anda berani bicara, most of your friends juga orang yang berani bicara.
Kalau Anda orang yang menjunjung nilai kebaikan, most of your friends juga menjunjung nilai kebaikan.
Kalau Anda hobinya keroyokan insyaa allah temen temen Anda juga tukang keroyok.

Jadi sangat impossible kalau saya bilang, saya baik tapi teman teman saya aja yang jahat. Karena teman itu infectious a.k.a contageous. So either you infected your friends or vice versa.

Saya pilih ditularin yang baik baik aja secara belum mampu nularin yang baik baik.

So look around friends, siapa temanmu? Be careful!

Advertisements

Sahabat Tanding

 

Sayang saya ga punya foto anak anak ini. Mereka seumuran mas G atau sedikit di atasnya. Mereka jarang bertemu. Ketemu sekali dua pas pertandingan. Artinya mereka sedang bersaing memperebutkan medali yang berkilau kilau itu.

Tapi setiap kali mas G sedang maju di hadapan juri maka anak anak ini yang berseragam beda dari mas G akan beramai ramai meneriakkan nama mas G dan memberi semangat caiyo caiyo caiyo.

Pada saat yang sama saya biasanya sesang mengambil vudeo mas G berlaga. Maka mendengar teriak teriakan itu selalu saja sekejap menggetarkan hati.

Tambah lagi setiap kali ketemu saya, mereka akan tersenyum, mendekat dan cium tangan denagn takzim sambil sesekali memperkanlkan saya pada temannya yang lain yang belum mengenal saya, mama mas G, itu sebuatan saya.

Anak anak ini sungguh membuat hati saya bergetar sesungguhnya mata saya pun ngecembeng menuliskan ini. Dalam sebuah kompetisi bela diri yang kabarnya penuh kekerasan ini tersembunyi jiwa jiwa ksatria, penuh kasih sayang, percaya dirinya sampai di level bahwa dalam sebuah pertandingan pun mereka mampu memberikan support pada orang yang mungkin mengalahkan mereka.

Maka 2 hari ini di antara banyaknya medali yang dibagikan, diam diam saya mengalungkan medali medali imajiner di leher mereka atas benih ksatria di dada mereka sambil membisikkan doa semoga Allah menjaga benih benih ini dan berkenan menumbuh surburkannya di masa depan.