Barney Class : #1

Barney Growing - Blog Fanny Herdina

Groooowing we do it everyday,

we’re growing when we’re sleeping and even when we play

And as we grow little older we can do more things,

because we’re growing and so are you

each day we grow little taller, little bigger, not smaller

and we grow a little friendlier too

We try to be little nicer as we grow each day,

because we’re growing and so are you

Bagi para orang tua yang menghabiskan waktu menemani anaknya nonton TV biasanya paham ini lagu siapa. Big purple dinosaur? Yup. Barney. Yeeey, helloooo Barney.

Sejak Genta kecil (sekarang 4th umurnya) saya selalu menemani Genta nonton TV. Salah satu tontonan awalnya adalah Barney. Sekarang Puti (1th) mulai nonton Barney juga. Entah ya. Setiap episode-nya.. saya merasa Barney berhasil menyampaikan value yang penting bagi anak-anak. Jadi so far, Barney masih tontonan wajib buat anak-anak saya.

Lagu di atas misalnya. Selain bicara soal “growing”, saya senang Barney menyelipkan “a little nicer” dalam syair lagunya.

Aaaah, sebut saja saya kuno atau kurang modern, atau sok tua. Tapi sungguh, sopan santun di tahun 2014 ini, di kota Jakarta yang sering saya datangi ini (saya tinggal di Bintaro, Tangerang Selatan), rasanya suliiit sekali ditemukan. Jangankan dari para remaja dan anak-anak yang jelas pre-frontal korteks-nya belum optimal berkembang. Bahkan dari para orang tuanya saja kadang harus bermodal keberuntungan untuk bertemu orang dengan sopan santun sekelas Indonesia (yang konon kabarnya orangnya ramah tamah dan sopan santun).

Tapi ya begitulah kata Barney,

“we try to be a little nicer as we grow each day because we’re growing…”

Jadi bolehkah saya katakan, orang-orang yang gagal menjadi “nicer” tiap harinya, sesungguhnya mereka sedang melawan hukum alam dengan menolak tumbuh?

Have You Ever Noticed?

Lagi-lagi cerita ini diawali dari nemenin Genta nonton Barney. Setiap kali nonton Barney, aku berkata-kata dalam hati, TV ini ada sisi positifnya juga kok. Barney punya value luar biasa yang menurutku pribadi wajib ditanamkan ke anak-anak sejak kecil.

Ini salah satu lirik lagunya, yang setiap kali bikin aku menitikkan airmata kalau denger.

Have u ever notice? I’m a little too big or sometimes my tail gets in the way.

Have u ever noticed? I dont look much like u. Would it be better if I were orange, green or blue.

But if everybody was the same, I couldnt just be me. I just have to find a way, it’s true.

To be who I am, what I am, is ALL THAT I CAN BE. Its all that I can think of… TO BE ME.

Membayangkan betapa dunia ini akan jauh lebih indah kalau anak-anaknya sangat nyaman dengan dirinya sendiri. Karena anak-anak ini yang nantinya tumbuh dewasa dan jadi para dewasa yang juga nyaman sama dirinya.

Orang yang nyaman sama dirinya sendiri dan berperilaku yang sesuai sama identitas dirinya, tentunya gak butuh atribut luar buat membuat dirinya eksis. Gak perlu narkoba. Gak perlu jabatan kalau memang gak mampu. Gak perlu tas 20 juta. Gak perlu kamera 12 juta kalau memang gak bisa makainya. Gak perlu maksa anaknya jadi ranking 1. Gak perlu ngotot sama pendapatnya sendiri sampai gak ingat sopan santun. Gak perlu berantem di depan kamera. Gak perlu nyebut dirinya jenius di depan khalayak ramai.

If only we all learn from the big purple dino….

Vitamin for Life

Dulu waktu kuliah di Yogya, ada waktunya aku gak pergi keluar kos sama sekali seharian. Duduk diam di dalam kamar, baca buku, nonton film, main game. Seharian, bahkan mungkin beberapa hari sekaligus. Padahal sesungguhnya aku orang yang gak bisa gak ngobrol dalam sehari, bisa stres aku. Hehe.

Istilahku waktu itu, BUTUH MENANGIS. Iya, aku cari buku, film atau game yang bisa bikin aku nangis. Nangis karena bahagia, haru, bersyukur dan segala emosi positif lainnya. Bukan nangis karena sedih. Hehehe. Kalau nangis karena sedih sih, jaman segitu, cukup lihat pacar juga, udah pengen nangis SEDIIIIIH. Huahahaha.

Rupanya kebiasaan ini berlangsung terus sampai sekarang. Kadang dalam beberapa minggu, aku gak baca buku atau main game atau nonton film bagus sama sekali. Tapi sekali waktu kerinduan itu dateng. Seperti sekarang. 1 buku dibaca 1 hari, habis. Sambil nemenin Genta mainan Play-Doh, ngelirik Indovision, dapet deh 2 film bagus. Malam-malam sambil nemenin bos besar update berita Nurdin Halid, maen game deh.

And you know what? Rasanya kayak habis minum vitamin. Badan lebih segar. Pikiran fresh. Suasana hati luar biasa. Energi kayak habis di recharge. Mata kayak habis digurah. Rasa syukur lebih melimpah. Dan terutama, makin merasa sayang sama orang-orang terdekat. Makin merasa bahwa waktu yang aku punya adalah sekarang. Kesempatannya ya saat ini.

Well, sebagian orang minum vitamin buat badannya. Hari ini aku minum vitamin for jiwaku. And I am being so very grateful for that.

Olahraga Otak

Julia & Oprah

Watch your brain while you watch your wrinkle

Julia Robert di OPRAH show bilang

“Otak manusia, seperti pantat. Menjelang usia 40, mulai lembek dan kurang kencang”

Dia belajar menjahit di usianya yang ke-42. Untuk memastikan bahwa otaknya tetap bekerja, sehingga tetap kencang, katanya. Aku? Aku coba belajar ketrampilan yang sudah lama aku bayangkan tapi malas aku mulai. Hari ini, malam ini, aku mulai belajar.

Otak rasanya panas. Kayak olah raga pertama kali setelah lama tidak olahraga.

Tapi puas. Persis sama rasanya waktu dulu pertama kali belajar rafting, belajar naik gunung, belajar kompetensi. Ternyata sensasi belajar apa pun di usia berapa pun, tetap sama.

Excited. Lelah. Sulit berhenti. Dan tidak sabar. Hehehe.

Semoga sel-sel abu-abuku semakin kencang dan tidak lembek yaaaaa?