Ini Soal Kepentingan!

Puluhan tahun yang lalu, saya berkumpul bersama puluhan mahasiswa UGM dari berbagai fakultas di sebuah villa di Kaliurang. Saya datang terlambat karrna memilih menyelesaikan dulu urusan dengan organisasi pecinta alam yang waktu itu sungguh sudah membuat hati saya tersekap. *bosoku rek*
Saya datang terlambat saat acara rapat sudah dimulai. Dingin udara kaliurang nampaknya kurang mampu meniup hawa panas di ruang rapat. Saya duduk di bangku tengah, tepat di belakang teman teman yang sedang berdiri dari kursinya untyk meneriakkan pendapatnya.

When I say meneriakkan, itu bukan konotatif, tapi denotatif. Mereka saling berteriak. Sementara di bangku belakang sebagian mahasiswa sedang bergeromvol sendiri. Sebagian nampak serius berdiskusi dengan wajah gabungan jengkel dan kecewa, tapi suaranya sangat kecil. Sebagian acuh tak peduli, bayangan saya mereka lelah dan tak habis pikir.

Saya terjebak dalam posisi tengah antara kelompok mahasiswa yang berdiri dan teriak dengan kelompok mahasiswa yang duduk dan berbisik. Saya mencoba mendengarkan, cukup keras, untuk tahu masalah pelik apakah gerangan yang sedang kami -para mahasiswa yang di bahunya terletak masa drpan bangsa- bahas.

Dahi saya berkerut. Telinga berusaha keras mendengar kata2 para pemimpin rapat di ujung depan ruangan. Sementara mata senantiasa melihat pantat2 di depan saya yang bergerak gerak. Aaaah betapa banyak godaan saya saat itu untyk fokus.

Ahaaaa….. saya akhirnya mendengar kata2 dari pengeras suara….

Jadi apakah sebaiknya kita pakai koma atau titik koma setelah kata sementara?

Koma!

Titik koma!

Kalau titik koma iti bisa disalahartikan!

Justru koma yang bisa disalahartikan!

Atau titik saja?
Whaaaaaaat? What? What? What? 

Apa ini yang kita bicarakan? 
Saya cek jadwal acara di kertas yang saya pegang. Harusnya ini sesi pembahasan tata tertib sidang.

Whaaaaat? Masih bahas tata tertib udah hangat hangat bagai indomie baru diangkat dari wajan? Gimana sesi sidangnya nih?

Aaaah dari jauh saya mengenali 2 pantat yang nampak familiar. Saya colek pelan dengan harapan dia tidak kaget. Kawan saya satu ini menoleh. 

Hei.

Hai. Apa ini? Tata tertib?

Heeh

Udah seheboh ini?

Teman saya menunjukkan wajah yang tidak setuju. #ups. Rupanya dia salah satu pihak yang sedang bersikukuh soal tanda baca tadi. Dahinya verkerut menggantikan kerutan di dahi spaya tadi. Bibitnya mulai terangkat sedikit ke satu sisi. Kemudian dengan keras dia menjawab….

Ini soal kepentingan Fan! Semua ini soal kepentingan! Aaaah kamu gak paham sih!

Jleb, auuuuuuu……

Mendadak saya mengalami disorientasi. Saya duduk sambil melihat sekeliling saya. Bukankah kita semua yang ada di sini baru saja selesai dipilih dan dilantik? Lalu dari mana dia jadi lanyah bicara kepentingan sementara saya masih menggerutu harus meninggalkan pacar saya di Yogya buat acara ini?

Merasa seperti kura kura tertinggal dala  lomba lati oleh kelinci……

Malam ini saya terlempar ke villa itu di Kaliurang, tempat saya kemudian mengenal beberapa teman lain yang sempat saya kagumi saat itu. Dinginnya udara. Ketusnya ucapan. Batunya ekspresi wajah. 

Saya ingat pada waktu itu syaa memilih meninggalkan ruangan menikmati udara dingin gunung yang memanf kesukaan saya.

Kepentingan. Kepentingan. Mahasiswa. Peneruz perjuangan. Tata tertib sidang. Titik koma. Koma. Titik. Kepentingan. Oh. Why am i lost?

Puluhan tahun kemudian orang2 yanga da di ruangan itu menjelma menjadi banyak hal. Entah berapa yang mrnjadi ibu rumah tangga, saya gak tahu. Tapi kebanyakan menjadi aktivis, independen atau bagian dari organisasi. Organisasinya bisa lokal, internasional bahkan juga pemetintahan. Well. 

Kemudian malam ini saya entah kenapa ingat pada sebuah berita yang sekilas saya baca di TL.

Cabr mahal. Tanem sendiri. Gak usah bikin sambel. Bersyukur!. Salah pemerintah. Ini kepentingan.

BBM naik. Pindah ke Arab sana yang BBM murah. Untungku berkurang berapa nih?. Walk out dari sidang sambil nangis termehek mehek atau pura pura aja ga tahu sambil ga komen, toh kan beda periode. Tergantung kepentingan.

Kalah duel atau dikeroyok? Tergantung kepentingan.

Bubarkan FPI atau dukung FPI? Tergantung kepentingan.

Fitza hats. Salah pengetik, prlapor, pembaca, penyebar foto atau salah kita yang mengolok olok? Tergantung kepentingan.

Saya ga akan kasih pilihan sebarkan hoax atau hentikan. Karena saya yakin seyakin yakinnya, kalau orang itu ga suka nyebarin hoax, kalau mereka tahu itu hoax. Soal malas ngecek atau rasa puas saat terima hoax yang sesuai kepentingan, itu mah urusan pengendalian jempol.

Di usia sekarang saya paham maksud kenalan saya itu bilang bahwa di dunia ini semua serva kepentingan. Apakah maksudnya serba terlalu penting? Hahahahaga……

Memang kepentingan yang menggerakkan kita rupanya. Masalahnya adalah kepentingan apa?

Kepentingan perut? Lapar vs. Kenyang?

Kepentingan dada? Penghargaan vs. Penghinaan?

Kepentingan mata? Indah vs. Busuk?

Kepentingan jempol? Nyinyir vs. *apa ya anyi nyinyir itu?*

Kepentingan apa? Duniawi vs. Akhirat?

Usia udah 40. Di Quran sudah diingatkan surug hati hati. Keluar malem dikit udah masuk angin. Kena AC kelamaan udah pilek besoknya. Roadtrip ke Curebon aja recovery 3 hari. 1x begadang pulangnya kerokan. Jadi yaaaa harusnya kepentingannya disortir, sehingga efeknya diksi pun jadi terfilter.

Tapi itu saya yang udah 40 tahun. Kepentingan saya cuman sehat, biar bisa tetep jalanan jalan dan makan makan bareng Pak Bondan. Hahahahaha.

Malrm friends. Sleep tight. Dream of me.

Ecieeee….. itu kan dulu penutup di surat surat cinta ayeeeee….. uhuk…..


2 weeks of sleep, everyone?

Kota Dengan 1000 Kata Pulang

Bahkan judulnya saja sudah mengundang senyum bagi sebagian orang. Pulang. Bagi yang pernah tidur di bawah langit Yogya, pasti paham artinya. Pulang bukan lagi tentang kembali ke kota kelahiran. Pulang juga berarti Yogya. Wa bil khusus buat saya. Hehe.

Tahun ini saja sudah 2x saya kembali ke kota yang tiap sudut menyapa dengan kenangan. Jiaaah…. Kali ini pulangnya agak beda. Kenapa? Well, masih top secret tapi saya mohon doanya yaaa…..

Saya cuman mau share perjalanan saya ke Yogya kali ini…. Mengingat beberapa temen bertanya tentang lokasi-lokasi foto kami yang katanya keren banget. Kata yang motret,

Itu sih bukan karena lokasinya, karena yang motretnya aja keren

uhuk…

13139296_10208155933290010_1479203377506331672_n

First stop. Graha Sabha Pramana. Apalah arti ke Yogya kalau gak ngelewatin tempat ini barang sekali. Sejuta kenangan. Literan air mata juga beronggok senyum tersipu-sipu berserakan di dinding gedung ini. Gedung tempat wisuda saya yang dinanti-nanti mamah dan papah.

Kalau sore biasanya banyak yang jogging dan olahraga di sini. Ada yang cuman duduk-duduk aja nikmatin langit Yogya sambil tebak-tebakan kapan lampu jalan mulai nyala menjelang maghrib. Dulu banyak yang jual es gula asam favorit saya, tapi entah ke mana mereka semua sekarang.

Wisuda. Ah. Harus bicara wisudaa kalau ngomongin GSP ini. Ngomong wisuda harusnya juga ngomongin ini…

Bakti kami mahasiswa Gadjah Mada semua

Kuberjanji memenuhi panggilan bangsaku

Di bawah Pancasilamu jiwa dan seluruh ragaku

Kujunjung kebudayaanmu

Kejayaan Indoneeeeesia

Lepas dari tingkah sebagian oknum alumninya yang terlalu kebarat-baratan, menurut saya, kampus ini memiliki lebih dari separuh cinta dan hormat saya. Sisa hati saya, saya bagikan buat komunitas lain tempat saya juga mendulang ilmu.

So buat yang mau nyante menikmati hawa Yogya, duduklah di tangga itu, dii depan GSP. Kemudian pastikan Anda melihat ketika lampu jalan mulai menyala. Uhuy…

13177130_10208181782736230_2402353836933254142_n

Next. Mari bicara budaya. Apalah Yogya tanpa keramahan warganya yang konsisten berbahasa Jawa. Kali ini kami menginap di Omkara Resort di Donoharjo Sleman. Bagi yang menyukai kesunyian, menyendiri sambil merenung. Well, ini tempat yang tepat. Saya kepikir buat ke sini lagi, dengan 2 syarat.

  1. Kamarnya dipasangin AC, hiks. maafkan.
  2. Airnya dikencengin alirannya. hiks. iya airnya kecil banget

Tapi secara ketenangan dan sekelilingnya, manteb. Petugasnya juga mbantu banget. Kami ditawarin naik gerobak sapi, yang tentunya langsung kami iyakan. Hahaha. Kampuuuung banget deh kami. Keliling desa pakai gerobak, Genta dan Puti banyak lihat pemandangan yang gak biasa. Mulai dari sawah yang dibajak pakai mesin dan pakai sapi. Lihat sendang alam yang masih dipakai buat nyuci dan mandi oleh penduduk sekitar.

Ketemu Gani dan kakaknya yang kelas 4SD yang sedang nyuci baju di sendang. Nice exposure buat Genta yang terheran-heran ngeliat 2 anak kecil nyuci bajunya sendiri di deket kolam segede itu, dan ga ada orang dewasa yang njagain mereka dari kemungkinan tenggelem. Hiks.

Belum lihat kebun salak yang gak komersil, metik langsung dari pohonya, beli dari petaninya. Genta sempet ketusuk duri salak di kakinya dan berdarah lumayan banyak jadi harus digendong ayahnya keluar dari kebun.

Seru. Puti yang lari-lari di jalan tanpa harus takut kesruduk motor yang dikendarai anak di bawah umur. Juga tanpa teriakan ibunya yang otomatis bilang “hati-hat” tiap 30 detik sekali. *mungkin efek kelamaan jadi operator Kraeplin*

Genta dan Puti melihat banyak hal baru yang tidak setiap hari bisa mereka lihat. Saya terlalu mainstream jika menyebut mereka belajar banyak hal baru. Tapi jelas merek melihat mendengar merasakan banyak hal-hal yang gak umumnya mereka lihat di Bintaro. Bersama itu saya berdoa wawasan mereka berkembang.

 

13177924_10208147298514146_7628220770834465280_n

Kemudian. Angkringan. Yogya tanpa angkringan seperti Yogya tanpa kamu. Masih ada sih tapi berasa bedanya. #eaaaa….

Yogya selalu juga tentang angkringan kan? Tempat di mana kebersahajaan seperti terulur indah sepanjang tahun. Sudut di mana idealisme idealisme sederhana menguncup dan bermekaran bersama setiap potong ceker bakar yang bergelimpangan. Tempat di mana intelektualitas dengan resmi bersanding dengan aksi, bukan sebatas wacana. Aaah. Romantisme masa muda. Oh romantisme jiwa muda, maksud saya.

Nah angkringan yang saya datangi ini lokasinya di belakang Hotel AMbarukmo. Hiks. Namanya apa nanti saya tanyakan teman saya. Tapi enak. Angkringan itu diukur dari es teh manisnya, menurut saya. Juga porsi serta pilihan nasi bungkusnya. Dan untuk semua indkator di atas, maka angkringan tempat saya berfoto bolehlah mendapatkan nilai 8.5. 1.5 saya simpan ketika mereka menyiapkan arena bermain bagi jiwa-jiwa muda berbungkus hayati tua ini yang datang mengenalkan kebersahajaan ada anak-anaknya. Merdeka!

Tapi, apalah arti angkringan tanpa sekelompok teman dari masa lalu yang terus menerus menghembuskan cerita yang sama tentang jaman dahulu kala, sekedar untuk menenggak indahnya masa muda dan kebodohan-kebodohan yang juga teriring  di dalamnya. Hahaha. Diiringi Baju Pengantin yang mengalun mesra. Juga John Denver dan ingatan tentang kehangatan api unggunnya. Pengkhianatan cinta khas anak muda. Serta ingatan lain yang mengundang tawa, bahagia maupun getir. Ah. Tercabik oleh kenangan, kata teman saya waktu itu.

Hahahaha. Yogya selalu menyimpang kenangan. Sebagian mempertontonkan kenangannya. Sebagian lagi menyimpannya untuk diri sendiri. Sementara sebagian kecil berpura-pura lupa atas kenangan yang selalu gagal dilupakannya. Well, ingatan memang milik pribadi kan? Then, enjoy….

13177423_10208192965055781_5491665489069514985_n

Terakhir. Pantai. Yogya tanpa pantai seperti sayur tanpa kuah. Ada sih sayur tanpa kuah. Tapi di musim yang dingin sayur berkuah mampu menghangatkan. Jiaaaahhh….

Kali ini kami ke Parangtritis. Tempat jaman dulu suami saya mabuk sama temen-temen SMA nya. hiks. gak usah ditiru. Tempat dulu saya hujan-hujanan sama teman-teman terbaik pada masanya membuktikan bahwa perempuan tidak lemah, tidak takut dan mandiri. Hehehe.

Itu foto kami di pantai sesaat setelah topi warna oranye punya Genta terseret arus. Kami bertiga memandangi laut berharap topi oranye sekear melambai kembali untuk berpamitan. Tapi tidak. Arus selatan bukan arus main-main. Topi oranye Genta tidak pernah kembali. Genta jelas sesengggukan melihat dengan mata kepalanya topi itu terserer arus. Hehehe. Saya dan Puti sekedar berempati. Dan ayahnya memotret dari kejauahan.

 

(bersamung)

Life in a Bowl of Indomie

Berada di Semarang, malam-malam, kemudian memutuskan makan Indomie di warung burjo akang2 di Tembalang, sungguh semacam melemparkan saya ke badai memori sekian puluh atau belas tahun yang lalu.

Semua ingatan seperti menari-nari berusaha menarik ingatan syaa lebih dalan pada satu ingatan khusus. Sayang saya sedang tak dalam tahap setia pada satu ingatan saja. Saya memilih terbang menikmati terjangan semua memori itu. Mulai dari yang indah dan mengundang senyum sampai yang biru dan butuh tenaga untuk menahan airmata.

18 tahun pertama hidup saya, saya habiskan di kota ini. Pertama kali nonton bioskop. Pertama kali pacaran. Pertama kali ditinggal cowok tanpa jelas apa alasannya. Pertama kali dikirim mewakili sekolah untuk pertandingan. Banyaj hal yang pertama kali terjadi dalam hidup saya, terjadi di kota ini. So, harddisk external 1TM juga nampaknya gak cukup menampung kilasan videonya, apalagi muatan emosinya.

Sementar warung Indomie warna hijay yang layoutnya khas itu mengingatkan saya pada malam-malam sepi di Yogya saat darah muda menggelegak. Menghabiskan malam dengan diskusi-diskusi ngotot tentang hidup, tentang negara, tentang cinta, tentang pertunjukan-pertunjukan drama, tentang “dia”, tentang masa depan. Tentang hidup pasca kampus biru, pasca kartu mahasiswa expired.

Sungguh, kebahagiaan hidup memang terletak pada kemampuan bersyukur.

Saya tersenyum mengingat malam-malam kami, saya dan suami, berburu indomie. Naik motor. Berjaket. Jam 9-10 malam, setelah pulang dari saya mengajar, menenteng printer pinjaman dari tempat kursus saya mengajar bahasa inggris, mampir sebentar sebelum lanjut nebeng ngetik skripsi di rumah teman yang punya komputer. Kenapa malam? Karena siangnya saya kerja, komputernya dipakai yang punya serta printernya dipakai buat ngeprint tagihan di kantor. Hehehehe.

Malam berlanjut dengan teman saya tidur di kamar teman lainnya. Suami saya yang saat itu jabatannya sahabat saya akan melek semalamam sambil baca buku tanpa berkata sepatah kata pun. Dan saya akan akan mengetik sampai jam 3-4 pagi sebelum tergeletak di depan komputer. Bangun jam 5, ngesave ulang semua ketikan, minum teh buatan teman yang punya komputer, kemudian menembus udara pagi dinginnya Yogya di tahun 2000an awal bersama sahabat saya mengembalikan printer sebelum jam 7 kantor buka lagi. Aaaah romantisme masa muda memanag luar biasa.

Badai memori saya terinterupsi suami yang mengingatkan soal beli salonpas untuk tangannya yang sakit.

Well, laki-laki ini, yang dulu mengantar, menjemput dan menemani saya mengeyik skripsi. Yang kuat tanpa jaket menerjang dinginnya Kaliurang. Sekarang mengeluhkan pergelangan tangannya sakit dan perlu salonpas buat meredakan sakitnya

Sekali lagi saya tersenyum geli, gimana selempar kertas berlem mampu melemparkan saya kembali ke tahun 2016. Di kamar mandi, saya melirik kilasan benang putih yang nampaknya enggan terlepas dari kepala saya. Aaah si putih pun mulai bertebaran di kepala. But I dont feel like I am getting older for even a day. Hihihi.

Wow. How time flash. It was only yesterday, or even this morning as I remember. But hearing my kids breathing in their sleep right in the rear seat of the car reminds me of one peculiar thing. Time is slow and fast at the same time that it makes me confused of separating memory and dream. Or are they really from the same planet? *sigh*

Here at my almost 40 stage, I realize that this sentence below is really really giving you harsh fact.

“Demi waktu, sesungguhnya manusia itu merugi”

Dan Fan, kaudapatkan insight itu melalui Indomie dan Salonpas? Well, may be you should try salmon steak next time for better insight. Hihihi.

image

Birds of a Feather

Duluuuuu waktu saya jadi rekruter di salah satu perusahaan grup Astra, saya paling menikmati fase wawancara kandidat. Entahlah. Buat sebagian orang mungkin wawancara itu melelahkan. Sementara buat saya, seruuuu sekali ngobrol tentang hidup orang lain, ngeliat bagaimana hidupnya dari satu titik ke titik lain, dan most of all setiap selesai wawancara sering kali saya terharu kalau bertemu orang2 yang inspiring.

Suatu ketika ada kandidat kuat waktu itu, saya lupa posisinya, kayaknya lulusan STM kalo gak salah. Dia datang dengan baju standar atasan putih celana hitam. Padahal ga diwajibkan untuk berbaju begitu. Pun itu atasan bukan putih lagi warnanya. Agak kelabu dan ada titik-titik jamur di sekitar kerah dan kancingnya. Tapi hasil tesnya sangat strong. Saya sendiri yang wawancara dia. Selesai wawancara, langsung saya rekomendasikan dia untuk diterima. Semangatnya luar biasa, sekolah naik sepeda, pulang bantu orang tuanya, nyari kerja pun dia niati membantu orang tuanya.

Sementara di kesempatan yang lain saya ketemu kandidat lulusan universitas negeri terkenal, yang saya juga alumninya. Dari observasi selama dia ngantri saja, saya terganggu sama obrolannya yang tinggi, nyela2 temennya sesama kandidat, duduk kaki diangkat. Hasil tesnya, rata-rata lah, not bad. Tapi profile psikologinya cocok buat sales waktu itu, jadi saya wawancara juga. Ngobrol ke kanan, jawabannya saya yakin bisa bu. Ditanya, udah pernah lakuin tugas dengan target, belum bu, tapi saya yakin bisa.

Pernah punya pengalaman membujuk orang?
Pernah bu, saya membujuk ortu saya buat nyekolahin saya di SMA anu, walaupun ortu saya pengennya saya seolah di SMA ono.
Oh kenapa kok Anda pengen sekolah di SMA anu?
Soalnya deket rumah bu, gak capek, panas saya naik motor soalnya.

Blaaaaaaaarrrrrrrr *nelen udah*

Milih sekolah kok semata2 berdasarkan jarak, SMA pula. Singkat kata singkat cerita, saya rekomendasikan dia untuk melamar pekerjaan di perusahaan lain.

Suami saya milih sekolah di Yogya waktu SMA, padahal orang tuanya di Tangerang, demi pendidikannya. Temen2 saya di Loyola, banyak yang rela ngekos karena asalnya dari kota2 lain, buat dapat pendidikan yang berkualitas. Saya ngiler pengen nyekolahin Genta di Jerman atau Mesir atau Madinah. Temen saya di IWPC, rela keluar kota sebulan sekali buat dapet “sekolah” buat bisnisnya.

Karena for some people who understand, education is a must. Learning is a life changing moment. And it happen every second in your life.

Memilih sekolah adalah memilih kelompok. Jika Anda memilih kelompok yang tepat, bersama mereka, you could be the best version of who you really are.

Tentang Bapepam

Ada yang tahu singkatan dari Bapepam? Masih ada atau gak itu lembaga, saya juga ga terlalu mengikuti. Well, call me anything, tapi sejak tahun 1995 saat pertama kali mendengar singkatan itu, sampai sekarang, pengetahuan saya tidak banyak berubah tentang Bapepam.

Sebutlah sebuah pagi menjelang siang yang indah di kota Yogya, di sekitar tahun 1995. Saat udara pagi dan sore hari Yogya begitu sejuuuk, Nah di pagi itu, saya diundang menghadiri seleksi tutor bahasa Indonesia untuk orang asing, di REALIA, lembaga bahasa yang cukup dikenal. Datanglah saya dengan rok selutut dan sweater biru tua, karena udara sedang tidak terlalu hangat.

SAmpai di lokasi, saya berkenalan dengan beberapa orang teman baru dan lama. Ya, baru dan lama. Salah seorang teman seangkatan saya di Psikologi UGM ternyata juga lolos seleksi sebelumnya dan terdampar di seleksi lanjutan ini bersama saya dan beberapa teman yang lain. Seleksi pagi ini sederhana, saya dan teman-teman akan diminta mengambil gulungan kertas di mangkok. Apa pun tulisan di gulungan kertas itu, kami lalu bertugas untuk presentasi on the spot di depan teman sesama kandidat dan juga senior di REALIA, dalam bahasa Inggris. Yuhuuu.

Anginnya dingin sih memang. Tapi kelek saya sudah mulai lembab. Lutut saya kayaknya mulai bergetar, mungkin karena dingin. Satu-satu sesama kandida tutor maju sebelum saya. Ampuun. Bahasa Inggris mereka TOP. Ada yang pernah pertukaran pelajar, ada yang lulusan lembaga bahasa Inggris terkenal, ada yang fakultasnya memang berhubungan langsung dengan bahasa Inggris. Lha saya? Saya? Saya gimana?

Belum lagi wawasan mereka yang luas. Apa saja tema yang muncul di gulungan kertas itu, mereka lancar menceritakannya. Bahkan bisa menjawab pertanyaan. Daaan, confidence-nya my man, luar biasa, ga ada itu yang keleknya basah kayak saya atau lutu gemetaran. Manteb semua. Lalu tibalah giliran saya. Uhuk. Kalau bisa lari, pasti saya lari dari kerumunan itu. Tiba-tiba saya menyesal sudah melamar posisi tutor, kenapa gak cari kerjaan lain aja sih Faaan?, begitu hati kecil saya berontak dipermalukan.

Tapi genderang perang sudah ditabuh. Terompet sudah ditiup. Pantang pulang sebelum padam. *opo to iki*. Tiba giliran saya, saya maju perlahan, ambil gulungan kertas, dibuka pelan-pelan sambil tangan gemetaran. Sedikit sedikit tulisan mulai nampak. Ba—–Pe—–Pa——M

Kepala saya mulai bernyanyi. Bapepam? Apa itu? Nah kan, nyesel kan Fan, ngelamar ke sini? Malu kan jadinya?

Melangkah lagi ke posisi presentasi. Pantang menyerah. Pantang menyerah. Atau menyerah aja ya? Bagian ruhut dalam kepala saya mulai berdebat dengan bagian farhat. *kesamaan nama hanyalah kebetulan, semua tokoh dalam kepala saya bersifat imajiner, fiktif, waton*

Sampai di titik presentasi. Tarik napas. Lirik pintu keluar, jaraknya jauh juga, sementara tas saya ada di ujung ¬†lainnya. Aah, si mas itu juga berdiri di tengah jalan lagi, gimana saya mau lari. Telat deh. Udah terlanjur malu. Lanjut aja…

“Good afternoon. Thank you for the opportunity (STD banget kalau kata para asesor). Actually the paper said that I have to talk about Bapepam. But I know nothing about it. So let me talk to you about my blue sweater I am now wearing. Bla bla bla”

Anehnya, tidak satu pun yang tertawa. Yah, satu dua senior di ujung sana tersenyum. Tapi tidak ada yang tertawa. Menertawakan saya? Tidak ada. Saya selamat ngomongin blue sweater sampai waktu presentasi saya selesai. Ditutup dengan thank you. Diperindah dengan tepuk tangan dari audiens.

Yes, hampir 20 tahun yang lalum itu pertama kali saya dengar Bapepam. Dan sampai sekarang, kalau saya diminta presentasi soal Bapepam, allow me to tell you another story of my red high heel. Hihihihi.

Ketika akhirnya kami, para kandidat yang diterima berkumpul untuk briefing sebelum mulai mengajar, beberapa minggu kemudian. Seorang teman bertanya pada juragannya REALIA, apa alasan kami semua diterima.

Yaah, alasannya macam-macam. Wong kalian juga dari background yang berbeda. Tapi ada 1 kesamaan di antara lain.

Apa itu mbak? *ngebet banget kami*

Kalian itu fleksibel. Itu kesamaan kalian.

Seeee? Flexbility my man. Jelaslah saya fleksibel. Dari Bapepam lompat ke blue sweater, kurang fleksibel apa? Jelaslah fleksibilitas saya sekaliber pemain trapeze di sirkus-sirkus internasional. Huahahaha.

Lesson learnt. In any job you want, flexibility kills. Apalagi kalau mau jadi wirausahawan. Demikian kisah soal Bapepam ini saya tuliskan kembali setelah puluhan tahun. Mengingat banyak pemimpin yang tak terlatih otot fleksibilitasnya, sampai-sampai ga mau dikritik. Kritik? Somasi. Muji cepol? Omelin. Nanya sama suami saat waktu intim? Jedugin ke tempat tidur. #eh

Anyway, fleksibilitas itu seperti otot. Makin sering dilatih, makin kuat. Makin jarang dipakai, makan kenceng tu otot. Ingat fleksibilitas, ingat Bapepam. Ok?

*Ada yang masih penasaran, Bapepam itu singkatannya apa? Google ah. Malu.

Sepatu Butut

Hari Rabu adalah hari paling sibuk bagi saya dalam tahun ini. Hari ini adalah hari Genta harus latihan wushu dan kelas seninya. Jadi saya harus memastikan dia tisur sebelum jam 2, bangun jam 3, masuk taksi jam 3.30, supaya jam 4 dia bisa mulai kelas seninya. Semua, termasuk pesan taksi, saya lakukan sendiri. Resiko ibu-ibu yang gaya ga mau pakai baby-sitter. Hihihi.

Sampailah saya di hari Rabu pertama setelah libur panjang. Semua beres. Genta bangun sendiri, cuci muka, pakai baju, siap berangkat. Saya siapkan Puti, pakai kerudung dan segala macamnya, keluar rumah, taksi sudah siap di depan. Aaah, Rabu pertama yang lancaaaar. Cuaca mendung memang, hujan rintik-rintik, jadi saya juga sudah siapkan kain, payung dan meminta Genta pakai sepatunya yang lebih tahan air. Semua siap? Tinggal saya pakai sepatu dan kami bisa berangkat.

But, wait. Tunggu dulu. Ga segampang itu dong. Ini Rabu pertama. Habis libur panjang. Masak semudah itu? Ok, mari kita mulai dengan, mana sepatu satu-satunya punya sayaaaaaaa? &8*^%$#

Ya, saya cuma punya 1 sepatu casual yang biasanya saya pakai sampai jebol. Dan suami saya punya kebiasaan membiarkan barang yang ketinggalan di mobil tetap di mobil, siapa tahu nanti dibutuhkan. Huaaa, sayangnya kali ini sepatu saya yang jado korban.

Ok. Think. Think. Fast. Come on. Pakai sandal aja. Uh, gak punya sandal juga. Apa ya udah pakai sandal jepit aja. Kan bagus tuh sandal. Baru kok. Ya udahlah nyerah. GAK ah. Malu. Cari sepatu lain yang ada.

Berangkatlah saya pakai sepatu yang satu ini. Warnanya coklat. Pernah jadi kesukaan saya karena sangat empuk di kaki. Saya bahkan ingat belinya di FO di Bandung, waktu saya masih kerja jadi konsultan dan ada proyek di sana. Harganya juga masih ingat. Saya langsung beli 2 waktu itu, hitam dan coklat. Begitu saya pakai, sempat terpikir, lah sepatu ini masih enak, kenapa jarang kupakai ya?

Turun taksi, sampai di tempat gym, pertanyaan saya di paragraf terakhir tadi mulai terjawab. Kulit sepatu coklat saya ada yang tertinggal di lantai lobby mall tempat Genta nge-gym. Ups. Sementara sisa kulit yang masih nempel di sepatu “nglunthung” ke bagian tengah sepatu, membuat sepatu saya seolah separuh warna hitam separuh lagi warna coklat.

Untungnya saya pakai rok panjang. Jadi selama menunggu Genta, saya lebih banyak duduk, menutupi sepatu dengan rok saya. Malu ah. Ibu-ibu yang lain pakai hot-pants, tasnya aja kinclong, baby-sitter jumlahnya sama sama jumlah anaknya, naik mobil sendiri, nyetir sendiri, handphone jelas paling canggih, masak sepatu saya kulitnya “nglunthung”? “Semoga ga ada yang liat ke bawah,” pikir saya.

Selesai urusan Genta, sambil nunggu dijemput suami kami lari menyebrang ke gedung sebelah -tepatnya saya yang lari mendorong stroller, Genta terpaksa lari ngikutin saya-. Niat saya sekalian beli sandal, buat gantiin sepatu yang saya pakai. Walaaah, belum sampai tempatnya sol sepatu saya malah lepas. Jadilah saya kayak pakai sepatu tapi segala air hujan di tempat parkir pun bisa saya rasakan di kaki saya. Baiklah. Baiklah. Kayak belum cukup deg-degan saya, eeeh di tempat parkir ketemu teman lama semasa di Yogya. Sambil ngobrol-ngobrol, sungguh saya berharap dia gak nengok ke bagian bawah.

Saya berakhir beli sepatu di gedung seberang itu. Hehe. Lumayan, sekarang saya punya 2 sepatu casual.

—————————–

Saya punya banyak cerita tentang sepatu. Keluarga saya menyebut saya buldoser kalau urusannya sama sepatu. Sepatu paling lama tahan 3 bulan di kaki saya, sebelum jebol.

Saya pernah njebolin sepatu waktu hiking di pedalaman Sumatera Barat. Saya lupa gimana cara saya pulang waktu itu. Kayaknya seorang teman meminjamkan sepatunya ke saya dan dia pulang “nyeker”.

Sepatu adek saya bertahun-tahun dipakai baik-baik saja, bahkan bentuknya masih mulus kayak baru keluar toko. Dipakai saya 2 minggu langsung jebol.

Waktu tahun lalu jalan-jalan ke Turki bareng suami dan mamah saya. Sepatu kesayangan saya warna orange saya bawa. Jauh-jauh ke negeri impian saya, sepatu saya jebol dan bauuuuunya luar biasa. Dengan berat hati saya buang akhirnya sepatu itu.

Turun dari angkot jaman kerja di Sunter dulu, saya jatuh gelondangan, gara-gara pakai sepatu hak tinggi. Well, sesungguhnya sepatu yang saya pakai saat itu adalah sepatu hak tinggi satu-satunya punya saya. Rusak? Ya iyalah.

Ada juga sepatu putih kesayangan saya dulu. Saya pakai terus-terusan waktu masih kuliah di Depok. Sampai waktunya kelulusan sepatu itu rusak, bagian bawahnya lepas. Saking sayangnya, saya bawa sepatu itu ke tukang sol sepatu di mall buat dibetulin. Katanya bisa dibetulin, ongkosnya 75rb, karena ganti semua alasnya. Hmm, sampai speechless saya jawabnya.

“Gimana mbak” kata mas yang tukang reparasi.

“Hmm, ga usah aja deh mas” kata saya. Harga sepatunya aja cuma 30 ribu. masak betulinnya 75rb? -kata saya dalam hati-

—————————————-

Sebut saja saya lebay. Tapi dari sepatu putih itu saya paham betul tentang tidak ada yang abadi di dunia. Makin sayang sama sesuatu, makin diuji sama sesuatu itu. Udah ah cerita soal sepatunya. Pesan saya cuma 1, kalau punya sepatu rusak, jangan dipakai di musim hujan. Kecuali Anda siap sama potensi malu. Ok?